Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Bahasa Melayu Kuno

Bahasa Melayu Kuno adalah nama yang digunakan untuk merujuk suatu bahasa tertulis pada beberapa prasasti yang berasal dari abad ke-7 hingga abad ke-10 masehi yang ditemukan di Sumatra dan Jawa. Sebagian besar prasasti yang menjadi sumber korpus Melayu Kuno berkaitan dengan sejarah Kerajaan Sriwijaya. Nama "Melayu Kuno" menunjukkan bahwa bahasa ini adalah pendahulu dari bahasa Melayu Klasik, walau beberapa ahli memiliki pandangan berbeda terhadap hal tersebut, yaitu apakah bahasa ini memang "bahasa Melayu", dan juga apakah bahasa ini memang berada di dalam rumpun bahasa Melayik. Ini disebabkan oleh bagaimana bahasa tersebut menggunakan imbuhan dan kata ganti orangnya, yang beberapa di antaranya tampak begitu beda dengan bahasa klasik dan modernnya.

bentuk Melayu tertua yang berhasil dibuktikan, dibuktikan melalui inskripsi yang terutama ditemukan di Sumatra dan Jawa
Diperbarui 11 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bahasa Melayu Kuno
Bahasa Melayu Kuno
[Bahasa Melayu Kuno] Galat: {{Lang}}: unrecognized language code: omy (bantuan)
Prasasti Kedukan Bukit (683) yang ditemukan di Sumatra adalah spesimen bahasa Melayu tertua yang masih ada.[1]
Wilayah
  • Indonesia
    • Sumatra
    • Jawa
  • Malaysia
    • Semenanjung Malaya
EtnisPara penutur bahasa-bahasa Malayik
EraAbad ke-7 hingga ke-14 M
Rumpun bahasa
Lihat sumber templat}}
Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman ini
Klasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
  • Austronesia Lihat butir Wikidata
    • Melayu-Polinesia Lihat butir Wikidata
      • Melayu-Sumbawa atau Kalimantan Utara Raya (diperdebatkan)
        Cari tahu mengapa. Beberapa rumpun bahasa dimasukkan sebagai cabang dari dua rumpun bahasa yang berbeda. Untuk lebih lanjutnya, silakan lihat pembagian dari sub-rumpun Melayu-Sumbawa dan Kalimantan Utara Raya
        • Melayu-Chamik
          • Melayik
            • Melayu Kuno
Tampilkan klasifikasi manual
  • bahasa manusia
    • Austro-Tai
      • Austronesia
        • Melayu-Polinesia Suntingan nilai di Wikidata
          • Melayu Kuno
    Tampilkan klasifikasi otomatis
    Bentuk awal
    • Proto-Melayik
      • Melayu Kuno
    Sistem penulisan
    Aksara Pallawa
    Kode bahasa
    ISO 639-3omy
    Glottologoldm1243[2]
    IETFomy
    Informasi penggunaan templat
    Status pemertahanan
    Punah

    EXSingkatan dari Extinct (Punah)
    Terancam

    CRSingkatan dari Critically endangered (Terancam Kritis)
    SESingkatan dari Severely endangered (Terancam berat)
    DESingkatan dari Devinitely endangered (Terancam)
    VUSingkatan dari Vulnerable (Rentan)
    Aman

    NESingkatan dari Not Endangered (Tidak terancam)
    ICHEL Red Book: Extinct

    Melayu Kuno diklasifikasikan sebagai bahasa yang telah punah (EX) pada Atlas Bahasa-Bahasa di Dunia yang Terancam Kepunahan

    Referensi: [3][4]

    Informasi penggunaan templat turunan
    Sampel
    Sampel teks
    Isi dari prasasti kedukan bukit, sebuah prasasti berbahasa Melayu Kuno yang ditulis dalam aksara Pallawa tertanggal 1 Mei 683 (Teks)
    svasti śrī śakavaŕşātīta 605 ekādaśī śu- • klapakşa vulan vaiśākha ḍapunta hiyaṁ nāyik di • sāmvau maṅalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa • vulan jyeşţha ḍapunta hiyaṁ maŕlapas dari Miṉāṅkā • tāmvan mamāva yaṁ vala dua lakşa daṅan ko śa(?) • duaratus cāra di sāmvau daṅan jālan sarivu • tlurātus sapulu dua vañakña dātaṁ di mata jap (mukha upaṃ ?) • sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vula[n]... (āsāḍha ?) • laghu mudita dātaṁ marvuat vanua ... • śrīvijaya siddhayātra subhikşa ... (nityakāla ?)
    Terjemahan: 
    Bahasa Melayu Umum
    Teks penuh

    Svasti! Pada 11 hari bulan separuh Vaiśākha tahun 605 Śaka, Dapunta Hiyang menaiki sampan untuk mendapatkan siddhayātra. Pada hari ke tujuh iaitu 15 hari bulan separuh Jyeṣṭha, Dapunta Hiyang berlepas dari Mināṅa membawa 20000 orang bala tentera dengan bekal-bekalan sebanyak 200 peti di sampan diiringi 1312 orang yang berjalan kaki banyaknya datang ke hulu Upang dengan sukacitanya. Pada 15 hari bulan separuh āsāḍha dengan mudah dan gembiranya datang membuat benua ... Śrīvijaya jaya siddhayātra subhikṣa nityakāla!

