Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Malahayati

Keumalahayati atau Malahayati adalah seorang pejuang perempuan Aceh yang berasal dari Kesultanan Aceh. Nama "Malahayati" kemungkinan besar berasal dari bahasa Arab "Hayati" yang berarti kehidupan.

laksamana Aceh dan pahlawan nasional Indonesia
Diperbarui 17 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Malahayati
Untuk kegunaan lain, lihat Malahayati (disambiguasi).
Laksamana
Malahayati
Lukisan Laksamana Malahayati
Lahir(1550-01-01)1 Januari 1550
Aceh Besar, Kesultanan Aceh
Meninggal30 Juni 1606(1606-06-30) (umur 56)
Tanjung Krueng Raya, Kesultanan Aceh
DikebumikanKrueng Raya, Lamreh, Aceh Besar
5°35′28.9″N 95°31′40.3″E / 5.591361°N 95.527861°E / 5.591361; 95.527861[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Malahayati&params=5_35_28.9_N_95_31_40.3_E_type:History_region:ID <span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">5°35′28.9″N</span> <span class=\"longitude\">95°31′40.3″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\">&#xfeff; / &#xfeff;</span><span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">5.591361°N 95.527861°E</span><span style=\"display:none\">&#xfeff; / <span class=\"geo\">5.591361; 95.527861</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwBg\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt6\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwBw\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwCA\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&amp;pagename=Malahayati&amp;params=5_35_28.9_N_95_31_40.3_E_type:History_region:ID\" class=\"external text\" id=\"mwCQ\"><span class=\"geo-default\" id=\"mwCg\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwCw\"><span class=\"latitude\" id=\"mwDA\">5°35′28.9″N</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwDQ\">95°31′40.3″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwDg\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDw\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEA\"></span></span><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwEQ\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwEg\">5.591361°N 95.527861°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwEw\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwFA\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwFQ\">5.591361; 95.527861</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwFg\"/></span>"}' id="mwFw"/>
Pengabdian Kesultanan Aceh
Dinas/cabangInong Balee
Lama dinas1585–1606
Pangkat Laksamana TNI
Perang/pertempuran
  • Perang Aceh–Belanda (1599)
    • Pertempuran Aceh (1599)
  • Konflik Aceh–Portugal
    • Penyerangan Melaka (1575)[1][2]
    • Pertempuran Tanjung Parit
    • Ekspedisi Aceh (1606) ⚔
Pahlawan Nasional Indonesia
S.K. Presiden No. 115/TK/2017 tanggal 6 November 2017.

Keumalahayati atau Malahayati (1 Januari 1550 – 30 Juni 1606) adalah seorang pejuang perempuan Aceh yang berasal dari Kesultanan Aceh. Nama "Malahayati" kemungkinan besar berasal dari bahasa Arab "Hayati" yang berarti kehidupan.

Ia dibesarkan dalam lingkungan yang mengutamakan pendidikan militer dan strategi perang, yang kelak membentuknya menjadi seorang panglima angkatan laut. Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530–1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513–1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.[3]

Pada tahun 1585–1604, dia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.[4]

Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Dia mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati[5] Saat meninggal dunia, jasad Malahayati dikebumikan di bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.[6]

Laksamana Malahayati meninggal dunia pada tahun 1615. Makamnya terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar. Laksamana Malahayati mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 9 November 2017 bersama dengan 3 orang lainnya.[7][8]

Makam Malahayati di bukit Krueng Raya, Aceh Besar

Pendidikan Angkatan Laut

Laksamana Malahayati dikenal juga dengan nama Keumalahayati. Ia dilahirkan di Aceh Besar pada tahun 1550. Pada masa kanak-kanak dan remaja ia mendapat pendidikan istana. Malahayati masih berkerabat dengan Sultan Aceh. Ayah dan kakeknya berbakti di Kesultanan Aceh sebagai Panglima Angkatan Laut. Dari situlah semangat kelautan Malahayati muncul. Ia kemudian mengikuti jejak ayah dan kakeknya dengan menempuh pendidikan militer jurusan angkatan laut di akademi Baitul Maqdis.[9]

