Kemunculan Bersebab, juga dikenal sebagai Dependensi Kemunculan, Kemunculan Bergantungan, dan Sebab Musabab yang Saling Bergantung, merupakan salah satu ajaran terpenting dalam Buddhisme, yang menyatakan bahwa semua dhamma (fenomena) yang muncul senantiasa bergantung pada dhamma lainnya: “jika ini ada, itu ada; jika ini tidak ada lagi, itu juga tidak ada lagi”. Prinsip dasarnya adalah bahwa tidak ada satupun hal yang eksis secara independen; semuanya muncul karena adanya kondisi-kondisi yang saling bergantung.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


| Terjemahan dari Kemunculan Bersebab | |
|---|---|
| Indonesia | kemunculan bersebab, kemunculan bergantung, dependensi kemunculan, sebab musabab yang saling bergantungcode: id is deprecated |
| Inggris | dependent origination, dependent arising, interdependent co-arising, conditioned arising |
| Pali | paṭiccasamuppādacode: pi is deprecated |
| Sanskerta | प्रतीत्यसमुत्पादcode: sa is deprecated (IAST: pratītyasamutpāda) |
| Tionghoa | 緣起code: zh is deprecated (Pinyin: yuánqǐcode: pny is deprecated ) |
| Jepang | 縁起code: ja is deprecated (rōmaji: engicode: ja is deprecated ) |
| Korea | 연기code: ko is deprecated (RR: yeongicode: ko is deprecated ) |
| Tibet | རྟེན་ཅིང་འབྲེལ་བར་འབྱུང་བ་code: bo is deprecated (Wylie: rten cing 'brel bar 'byung ba THL: ten-ching drelwar jungwacode: bo is deprecated ) |
| Bengali | প্রতীত্যসমুৎপাদcode: bn is deprecated |
| Myanmar | ပဋိစ္စ သမုပ္ပါဒ်code: my is deprecated IPA: [bədeiʔsa̰ θəmouʔpaʔ]code: my is deprecated |
| Thai | ปฏิจจสมุปบาท (RTGS: patitcha samupabat)code: th is deprecated |
| Vietnam | duyên khởicode: vi is deprecated |
| Khmer | បដិច្ចសមុប្បាទ (padecchak samubbat)code: km is deprecated |
| Sinhala | පටිච්චසමුප්පාදcode: si is deprecated |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Kemunculan Bersebab (Pali: paṭiccasamuppāda; Sanskerta: pratītyasamutpāda; KBBI: paticasamupada), juga dikenal sebagai Dependensi Kemunculan, Kemunculan Bergantungan, dan Sebab Musabab yang Saling Bergantung, merupakan salah satu ajaran terpenting dalam Buddhisme,[1] yang menyatakan bahwa semua dhamma (fenomena) yang muncul senantiasa bergantung pada dhamma lainnya: “jika ini ada, itu ada; jika ini tidak ada lagi, itu juga tidak ada lagi”. Prinsip dasarnya adalah bahwa tidak ada satupun hal (dhamma, fenomena, prinsip) yang eksis secara independen; semuanya muncul karena adanya kondisi-kondisi yang saling bergantung.
