Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Rondahaim Saragih Garingging

Tuan Rondahaim Saragih Garingging gelar Raja Raya Namabajan (1828–1891) adalah penguasa keempatbelas Partuanan Raya yang dijuluki Pemerintah Kolonial Belanda sebagai Napoleon der Bataks karena perlawanannya hingga akhir hayat terhadap upaya penaklukan Raya oleh Belanda. Partuanan Raya tercatat tidak pernah takluk kepada Belanda pada masa pemerintahan Tuan Rondahaim Saragih Garingging. Barulah pada tahun 1901, sepuluh tahun setelah wafatnya Tuan Rondahaim, Partuanan Raya takluk kepada pemerintah kolonial Belanda. Pada saat itu, Partuanan Raya dipimpin oleh putra Tuan Rondahaim yang bernama Sumayan gelar Tuan Kapoltakan Saragih Garingging.

Pahlawan Nasional Indonesia
Diperbarui 22 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Ini adalah nama Batak Simalungun, marganya adalah Saragih Garingging.
Rondahaim Saragih Garingging
Tuan Raya XIV
PendahuluTuan Jinmahadim Saragih Garingging gelar Tuan Huta Dolog
(Tuan Raya XIII)
PenerusTuan Sumayan Saragih Garingging gelar Tuan Kapoltakan
(Raja Raya XV)
Kelahiran1828
KematianJuli 1891
Pemakaman
Pematang Raya, Simalungun, Sumatera Utara
Makam Raja Raya Tuan Rondahaim Saragih Garingging 2°57′54.26932″N 98°51′32.60196″E / 2.9650748111°N 98.8590561000°E / 2.9650748111; 98.8590561000
Nama lengkap
Tuan Rondahaim Saragih Garingging
1848–1891
WangsaPartuanan Raya
AyahTuan Jinmahadim Saragih Garingging gelar Tuan Huta Dolog
IbuPuang Ramonta br. Purba Dasuha

Tuan Rondahaim Saragih Garingging gelar Raja Raya Namabajan[a] (1828–1891) adalah penguasa keempatbelas Partuanan Raya yang dijuluki Pemerintah Kolonial Belanda sebagai Napoleon der Bataks (bahasa Indonesia: Napoleon-nya orang-orang Batakcode: id is deprecated ) karena perlawanannya hingga akhir hayat terhadap upaya penaklukan Raya oleh Belanda. Partuanan Raya tercatat tidak pernah takluk kepada Belanda pada masa pemerintahan Tuan Rondahaim Saragih Garingging. Barulah pada tahun 1901, sepuluh tahun setelah wafatnya Tuan Rondahaim, Partuanan Raya takluk kepada pemerintah kolonial Belanda. Pada saat itu, Partuanan Raya dipimpin oleh putra Tuan Rondahaim yang bernama Sumayan gelar Tuan Kapoltakan Saragih Garingging.[2]

Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Tuan Rondahaim Saragih Garingging.[3]

Riwayat hidup

Kehidupan awal

Rondahaim Saragih Garingging lahir pada tahun 1828 di Juma Simandei, Sinondang, Pamatang Raya, ibu kota Partuanan Raya. Ayahnya, Tuan Jinmahadim Saragih Garingging gelar Tuan Huta Dolog, adalah penguasa Partuanan Raya. Ibunya, Puang Ramonta boru Purba Dasuha, adalah putri dari Guru Raya. Oleh karena Puang Ramonta hanyalah selir dari Tuan Jimmahadim, kehidupan Rondahaim dan ibunya serba kekurangan.[4] Pada masa kecilnya, Rondahaim telah diperkenalkan oleh keempat pamannya, yakni Guru Murjama, Guru Onding, Guru Nuan, dan Guru Juhang, kepada Raja Padang Tengku Muhammad Nurdin. Rondahaim belajar bahasa Melayu dan ilmu pemerintahan selama tinggal di Kerajaan Padang.[5] Pada tahun 1840, saat Rondahaim berusia 12 tahun, ayahnya meninggal dunia. Kekuasaan ayahnya kemudian digantikan oleh pamannya, Tuan Murmahata Saragih Garingging gelar Tuan Sinondang, sebagai pemangku raja. Tuan Murmahata juga menikahi ibu Rondahaim. [6]

Perjuangan melawan Belanda

Selama berkuasa, Tuan Rondahaim aktif memperluas wilayah kekuasaannya sekaligus menentang aneksasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda di daerah Sumatera Timur. Tuan Rondahaim mempersatukan raja-raja di Simalungun untuk melawan Pemerintah Kolonial yang saat itu melakukan ekspansi perkebunan.

