Keumalahayati atau Malahayati adalah seorang pejuang perempuan Aceh yang berasal dari Kesultanan Aceh. Nama "Malahayati" kemungkinan besar berasal dari bahasa Arab "Hayati" yang berarti kehidupan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Laksamana Malahayati | |
|---|---|
Lukisan Laksamana Malahayati | |
| Lahir | (1550-01-01)1 Januari 1550 Aceh Besar, Kesultanan Aceh |
| Meninggal | 30 Juni 1606(1606-06-30) (umur 56) Tanjung Krueng Raya, Kesultanan Aceh |
| Dikebumikan | Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar 5°35′28.9″N 95°31′40.3″E / 5.591361°N 95.527861°E / 5.591361; 95.527861[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Malahayati¶ms=5_35_28.9_N_95_31_40.3_E_type:History_region:ID <span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">5°35′28.9″N</span> <span class=\"longitude\">95°31′40.3″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\"> / </span><span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">5.591361°N 95.527861°E</span><span style=\"display:none\"> / <span class=\"geo\">5.591361; 95.527861</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwBg\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt6\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwBw\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwCA\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Malahayati&params=5_35_28.9_N_95_31_40.3_E_type:History_region:ID\" class=\"external text\" id=\"mwCQ\"><span class=\"geo-default\" id=\"mwCg\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwCw\"><span class=\"latitude\" id=\"mwDA\">5°35′28.9″N</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwDQ\">95°31′40.3″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwDg\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDw\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEA\"></span></span><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwEQ\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwEg\">5.591361°N 95.527861°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwEw\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwFA\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwFQ\">5.591361; 95.527861</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwFg\"/></span>"}' id="mwFw"/> |
| Pengabdian | |
| Dinas/cabang | Inong Balee |
| Lama dinas | 1585–1606 |
| Pangkat | |
| Perang/pertempuran | |
| Pahlawan Nasional Indonesia S.K. Presiden No. 115/TK/2017 tanggal 6 November 2017. | |
Keumalahayati atau Malahayati (1 Januari 1550 – 30 Juni 1606) adalah seorang pejuang perempuan Aceh yang berasal dari Kesultanan Aceh. Nama "Malahayati" kemungkinan besar berasal dari bahasa Arab "Hayati" yang berarti kehidupan.
Ia dibesarkan dalam lingkungan yang mengutamakan pendidikan militer dan strategi perang, yang kelak membentuknya menjadi seorang panglima angkatan laut. Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530–1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513–1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.[3]
Pada tahun 1585–1604, dia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.[4]
Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Dia mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati[5] Saat meninggal dunia, jasad Malahayati dikebumikan di bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.[6]
Laksamana Malahayati meninggal dunia pada tahun 1615. Makamnya terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar. Laksamana Malahayati mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 9 November 2017 bersama dengan 3 orang lainnya.[7][8]
Laksamana Malahayati dikenal juga dengan nama Keumalahayati. Ia dilahirkan di Aceh Besar pada tahun 1550. Pada masa kanak-kanak dan remaja ia mendapat pendidikan istana. Malahayati masih berkerabat dengan Sultan Aceh. Ayah dan kakeknya berbakti di Kesultanan Aceh sebagai Panglima Angkatan Laut. Dari situlah semangat kelautan Malahayati muncul. Ia kemudian mengikuti jejak ayah dan kakeknya dengan menempuh pendidikan militer jurusan angkatan laut di akademi Baitul Maqdis.[9]
Malahayati menempuh pendidikan militer di Ma’had Baitul Maqdis, yaitu akademi militer Kesultanan Aceh yang secara khusus melatih calon perwira dan pemimpin militer. Di lembaga ini, ia mempelajari berbagai keterampilan penting seperti strategi perang, taktik maritim, serta seni pelayaran dan pertempuran di lautan. Pada masa itu, Kesultanan Aceh memiliki hubungan yang erat dengan dunia Islam, sehingga sistem pendidikan militernya juga dipengaruhi dan mengadopsi teknik serta strategi dari Kesultanan Utsmaniyah dan kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa sumber, lembaga ini juga disebut sebagai Pusat Pendidikan Asykar Baitul Makdis, tempat para calon prajurit Aceh dilatih secara terstruktur oleh para perwira dari Turki sebagai bagian dari kerja sama antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kesultanan Utsmaniyah.[10]