    Bahasa Indonesia
    Teks penuh
    Selamat! Tahun Śaka memasuki 605, pada hari kesebelas, Dapunta Hiyang menaiki sampan untuk mengambil siddhayātra. Pada hari ketujuh, yaitu 15 hari pertama bulan Jyeṣṭha, Dapunta Hiyang meninggalkan Mināṅa untuk membawa 20.000 orang pasukan tentara dengan perbekalan sebanyak 200 peti di sampan diiringi sebanyak 1312 orang yang berjalan kaki datang ke hulu Upang dengan sukacita. Pada 15 hari pertama bulan āsāḍha dengan mudah dan gembiranya datang membuat benua ... Sriwijaya jaya siddhayātra subhikṣa nityakāla!
    Sampel teks lainnya
    Sampel suara
    noicon
    (Bantuan • Berkas • Lainnya)
    Lokasi penuturan
    ProyekWiki Bahasa | Wikipedia | Kode sumber
     
    Lihat dalam mode terbatas
    Tampilkan peta yang diperbesar
    Tampilkan peta yang diperkecil
    Perkiraan persebaran penuturan bahasa ini.
    Peta bahasa lain
    Koordinat: 0°39′0″S 103°21′0″E / 0.65000°S 103.35000°E / -0.65000; 103.35000 Sunting di Wikidata
    Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
     Portal Bahasa
    L • B • PW   
    Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
    Cari artikel bahasa
    Cari artikel bahasa
     
    Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
     
    Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
    Artikel bahasa sembarang
    Halaman bahasa acak

    Bahasa Melayu Kuno (atau Melayu Kuno saja tanpa "bahasa", terkadang juga disebut sebagai Melayu Tua, bahasa Inggris: Old Malaycode: en is deprecated , OM) adalah nama yang digunakan untuk merujuk suatu bahasa tertulis pada beberapa prasasti yang berasal dari abad ke-7 hingga abad ke-10 masehi yang ditemukan di Sumatra dan Jawa. Sebagian besar prasasti yang menjadi sumber korpus (bukti tertulis) Melayu Kuno berkaitan dengan sejarah Kerajaan Sriwijaya.[5] Nama "Melayu Kuno" menunjukkan bahwa bahasa ini adalah pendahulu dari bahasa Melayu Klasik (lalu bahasa Melayu Modern), walau beberapa ahli memiliki pandangan berbeda terhadap hal tersebut, yaitu apakah bahasa ini memang "bahasa Melayu", dan juga apakah bahasa ini memang berada di dalam rumpun bahasa Melayik. Ini disebabkan oleh bagaimana bahasa tersebut menggunakan imbuhan dan kata ganti orangnya, yang beberapa di antaranya tampak begitu beda dengan bahasa klasik dan modernnya.[6][7][8] [9]

    Bahasa Melayu pertama kali digunakan pada milenium pertama yang dikenal sebagai bahasa Melayu Kuno, bagian dari rumpun bahasa Austronesia. Dalam waktu dua milenium, bahasa Melayu telah mengalami berbagai lapisan pengaruh asing melalui perdagangan, antarbangsa, penyebaran agama, penjajahan, dan perkembangan tren sosial politik baru. Tahap tertua bahasa Melayu, yaitu bahasa Melayik purba, berasal dari bahasa Melayu-Polinesia Purba yang dituturkan oleh pemukim Austronesia awal di Asia Tenggara. Tahap inilah yang kemudian berkembang menjadi bahasa Melayu Kuno, ketika mulai muncul pengaruh budaya dan agama India di Nusantara, kata beberapa peneliti linguistik. Dalam prasasti-prasastinya, bahasa Melayu Kuno mengandung banyak sekali kata pinjaman dari bahasa-bahasa India (khususnya Sanskerta), yang membuatnya sulit dipahami oleh sebagian besar penutur modern, berbeda jauh dengan tahapnya yang berikut bahasa Melayu Klasik, di mana di tahap itu juga bahasanya mulai semakin dekat dengan bahasa modernnya.[10]

    Bahasa Melayu Kuno yang ditemukan dalam prasasti-prasasti sumber memakai banyak kosakata bahasa Sanskerta dan ditulis menggunakan aksara Pallawa yang merupakan aksara Brahmi sehingga terdapat beberapa penyesuaian yang ditemukan untuk mengakomodasi fonologi Melayu Kuno yang berbeda dengan Sanskerta.[11]