Pentingnya ajaran ini ditekankan oleh Buddha dalam Mahāhatthipadopama Sutta (MN 28) melalui pernyataan-Nya:
| Yo paṭiccasamuppādaṁ passati so dhammaṁ passati; yo dhammaṁ passati so paṭiccasamuppādaṁ passati. Barang siapa melihat Kemunculan Bersebab, ia melihat Dhamma. Barang siapa melihat Dhamma, ia melihat Kemunculan Bersebab. |
||
| — Mahāhatthipadopama Sutta, MN 28 | ||
Ajaran ini mencakup gambaran tentang munculnya penderitaan (anuloma-paṭiccasamuppāda, dalam urutan maju) dan gambaran tentang bagaimana rantai tersebut dapat dibalik (paṭiloma-paṭiccasamuppāda, dalam urutan mundur).[2][3] Proses-proses ini diekspresikan dalam berbagai daftar fenomena yang muncul secara bergantungan, yang paling terkenal adalah dua belas tautan mata rantai atau nidāna (Pāli: dvādasanidānāni). Penafsiran tradisional (terutama dalam Theravāda) dari daftar ini adalah bahwa nidāna menggambarkan proses kelahiran kembali makhluk hidup di saṃsāra, dan dukkha (penderitaan, ketidaknyamanan) yang dihasilkannya.[4] Kemunculan Bersebab juga memberikan analisis mengenai kelahiran kembali dan penderitaan yang menghindari pengasumsian adanya atta (Sanskerta: ātman) (diri yang tidak berubah, atau roh yang kekal).[5][6] Pembalikan rantai kausalitas tersebut dijelaskan sebagai jalan yang mengarah pada berhentinya siklus kelahiran kembali (dan dengan demikian, juga berhentinya penderitaan).[7][8]
Ajaran tentang Kemunculan Bersebab muncul di banyak bagian Tripitaka Pali. Ini merupakan topik utama dari ''Nidāna Saṁyutta'' dalam kitab Saṁyuttanikāya (selanjutnya disebut SN) dari tradisi Theravāda. Koleksi diskursus (sutta) paralel juga terdapat dalam kitab Saṁyuktāgama berbahasa Tionghoa (disingkat SA).[9]
Istilah Pāli paṭiccasamuppāda (yang sejajar dengan istilah bahasa Sanskerta pratītyasamutpāda) terdiri dari dua unsur utama:
Paṭiccasamuppāda (Pali) dan/atau pratītyasamutpāda (Sanskerta) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai dependent origination, dependent arising (kemunculan bergantungan), interdependent co-arising (kemunculan-bersama yang saling bergantung), dan conditioned arising (kemunculan terkondisi).[15][16][note 2]
Jeffrey Hopkins mencatat bahwa istilah Sanskerta yang sinonim dengan pratītyasamutpāda (Pali: paṭiccasamuppāda) adalah apekṣasamutpāda dan prāpyasamutpāda.[22]
Istilah ini juga dapat merujuk pada dua belas mata rantai (nidāna); dari bahasa Pāli: dvādasanidānāni (Sanskerta: dvādaśanidānāni), yang sejajar dengan kata Sanskerta dvādaśa ("dua belas") + nidānāni (bentuk jamak dari nidāna, yang berarti "sebab, motivasi, tautan").[quote 2] Secara umum, dalam tradisi Mahāyāna, istilah Sanskerta pratītyasamutpāda digunakan untuk merujuk pada prinsip umum kausalitas yang saling bergantung, sedangkan dalam tradisi Theravāda, istilah Pāli paṭiccasamuppāda digunakan untuk merujuk pada dua belas nidāna.
Dalam teks-teks Buddhis awal, prinsip dasar kesalingbergantungan kondisi-kondisi sering disebut sebagai "kepastian dhamma" (dhamma-niyāmatā), atau "kondisionalitas spesifik, ketergantungan pada kondisi ini/itu" (idappaccayatā).[24] Prinsip ini diekspresikan dalam bentuk rumusan logis umumnya sebagai berikut:[3][25]
| ‘iti imasmiṁ sati idaṁ hoti, imassuppādā idaṁ uppajjati; imasmiṁ asati idaṁ na hoti, imassa nirodhā idaṁ nirujjhati— Jika ini ada, maka muncul itu; dengan munculnya (uppāda) ini, maka muncul pula itu. Jika ini tidak ada, maka itu tidak muncul; dengan lenyapnya (nirodha) ini, maka lenyap pula itu.[26] |
||
| — Assutavā Sutta, SN 12.61 | ||
Menurut Paccaya Sutta (SN 12.20), hukum alam tentang kesalingbergantungan kondisi-kondisi ini terus ada dan tetap berlaku terlepas dari apakah hukumnya ditemukan oleh seorang Buddha (seorang "Tathāgata") atau tidak. Hukum ini bersifat tetap dan stabil (dhamma-tthitatā), sedangkan proses-proses yang muncul secara bergantungan (paṭiccasamuppannā dhammā) merupakan variabel yang tidak kekal, terkondisi, dan tunduk pada kehancuran.[27][28]
Prinsip Kemunculan Bersebab sangat erat kaitannya dengan ajaran inti Buddhisme mengenai penderitaan, yang dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia. Berdasarkan teks-teks sutta awal seperti AN 3.61, Kebenaran Mulia kedua dan ketiga berkorelasi langsung dengan prinsip Kemunculan Bersebab.[29][30]
Proses dua belas mata rantai dalam urutan maju (yang berujung pada dukkha) merupakan penjabaran rinci dari Kebenaran Mulia Kedua, yakni asal mula penderitaan (dukkha-samudaya). Sebaliknya, pembalikan urutan mata rantai tersebut (urutan mundur) yang memutus siklus ini adalah representasi dari Kebenaran Mulia Ketiga, yakni lenyapnya penderitaan (dukkha-nirodha).[30] Dengan demikian, Empat Kebenaran Mulia dapat dipandang sebagai penerapan prinsip Kemunculan Bersebab yang difokuskan secara khusus pada penderitaan.[16]
|
Daftar yang paling umum digunakan untuk menganalisis Kemunculan Bersebab adalah dua belas nidāna (penyebab, tautan, atau mata-rantai). Penjelasan rinci mengenai nidāna ini dapat ditemukan dalam Vibhaṅga Sutta (SN 12.2).[31] Setiap tautan biasanya diakhiri dengan penegasan bahwa itu adalah "penyebab dari seluruh kesusahan dan penderitaan."
