Raden Sugiyono Mangunwiyoto adalah seorang pahlawan nasional Indonesia kategori Pahlawan Revolusi. Ia merupakan Kepala Staf Korem 072/Pamungkas yang menjadi korban dalam peristiwa 1965. Pangkat terakhirnya adalah Kolonel Inf. (Anumerta).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sugiyono Mangunwiyoto | |
|---|---|
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1926-08-12)12 Agustus 1926 Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia |
| Meninggal | 1 Oktober 1965(1965-10-01) (umur 39) Sleman, Yogyakarta, Indonesia |
| Makam | Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara |
| Suami/istri | Supriyati |
| Anak | 7 |
| Penghargaan sipil | Pahlawan Revolusi |
| Karier militer | |
| Pihak | Indonesia |
| Dinas/cabang | |
| Masa dinas | 1945–1965 |
| Pangkat | |
| Satuan | Infanteri |
| Pangkat terakhirnya adalah Letnan Kolonel Inf., tetapi karena gugur dalam tugas, maka diberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) menjadi Kolonel Inf. (Anumerta). | |
Raden Sugiyono Mangunwiyoto (12 Agustus 1926 – 1 Oktober 1965) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia kategori Pahlawan Revolusi. Ia merupakan Kepala Staf Korem 072/Pamungkas yang menjadi korban dalam peristiwa 1965. Pangkat terakhirnya adalah Kolonel Inf. (Anumerta).
Kolonel Inf (Anumerta) R. Sugiyono Mangunwiyoto lahir di Gedaren Sumbergiri, Ponjong, Kabupaten Gunungkidul pada tanggal 12 Agustus 1926 dari pasangan Kasan Sumitrorejo seorang petani sekaligus perangkat desa dan R. Ngt. Sutiyah Semito Rejo dari Semanu, Kabupaten Gunungkidul.[1] Sugiyono anak ke-11 dari 14 bersaudara dan hanya dia yang menganut agama Kristen di keluarganya.[2]
Sugiyono sebenarnya memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Guna mewujudkan cita-citanya itu, ia dengan tekun menempuh pendidikan di Sekolah Guru Pertama di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Namun, sebelum ia selesai dalam pendidikan di Sekolah Guru, Tentara Jepang menduduki Tanah Air dan memberlakukan wajib militer bagi anak-anak muda. Ia terpaksa mengubur impiannya untuk menjadi seorang guru, dan mengikuti pendidikan sebagai tentara di Pembela Tanah Air (PETA). Selepas menyelesaikan pendidikan di PETA, ia diangkat sebagai Budancho (Komandan Peleton) di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Selepas masa proklamasi, ia tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan mengawali karier sebagai komandan seksi. Ia kemudian diangkat menjadi ajudan Komandan Brigade 10 di bawah Letnan Kolonel Suharto pada tahun 1947.
Pada 1 Maret 1949 terjadi serangan umum terhadap Yogyakarta saat peristiwa Agresi Militer II. Ia turut serta dalam keberhasilan pasukan menghentikan agresi militer II tersebut yang mampu mengubah penilaian dunia internasional terhadap kekuatan RI.
Kolonel Inf (Anumerta) Sugiyono menikah dengan Supriyati, seorang perawat di RS Bethesda. Pertemuannya dengan istrinya itu terjadi saat Kolonel Inf Sugiyono dirawat di RS Bethesda karena cedera atau sakit saat bertugas di medan perang. Lalu mereka menikah dan memiliki anak enam orang laki-laki:
Keikutsertaan dia dalam Gerakan Operasi Militer (GOM) III dalam rangka memadamkan pemberontakan KNIL di wilayah Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Andi Aziz. Berpindah tempat dan berganti jabatan adalah hal yang lumrah dalam karier kemiliteran. Kariernya terus menanjak, hingga pada bulan Juni tahun 1965 ia berpangkat Letnan Kolonel, dan menjadi Kepala Staf Komando Resort Militer (Korem) 072/Pamungkas Kodam VII/Diponegoro di Yogyakarta, yang sekarang menjadi Kodam IV/Diponegoro. Saat itu Komandan Korem 072/Pamungkas adalah Kolonel Inf Katamso Darmokusumo.
Sugiyono meninggal akibat pembunuhan.[3] Ia meninggal dunia di Kentungan, Yogyakarta pada tanggal 1 Oktober 1965 pada umur 39 tahun. Ia dimakamkan di TMP Semaki, Yogyakarta.[4]
| Baris ke-1 | Bintang Republik Indonesia Adipradana (10 November 1965)[5] | Bintang Gerilya | |
|---|---|---|---|
| Baris ke-2 | Bintang Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia | Satyalancana Kesetiaan 16 Tahun | Satyalancana Perang Kemerdekaan I |
| Baris ke-3 | Satyalancana Perang Kemerdekaan II | Satyalancana G.O.M I | Satyalancana G.O.M II |
| Baris ke-4 | Satyalancana G.O.M IV | Satyalancana Sapta Marga | Satyalancana Satya Dharma |