    Nama

    Para arkeolog dan linguis pada awalnya tidak menggunakan nama tertentu untuk menyebut bahasa yang digunakan pada prasasti-prasasti berbahasa Melayu yang ditemukan di Sumatra dan Jawa. Linguis Charles Otto Blagden (1913) dan arkeolog George Cœdès (1930) menggunakan penyebutan seperti "bentuk kuno" atau "teks paling kuno" dari bahasa Melayu sedangkan linguis Gabriel Ferrand menggunakan nama malayo-sanscrit ("Melayu-Sanskerta") dalam tulisannya pada tahun 1932.[a][14] Indolog J. G. de Casparis mulai menggunakan nama Oud-Maleise ("Melayu Tua") dalam bukunya Prasasti Indonesia jilid pertama yang terbit tahun 1950.[15] Nama tersebut kemudian digunakan oleh sastrawan A. Teeuw dengan menulis Old Malay dalam tulisan singkatnya tahun 1959 mengenai sejarah bahasa Melayu.[16]

    Sejarah

    Perincian Aksara Rencong, sistem penulisan yang ditemukan di Sumatra bagian Tengah.[17] Teks itu berbunyi (ejaan Voorhoeve): "haku manangis ma / njaru ka'u ka'u di / saru tijada da / tang [hitu hadik sa]", yang diterjemahkan oleh Voorhoeve sebagai: "Aku menangis menyeru kau. Kau diseru tiada datang" (hitu adik sa- adalah sisa baris ke-4.)

    Awal era umum menjadi saksi pengaruh peradaban India yang tumbuh di kepulauan ini. Sebelum kedatangan para pedagang India ke Kepulauan Melayu, bahasa yang digunakan masyarakat setempat dikenal dengan bahasa Melayu Purba. Dengan penyerapan dan penyebaran perbendaharaan kata Dravida dan pengaruh agama-agama besar India seperti Hindu dan Buddha, bahasa Purwa-Malayik berkembang menjadi bahasa Melayu Kuno. Prasasti Dong Yen Chau diyakini berasal dari abad ke-4 M, ditemukan di barat laut Tra Kieu, dekat ibu kota lama Campa di Indrapura, Vietnam modern.[18][19][20] Namun, bahasa ini dianggap ditulis dalam bahasa Cam Kuno daripada bahasa Melayu Kuno oleh para ahli seperti Graham Thurgood. Spesimen bahasa Melayu Kuno yang tidak menimbulkan perdebatan adalah Prasasti Kedukan Bukit dari Sumatera Selatan, Prasasti Sojomerto abad ke-7 M dari Jawa Tengah, dan beberapa prasasti lain yang berasal dari abad ke-7 hingga ke-10 yang ditemukan di Sumatra, Semenanjung Malaya, Jawa, pulau-pulau lain di Kepulauan Sunda, serta Luzon Filipina. Prasasti berbahasa Melayu Kuno menggunakan aksara klasik seperti aksara Pallawa, Nagari atau aksara-aksara Sumatra Kuno yang dipengaruhi India.[21]

    Tata bahasa Melayu Kuno dalam prasasti prasasti Melayu Kuno bersamaan dengan periode Hindu Buddha dengan penggunaan kitab-kitab Sanskerta dari segi fonem, morfem, kosakata, dan ciri-ciri keilmuan, terutama apabila kata-kata tersebut berkait erat dengan kenegaraan seperti puja, bakti, kesatria, maharaja, dan raja, serta pada agama Hindu-Buddha seperti dosa, pahala, neraka atau surga, puasa, sami, dan biara, yang bertahan hingga kini. Bahkan, beberapa orang Melayu tanpa memandang agama pribadi mempunyai nama yang berasal dari bahasa Sanskerta seperti nama-nama dewa atau pahlawan Hindu India antara lain Putri, Putra, Wira, dan Wati.

    Secara populer diklaim bahwa bahasa Melayu Kuno prasasti-prasasti Sriwijaya dari Sumatera Selatan adalah leluhur bahasa Melayu Klasik. Namun, seperti yang dinyatakan oleh beberapa ahli bahasa, hubungan yang tepat antara kedua bahasa ini, baik leluhur maupun bukan, diragukan dan masih tidak pasti.[22] Mungkin saja bahasa prasasti-prasasti Sriwijaya adalah sepupu dekat dan bukannya leluhur bahasa Melayu Klasik.[23] Selain itu, walaupun bukti terawal bahasa Melayu Klasik telah ditemukan di Semenanjung Malaya dari tahun 1303, bahasa Melayu Kuno tetap digunakan sebagai bahasa tulisan di Sumatra hingga akhir abad ke-14, dibuktikan dari Prasasti Bukit Gombak bertarikh 1357[24] dan manuskrip Tanjung Tanah zaman Adityawarman (1347–1375). Bahasa Melayu Kuno mencapai kegemilangannya dari abad ke-7 hingga abad ke-14 pada zaman kerajaan Sriwijaya sebagai bahasa perantara dan bahasa penadbiran.

    Sumber-sumber bahasa Melayu Kuno

    Meskipun tidak terlalu banyak, ada cukup sumber naskah atau tulisan yang dapat dipelajari sehingga orang cukup memperoleh gambaran mengenai aspek kebahasaan bahasa ini.