| Mata rantai (nidāna) | Terjemahan Indonesia | Penjelasan (berdasarkan SN 12.2) |
|---|---|---|
| Avijjā (Sanskerta: avidyā) |
Ketidaktahuan, kebodohan batin | Tidak mengetahui penderitaan, asal mula penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan.[32] |
| Saṅkhāra (Skt.: saṃskāra) |
Formasi kehendak, bentukan karma | Tiga jenis formasi: formasi jasmani, formasi ucapan, dan formasi pikiran.[32] |
| Viññāṇa (Skt.: vijñāna) |
Kesadaran | Enam jenis kesadaran: kesadaran mata, telinga, hidung, lidah, jasmani, dan pikiran.[32] |
| Nāmarūpa | Batin-dan-jasmani (batin-dan-rupa) | Nāma meliputi perasaan (vedanā), persepsi (saññā), kehendak (cetanā), kontak (phassa), dan perhatian (manasikāra). Rūpa adalah empat unsur pokok (tanah, air, api, angin) dan jasmani yang terbentuk darinya.[32] |
| Saḷāyatana (Skt.: ṣaḍāyatana) |
Enam landasan indra | Landasan indra mata, telinga, hidung, lidah, jasmani, dan pikiran (daya akal budi).[32] |
| Phassa (Skt.: sparśa) |
Kontak | Pertemuan antara objek indra, landasan indra, dan kesadaran (viññāṇa) terkait. Terdapat enam jenis phassa.[32] |
| Vedanā | Perasaan, sensasi | Perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral ("bukan-tidak-menyenangkan-dan-bukan-menyenangkan") yang muncul akibat enam jenis kontak indrawi. |
| Taṇhā (Skt.: tṛṣṇā) |
Kehausan, nafsu-keinginan | Nafsu akan bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan, dan gagasan (objek pikiran).[32] |
| Upādāna | Kemelekatan | Kemelekatan pada kenikmatan indrawi, kemelekatan pada pandangan salah, kemelekatan pada ritual/adat, dan kemelekatan pada doktrin tentang jati diri (attavāda).[32] |
| Bhava | Kemenjadian, penjelmaan, keberadaan |
Tiga alam kemenjadian/penjelmaan: penjelmaan alam indrawi, penjelmaan alam rūpa, dan penjelmaan alam arūpa.[32] |
| Jāti | Kelahiran | Pelahiran, penurunan, permulaan, kemunculan gugusan (khandha), dan perolehan landasan indra makhluk di berbagai alam.[32] |
| Jarāmaraṇa | Penuaan dan kematian | Penuaan, pelemahan, hilangnya vitalitas; serta kematian, putusnya indra-kehidupan (jīvitindriya) dari makhluk-makhluk.[32] |
Dalam tradisi tafsir Theravāda, yang selaras dengan metode Abhidhamma Theravāda, khususnya melalui kitab risalah Visuddhimagga gubahan Buddhaghosa, dua belas mata rantai (nidāna) umumnya dijelaskan dalam skema yang mencakup "tiga masa kehidupan" yang saling terhubung.[3][33]
| Kehidupan lampau | Kehidupan sekarang | Kehidupan kelak |
Model ini membagi nidāna sebagai berikut:
Tujuan utama penafsiran ini adalah untuk menunjukkan bagaimana fenomena siklus kematian dan kelahiran (samsara) beroperasi murni melalui hubungan sebab-akibat tanpa perlu mengasumsikan keberadaan suatu roh, jiwa, atau diri yang kekal (anattā).[25]