Malahayati menempuh pendidikan militer di Ma’had Baitul Maqdis, yaitu akademi militer Kesultanan Aceh yang secara khusus melatih calon perwira dan pemimpin militer. Di lembaga ini, ia mempelajari berbagai keterampilan penting seperti strategi perang, taktik maritim, serta seni pelayaran dan pertempuran di lautan. Pada masa itu, Kesultanan Aceh memiliki hubungan yang erat dengan dunia Islam, sehingga sistem pendidikan militernya juga dipengaruhi dan mengadopsi teknik serta strategi dari Kesultanan Utsmaniyah dan kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa sumber, lembaga ini juga disebut sebagai Pusat Pendidikan Asykar Baitul Makdis, tempat para calon prajurit Aceh dilatih secara terstruktur oleh para perwira dari Turki sebagai bagian dari kerja sama antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kesultanan Utsmaniyah.[10]

Memimpin Inong Balee

Pasukan Inong Balee terbentuk pada masa Sultan Alaydin Ali Riayat Syah IV Saydil Muqammil yang memerintah Kerajaan Aceh pada 997 hingga 1011 M (1589-1604). Inong Balee memiliki pasukan sejumlah 2.000 orang, pasukan ini ditakuti oleh perairan pesisir Aceh Besar serta Selat Malaka. Sultan juga membekali pasukan Inong Balee dengan 100 unit kapal perang ukuran besar berkapasitas masing-masing 400 pasukan. Pasukan Inong Balee mulai dilibatkan dalam beberapa peperangan melawan Portugis dan Belanda.[11]

Perjuangan Malahayati dalam melawan penjajah dimulai setelah terjadinya pertempuran laut di Teluk Aru (sering juga disebut Teluk Haru), pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Riayat Syah Al Mukamil. Dalam pertempuran tersebut, armada laut Kesultanan Aceh yang dipimpin langsung oleh Sultan dengan bantuan dua orang laksamana berhasil menghadapi armada Portugis di kawasan Selat Malaka. Pertempuran itu berakhir dengan hancurnya armada Portugis, meskipun sekitar seribu prajurit Aceh dan dua laksamana gugur. Salah satu laksamana yang gugur adalah Laksamana Zainal Abidin, yang merupakan suami Malahayati. Saat itu, Malahayati juga menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud Dunia. Kemenangan besar tersebut membawa kegembiraan bagi Kesultanan Aceh, tetapi bagi Malahayati hal itu bercampur dengan duka mendalam karena kehilangan suaminya di medan perang.[10]

Dalam keadaan berduka, sekaligus diliputi rasa marah dan tekad untuk melanjutkan perjuangan, Malahayati kemudian mengusulkan kepada Sultan agar dibentuk sebuah pasukan khusus yang beranggotakan para janda prajurit Aceh yang gugur dalam pertempuran Teluk Aru. Usulan tersebut disetujui oleh Sultan. Dari keputusan itu lahirlah Armada Inong Balee (Armada Wanita Janda), yaitu armada yang terdiri dari para janda pejuang. Malahayati dipercaya menjadi pemimpin armada tersebut dengan pangkat Laksamana, menjadikannya perempuan Aceh pertama yang menyandang pangkat itu. Armada Inong Balee kemudian bermarkas di Teluk Krueng Raya dan menjadi salah satu kekuatan penting dalam pertahanan maritim Kesultanan Aceh.[12]

Pasukan Inong Balee berhasil menghancurkan dua kapal dagang Belanda. Dalam sebuah duel satu lawan satu di atas kapal musuh pada 11 September 1599, Laksamana Malahayati berhadapan dengan Cornelis de Houtman, penjelajah dan penjajah Belanda. Nyawa Cornelis pun melayang karena Keumalahayati.

Keberhasilan ini tidak hanya menunjukkan kemampuan militer mereka tetapi juga mengukuhkan posisi Aceh sebagai kekuatan maritim yang disegani pada masa itu. Pasukan Inong Balee ikut serta dalam beberapa perang melawan Portugis dan Belanda. Wilayah pertempuran mereka tidak hanya terbatas di Selat Malaka, tetapi juga meluas hingga pantai timur Sumatera dan Malaya. Mereka pun membangun Benteng Inong Balee di atas bukit tak jauh dari pesisir Teluk Ramleh di Kluen Raya, Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar.