    Bahasa Melayu Kuno ditemukan pada prasasti-prasasti berikut (tidak lengkap):

    • Prasasti Dewa Drabya, Dieng, Jawa Tengah[25]
    • Prasasti Suruaso,[26] di Suruaso, Kabupaten Tanah Datar (berbahasa Sanskerta, dan beraksara Melayu)
    Sumber sejarah bahasa Melayu Kuno[27]
    Nama Masehi Lokasi Area Afiks Catatan Referensi
    Sabakingking A (Telaga Batu) 680-700 Palembang ni-, mar-
    Sabakingking B 680 (sekitar) Palembang
    Kedukan Bukit 683 Palembang mar- 605 Saka beraksara Pallawa [28]
    Talang Tuwo 684 Palembang ni-, mar- 606 Saka /

    684 M huruf Pallawa, ditemukan oleh Residen Louis Constant Westenenk tanggal 17 November 1920 di sebuah kawasan bernama Talang Tuwo, di sisi barat laut Bukit Seguntang

    Kota Kapur 686 Bangka ni-, mar- 608 Saka / 686 M, beraksara Pallawa. Penemuan tahun 1892 [29]
    Palas Pasemah 600-700

    Abad ke-7

    Palas, Lampung Lampung ni-
    Sojomerto 600-700

    Abad ke-7

    Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Batang, Jawa Tengah Jawa Tengah [30]
    Kambang Purun 600-700

    Abad ke-7

    Palembang ni-, mar-
    Karang Berahi 692 Kabupaten Merangin, Jambi Jambi ni-, mar- 614 Saka / 692 M, beraksara Pallawa
    Boom Baru 600-700

    Abad ke-7

    Palembang ni-
    Bungkuk 600-700

    Abad ke-7

    Lampung ni-, mar-
    Sambas silver foil 701-900

    (Abad VIII-IX)

    Kalimantan Barat
    Mañjuçrighra 792 Candi Sewu, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah Jawa Tengah mar- 2 November 792M [25]
    Bukateja 800 Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah Jawa Tengah [25]
    Dieng 801-900

    Abad ke-9

    Dieng Jawa Tengah
    Dang Puhawang Gelis (Gandasuli I) 827 Candi Gondosuli, Desa Gondosuli, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah Jawa Tengah
    Sang Hyang Wintang (Gandasuli II) 832 Candi Gondosuli, Desa Gondosuli, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah Jawa Tengah di-

    var-/mar-

    [25]
    Laguna 900 Manila, Filipina Luzon di-

    bar-

    Bogor (Prasasti Kebon Kopi II) 932 Jawa Barat bar-/mar-
    Hujung Langit 997 Hujung Langit, Lampung Lampung
    Musi 901-1000

    Abad ke-10

    Palembang
    Batu Singapura 901-1000

    Abad ke-10

    Singapura
    Gunung Tua 1039 Padang Lawas bar-
    Panai 1001-1100

    (Abad XI)

    Padang Lawas
    Tandihat I (Si Joreng Belangah) 1179 Padang Lawas
    Rokan (Porlak Dolok) 1101-1200

    (Abad XII)

    Padang Lawas
    Padang Roco 1286 Dharmasraya di- dwibahasa, Melayu Kuno dan Jawa Kuno [31]
    Bukit Gombak I 1356 Tanah Datar di-, bar-
    Naskah tanjung tanah/Nitisarasamuscaya 1350-1490 Rumah Depati Talam Tuo,Desa Tanjung Tanah,KecamatanDanau Kerinci,Jambi Kabupaten Kerinci
    Minye Tujoh 1380 Aceh
    Gudam II 1301-1400 (Abad XIV) Tanah Datar bar-
    Lubuk Layang 1301-1400 (Abad XIV) Pasaman
    Si Topayan I 1401-1500 (Abad XV) Padang Lawas ba-
    Si Topayan II 1401-1500 (Abad XV) Padang Lawas ba-
    Ulu Belu 1401-1500 (Abad XV) Lampung
    Dadak 1401-1500 (Abad XV) Lampung bar-
    Ahmat Majanu Pangkalan Kempas 1467/8 Malaya bar-

    Penggolongan

    Bahasa Melayu Kuno merupakan sebuah bahasa Melayu–Polinesia namun belum terdapat konsensus mengenai kedudukannya di dalam rumpun bahasa tersebut. Linguis Alexander Adelaar menggunakan bahasa Melayu Kuno sebagai tambahan dalam rekonstruksi bahasa Proto-Melayik yang ia buat.[32] Adelaar serta beberapa linguis lain seperti seperti Walther Aichele dan René van den Berg telah menulis penjelasannya masing-masing mengenai perbedaan fonologi dan morfologi antara Melayu Kuno ke Melayu Modern.[33][34][35] Terdapat pula penulis-penulis lainnya yang menulis tentang morfologi Melayu Kuno sembari menyebutkan posisi bahasa tersebut terhadap rumpun bahasa Melayik. Sastrawan A. Teeuw beranggapan bahwa bahasa Melayu Kuno bukan merupakan versi terdahulu dari bahasa Melayu Modern berdasarkan perbedaan morfologi kedua bahasa tersebut meskipun ia juga menjelaskan hubungan antara kedua bahasa itu. Teeuw berpemikiran bahwa perbedaan tersebut tidak cukup dijelaskan hanya sebagai perkembangan fonologi maupun serapan seperti yang dijelaskan oleh Aichele.[36]