Pada tahun 1860-an, Belanda sedang melakukan ekspansi perkebunan di daerah Sumatera Timur dengan membuka hutan belantara lalu mengubahnya menjadi perkebunan tembakau, karet, kakao, kopi, dan lain sebagainya. Seiring ekspansi perkebunan ini, intervensi birokrasi kekuasaan kolonial pun semakin meningkat di daerah Sumatera Timur. Belanda melakukan tekanan politik kepada kekuasaan-kekuasaan tradisional. Bahkan, apabila ingin melakukan sirkulasi kekuasaan politik, para raja lokal harus mendapat persetujuan Belanda, baik melalui residen maupun asisten residen. Raja-raja di Sumatera Timur pun menjadi bagian dalam birokrasi kolonial. Perusahaan perkebunan Belanda memberikan semacam konsesi yang dibayar kepada kekuasaan lokal. Bayaran itu menjadi sumber pendapatan para raja lokal.[7]

Di tengah ekspansi ini, Tuan Rondahaim dengan tegas menolak tunduk pada Belanda. Ia justru mempersatukan raja-raja lokal dan panglima perang di Simalungun yang waktu itu terpecah-pecah menjadi bagian kecil. Raja-raja yang berhasil dipersatukan antara lain Raja Siantar, Bandar, Sidamanik, Tanah Jawa, Pane, Raya, Purba, Silimakuta, dan Dolok Silau.[7]

Saat itu, Tuan Rondahaim bergelar Raja Goraha, semacam panglima perang kerajaan. Pada tahun 1880-an, Tuan Rondahaim mengadakan pertemuan dengan para raja Simalungun untuk memikirkan ancaman Hindia Belanda yang hendak menguasai Simalungun. Para raja di Simalungun lalu bersepakat untuk menentang Belanda.

Tuan Rondahaim lalu menggalang kekuatan rakyat yang siap bertempur, sekaligus menjaling jejaring politik di Semenanjung Melayu. Ia juga membangun koneksi dengan pialang senjata modern di Penang. Senjata modern dibarter dengan lada, komoditas laris dari pantai timur Sumatera.[7]

Tuan Rondahaim membentuk pasukan tempur dengan dipimpin Panglima Besar Torangin Damanik yang berasal dari Kerajaan Sidamanik. Setelah berhasil melakukan konsolidasi kekuatan, Tuan Rondahaim menyusun strategi perang. Pasukannya mulai menyerang markas-markas Belanda pada waktu-waktu tertentu. Dengan gerilya malam, pasukan Tuan Rondahaim muncul tiba-tiba di hadapan pasukan Belanda. Pasukannya juga melancarkan Perang Raya pada 1887, dengan membakar dan memusnahkan gudang-gudang perkebunan Belanda. Pertempurannya melawan upaya aneksasi Belanda terhadap wilayah kekuasaannya, antara lain terjadi pada 21 Oktober 1887 di Dolok Merawan dan 12 Oktober 1889 di Bandar Padang.[8] Tuan Rondahaim sangat ditakuti Belanda hingga mendapat julukan "Napoleon der Bataks," yang berarti Napoleon-nya orang-orang Batak.

Suatu ketika, Belanda mengajak Tuan Rondahaim untuk berunding di Pelabuhan Matapao. Tuan Rondahaim mencurigai ajakan tersebut. Lalu, ia mengumpulkan pasukannya dan memilih orang yang paling mirip dengannya. Orang itu juga dipakaikan baju raja.

