Suku Karo merupakan salah satu kelompok kelompok etnik Batak yang menyebar dan menetap di Tanah Karo. Etnis ini merupakan salah satu etnis terbesar di Sumatra Utara. Nama etnis ini dijadikan sebagai nama salah satu kabupaten di Sumatra Utara, yaitu Kabupaten Karo. Etnis ini memiliki bahasa yang disebut bahasa Batak Karo atau cakap Karo. Pakaian adat Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Konon, Kota Medan didirikan oleh seorang tokoh Karo yang bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
artikel ini mungkin memberikan berat tak wajar pada suatu gagasan, insiden, atau kontroversi. (Desember 2024) |
| Jumlah populasi | |||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| ± 1.100.000 (2010) | |||||||||||||||||||
| Bahasa | |||||||||||||||||||
| Bahasa Indonesia, Bahasa Karo (Dialek Jahe-jahe Dan Dialek Gugung), Melayu Deli | |||||||||||||||||||
| Agama | |||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||
| Kelompok etnik terkait | |||||||||||||||||||
Suku Karo (Surat Batak: ᯂᯞᯂ᯳ ᯆᯗᯂ᯳ ᯂᯒᯭ, transliterasi: Kalak Batak Karo; lazim disebut sebagai Karo saja) merupakan salah satu kelompok kelompok etnik Batak yang menyebar dan menetap di Tanah Karo (mendiami wilayah Sumatra Utara dan sebagian Aceh; meliputi Kabupaten Karo, sebagian Kabupaten Aceh Tenggara, Langkat, Dairi, Simalungun, Deli Serdang, Kota Medan, dan Kota Binjai). Etnis ini merupakan salah satu etnis terbesar di Sumatra Utara. Nama etnis ini dijadikan sebagai nama salah satu kabupaten di Sumatra Utara, yaitu Kabupaten Karo. Etnis ini memiliki bahasa yang disebut bahasa Batak Karo atau cakap Karo. Pakaian adat Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Konon, Kota Medan didirikan oleh seorang tokoh Karo yang bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi.
Karo adalah etnis yang mendiami Tanah Karo (meliputi Kabupaten Karo, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Deli Serdang, Kota Medan, Kota Binjai, dan Kabupaten Aceh Tenggara). Etnis ini memiliki bahasa yang disebut bahasa Karo dan memiliki salam khas yaitu Mejuah-juah. Adapun rumah tradisional masyarakat Karo atau yang dikenal dengan nama Siwaluh Jabu yang berarti rumah untuk delapan keluarga, yaitu rumah yang terdiri dari delapan bilik yang masing-masing bilik dihuni oleh satu keluarga. Tiap keluarga yang menghuni rumah itu memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan pola kekerabatan masing-masing.
Awal mulanya sejarah kerajaan di Dataran Tinggi Karo yang saat ini menjadi Kabupaten Karo sulit diketahui pasti karena keterbatasan sumber yang jelas. Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa pada abad ke-13, Kerajaan Kuta Buluh dan Kerajaan Sicapah menyerang dan menghancurkan Kerajaan Nagur Pase.[6]
Pada abad ke-15, Kerajaan Sebayak Kuta Buluh menghapuskan kerajaan Nagur Pase sepenuhnya. Saat itu, Sebayak Kuta Buluh (raja Kuta Buluh) yang bermarga Perangin-angin memiliki kekuatan jauh lebih unggul dibandingkan Sebayak Sicapah bermarga Karo-karo dan Sebayak Nagur Pase bermarga Ginting Suka. Tahun itu pula muncul kerajaan baru, yaitu: Kerajaan Lingga yang sekarang ini menjadi Kecamatan Simpang Empat, Kerajaan Barus Jahe yang sekarang ini menjadi Kecamatan Barus Jahe, Kerajaan Srinembah yang sekarang ini menjadi Kecamatan Munthe, dan Kerajaan Suka yang sekarang ini menjadi Kecamatan Tiga Panah.[6]
Pada tahun 1868, pengaruh Kesultanan Aceh sangat terasa ketika Sultan Aceh bernama Tuan Kita (Tengku Palembang) datang ke Dataran Tinggi Karo.[6]
Kemudian di tahun 1880, Tengku Syeh (Tengku Lau Bahun) datang menemui para Sebayak di Lingga, Barus Jahe, Suka, dan Sarinembah untuk menjalin hubungan kerjasama sebagai tanda persahabatan.[6]

Sering terjadi kekeliruan dalam percakapan sehari-hari di mana wilayah Karo hanya diidentikkan dengan Kabupaten Karo. Padahal, Tanah Karo (Taneh Karo) jauh lebih luas daripada Kabupaten Karo meliputi:

Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Karo. Wilayah yang terkenal di kabupaten ini adalah Berastagi dan Kabanjahe. Berastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatra Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal, jus markisa. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau "Taneh Karo Simalem". Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah trites. Trites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isi lambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran. Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan istimewa yang di suguhkan kepada yang dihormati.
Pendiri Kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Sebagian sejarawan dan pemerhati budaya juga memercayai bahwa asal mula nama Kota Medan berasal dari bahasa Karo, "madan" yang berarti "obat". Namun pendapat ini masih menjadi pro dan kontra karena terdapat beberapa versi mengenai asal mula nama Medan.
Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan Kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari Kota Medan sebagai ibu kota Provinsi Sumatra Utara. Nama "Binjai" juga dipercaya berasal dari gabungan kedua kosakata bahasa Karo, "ben" dan "i-jei" yang artinya "bermalam di sini". Hal tersebut kemudian diucapkan "Binjei" dan menjadi "Binjai" hingga sekarang. Namun, dalam bahasa Melayu, Binjai adalah nama pohon dengan buah yang dapat dimakan Mangifera caesia sehingga kota Binjai memperoleh namanya dari pohon tersebut.
Orang Karo di Kabupaten Langkat mendiami daerah hulu, seperti Bahorok, Kutambaru, Sei Bingai, Kuala, Salapian, Selesai, Batang Serangan, dan Serapit. Teluk Aru yang berada di Langkat Hilir juga pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Haru, kerajaan bercorak Karo-Melayu yang di mana menjadi leluhur dari raja dan sultan Melayu Sumatra Timur.
Wilayah Kabupaten Dairi pada umumnya subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang berkualitas. Sebagian Kabupaten Dairi yang merupakan bagian dari Tanah Karo adalah:
Tanah Karo di Kabupaten Aceh Tenggara meliputi:
Etnis Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Merga disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok utama (marga inti/pokok), yang disebut dengan merga silima. Kelima merga tersebut adalah:
| Marga utama (merga silima) | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Ginting | Karokaro | Peranginangin | Sembiring | Tarigan | |
| Sub-marga | Ajartambun | Barus | Bangun | Brahmana | Bondong |
| Babo | Bukit | Benjerang | Bunuhaji | Ganagana | |
| Beras | Gurusinga | Kacinambun | Busok | Gersang | |
| Guru Patih | Kaban | Keliat | Colia | Gerneng | |
| Garamata | Kacaribu | Laksa | Depari | Jampang | |
| Jandibata | Karosekali | Limbeng | Gurukinayan | Kerendam | |
| Jawak | Kemit | Mano | Keling | Purba | |
| Manik | Ketaren | Namohaji | Keloko | Pekan | |
| Munte | Manik | Pencawan | Kembaren | Sibero | |
| Pase | Paroka | Penggarus | Maha | Silangit | |
| Seragih | Purba | Perbesi | Meliala/Milala | Tambun | |
| Suka | Samura | Pinem | Muham | Tambak | |
| Sugihen | Sinubulan | Sebayang | Pandia | Tegur | |
| Sinusinga | Sinuhaji | Singarimbun | Pandebayang | Tendang | |
| Tumangger | Sinukaban | Sinurat | Pelawi | Tua | |
| — | Sinulingga | Sukatendel | Sinukapar | — | |
| — | Sinuraya | Tanjung | Sinulaki | — | |
| — | Sitepu | Ulunjandi | Sinupayung | — | |
| — | Surbakti | Uwir | Tekang | — | |
| — | Torong | — | — | — | |
| — | Ujung | — | — | — | |
Kelima marga Karo tersebut mempunyai sub-marga masing-masing, di mana setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Marga diperoleh secara turun termurun dari ayah, marga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Jikalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut (b)ersenina. Demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru yang sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring (Sembiring Kembaren).

Hal lain yang penting dalam susunan masyarakat Karo adalah rakut sitelu, yang artinya secara metaforik adalah Tungku Nan Tiga, yang berarti Ikatan yang Tiga. Arti rakut sitelu tersebut adalah Sangkep Nggeluh (Kelengkapan Hidup) bagi orang Karo. Kelengkapan yang dimaksud adalah lembaga sosial yang terdapat dalam masyarakat Karo yang terdiri dari tiga kelompok, yaitu:
Orang Karo mempunyai salam khas yaitu Mejuah-juah atau lengkapnya adalah mejuah-juah kita kerina yang memiliki arti sehat-sehat kita semua, baik-baik kita semua, kedamaian, kesehatan, kebaikan untuk kita semua.