Kitab Visuddhimagga, sebuah kitab risalah abad ke-5 M, dalam pembahasannya tentang "Kemunculan Bersebab" (Pali: paṭicca-samuppāda) (Vsm. XVII), menyajikan berbagai metode penjelasan untuk memahami dua belas mata rantai (nidāna). Salah satu metode (Vsm. XVII, 298) membagi dua belas faktor tersebut ke dalam tiga "putaran" (tivaṭṭa):
| 12 nidāna | 3 putaran | ||
| tua-mati | aspek-aspek vipāka (resultan)[37] | ||
| ↑ | |||
| kelahiran | |||
| ↑ | ↑ | ||
| keberadaan | kamma | ||
| ↑ | ↑ | ||
| kemelekatan | kilesa (2 putaran) | ||
| ↑ | |||
| nafsu | |||
| ↑ | ↑ | ||
| perasaan | vipāka (resultan) | ||
| ↑ | |||
| kontak | |||
| ↑ | |||
| landasan indra | |||
| ↑ | |||
| batin-jasmani | |||
| ↑ | |||
| kesadaran | |||
| ↑ | ↑ | ||
| formasi | kamma | ||
| ↑ | ↑ | ||
| ketidaktahuan | kilesa (1 putaran) | ||
| Figur: "Tiga putaran" dari Kemunculan Bersebab (Vsm. XVII, 298). | |||
Dalam kerangka ini (lihat Diagram "12 Nidāna dan 3 Putaran", dimulai dari bagian bawah), kilesa (berupa avijjā, "ketidak-tahuan") mengondisikan kamma (yang adalah saṅkhāra, "formasi") yang mengondisikan hasil (berupa viññāṇa, "kesadaran"; hingga vedanā, "perasaan"), yang pada gilirannya mengondisikan kilesa (berupa taṇhā, "nafsu-keinginan"; dan upādāna, "kemelekatan") yang mengondisikan kamma (berupa bhava, "keberadaan") dan seterusnya.[38] Buddhaghosa (Vsm. XVII, 298) menyimpulkan:
Seperti yang dapat dilihat, dalam kerangka ini, putaran pengotor batin terdiri dari:
Di bagian lain kitab Visuddhimagga (Vsm. XXII, 88), dalam konteks empat individu mulia (ariya-puggala, lihat Empat tingkat kemuliaan), teks tersebut mengacu pada pertanda pencapaian Nirwana sebagai penghapusan total "pengotor batin yang merupakan akar dari putaran" (vaṭṭa-mūla-kilesā).[39]
Memahami Kemunculan Bersebab sangat penting dalam Theravāda karena memberikan pengetahuan tentang bagaimana siklus kematian dan kelahiran (samsara) dapat diakhiri (mencapai Nibbāna). Tradisi membedakan antara siklus duniawi (lokiya) yang menjebak makhluk dalam penderitaan, dan siklus adiduniawi (lokuttara paṭicca-samuppāda) yang menggambarkan proses pelepasan dari siklus tersebut.[40]
Dalam Upanisā Sutta (SN 12.23), Sang Buddha menjabarkan urutan kondisi yang mengarah pada pembebasan. Penderitaan (dukkha) justru menjadi prasyarat (kondisi pendukung) bagi munculnya keyakinan (saddhā):[41]
Buddhisme Mahāyāna, yang memandang Kemunculan Bersebab sangat erat kaitannya dengan ajaran tentang kekosongan (śūnyatā), menyatakan dengan tegas bahwa semua fenomena dan pengalaman kosong dari identitas independen. Hal ini sangat penting bagi tradisi Mādhyamaka, salah satu tradisi pemikiran Mahāyāna yang paling berpengaruh. Sementara itu, tradisi Yogācāra memahami Kemunculan Bersebab melalui filosofi idealistiknya, dan memandang Kemunculan Bersebab sebagai proses yang menghasilkan ilusi dualitas antara subjek dan objek.