Sesaat sebelum sampai di tempat perundingan, orang yang menyamar menjadi Tuan Rondahaim itu ditembak mati oleh tentara Belanda.[7]

Akhir hidup

Pada tahun 1887, pasukan kolonial Belanda berhasil memukul mundur pasukan Partuanan Raya. Sejak serangan ke Bajalinggei pada bulan Februari 1888, tidak ada lagi konflik terbuka antara pasukan kolonial Belanda dengan pasukan Tuan Rondahaim. Selain itu, Tuan Rondahaim juga menghadapi pemberontakan internal di wilayah kekuasaannya. Ada dua orang bangsawan yang menduduki beberapa kampung di wilayah kekuasannya dan melakukan kontak dengan Belanda. Kesehatan Tuan Rondahaim pun berangsur-angsur memburuk. Sekujur tubuhnya membengkak dan tidak dapat diobati oleh satu pun tabib di Raya. Pada Juli 1891, Tuan Rondahaim meninggal dunia di Rumah Bolon Raya. Menurut catatan Jaulung Wismar Saragih, kematian Tuan Rondahaim diratapi oleh semua orang di Raya.[9]

Sampai akhir hayatnya, Tuan Rondahaim tidak pernah ditangkap dan tidak pernah menyerah pada kekuasaan Belanda. Namun, setelah Tuan Rondahaim meninggal, tidak ada lagi perlawanan besar dari Simalungun. Raja-raja lokal di Simalungun akhirnya menyatakan tunduk pada Belanda, menjadi bagian dari birokrasi kolonial dan akhirnya menerima uang konsesi dari hasil perkebunan yang digarap perusahaan Belanda.

Penghargaan

Pahlawan nasional

Upacara penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Rondahaim Saragih Garingging (foto di sebelah kiri) di Istana Negara, Jakarta, 10 November 2025. Perwakilan marga Saragih Garingging, Bungaran Saragih, menerima plakat dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto (kanan).

Setelah lima tahun diusulkan, Tuan Rondahaim akhirnya ditetapkan menjadi pahlawan nasional di bidang angkatan bersenjata pada 10 November 2025.[7]

Bintang Jasa

Atas jasa-jasanya dalam melawan kolonialisme di Sumatera Timur, Tuan Rondahaim mendapatkan tanda kehormatan berupa Bintang Jasa Utama dari Presiden B.J. Habibie pada 13 Agustus 1999 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 077/TK/Tahun 1999.[10][11][12]

Rumah sakit

Pemerintah Kabupaten Simalungun menamai rumah sakit daerahnya dengan nama Rumah Sakit Umum Daerah Tuan Rondahaim Saragih untuk mengenang jasa-jasa Tuan Rondahaim.

Nama jalan

Salah satu ruas jalan di Kota Pematangsiantar dinamai dengan nama Tuan Rondahaim untuk mengenang jasa-jasanya.

Catatan

  1. ↑ Dalam bahasa Batak Simalungun, artinya Raja Raya yang bengis.[1]

Referensi

  1. ↑ Gereja Kristen Protestan Simalungun (1963). 60 Tahun Indjil Kristus di Simalungun, 2 Sept. 1903 s/d 2 Sept. 1963. GKPS. hlm. 6.
  2. ↑ "Mengenal Raja Rondahaim, Sang Napoleon Batak yang Tak Pernah Kalah Perang Lawan Belanda". iNews.id. 21 Agustus 2021. Diakses tanggal 25 Juli 2022.
  3. ↑ Safitri, Eva. "Prabowo Resmi Anugerahkan Gelar Pahlawan ke 10 Tokoh: Soeharto hingga Gus Dur". detiknews. Diakses tanggal 2025-11-10.
  4. ↑ Saragih et al. Dewi, hlm. 49-50.
  5. ↑ Saragih et al. Dewi, hlm. 56.
  6. ↑ Saragih et al. Dewi, hlm. 58.
  7. 1 2 3 4 5 Nikson Sinaga (12 November 2025) "Rondahaim Saragih : Napoleon der Bataks" Kompas. hal 11
  8. ↑ Saragih 2019, hlm. 34.
  9. ↑ Saragih et al. Dewi, hlm. 130.
  10. ↑ Sinaga, Nikson (13 Oktober 2023). "Rondahaim Saragih, Mempersatukan Simalungun Melawan Penjajah". Kompas. Diarsipkan dari asli tanggal 04 Mei 2024. Diakses tanggal 1 Maret 2024. ;
  11. ↑ Suwarta, Thomas Harming (9 Oktober 2023). "Tuan Rondahaim Saragih Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional". Media Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 04 Mei 2024. Diakses tanggal 1 Maret 2024. ;
  12. ↑ "Tuan Rondahaim Saragih Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Tunggu Keputusan Presiden Jokowi". JPNN. 29 Oktober 2023. Diarsipkan dari asli tanggal 04 Mei 2024. Diakses tanggal 2 Maret 2024. ;