    Imbuhan di- dan ni-

    Adelaar, dalam rekonstruksi bahasa Proto-Melayik yang ia buat, tidak merekonstruksi imbuhan bahasa Melayu Modern di- salah satunya berdasarkan pertimbangan bahwa bahasa Melayu Kuno tidak memiliki di- namun menggunakan ni-. Ia mengatakan bahwa imbuhan tersebut dapat berasal dari kata depan di.[37][38] Pemikiran Adelaar ini berbeda dengan Berg yang mengungkapkan bahwa imbuhan di- dapat berkembang dari imbuhan Melayu Kuno ni-, sembari mengutip pemikiran serupa yang sebelumnya disebutkan oleh Teeuw dan Casparis.[39] Linguis Malcolm Ross, di lain pihak, menyebutkan bahwa bahasa Proto-Melayik dapat memiliki imbuhan *di-. Ia kemudian mengajukan bahwa bahasa Melayu Kuno bukan merupakan sebuah bahasa Melayik karena tidak merefleksikan imbuhan ini dan imbuhan +bAr- yang disebutkan berkembang dari imbuhan *mAr- dalam bahasa Proto-Melayik.[40] Adelaar, dalam sanggahannya, menyebutkan bahwa tidak ditemukannya di- dalam bahasa Melayu Kuno menjadikan imbuhan tersebut bukan sebuah penentu dasar dalam pengelompokan bahasa Melayik. Sementara itu, sebagian besar fonologi Melayu Kuno ditemukan berkorespondensi dengan perkembangan fonologi Melayik sementara yang tidak berkorespondensi menurutnya lebih terkait dengan sedikitnya korpus Melayu Kuno.[41]

    Ciri-ciri

    Dari berbagai sumber naskah dan prasasti tampak sekali pengaruh dari bahasa Sanskerta melalui banyak kata-kata yang dipinjam dari bahasa itu serta bunyi-bunyi konsonan aspiratif seperti bh, ch, th, ph, dh, kh, h (Contoh: sukhatchitta). Namun struktur kalimat jelas bersifat Malayik atau berkemelayuan, serta juga Austronesia, seperti adanya imbuhan (affix). Imbuhan-imbuhan ini dapat dilacak hubungannya dengan bentuk imbuhan bahasa Melayu Klasik atau bahasa Melayu,[42] seperti awalan mar- (ber- dalam bahasa Melayu Klasik dan Melayu), ni- (di-), nipar- (diper-), maN- (meN-), ka- (ter-, juga ke pada bahasa Betawi), dan maka- (ter-).

    Pronomina (kata ganti) pribadi, seperti juga bahasa Melayu, juga terdiri dari pronomina independen dan pronomina ekliktik (genitif):[43] 1s = aku, -ku/-nku, 2p = kamu, mamu, 3s = iya, nya, 3p (hormat) = sida, -da,-nda, 2p (divinum) = kita, -ta/-nta.

    Dua dialek telah diduga oleh Aichelle pada tahun 1942 dan A. Teeuw sejak 1959:[44] Dialek prasasti Sumatra: ni-/var- dan dialek luar Sumatra di-/bar-.

    Kosakata

    Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Bab atau bagian ini akan dihapus bila tidak tersedia referensi ke sumber tepercaya dalam bentuk catatan kaki atau pranala luar.

    Bahasa Melayu Kuno banyak dipengaruhi oleh sistem bahasa Sanskerta. Hal ini karena kebanyakan masyarakat Melayu ketika itu beragama Hindu dan Bahasa Sanskerta telah menjadi bahasa bangsawan dan mempunyai hierarki yang tinggi. Selain itu, sifat bahasa Melayu yang mudah lentur sesuai keadaan juga menjadi salah satu penyebab bahasa asing seperti Sanskerta diterima. Hal ini dapat dibuktikan dari pengaruh tulisan atau aksara Pallawa dan Dewanagari yang berasal dari India, kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta, rangkai-rangkai kata pinjaman dari bahasa Sanskerta, dan fonem-fonem Sanskerta. Pengaruh bahasa Sanskerta ini menyebabkan penambahan kosakata bahasa Melayu Kuno. Contoh kata yang diambil dari bahasa Sanskerta seperti syukasyitta, athava, karana, tatakala, dan sebagainya. Bahasa Melayu Kuno tidak mempunyai pengaruh Parsi atau Arab.

