Dhutanga atau dhūtaguṇa (Sanskrit) adalah sekelompok praktik asketis atau pertarakan yang diajarkan dalam Buddhisme. Tradisi Theravada mengajarkan seperangkat tiga belas dhutanga, sementara sumber-sumber Buddhisme Mahayana mengajarkan seperangkat dua belas dhūtaguṇa. Istilah ini umumnya dipahami berasal dari akar kata dhu “mengguncang” dan dapat berarti praktik-praktik yang membantu seseorang “mengguncang” noda-noda batin. Oleh karena itu, dhutanga dimaksudkan untuk membantu menghilangkan noda-noda dalam pikiran, dan dengan demikian memperdalam praktik Bhuddis. Tujuannya adalah membantu praktisi mengembangkan ketidakterikatan terhadap benda-benda material, termasuk tubuh. Praktik dhutanga tidak dianggap sebagai persyaratan wajib bagi seorang biksu seperti Śīla (kebajikan).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Dhutanga (Pali: dhutaṅga, Sinhala: ධුතාඞ්ග) atau dhūtaguṇa (Sanskrit) adalah sekelompok praktik asketis atau pertarakan yang diajarkan dalam Buddhisme. Tradisi Theravada mengajarkan seperangkat tiga belas dhutanga, sementara sumber-sumber Buddhisme Mahayana mengajarkan seperangkat dua belas dhūtaguṇa.[1] Istilah ini umumnya dipahami berasal dari akar kata dhu “mengguncang” dan dapat berarti praktik-praktik yang membantu seseorang “mengguncang” noda-noda batin.[1] Oleh karena itu, dhutanga dimaksudkan untuk membantu menghilangkan noda-noda dalam pikiran, dan dengan demikian memperdalam praktik Bhuddis. Tujuannya adalah membantu praktisi mengembangkan ketidakterikatan terhadap benda-benda material, termasuk tubuh. Praktik dhutanga tidak dianggap sebagai persyaratan wajib bagi seorang biksu seperti Śīla (kebajikan).
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Karena ketiga belas praktik asketis ini hanya disebutkan namanya dalam Pali Tipitaka, Visuddhimagga dianggap sebagai satu-satunya sumber dalam Literatur Theravada di mana penjelasan yang memadai tentang dhutangas dapat ditemukan. Visuddhimagga secara khusus dalam satu bab memberikan instruksi terperinci mengenai praktik pengembangan pemurnian pikiran dengan dhutanga.
Visuddhimagga menyebutkan daftar praktik-praktik dhutanga sebagai berikut:[2]
Tiga belas jenis praktik asketis telah diizinkan oleh Sang Buddha bagi para biksu yang telah meninggalkan hal-hal duniawi dan, sudah tidak lagi terpengaruh oleh badan jasmani dan kehidupan, berkeinginan untuk melakukan praktik yang sesuai dengan tujuan mereka. Praktik-praktik tersebut adalah: