Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh C.J. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45 × 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuno Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor D.146.

prasasti di Indonesia
Diperbarui 27 Januari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti yang dipajang di Museum Nasional Indonesia.
Bahan bakuBatu Andesit
Ukuran45 cm × 80 cm (18 in × 31 in)
Sistem penulisanAksara Pallawa
Dibuat1 Mei 683
(1342 tahun lalu)
 (683-05-01)
Ditemukan29 November 1920
(105 tahun lalu)
 (1920-11-29)
Kedukan Bukit, Sumatera Selatan, sekarang Indonesia
Ditemukan olehM. Batenburg
Lokasi sekarangMuseum Nasional Indonesia, DKI Jakarta, Indonesia
RegistrasiD. 161
BahasaBahasa Melayu Kuno

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh C.J. Batenburg[1] pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45 × 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuno Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor D.146.

Isi teks

Batu bertulis ini memiliki goresan di sekujur permukaannya dalam baris-baris teratur sebanyak 10 baris.

Alihaksara

  1. svasti śrī śakavaŕşātīta 604 ekādaśī śu-
  2. klapakşa vulan vaiśākha ḍapunta hiyaṁ nāyik di
  3. sāmvau maṅalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa
  4. vulan jyeşţha ḍapunta hiyaṁ maŕlapas dari Miṉāṅā
  5. tāmvan mamāva yaṁ vala dua lakşa daṅan ko śa(?)
  6. duaratus cāra di sāmvau dnaṅ jālan sarivu
  7. tlurātus sapulu dua vañakña dātaṁ di mata jap (mukha upaṃ ?)
  8. sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vula[n]... (āsāḍha ?)
  9. laghu mudita dātaṁ marvuat vanua ...
  10. śrīvijaya siddhayātra subhikşa ... (nityakāla ?)

Alihbahasa

  1. Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari ke sebelas
  2. paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyang naik di
  3. sampan mengambil siddhayātra. pada hari ke tujuh paro-terang
  4. bulan Jyestha Dapunta Hyang berangkat dari Minanga (Muara)
  5. tamwan membawa bala 20.000 dengan lengkap perbekalan
  6. dua ratus cara/peti di sampan dengan berjalan kaki seribu
  7. tiga ratus dua belas banyaknya datang ke sungai upang (Mukha Upang)
  8. sukacita pada hari ke lima paro-terang bulan Asadha
  9. lega gembira datang membuat banua....
  10. Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna....

Keterangan

Pada baris ke-8 terdapat unsur pertanggalan, tetapi bagian akhir unsur pertanggalan pada prasasti ini telah hilang. Seharusnya bagian tersebut diisi dengan nama bulan. Berdasarkan data dari fragmen prasasti No. D.161 yang ditemukan di Situs Telaga Batu, J.G. de Casparis (1956: 11–15) dan Boechari (1993: A1-1–4) mengisinya dengan nama bulan Āsāda. Maka lengkaplah pertanggalan prasasti tersebut, yaitu hari kelima paro-terang bulan Āsāda yang bertepatan dengan tanggal 16 Juni 682 Masehi.[2]

Menurut George Cœdès, siddhayatra berarti semacam “ramuan bertuah” (Pr. potion magique), tetapi kata ini bisa pula diterjemahkan lain. Menurut Kamus Jawa Kuna Zoetmulder (1995): sukses dalam perjalanan. Dengan terjemahan tersebut kalimat di atas dapat diubah: “Sri Baginda naik Sambau untuk melakukan perjalanan suci, sukses dalam perjalanannya.” Masih menurut George Cœdès, bahwa pasukan bergerak secara simultan melalui darat dan perairan.

Dari prasasti Kedukan Bukit, didapatkan data sebagai berikut:[3] Dapunta Hyang marlapas dari Miṉāṅgā tāmvan ke Muka Upang. [4] Karena kesamaan bunyinya, ada yang berpendapat Miṉāṅgātāmwan adalah sama dengan Miṉāṅgkābwa, yakni wilayah pegunungan di hulu Batang Hari. Ada juga berpendapat Minanga tidak sama dengan Malayu, kedua kawasan itu tempat Marlapas oleh Dapunta Hyang, isi prasasti ini menceritakan Perjalanan dari Minanga Tamwan.[5] Sementara, itu Soekmono berpendapat bahwa Minanga Tamwan bermakna pertemuan dua sungai (karena tamwan berarti 'temuan'), yakni Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri di Riau,[6] yakni wilayah sekitar Candi Muara Takus. Kemudian ada yang berpendapat Miṉāṅgā berubah tutur menjadi Binanga, sebuah kawasan yang terdapat pada sehiliran Sungai Barumun (Provinsi Sumatera Utara sekarang).[7] Pendapat lain menduga bahwa armada yang dipimpin Jayanasa ini berasal dari luar Sumatra, yakni dari Semenanjung Malaya.[8]


Namun demikian beberapa sejarawan, menyatakan bahwa Datu Sriwijaya berasal dari Baturaja berdasarkan Prasasti Baturaja yang menyebutkan nama Sriwijaya.[9] Prasasti Kedukan Bukit menerangkan pula bahwa dari lokasi Miṉāṅgā Tamvan Dapunta Hyang berangkat menuju ke Muka Upang disertai 20.000 pasukan yang berlayar menggunakan Samvau (sejenis Kapal) dan 1312 pasukan infantri berjalan kaki, dengan tujuan membuka wanua (wilayah) baru di Palembang.[10]

Lihat pula

  • Prasasti Talang Tuwo
  • Prasasti Telaga Batu
  • Prasasti Karang Berahi
  • Prasasti Kota Kapur
  • Prasasti Nusantara

Referensi

  1. ↑ Bloembergen, Marieke; Eickhoff, Martijn (2020-01-16). The Politics of Heritage in Indonesia: A Cultural History (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-49902-6.
  2. ↑ Casparis, J.G. de, (1956), Prasasti Indonesia II: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D., Dinas Purbakala Republik Indonesia, Bandung: Masa Baru.
  3. ↑ Damais, Louis-Charles, (1952), "'Etude d’Epigraphie Indonesienne III: Liste des Principales Datees de l’Indonesie", BEFEO, tome 46(1):1-106.
  4. ↑ Soekmono, R., (2002), Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2, Kanisius, ISBN 979-413-290-X
  5. ↑ Irfan, N.K.S., (1983), Kerajaan Sriwijaya: pusat pemerintahan dan perkembangannya, Girimukti Pasaka
  6. ↑ Drs. R. Soekmono, (1973 5th reprint edition in 1988). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm. 38. ISBN 979-4132290X. Pemeliharaan CS1: Tahun (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  7. ↑ Muljana, Slamet, (2006), Sriwijaya, PT. LKiS Pelangi Aksara, ISBN 978-979-8451-62-1
  8. ↑ Coedes, George (1996). The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press. hlm. 82. ISBN 978-0-8248-0368-1.
  9. ↑ Ismail, H.M. Arlan (2002). Periodisasi Sejarah Sriwijaya bermula di Minanga Komering Ulu Sumatera Selatan berjaya di Palembang berakhir di Jambi. Palembang: Unanti Press. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ↑ M. Arlan Ismail, Periodisasi Sriwijaya: Minanga Komering Ulu, Palembang, Jambi, 2002, UNANTI Press