Salah satu sutra yang paling penting dan banyak dikutip mengenai Kemunculan Bersebab dalam tradisi Mahāyāna India adalah Śālistamba Sūtra (Sutra Bibit Padi).[42] Sutra ini memperkenalkan perumpamaan terkenal tentang benih padi dan kecambahnya sebagai cara untuk menjelaskan kondisionalitas. Sutra ini juga mengandung kutipan berpengaruh: "Barang siapa melihat Kemunculan Bersebab, ia melihat dharma. Barang siapa melihat dharma, ia melihat Buddha."[42] Sutra ini memuat banyak bagian yang paralel dengan sumber-sumber Buddhis awal (seperti MN 38 Theravāda), dan juga menguraikan dua belas mata rantai klasik. Sutra ini juga mengandung beberapa elemen unik seperti figur Maitreya, gagasan tentang ilusi (māyā), dan gagasan tentang dharmaśarīra (tubuh-dharma).[43] Banyak ulasan ditulis untuk sutra ini, beberapa di antaranya dikaitkan dengan Nāgārjuna (meskipun hal ini diragukan).[43]
Beberapa sūtra Mahāyāna memuat pernyataan yang berbicara tentang sifat dharma yang "tanpa-kemunculan" atau "tidak-dihasilkan" (anutpāda). Menurut Edward Conze, dalam sūtra-sūtra Prajñāpāramitā, status ontologis dharma dapat digambarkan sebagai tidak pernah dihasilkan (anutpāda), tidak pernah dimunculkan (anabhinirvritti), serta tidak-terlahirkan (ajata). Hal ini diilustrasikan melalui berbagai perumpamaan seperti mimpi, ilusi, dan fatamorgana. Conze juga menyatakan bahwa "penerimaan dengan sabar atas tanpa-munculnya para dharma" (anutpattika-dharma-kshanti) adalah "salah satu kebajikan yang paling khas dari orang suci Mahāyāna."[44]
Mungkin yang tertua dari sutra-sutra ini, Aṣṭasāhasrikā Prajñāpāramitā, memuat bagian yang menggambarkan kedemikianan (tathatā) dari dharma menggunakan berbagai istilah termasuk śūnyatā, pelenyapan (nirodha), dan tanpa-kemunculan (anutpāda).[45] Yang paling terkenal, Sutra Hati menyatakan:
Sariputra, dengan cara itu, semua fenomena adalah kosong, yaitu, tanpa karakteristik, tidak dihasilkan, tidak dihentikan, tidak ternoda, tidak murni, tidak berkurang, tidak bertambah.[46]
Sutra Hati juga meniadakan dua belas mata rantai Kemunculan Bersebab: "Tidak ada ketidaktahuan, tidak ada pelenyapan ketidaktahuan, hingga dan termasuk tidak ada penuaan dan kematian serta tidak ada pelenyapan penuaan dan kematian."[47]
Dalam filosofi Mādhyamaka, dikatakan bahwa suatu objek muncul secara bergantungan adalah sinonim dengan mengatakan bahwa objek tersebut "kosong" (śūnya). Hal ini dinyatakan secara langsung oleh Nāgārjuna dalam Mūlamadhyamakakārikā (MMK):[48]
Apa pun yang muncul secara bergantungan, dijelaskan sebagai kekosongan. Demikianlah atribusi bergantungan, yang merupakan jalan tengah. Oleh karena tidak ada apa pun, yang tidak eksis secara bergantungan. Oleh karena alasan itu, tidak ada apa pun yang tidak kosong. – MMK, Bab 24.18–19[49]
Menurut Nāgārjuna, semua fenomena (dharma) kosong dari svabhāva (hakikat intrinsik, keberadaan inheren) yang merujuk pada identitas yang mandiri, independen secara kausal, dan kekal/permanen. Karya-karya filosofis Nāgārjuna menganalisis semua fenomena untuk menunjukkan bahwa tidak ada satu pun yang dapat eksis secara independen, tetapi fenomena tersebut juga tidak dianggap tidak eksis karena mereka eksis secara konvensional, yaitu sebagai kemunculan bergantungan yang kosong.[50]