Daftar pustaka

  • Liddle, R. William (2007). "Ethnicity and Political Organization: Three East Sumatran Cases". Dalam Claire, Holt (ed.). Culture and Politics in Indonesia (dalam bahasa Inggris). Equinox Publishing. hlm. 126–178. ISBN 978-9-793-78057-3. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Saragih, Heristina; Agustono, Budi; Dasuha, Juandaha Raya P.; Dewi (2013). Napoleon der Bataks: Kisah Perjuangan Tuan Rondahaim Saragih Melawan Belanda di Sumatera Timur, 1828–1891. Medan: USU Press. ISBN 979-458-669-2. ;
  • Saragih, Hisarma (31 Juli 2019). Zending di Tanah Batak: Studi Tentang Konversi di Kalangan Masyarakat Simalungun 1903–1942. Yogyakarta: Penerbit Ombak. ISBN 978-602-258-538-1. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Saragih, J.M.; Manan, Fajria Novart (1989). Pola Penguasaan, Pemilikan, dan Penggunaan Tanah Secara Tradisional Daerah Sumatera Utara 1984/1985. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Simanjuntak, Batara Sangti (1978). Sejarah Batak. K. Sianipar Company. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Tichelman, Gerard Louwrens; Wormser, C.W. (1942). Archipel-varia (dalam bahasa Belanda). W. van Hoeve. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Westenberg, C.J. (1897). "Verslag Eener Reis Naar de Onafhankelijke Bataklanden ten Noorden van het Toba-Meer". Dalam Van Hasselt, A.L.; Blink, H.; F.G., Kramp; Niermeyer, J.F.; Pleyte, C.M. (ed.). Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijskundig Genootschap Tweede Serie Deel XIV. Leiden: E.J. Brill. hlm. 1–112. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • l
  • b
  • s
Indonesia Pahlawan Nasional Indonesia
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir · Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soeharto  · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Jamin Ginting  · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E. Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Sarwo Edhie Wibowo · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin  · Yos Sudarso · Djatikoesoemo · Moestopo
Kemerdekaan
Agustinus Adisoetjipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Soepeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang
Revolusi
Ahmad Yani · Karel Satsuit Tubun · Mas Tirtodarmo Harjono · Katamso Darmokusumo · Donald Izaac Panjaitan · Pierre Tendean · Siswondo Parman · Sugiyono Mangunwiyoto · R. Suprapto · Sutoyo Siswomiharjo
Pergerakan
Abdurrahman Baswedan · Maria Walanda Maramis · dr. Soetomo · Wage Rudolf Soepratman · Wahidin Soedirohoesodo
Sastra
Abdoel Moeis · Agus Salim · Amir Hamzah · Mohammad Yamin · Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
Seni
Ismail Marzuki · Usmar Ismail
Pendidikan
Dewi Sartika · Kartini · Ki Hadjar Dewantara · Ki Sarmidi Mangunsarkoro · Muhammad Salahuddin · Rahmah El Yunusiyyah  · Rubini Natawisastra · Sardjito · Soeharto Sastrosoeyoso · Syaikhona Muhammad Kholil
Integrasi
Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng · Silas Papare · Syarif Kasim II dari Siak
Pers
M. Tabrani · Roehana Koeddoes · Tirto Adhi Soerjo
Pembangunan
Moestopo · Pangeran Mohammad Noor · Suharso · Siti Hartinah · Teuku Mohammad Hasan · Wilhelmus Zakaria Johannes
Agama
As'ad Samsul Arifin · Abdul Chalim · Abdul Wahab Hasbullah  · Ahmad Dahlan · Ahmad Hanafiah · Ahmad Sanusi · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasyim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid  · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Wahid Hasjim
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Diusulkan · Portal Portal Indonesia

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Riwayat hidup
  2. Kehidupan awal
  3. Perjuangan melawan Belanda
  4. Akhir hidup
  5. Penghargaan
  6. Pahlawan nasional
  7. Bintang Jasa
  8. Rumah sakit
  9. Nama jalan
  10. Catatan
  11. Referensi
  12. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Pahlawan nasional Indonesia

Gelar penghargaan resmi tingkat tertinggi di Indonesia

Pahlawan Revolusi Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Hari Pahlawan (Indonesia)

Hari Pahlawan Nasional

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026