Prasasti Wadu Tunti adalah sebuah prasasti batu yang ditemukan di desa Padede, kecamatan Donggo, kabupaten Bima, di pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Prasasti ini pertama kali dicatat oleh peneliti Belanda G.P. Rouffaer, yang mengunjunginya bulan Agustus 1910. Prasasti ini dianggap bernuansa Hindu, dan diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-14. Prasasti ini ditulis dalam aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno yang bercampur bahasa lokal. Kata wadu tunti dalam bahasa Bima (Mbojo) berarti 'batu tulis'.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Prasasti Wadu Tunti adalah sebuah prasasti batu yang ditemukan di desa Padede, kecamatan Donggo, kabupaten Bima, di pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.[1][2][3] Prasasti ini pertama kali dicatat oleh peneliti Belanda G.P. Rouffaer, yang mengunjunginya bulan Agustus 1910.[1][3] Prasasti ini dianggap bernuansa Hindu, dan diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-14.[1] Prasasti ini ditulis dalam aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno yang bercampur bahasa lokal.[2] Kata wadu tunti dalam bahasa Bima (Mbojo) berarti 'batu tulis'.[3]
Pada permukaan batu prasasti terdapat cukilan yang agak kasar menggambarkan empat orang tokoh, disamping tulisan sebanyak sembilan baris.[1] Rouffaer memperkirakan bahwa tokoh utama adalah Dewa Siwa, serta pembuatan prasasti ini antara tahun 1350 s.d. 1400.[1] Pada saat itu, tulisan prasasti belum terbaca, tetapi filolog Belanda J.G. de Casparis cenderung menyetujui pendapat Rouffaer.[1] Saat ini Balai Arkeologi Denpasar telah melakukan pembacaan terhadap prasasti ini.[4]
Dalam Pararaton dan Nagarakretagama disebutkan bahwa seorang panglima Majapahit bernama Pu Nala menaklukkan Kerajaan Dompu pada tahun 1357.[1] Selain itu Hikayat Raja Pasai juga menyebutkan adanya serangan tersebut.[1] Rouffaer berpendapat bahwa pernah terjadi perpindahan orang Jawa ke pulau Sumbawa, yang diperkirakan pertama kali menetap di Dompu dan Teluk Cempi di pantai selatan.[1] Pendapat tersebut berdasarkan adanya beberapa temuan peninggalan yang bersifat Siwais dengan corak Jawa.[1]
Berikut alihaksara prasasti ini menurut pembacaan tim Balai Arkeologi Denpasar:[4]
Berikut alihbahasa prasasti ini menurut pembacaan tim Balai Arkeologi Denpasar:[4]