Tradisi Yogācāra menafsirkan ajaran Kemunculan Bersebab melalui skema pusatnya tentang "tiga hakikat" (yang sebenarnya merupakan tiga cara memandang satu realitas yang muncul secara bergantungan).[51] Dalam skema ini, hakikat yang dikonstruksi atau difabrikasi adalah penampakan ilusi (dari diri yang dualistik), sementara "hakikat bergantungan" merujuk secara spesifik pada proses Kemunculan Bersebab itu sendiri. Dalam Yogācāra, proses kausal ini sepenuhnya bersifat mental; sehingga tubuh seseorang, landasan indra, dan sebagainya merupakan penampakan ilusi.[52]

Cendekiawan Buddhis Tibet mengandalkan karya-karya India utara dari para sarjana seperti Asaṅga, Vasubandhu, dan Nāgārjuna dalam menafsirkan dua belas mata rantai. Sebagai contoh, Je Tsongkhapa mencoba menyelaraskan penyajian dua belas mata rantai yang ditemukan dalam karya Nāgārjuna dan Asaṅga.[54] Tradisi Buddhisme Tibet mengalokasikan dua belas mata rantai secara berbeda di antara berbagai kehidupan (masa lalu, masa sekarang, dan masa depan), tidak seperti pendekatan tradisi Theravāda, karena melibatkan konsep bardo atau "keadaan-antara", suatu keadaan yang berada di antara kematian dan kelahiran kembali (Theravāda tidak setuju dengan konsep bardo).[54]
Tradisi Huayan mengajarkan ajaran tentang "bulat dan melebur" atau "harmonis sempurna" (yuánróng, 圓融) dari semua fenomena, seperti yang diekspresikan dalam metafora Jaring Indra. Satu hal mengandung semua hal lain yang ada, dan semua hal yang ada mengandung satu hal tersebut. Filosofi ini didasarkan pada Sutra Avataṁsaka. Thích Nhất Hạnh menjelaskan konsep ini dengan istilah "inter-be" (kesaling-adaan). Dia menggunakan contoh selembar kertas yang hanya dapat eksis karena setiap penyebab dan kondisi lainnya (sinar matahari, hujan, pohon, manusia, pikiran, dll) juga telah eksis. Menurut Hanh "selembar kertas ini ada karena segala sesuatu yang lain ada."[55]
Konsep paṭiccasamuppāda (Pali) atau pratītyasamutpāda (Sanskerta) juga telah dibandingkan dengan metafisika Barat, dalam studi tentang realitas. Schilbrack menyatakan bahwa ajaran sebab musabab yang saling bergantung tampak memenuhi definisi ajaran metafisika dalam filsafat karena mempertanyakan apakah ada sesuatu yang eksis sama sekali.[56] Hoffman tidak setuju dan menegaskan bahwa Kemunculan Bersebab tidak seharusnya dianggap sebagai ajaran metafisika dalam arti yang paling ketat karena ajaran tersebut tidak mengonfirmasi maupun menyangkal entitas atau realitas tertentu.[note 3]
Filsafat Helenistik Pironisme memiliki kemiripan dengan pandangan Buddhis mengenai Kemunculan Bersebab, sebagaimana juga dalam banyak hal lainnya.[58][59][60] Aulus Gellius dalam Attic Nights mendeskripsikan bagaimana penampakan dihasilkan oleh interaksi relatif antara pikiran dan tubuh, serta bagaimana tidak ada hal yang bersifat mandiri (bahasa Inggris: self-dependent).[61] Ulasan kuno atas Theaetetus karya Plato juga membela sejenis relativisme yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang memiliki karakter intrinsiknya sendiri.[62]
Jay L. Garfield menyatakan bahwa Mūlamadhyamakakārikā karya Nāgārjuna menggunakan hubungan kausal untuk memahami hakikat realitas dan hubungan kita dengannya. Upaya ini mirip dengan penggunaan kausalitas oleh David Hume, Immanuel Kant, dan Arthur Schopenhauer saat mereka memaparkan argumen masing-masing. Nāgārjuna menggunakan kausalitas untuk menyajikan argumennya tentang bagaimana seseorang mengindividualisasikan objek-objek, menata pengalaman seseorang terhadap dunia, dan memahami kepelakuan atau daya bertindak (bahasa Inggris: agency) di dunia.[18]
Sumber edukasi