    Hubungan antara Melayu Kuno dan Melayu Modern dapat dilihat dari kata-kata yang bertahan dari dahulu sampai sekarang seperti curi, makan, tanam, air, dan sebagainya, serta kata-kata yang mempunyai bentuk atau format yang serupa seperti dalam tabel-tabel dibawah:

    Bahasa Melayu KunoBahasa Melayu Modern
    wulanbulan
    nasyikasyik
    nayiknaik
    mangalapmengambil
    mamavamembawa
    saribuseribu
    dangandengan
    vanaknabanyaknya
    sukhacittasukacita
    koke
    samvausampan
    datamdatang
    varibari = berisekarang
    rajaputraputra raja
    vatubatu
    tawad tabat (tebat, kolam)
    vala bala (tentara)
    rumwiya rumbia
    haur aur
    wuluh buluh
    pattung betung (bambu)
    niyur nyiur

    Awalan ni- menjadi di-

    Penggunaan awalan di- dalam Bahasa Melayu Modern sama dengan awalan ni- dalam Bahasa Melayu Kuno dan awalan diper- sama seperti nipar-.

    Bahasa Melayu KunoBahasa Melayu Modern
    nimakandimakan
    niminumnadiminumnya
    niparvuatdiperbuat
    nipaihumpadipersumpah
    nivunuhdibunuh

    Awalan mar- menjadi ber-

    Awalan ber- dalam Bahasa Melayu modern hampir sama dengan awalan mar- dalam Bahasa Melayu Kuno.

    Bahasa Melayu KunoBahasa Melayu Modern
    marvanumberbangun
    marvuatberbuat
    marlapasberlepas
    marppadahberpadah
    marsila bersila
    marwuddhi berbudi
    marjahati menjahati / berbuat jahat

    Akhiran -na menjadi -nya

    Akhiran -na yang digunakan dalam Bahasa Melayu Kuno sama dengan -nya pada masa kini.

    Bahasa Melayu KunoBahasa Melayu Modern
    vininabininya
    vuahnabuahnya

    Akhiran -ku adalah singkatan aku yang masih digunakan sampai sekarang

    Contohnya:

    • catrunku
    • hulutuhanku
    • niraksanku

    Ringkasan

    Secara singkat, berikut ciri-ciri bahasa Melayu Kuno

    • Mengandung banyak kata serapan dari bahasa Sanskerta seperti tatkala, atau, dan sebagainya
    • Bunyi b adalah w dalam bahasa Melayu Kuno. Contohnya, bulan adalah wulan
    • Bunyi e pepet tidak ada. Contoh: dengan - dngan atau dangan
    • Awalan ber- adalah mar- dalam Bahasa Melayu Kuno (contoh: berlepas-marlapas)
    • Awalan di- adalah ni- dalam bahasa Melayu Kuno (Contoh: diperbuat - niparvuat)
    • Ada bunyi konsonan yang diembuskan seperti bh, th, ph, dh, kh, h (Contoh: sukhatshitta)
    • Huruf h hilang dalam bahasa modern (Contoh: semua - samuha; saya - sahaya)

    Catatan kaki

    1. ↑ "... an archaic form of speech allied to Malay." dalam Blagden (1913) dan "... les plus anciens textes malais ..." dalam Cœdès (1930).[12][13]

    Rujukan

    1. ↑ Guy, John (2014). Lost Kingdoms: Hindu-Buddhist Sculpture of Early Southeast Asia. Metropolitan Museum of Art. hlm. 21. ISBN 9781588395245.
    2. ↑ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Old Malay". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
    3. ↑ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
    4. ↑ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
    5. ↑ Mahdi 2005, hlm. 182.
    6. ↑ Teeuw 1959, hlm. 141-142.
    7. ↑ Berg 2004, hlm. 536-541.
    8. ↑ Ross 2004, hlm. 98.
    9. ↑ Adelaar 2008, hlm. 244-245.
    10. ↑ Teeuw 1959, hlm. 149
    11. ↑ Vikør 1988, hlm. 67-68.
    12. ↑ Blagden 1913, hlm. 69.
    13. ↑ Cœdès 1930, hlm. 30.
    14. ↑ Ferrand 1932, hlm. 271.
    15. ↑ Casparis 1950, hlm. 50.
    16. ↑ Teeuw 1959, hlm. 141.
    17. ↑ Voorhoeve, P. (1970). "Kerintji Documents". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 126 (4): 369–399. doi:10.1163/22134379-90002797.
    18. ↑ Abdul Rashid & Amat Juhari 2006, hlm. 27
    19. ↑ Arkib Negara Malaysia 2012
    20. ↑ Morrison 1975, hlm. 52–59
    21. ↑ Molen, Willem van der (2008). "The Syair of Minye Tujuh". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 163 (2/3): 356–375. doi:10.1163/22134379-90003689.
    22. ↑ Sneddon 2003
    23. ↑ Teeuw 1959, hlm. 141–143
    24. ↑ Teeuw 1959, hlm. 148
    25. 1 2 3 4 "Situs "The History of Pasuruan Regency"". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-09-27. Diakses tanggal 2009-05-06.
    26. ↑ Casparis, J. G. de., (1992), Kerajaan Malayu dan Adityawarman, Seminar Sejarah Malayu Kuno, Jambi, 7-8 Desember 1992. Jambi: Pemerintah Daerah Tingkat I Jambi bekerjasama dengan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jambi, hlm. 235-256.
    27. ↑ Griffiths, Arlo (2018). "The Corpus of Inscriptions in the Old Malay Language". Dalam Perret, Daniel (ed.). Writing for Eternity: A Survey of Epigraphy in Southeast Asia. Paris: École française d'Extrême-Orient. hlm. 275–283. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
    28. ↑ Coedes, George, (1930), Les inscriptions malaises de Çrivijaya, BEFEO.
    29. ↑ Kern 1913, hlm. 393.
    30. ↑ "Situs Kabupaten Batang, diakses 7 Juni 2007". Diarsipkan dari asli tanggal 2008-03-27. Diakses tanggal 2009-05-06.
    31. ↑ Muljana, Slamet, 1981, Kuntala, Sriwijaya Dan Suwarnabhumi, Jakarta: Yayasan Idayu, hlm. 223.
    32. ↑ Adelaar 1992, hlm. 3.
    33. ↑ Adelaar 2005.
    34. ↑ Berg 2004.
    35. ↑ Aichele 1942-1943.
    36. ↑ Teeuw 1959, hlm. 141-144.
    37. ↑ Adelaar 1992, hlm. 161-163.
    38. ↑ Adelaar 2005, hlm. 128.
    39. ↑ Berg 2004, hlm. 549.
    40. ↑ Ross 2004, hlm. 103-106.
    41. ↑ Adelaar 2008, hlm. 244.
    42. ↑ Mahdi W. 2005. Old Malay. Dalam: Adelaar K.A. & Himmelmann N. (penyunting) The Austronesian languages of Asia and Madagascar. Routledge. Hal. 197.
    43. ↑ Mahdi W. 2005. ibid.. Hal. 196.
    44. ↑ Mahdi W. 2005. ibid.. Hal. 183.