Bacaan lebih lanjut

  • George Coedes, "Les inscriptions malaises de Çrivijaya", BEFEO tome 30(1): 29-80, 1930.
  • J.G. de Casparis, Indonesian Paleography, 1975
  • l
  • b
  • s
Prasasti di Indonesia
Jawa
DIY
  • Abhayagiri Wihara
  • Cebongan
  • Dawangsari
  • Humanding
  • Haralingga
  • Kalasan
  • Kiringan
  • Lintakan
  • Ngejaman Keben
  • Pananggaran
  • Rumwiga I
    • II
  • Sumundul (Kedulan)
  • Siwagrha
  • Salimar I
    • II
    • III
    • IV
  • Sinaguha
  • Timbangan Wungkal
  • Tulang Er
  • Wuatan Tija
DKI Jakarta
  • Perjanjian Sunda
  • Pintu Air Manggarai
  • Tugu
Banten
  • Batu Tulis Muruy
  • Cidanghiang
  • Kaki Kiri Nyoreang
Jawa Barat
  • Daftar:
  • Astana Gede
  • Batutulis
  • Ciaruteun
  • Cikajang
  • Cikapundung
  • Galuh
  • Huludayeuh
  • Jambu
  • Kebantenan
  • Kebon Kopi I
    • II
  • Mandiwunga
  • Muara Cianten
  • Pasir Awi
  • Pasir Datar
  • Rumatak
  • Sadapaingan
  • Sanghyang Tapak
Jawa Tengah
  • Daftar:
  • Anggehan
  • Bulai
  • Candi Angin
  • Canggal
  • Er Hangat
  • Gilikan
  • Gondosuli
  • Guntur
  • Gunung Wule
  • Humanding
  • Jayapattra
  • Kaduluran
  • Kamalagi
  • Kasugihan
  • Landa
  • Kayu Ara Hiwang
  • Kayumwungan
  • Kelurak
  • Kinewu
  • Kwak I
    • II
  • Luitan
  • Mangulihi
  • Mantyasih
  • Marsmu
  • Munduan
  • Munggu Antan
  • Ngabean III
  • Ngadoman
  • Ngruweng
  • Pakubuwana X
  • Palepangan
  • Pananggaran
  • Plumpungan
  • Poh Dulur
  • Rabwan
  • Raja Sankhara
  • Rajasanagara
  • Ramwi
  • Ratawun
  • Rukam
  • Salingsingan II
  • Sang Pamgat Swang I
    • II
    • III
    • IV
  • Sojomerto
  • Sri Ranapati
  • Sumundul
  • Supit
  • Syiwagrha
  • Telang
  • Timbangan Wungkal
  • Tri Tepusan
  • Tukmas
  • Tunahan
  • Wadu Tunti
  • Wangwang
  • Wanua Tengah I
    • II
    • III
  • Wayuku
  • Wihara I Wunandaik
  • Wukiran
  • Wurutunggal
  • Wutit
Jawa Timur
  • Daftar:
  • Adan-adan
  • Alasantan
  • Anjuk Ladang
  • Balingawan
  • Bameswara
  • Bangle
  • Banjaran
  • Batur
  • Bendosari
  • Camundi
  • Cane
  • Condrogeni I
  • Cunggrang
  • Dinoyo
  • Garaman
  • Geneng
  • Gondang
  • Gosari
  • Gulung-Gulung
  • Hering
  • Horren
  • Jaring
  • Jepun
  • Jeru-Jeru
  • Jiyu I
    • III
  • Jombok
  • Kaladi
  • Kalimusan
  • Kamban
  • Kambang Putih
  • Kampak
  • Kamulan
  • Karangrejo
  • Katiden I
    • II
  • Kedengan
  • Ketanen
  • Kudadu
  • Kuti
  • Kusmala
  • Lawan
  • Lemahabang
  • Leran
  • Linggasuntan
  • Malenga
  • Manjusri
  • Marimbong
  • Masahar
  • Mataji
  • Mleri
  • Mruwak
  • Mula Malurung
  • Muncang
  • Ngantang
  • Nglebak
  • Padlegan
    • I
    • II
  • Paguhan
  • Palah
  • Palebuhan
  • Pamwatan
  • Pandan
  • Paradah
  • Pasar Legi
  • Patakan
  • Pelem
  • Petak
  • Poh Rinting
  • Prapancasarapura
  • Pucangan
  • Purwokerto
  • Ranu Kumbolo
  • Renek
  • Salingsingan
  • Sangguran
  • Sapi Kerep
  • Sapu Angin
  • Sarwadharma
  • Sine
  • Singhasari 1351
  • Sukabumi
  • Sukamerta
  • Taji
  • Tanda Rakryan
  • Tija
  • Tengaran
  • Tinulad
  • Turun Hyang
  • Wwahan
  • Wide
  • Wotan
  • Wurandungan
  • Wurare
Sumatra
Aceh
  • Minyetujoh
  • Neusu
Jambi
  • Karang Berahi
  • Muarojambi
Kepulauan Riau
  • Pasir Panjang
Lampung
  • Dalung Kuripan
  • Hujung Langit
  • Palas Pasemah
  • Ulubelu
Bangka & Belitung
  • Kota Kapur
Sumatera Barat
  • Daftar:
  • Ambetra
  • Amoghapasa
  • Bandar Bapahat
  • Batusangkar
  • Ganggo Hilia
  • Kuburajo I
  • Prasasti Kuburajo II
  • Lubuk Layang
  • Ombilin
  • Padang Roco
  • Pagaruyung I
    • II
    • III
    • IV
    • V
    • VI
    • VII
    • VIII
    • IX
  • Paninggahan
  • Pariangan
  • Ponggongan
  • Rambatan
  • Suruaso
Sumatera Selatan
  • Baturaja
  • Kambang Unglen I
  • Kedukan Bukit
  • Leiden
  • Talang Tuwo
  • Telaga Batu
Sumatera Utara
  • Batugana I
  • Lobu Dolok I
    • II
    • III
  • Lobu Tua
  • Raja Soritaon
  • Sitopayan I
    • II
  • Sutan Nasinok Harahap
Bali & Nusa Tenggara
Bali
  • Babahan
  • Bebetin
  • Blanjong
  • Pandak Badung
  • Panempahan
  • Pujungan
  • Sembiran
  • Tumbu
NTB
  • Wadu Pa'a
  • Wadu Tunti
Kalimantan
Kal-bar
  • Batu Sukadana
  • Pasir Cina
  • Pasir Kapal
Kal-tim
  • Lesong Batu
  • Yupa
Sulawesi
Sulawesi Utara
  • Watu Pinawetengan
Kepulauan Maluku
Papua
Lihat pula: Daftar Prasasti di Indonesia, Museum Taman Prasasti, Prasasti Internasional

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Isi teks
  2. Alihaksara
  3. Alihbahasa
  4. Keterangan
  5. Lihat pula
  6. Referensi
  7. Bacaan lebih lanjut

Artikel Terkait

Daftar prasasti di Indonesia

Kata "prasasti" berasal dari bahasa Sansekerta, prasasti yang arti pertamanya (harfiah) adalah 'puji-pujian', dan arti secara luas adalah "piagam, maklumat

Daftar prasasti di Nusantara

Prasasti Nusantara adalah prasasti yang berasal dari wilayah Nusantara. Prasasti-prasasti ini ditulis dalam aksara serta bahasa-bahasa asli Nusantara

Prasasti Yupa

Prasasti Peninggalan Kerajaan Di Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026