Pasukan Inong Balee terbentuk pada masa Sultan Alaydin Ali Riayat Syah IV Saydil Muqammil yang memerintah Kerajaan Aceh pada 997 hingga 1011 M (1589-1604). Inong Balee memiliki pasukan sejumlah 2.000 orang, pasukan ini ditakuti oleh perairan pesisir Aceh Besar serta Selat Malaka. Sultan juga membekali pasukan Inong Balee dengan 100 unit kapal perang ukuran besar berkapasitas masing-masing 400 pasukan. Pasukan Inong Balee mulai dilibatkan dalam beberapa peperangan melawan Portugis dan Belanda.[11]
Perjuangan Malahayati dalam melawan penjajah dimulai setelah terjadinya pertempuran laut di Teluk Aru (sering juga disebut Teluk Haru), pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Riayat Syah Al Mukamil. Dalam pertempuran tersebut, armada laut Kesultanan Aceh yang dipimpin langsung oleh Sultan dengan bantuan dua orang laksamana berhasil menghadapi armada Portugis di kawasan Selat Malaka. Pertempuran itu berakhir dengan hancurnya armada Portugis, meskipun sekitar seribu prajurit Aceh dan dua laksamana gugur. Salah satu laksamana yang gugur adalah Laksamana Zainal Abidin, yang merupakan suami Malahayati. Saat itu, Malahayati juga menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud Dunia. Kemenangan besar tersebut membawa kegembiraan bagi Kesultanan Aceh, tetapi bagi Malahayati hal itu bercampur dengan duka mendalam karena kehilangan suaminya di medan perang.[10]
Dalam keadaan berduka, sekaligus diliputi rasa marah dan tekad untuk melanjutkan perjuangan, Malahayati kemudian mengusulkan kepada Sultan agar dibentuk sebuah pasukan khusus yang beranggotakan para janda prajurit Aceh yang gugur dalam pertempuran Teluk Aru. Usulan tersebut disetujui oleh Sultan. Dari keputusan itu lahirlah Armada Inong Balee (Armada Wanita Janda), yaitu armada yang terdiri dari para janda pejuang. Malahayati dipercaya menjadi pemimpin armada tersebut dengan pangkat Laksamana, menjadikannya perempuan Aceh pertama yang menyandang pangkat itu. Armada Inong Balee kemudian bermarkas di Teluk Krueng Raya dan menjadi salah satu kekuatan penting dalam pertahanan maritim Kesultanan Aceh.[12]
Pasukan Inong Balee berhasil menghancurkan dua kapal dagang Belanda. Dalam sebuah duel satu lawan satu di atas kapal musuh pada 11 September 1599, Laksamana Malahayati berhadapan dengan Cornelis de Houtman, penjelajah dan penjajah Belanda. Nyawa Cornelis pun melayang karena Keumalahayati.
Keberhasilan ini tidak hanya menunjukkan kemampuan militer mereka tetapi juga mengukuhkan posisi Aceh sebagai kekuatan maritim yang disegani pada masa itu. Pasukan Inong Balee ikut serta dalam beberapa perang melawan Portugis dan Belanda. Wilayah pertempuran mereka tidak hanya terbatas di Selat Malaka, tetapi juga meluas hingga pantai timur Sumatera dan Malaya. Mereka pun membangun Benteng Inong Balee di atas bukit tak jauh dari pesisir Teluk Ramleh di Kluen Raya, Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar.
Benteng Inong Balee berada di daerah Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Selain berfungsi sebagai benteng dan tempat melatih para Inong Balee, tempat ini juga digunakan untuk akomodasi para janda yang suaminya tewas dalam pertempuran. Di benteng itulah, Inong Balee tumbuh menjadi laskar perang yang ditakuti oleh musuh di perairan pesisir Aceh Besar serta Selat Malaka. Malahayati bersama pasukan Inong Balee juga mendirikan sebuah pangkalan di Teluk Lamreh Krueng Jaya untuk menghadapi musuh-musuhnya.[13]
Salah satu kontribusi Laksamana Malahayati adalah dalam mengorganisasi armada laut Aceh. Pada masa Aceh menghadapi ancaman kolonial khususnya Belanda, Malahayati sebagai pemimpin armada laut berhasil mengorganisasi pasukannya dengan baik hingga mendapat julukan "Panglima Perang Laut".[14]
Laksamana Malahayati dan pasukannya bertugas melindungi pelabuhan pelabuhan dagang di Aceh. Pada tanggal 21 Juni 1599, Laksamana Malahayati berhadapan dengan kapal Belanda yang mencoba memaksakan kehendaknya. Laksamana Malahayati dan pasukannya tentu saja tidak dapat menerimanya. Mereka mengadakan perlawanan. Dalam peristiwa itu Cornelis de Houtman dan beberapa pelaut Belanda tewas. Frederick de Houtman, wakil komandan armada Belanda, ditangkap oleh pihak Aceh.[15] Keberhasilan Laksamana Malahayati dan Inong Balee berhasil memperkuat posisi Aceh sebagai kekuatan maritim nusantara.