    Daftar pustaka

    • Adelaar, K. A. (1992). Proto-Malayic: The reconstruction of its phonology and parts of its lexicon and morphology. Sydney: Pacific Linguistics. doi:10.15144/PL-C119. hdl:1885/145782. ISBN 0858834081. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
    • Adelaar, A. (2005). "Much ado about di-". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde. 161 (1): 127–142. doi:10.1163/22134379-90003717. JSTOR 27868203. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
    • Adelaar, A. (2008). "Review of Papers in Austronesian Subgrouping and Dialectology". Oceanic Linguistics. 47 (1): 240–246. JSTOR 20172347. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
    • Aichele, W. (1942–1943). "Die altmalaiische Literatursprache und ihr Einfluss auf das Altjavanische". Zeitschrift fur Eingeborenen-Sprachen. XXXIII: 37–66. Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
    • Berg, R. van den (2004). "Some notes on the origin of Malay di-". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 160 (4): 532–554. doi:10.1163/22134379-90003722. JSTOR 27868165. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
    • Blagden, C. O. (1913). "The Kota Kapur (Western Bangka) inscription". Journal of the Straits Branch. 65 (37): 69–71. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
    • Casparis, J. G. de (1950). Prasasti Indonesia I: Inscripties uit de Çailendra-tijd. Djawatan Purbakala Republik Indonesia, A. C. NIX & Co. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
    • Cœdès, G. (1930). "Les inscriptions malaises de Çrīvijaya". Bulletin de l'Ecole française d'Extrême-Orient. 30: 29–80. doi:10.3406/befeo.1930.3169. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
    • Ferrand, G. (1932). "Quatre textes épigraphiques malayo-sanskrits de Sumatra et de Baṅka". Journal asiatique. CCXXI: 271–326. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
    • Kern, H. (1913). "Inscriptie van Kota Kapoer". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde. 67 (1): 393–400. doi:10.1163/22134379-90001796. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
    • Mahdi, W. (2005). "Old Malay". Dalam Adelaar, K. A.; Himmelmann, N. (ed.). The Austronesian languages of Asia and Madagascar. Oxford: Routledge. hlm. 182–200. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
    • Ross, M. D. (2004). "Notes on the prehistory and internal subgrouping of Malayic". Dalam Bowden, J.; Himmelman, N. (ed.). Papers in Austronesian subgrouping and dialectology. Canberra: Pacific Linguistics. hlm. 97–109. doi:10.15144/PL-563. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
    • Teeuw, A. (1959). "The history of the Malay language. A preliminary survey". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde. 115 (2): 138–156. doi:10.1163/22134379-90002240. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
    • Vikør, L. S. (1988). "The spelling and phonology of Old Malay". Perfecting Spelling: Spelling discussions in Indonesia and Malaysia 1900–1972. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. Vol. 133. Dordrecht: Foris Publications. hlm. 67–88. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
    • Abdul Rashid, Melebek; Amat Juhari, Moain (2006), Sejarah Bahasa Melayu, Utusan Publications & Distributors, ISBN 967-61-1809-5
    • Andaya, Leonard Y. (2001), "The Search for the 'Origins' of Melayu" (PDF), Journal of Southeast Asian Studies, 32 (3): 315–330, doi:10.1017/s0022463401000169
    • Arkib Negara Malaysia (2012), Persada Kegemilangan Bahasa Melayu, diarsipkan dari asli tanggal 29 Agustus 2012, diakses tanggal 27 September 2012
    • Asmah, Haji Omar (2004), The Encyclopedia of Malaysia: Languages & Literature, Editions Didlers Millet, ISBN 981-3018-52-6
    • Collins, James T (1998), Malay, World Language: A Short History, Dewan Bahasa dan Pustaka, ISBN 978-979-461-537-9
    • Kementerian Sosial RI (2008), Sumpah itu, 80 tahun kemudian, diakses tanggal 19 October 2012
    • Mohamed Pitchay Gani, Mohamed Abdul Aziz (2004), E-Kultur dan evolusi bahasa Melayu di Singapura (Master Thesis), National Institute of Education, Nanyang Technological University
    • Morrison, George Ernest (1975), "The Early Cham Language and Its Relation to Malay", Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, 48
    • Noriah, Mohamed (1999), Sejarah Sosiolinguistik Bahasa Melayu Lama, Penerbit Universiti Sains Malaysia, ISBN 983-861-184-0
    • Ooi, Keat Gin (2008), Historical Dictionary of Malaysia, The Scarecrow Press, Inc., ISBN 978-0-8108-5955-5
    • Pusat Rujukan Persuratan Melayu (2012), Sejarah Perkembangan Bahasa Melayu, diakses tanggal 27 September 2012