Benteng Inong Balee berada di daerah Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Selain berfungsi sebagai benteng dan tempat melatih para Inong Balee, tempat ini juga digunakan untuk akomodasi para janda yang suaminya tewas dalam pertempuran. Di benteng itulah, Inong Balee tumbuh menjadi laskar perang yang ditakuti oleh musuh di perairan pesisir Aceh Besar serta Selat Malaka. Malahayati bersama pasukan Inong Balee juga mendirikan sebuah pangkalan di Teluk Lamreh Krueng Jaya untuk menghadapi musuh-musuhnya.[13]

Perjuangan Melawan Belanda

Salah satu kontribusi Laksamana Malahayati adalah dalam mengorganisasi armada laut Aceh. Pada masa Aceh menghadapi ancaman kolonial khususnya Belanda, Malahayati sebagai pemimpin armada laut berhasil mengorganisasi pasukannya dengan baik hingga mendapat julukan "Panglima Perang Laut".[14]

Laksamana Malahayati dan pasukannya bertugas melindungi pelabuhan pelabuhan dagang di Aceh. Pada tanggal 21 Juni 1599, Laksamana Malahayati berhadapan dengan kapal Belanda yang mencoba memaksakan kehendaknya. Laksamana Malahayati dan pasukannya tentu saja tidak dapat menerimanya. Mereka mengadakan perlawanan. Dalam peristiwa itu Cornelis de Houtman dan beberapa pelaut Belanda tewas. Frederick de Houtman, wakil komandan armada Belanda, ditangkap oleh pihak Aceh.[15] Keberhasilan Laksamana Malahayati dan Inong Balee berhasil memperkuat posisi Aceh sebagai kekuatan maritim nusantara.

Perundingan Damai

Laksamana Malahayati merupakan salah satu tokoh yang juga berperan dalam urusan pemerintahan dan diplomasi di Kesultanan Aceh. Ketika Kerajaan Belanda berupaya memperbaiki hubungan dengan Kesultanan Aceh, mereka mengirim utusan yang membawa surat resmi dari Pangeran Maurits, pemimpin Belanda pada masa itu. Untuk perundingan tersebut, Sultan Aceh menunjuk Malahayati sebagai wakil. Hasil perundingan ini dinilai berhasil, termasuk adanya kesepakatan yang membuka hubungan diplomatik lebih lanjut antara kedua pihak, yang kemudian berkembang hingga dibukanya perwakilan atau kedutaan Aceh di Belanda dengan Duta Besar pertama Abdul Hamid.[10]

Sebelumnya, pada 1599 terjadi konflik antara armada Belanda yang dipimpin Cornelis dan Frederik de Houtman dengan pihak Aceh, yang berujung pada tewasnya Cornelis de Houtman dan ditawannya Frederick de Houtman. Dalam perundingan yang berlangsung sekitar tahun 1600, Belanda meminta pembebasan tawanan tersebut. Malahayati memimpin proses negosiasi, dan pembebasan disetujui dengan syarat Belanda membayar ganti rugi kepada Kesultanan Aceh. Selain dengan Belanda, Malahayati juga terlibat dalam hubungan diplomatik dengan Inggris. Pada tahun 1602, utusan Ratu Elizabeth I, James Lancaster, datang ke Aceh untuk membuka hubungan dagang. Sebelum bertemu Sultan, ia terlebih dahulu berunding dengan Malahayati. Dalam pembicaraan tersebut dibahas permintaan kerja sama perdagangan serta sikap terhadap Portugis. Setelah persyaratan dipenuhi sesuai ketentuan pihak Aceh, Lancaster diizinkan melanjutkan pertemuan dengan Sultan Aceh, yang kemudian menjadi awal hubungan dagang antara Aceh dan Inggris.[16]

Simbol Kekuatan Wanita dalam Sejarah Indonesia

Laksamana Malahayati berperan besar dalam memperkuat posisi perempuan dalam struktur sosial dan budaya masyarakat Aceh.[14] Melalui kiprahnya dalam perjuangan melawan kolonialisme, ia mampu membuktikan bahwa peran perempuan tidak terbatas pada aspek domestik sebagaimana perspektif masyarakat pada masa itu. Malahayati berhasil menunjukkan bahwa wanita dapat berkontribusi dalam bidang pertahanan dan strategi militer.

