Sutra Mahāyāna merupakan kumpulan genre sastra kitab suci Buddhis (sūtra) yang diterima sebagai kanonis dan buddhavacana dalam komunitas penganut Buddhisme Mahāyāna tertentu. Sutra-sutra ini sebagian besar terpelihara dalam teks-teks berbahasa Sanskerta dan terjemahan-terjemahan dalam Kanon Buddhis Tibet dan Kanon Buddhis Tionghoa. Beberapa ratus sutra Mahāyāna masih ada dalam bahasa Sanskerta, atau dalam terjemahan bahasa Tionghoa dan Tibet. Sutra-sutra ini juga kadang-kadang disebut sebagai sutra Vaipulya ("luas") oleh sumber-sumber sebelumnya. Cendekiawan Buddhis bernama Asaṅga mengklasifikasikan sutra Mahāyāna sebagai bagian dari Bodhisattva Piṭaka, kumpulan teks yang ditujukan untuk para Bodhisatwa.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia



| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Mahāyāna |
|---|
Sutra Mahāyāna merupakan kumpulan genre sastra kitab suci Buddhis (sūtra) yang diterima sebagai kanonis dan buddhavacana ("sabda Buddha") dalam komunitas penganut Buddhisme Mahāyāna tertentu. Sutra-sutra ini sebagian besar terpelihara dalam teks-teks berbahasa Sanskerta dan terjemahan-terjemahan dalam Kanon Buddhis Tibet ("Tripitaka" Tibet) dan Kanon Buddhis Tionghoa ("Tripitaka" Tionghoa). Beberapa ratus sutra Mahāyāna masih ada dalam bahasa Sanskerta, atau dalam terjemahan bahasa Tionghoa dan Tibet.[1] Sutra-sutra ini juga kadang-kadang disebut sebagai sutra Vaipulya ("luas") oleh sumber-sumber sebelumnya.[2] Cendekiawan Buddhis bernama Asaṅga mengklasifikasikan sutra Mahāyāna sebagai bagian dari Bodhisattva Piṭaka, kumpulan teks yang ditujukan untuk para Bodhisatwa.[3]
Para cendekiawan modern dalam studi agama Buddha pada umumnya berpendapat bahwa sutra-sutra ini pertama kali muncul antara abad ke-1 SM dan abad ke-1 Masehi.[4][5] Mereka terus dikarang, disusun, dan disunting hingga kemunduran agama Buddha di India kuno. Beberapa di antaranya mungkin juga disusun di luar India, seperti di Asia Tengah dan Asia Timur.[6] Beberapa sutra Mahāyāna yang paling berpengaruh meliputi Sutra Teratai, Sutra Kesempurnaan Kebijaksanaan, Sutra Avatamsaka, Sutra Lankavatara, Sutra Tanah Murni, dan Sutra Nirvana.
Umat Buddhisme Mahāyāna biasanya menganggap beberapa sutra Mahāyāna utama diajarkan oleh Buddha Sakyamuni, dihafalkan dan dibacakan oleh murid-murid-Nya, khususnya Ananda.[7] Akan tetapi, sutra-sutra Mahāyāna lainnya disajikan seolah diajarkan oleh tokoh-tokoh lain, seperti para Bodhisatwa seperti Mañjuśrī dan Avalokiteśvara. Ada beragam alasan yang dikemukakan oleh umat Buddhisme Mahāyāna India untuk menjelaskan fakta bahwa sutra-sutra ini hanya muncul di masa belakangan. Salah satu alasannya, menurut penganut Mahāyāna, adalah karena sutra-sutra ini telah disembunyikan di tanah para Naga (dewa ular, naga) hingga waktu yang tepat untuk penyebarannya tiba.
Sutra-sutra Mahāyāna tidak diterima oleh semua umat Buddha di India kuno, dan berbagai aliran Buddhis di India tidak sepakat mengenai statusnya sebagai "sabda Sang Buddha".[8] Umumnya, sutra-sutra ini tidak diterima sebagai sabda Sang Buddha oleh Buddhisme Theravāda, yang memegang teguh kitab suci Tripitaka Pali sebagai batasan kanonisnya.[9]