    Pranala luar

    • Prasasti bahasa Melayu Kuno
    • Bahasa Malaysia Simple Fun Diarsipkan 2010-12-26 di Wayback Machine., halaman artikel berkaitan Bahasa Melayu Kuno (terjemahan Bahasa Inggris)
    • Loan-Words in Indonesian and Malay - disusun melalui proyek keetimologian Indonesia (Russell Jones, penyunting umum)
    • l
    • b
    • s
    Bahasa Indonesia
    Tentang
    • Alfabet
    • Sejarah
    • Pengaruh
    Ortografi
    • Alfabet
    • Angka
    Huruf
    • A
    • B
    • C
    • D
    • E
    • F
    • G
    • H
    • I
    • J
    • K
    • L
    • M
    • N
    • O
    • P
    • Q
    • R
    • S
    • T
    • U
    • V
    • W
    • X
    • Y
    • Z
    Pembaruan ejaan
    • Ejaan Van Ophuijsen (1901–1947)
    • Ejaan Republik (1947–1972)
    • Ejaan Pembaharuan (1957, tak diberlakukan)
    • Ejaan Melindo (1959, batal diresmikan)
    • Ejaan Baru atau Ejaan LBK (1967–1972, cikal bakal EYD)
    • Ejaan yang Disempurnakan (1972–2015)
    • Ejaan Bahasa Indonesia (2015–2022)
    • Ejaan yang Disempurnakan (sejak 2022)
    Ragam
    • Alay
    • Binan
    • Gado-gado
    • Gaul
    • Prokem
    • Peranakan
    • Lain-lain
    Akademik
    • Literatur
    • Nama
    • Bahasa Belanda di Indonesia
    • BIPA
    Tata bahasa
    • Fonologi
    • Tata bahasa
    • IPA
    Otoritas
    • Kongres Bahasa Indonesia
    • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
    • Kamus Besar Bahasa Indonesia
    • Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia
    • Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia
    • Tesaurus Tematis Bahasa Indonesia
    • UKBI
    Awalan
    • ber-
    • ter-
    • me-
    • di-
    • ke-
    • pe-
    • per-
    • se-
    • ku-/kau-
    • bersi-
    Sisipan
    • -el-
    • -em-
    • -er-
    • -in-
    Akhiran
    • -lah
    • -kah
    • -tah
    • -pun
    • -an
    • -kan
    • -nya
    • -i
    • -da
    • -man
    • -wan
    • -wati

    Untuk lanjutan, lihat Bahasa Indonesia#Awalan, akhiran, dan sisipan

    Dasar hukum
    • Undang-Undang No. 24 Tahun 2009
    • Perpres No. 63 Tahun 2019
    Penghargaan
    • Adibahasa
    • Duta Bahasa
    • Bulan Bahasa dan Sastra

    Bagikan artikel ini

    Share:

    Daftar Isi

    1. Nama
    2. Sejarah
    3. Sumber-sumber bahasa Melayu Kuno
    4. Penggolongan
    5. Imbuhan di- dan ni-
    6. Ciri-ciri
    7. Kosakata
    8. Awalan ni- menjadi di-
    9. Awalan mar- menjadi ber-
    10. Akhiran -na menjadi -nya
    11. Akhiran -ku adalah singkatan aku yang masih digunakan sampai sekarang
    12. Ringkasan
    13. Catatan kaki
    14. Rujukan
    15. Daftar pustaka
    16. Pranala luar

    Artikel Terkait

    Medang

    kerajaan di Asia Tenggara

    Bahasa Jawa Kuno

    fase bahasa Jawa tertua yang berhasil dibuktikan

    Kebaya

    pakaian nasional wanita Indonesia

    Jakarta Aktual
    Jakarta Aktual© 2026