Laksamana Malahayati hidup pada masa laki-laki memiliki dominasi yang kuat dalam seluruh aspek kehidupan. Namun ia berhasil mematahkan stigma tersebut dan menunjukkan bahwa perempuan dapat memegang peran penting dalam perjuangan dan kepemimpinan, menembus batas-batas yang ada dan mengubah pandangan masyarakat tentang peran gender.[14] Laksamana Malahayati berhasil menunjukkan bahwa perempuan dapat memegang peran aktif dalam perjuangan menuju kemerdekaan.

Keberanian dan kepemimpinan Malahayati dalam bidang pertahanan dan strategi militer menjadi inspirasi bagi banyak pejuang perempuan setelahnya, seperti Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia , dan Martha Christina Tiahahu . Mereka mengikuti jejak Malahayati dalam melawan penjajah dengan semangat pantang menyerah.

Penghargaan

Laksamana Malahayati pada pranko Indonesia tahun 2018.

Selain dinamakan sebagai nama jalan di berbagai wilayah di Indonesia, nama Malahayati juga banyak diabadikan dalam berbagai hal.

  1. Pelabuhan laut di Teluk Krueng Raya, Aceh Besar dinamakan dengan Pelabuhan Malahayati.[17]
  2. Salah satu kapal perang jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali (fregat) kelas Fatahillah milik TNI Angkatan Laut yang dinamakan KRI Malahayati. Kapal perang ini dibuat di galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980, khusus untuk TNI-AL.
  3. Dalam dunia pendidikan, terdapat Perguruan tinggi seperti Politeknik Pelayaran Malahayati yang terdapat di Aceh Besar dan Universitas Malahayati yang terdapat di Bandar Lampung.
  4. Sebuah serial film Laksamana Malahayati yang menceritakan riwayat hidup Malahayati telah dibuat pada tahun 2007.[18]
  5. Nama Malahayati juga dipakai oleh Ormas Nasional Demokrat sebagai nama divisi wanitanya dengan nama lengkap Garda Wanita Malahayati.[19]
  6. Selain dikukuhkan bergelar Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia di 2017 , hari lahirnya pun dijadikan hari perayaan dunia internasional atas pengajuan Pemerintah Indonesia di forum UNESCO pada 2023 di Perancis.

Atas jasa-jasanya Pemerintah Republik Indonesia, Presiden Joko Widodo menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017.[20][21]

Lihat pula

  • Artemisia I dari Caria
  • Konflik Aceh–Portugal
  • Konflik Aceh–Belanda (1599–1942)
  • Ekspedisi Aceh (1606)