Laksamana Malahayati merupakan salah satu tokoh yang juga berperan dalam urusan pemerintahan dan diplomasi di Kesultanan Aceh. Ketika Kerajaan Belanda berupaya memperbaiki hubungan dengan Kesultanan Aceh, mereka mengirim utusan yang membawa surat resmi dari Pangeran Maurits, pemimpin Belanda pada masa itu. Untuk perundingan tersebut, Sultan Aceh menunjuk Malahayati sebagai wakil. Hasil perundingan ini dinilai berhasil, termasuk adanya kesepakatan yang membuka hubungan diplomatik lebih lanjut antara kedua pihak, yang kemudian berkembang hingga dibukanya perwakilan atau kedutaan Aceh di Belanda dengan Duta Besar pertama Abdul Hamid.[10]
Sebelumnya, pada 1599 terjadi konflik antara armada Belanda yang dipimpin Cornelis dan Frederik de Houtman dengan pihak Aceh, yang berujung pada tewasnya Cornelis de Houtman dan ditawannya Frederick de Houtman. Dalam perundingan yang berlangsung sekitar tahun 1600, Belanda meminta pembebasan tawanan tersebut. Malahayati memimpin proses negosiasi, dan pembebasan disetujui dengan syarat Belanda membayar ganti rugi kepada Kesultanan Aceh. Selain dengan Belanda, Malahayati juga terlibat dalam hubungan diplomatik dengan Inggris. Pada tahun 1602, utusan Ratu Elizabeth I, James Lancaster, datang ke Aceh untuk membuka hubungan dagang. Sebelum bertemu Sultan, ia terlebih dahulu berunding dengan Malahayati. Dalam pembicaraan tersebut dibahas permintaan kerja sama perdagangan serta sikap terhadap Portugis. Setelah persyaratan dipenuhi sesuai ketentuan pihak Aceh, Lancaster diizinkan melanjutkan pertemuan dengan Sultan Aceh, yang kemudian menjadi awal hubungan dagang antara Aceh dan Inggris.[16]
Laksamana Malahayati berperan besar dalam memperkuat posisi perempuan dalam struktur sosial dan budaya masyarakat Aceh.[14] Melalui kiprahnya dalam perjuangan melawan kolonialisme, ia mampu membuktikan bahwa peran perempuan tidak terbatas pada aspek domestik sebagaimana perspektif masyarakat pada masa itu. Malahayati berhasil menunjukkan bahwa wanita dapat berkontribusi dalam bidang pertahanan dan strategi militer.
Laksamana Malahayati hidup pada masa laki-laki memiliki dominasi yang kuat dalam seluruh aspek kehidupan. Namun ia berhasil mematahkan stigma tersebut dan menunjukkan bahwa perempuan dapat memegang peran penting dalam perjuangan dan kepemimpinan, menembus batas-batas yang ada dan mengubah pandangan masyarakat tentang peran gender.[14] Laksamana Malahayati berhasil menunjukkan bahwa perempuan dapat memegang peran aktif dalam perjuangan menuju kemerdekaan.
Keberanian dan kepemimpinan Malahayati dalam bidang pertahanan dan strategi militer menjadi inspirasi bagi banyak pejuang perempuan setelahnya, seperti Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia , dan Martha Christina Tiahahu . Mereka mengikuti jejak Malahayati dalam melawan penjajah dengan semangat pantang menyerah.

Selain dinamakan sebagai nama jalan di berbagai wilayah di Indonesia, nama Malahayati juga banyak diabadikan dalam berbagai hal.
Atas jasa-jasanya Pemerintah Republik Indonesia, Presiden Joko Widodo menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017.[20][21]