Referensi

  1. ↑ Pewara, Adi (1991). Malahayati. Karya Anda, Surabaya. hlm. 10–14.
  2. ↑ "Kisah Hidup Laksamana Malahayati". tengkuputeh.com. 2018.
  3. ↑ "Laksamana Keumalahayati". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-11. Diakses tanggal 2011-11-27.
  4. ↑ "Kronik Perempuan-perempuan Pejuang Aceh di Kalyanamedia". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-07-17. Diakses tanggal 2007-05-31.
  5. ↑ "Laksamana Malahayati dan bangsa kita". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-04-26. Diakses tanggal 2011-11-27.
  6. ↑ Setyadi, Agus. "Jadi Pahlawan Nasional, Makam Laksamana Malahayati Bersolek". detikcom. Diakses tanggal 2019-11-06.
  7. ↑ "Malahayati, Laksamana Wanita Aceh Pertama di Dunia yang Juga Diplomat Ulung". Blog (dalam bahasa American English). 2017-12-07. Diakses tanggal 2020-04-27.
  8. ↑ "Pahlawan Nasional: Laksamana Malahayati - Bobo". bobo.grid.id. Diakses tanggal 2020-04-27.
  9. ↑ Sukmana, Yoga. Asril, Sabrina (ed.). "PROFIL PAHLAWAN: Malahayati, Laksmana Laut Perempuan Pertama di Dunia". Kompas.com. Diakses tanggal 2020-04-27.
  10. 1 2 3 Hasjmy, A. (1993). Wanita Aceh dalam pemerintahan dan peperangan. disadur oleh Emi Suhaimi. Banda Aceh: Yayasan Pendidikan A. Hasjmy.
  11. ↑ Triyunanto, Callan Rahmadyvi. "Inong Balee, Pasukan Perempuan Legendaris Aceh yang Kalahkan Cornelis de Houtman". detikedu. Diakses tanggal 2025-03-16.
  12. ↑ Insiroh, Ilusi. "Mengenal Sosok Laksamana Malahayati, Tempuh Pendidikan Militer hingga Dapat Gelar Pahlawan". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2020-04-27.
  13. ↑ Lestari Ningsih, Widya (2024-07-14). "Perjuangan Laksamana Malahayati". www.kompas.com. Diakses tanggal 2025-03-16.
  14. 1 2 3 Zainun Aziz, Ahmad Zaki (Oktober 2024). "Laksamana Malahayati: Perintis Perjuangan Wanita dalam Sejarah Maritim Aceh". Prosiding Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam (KONMASPI). 1 (3064–5557): 823–828.
  15. ↑ Raditya, Iswara N. "Cornelis de Houtman Tewas dalam Tikaman Rencong Malahayati". Tirto.id. Diakses tanggal 2020-04-27.
  16. ↑ MFakhriansyah. "Diplomat Aceh yang Diakui Ratu Inggris Tewas Dibunuh Tentara Asing". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2026-03-25.
  17. ↑ "Pelabuhan Malahayati". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-01-19. Diakses tanggal 2011-11-27.
  18. ↑ Bakri. "Marcella Zalianty Produseri Film Laksamana Malahayati". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2019-11-06.
  19. ↑ Metro TV 19 Juli 2011, pukul 21.30
  20. ↑ Nugroho, Bagus Prihantoro (9 November 2017). "Jokowi Tetapkan Laksamana Malahayati Jadi Pahlawan Nasional". detikcom. Diakses tanggal 9 November 2017.
  21. ↑ Afif. Andwika, Rizky (ed.). "Melihat makam Laksamana Malahayati yang telah dipercantik". Merdeka.com. Diakses tanggal 2019-11-06.
  • l
  • b
  • s
Indonesia Pahlawan Nasional Indonesia
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir · Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soeharto  · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Jamin Ginting  · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E. Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Sarwo Edhie Wibowo · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin  · Yos Sudarso · Djatikoesoemo · Moestopo
Kemerdekaan
Agustinus Adisoetjipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Soepeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang
Revolusi
Ahmad Yani · Karel Satsuit Tubun · Mas Tirtodarmo Harjono · Katamso Darmokusumo · Donald Izaac Panjaitan · Pierre Tendean · Siswondo Parman · Sugiyono Mangunwiyoto · R. Suprapto · Sutoyo Siswomiharjo
Pergerakan
Abdurrahman Baswedan · Maria Walanda Maramis · dr. Soetomo · Wage Rudolf Soepratman · Wahidin Soedirohoesodo
Sastra
Abdoel Moeis · Agus Salim · Amir Hamzah · Mohammad Yamin · Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
Seni
Ismail Marzuki · Usmar Ismail
Pendidikan
Dewi Sartika · Kartini · Ki Hadjar Dewantara · Ki Sarmidi Mangunsarkoro · Muhammad Salahuddin · Rahmah El Yunusiyyah  · Rubini Natawisastra · Sardjito · Soeharto Sastrosoeyoso · Syaikhona Muhammad Kholil
Integrasi
Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng · Silas Papare · Syarif Kasim II dari Siak
Pers
M. Tabrani · Roehana Koeddoes · Tirto Adhi Soerjo
Pembangunan
Moestopo · Pangeran Mohammad Noor · Suharso · Siti Hartinah · Teuku Mohammad Hasan · Wilhelmus Zakaria Johannes
Agama
As'ad Samsul Arifin · Abdul Chalim · Abdul Wahab Hasbullah  · Ahmad Dahlan · Ahmad Hanafiah · Ahmad Sanusi · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasyim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid  · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Wahid Hasjim
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Diusulkan · Portal Portal Indonesia
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • VIAF
Nasional
  • Belanda

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Pendidikan Angkatan Laut
  2. Memimpin Inong Balee
  3. Perjuangan Melawan Belanda
  4. Perundingan Damai
  5. Simbol Kekuatan Wanita dalam Sejarah Indonesia
  6. Penghargaan
  7. Lihat pula
  8. Referensi

Artikel Terkait

Pahlawan nasional Indonesia

Gelar penghargaan resmi tingkat tertinggi di Indonesia

Cut Nyak Dhien

pemimpin gerilya Aceh (1850 - 1908)

Daftar tokoh yang diusulkan menjadi pahlawan nasional Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026