Tutur Siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan, yaitu terdiri dari delapan golongan:
Dalam pelaksanaan upacara adat, Tutur Siwaluh ini masih dapat dibagi lagi dalam kelompok-kelompok lebih khusus sesuai dengan keperluan dalam pelaksanaan upacara yang dilaksanakan, yaitu sebagai berikut :

Bahasa Karo merupakan bahasa Austronesia dan digolongkan dalam rumpun bahasa Batak bagian utara[7] yang utamanya dituturkan oleh masyarakat Karo di wilayah Kabupaten Karo, Kabupaten Langkat, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Dairi, dan Kota Medan.
Aksara yang digunakan oleh orang Karo bernama Surat Sepuluh Siwah yang berarti 'sembilan belas aksara' yang merupakan varian dari Aksara Batak. Aksara ini adalah aksara kuno yang dipergunakan oleh masyarakat Karo, akan tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas bahkan hampir tidak pernah digunakan lagi.
Adapun nama-nama bulan dan binatang atau benda apa yang bersamaan dengan bulan bersangkutan adalah sebagai berikut:
Nama-nama hari pada suku Karo apabila diperhatikan banyak miripnya dengan kata-kata bahasa Sanskerta. Setiap hari dari tanggal itu mempunyai makna atau pengertian tertentu. Oleh karena itu apabila seseorang hendak merencanakan sesuatu, misalnya keberangkatan ke tempat jauh, berperang ke medan laga, memasuki rumah baru dan berbagai kegiatan lainnya. selalu dilihat harinya yang dianggap paling cocok. Di sinilah besarnya peranan "guru si beloh niktik wari" (dukun/orang tua yang pintar melihat hari dan bulan yang baik dan serasi), yang dengan perhitungannya secara saksama, ia menyarankan agar suatu acara yang direncanakan dilakukan pada hari X.
Adapun nama yang 30 dalam satu bulan adalah sebagai berikut:

Orang Karo mempunyai beberapa kebudayaan tradisional, mulai dari kesenian (sastra), dan tari tradisional. Beberapa tari tradisional Karo adalah:
Seni bela diri orang karo merupakan Silat Karo yang dalam bahasa Karo disebut ndikar. Kata tersebut mulai jarang digunakan masyarakat Karo sehingga kini asing terdengar. Masyarakat Karo dewasa ini cenderung menyebutnya dengan nama Silat Karo saja.
Kata ndikar untuk penamaan bela diri/silat dalam bahasa Karo kadang kerap disamakan dengan kata pandikar. Kata ndikar hanya untuk menyebut silat/bela diri, sedangkan pandikar merupakan seseorang yang mempunyai ilmu bela diri yang tinggi atau bisa juga orang yang mendalami ilmu bela diri dan memiliki ilmu bela diri.

Alat musik tradisional Karo adalah Gendang Karo. Biasanya disebut Gendang “Lima Sedalinen” yang artinya seperangkat gendang tari yang terdiri dari lima unsur.
Unsur disini terdiri dari beberapa alat musik tradisional Karo seperti kulcapi, balobat, surdam, keteng-keteng, murhab, serune, gendang si ngindungi, sendang si nganaki, penganak dan gung. Alat tradisional ini sering digunakan untuk menari, menyanyi dan berbagai ritus tradisi.
Jadi gendang Karo sudah lengkap (lima sedalinen) jika sudah ada serune, gendang si ngindungi, gendang si nganaki, penganak dan gung dalam mengiringi sebuah upacara atau pesta.

Tari dalam bahasa Karo disebut "landek". Pola dasar tari Karo adalah posisi tubuh, gerakan tangan, gerakan naik turun lutut (endek) disesuaikan dengan tempo gendang dan gerak kaki. Pola dasar tarian itu ditambah dengan variasi tertentu sehingga tarian tersebut menarik dan indah.
Tarian berkaitan adat misalnya memasuki rumah baru, pesta perkawinan, upacara kematian dan lain-lain. Tarian berkaitan dengan ritus dan religi biasa dipimpin oleh guru (dukun). Misalnya tari mulih-mulih, tari tungkat, erpangir ku lau, tari baka, tari begu deleng, tari muncang, dan lain-lain.
Tarian berkaitan dengan hiburan digolongkan secara umum. Misalnya tari gundala-gundala, tari ndikkar dan lain-lain. Sejak tahun 1960 tari Karo bertambah dengan adanya tari kreasi baru. Misalnya tari lima serangkai yang dipadu dari lima jenis tari yaitu tari morah-morah, tari perakut, tari cipa jok, tari patam-patam lance dan tari kabang kiung. Setelah itu muncul pula tari piso surit, tari terang bulan, tari roti manis dan tari tanam padi.
Keragaman seni pahat dan ukir etnis Karo terlihat dari corak ragam bangunannya. Dulu orang yang ahli membuat bangunan Karo disebut "Pande Tukang".
Hal ini terlihat dari jenis-jenis bangunan Karo seperti rumah Siwaluh Jabu, Geriten, Jambur, Batang, Lige-lige, Kalimbaban, Sapo Gunung, dan Lipo. Seni ukir yang menjadi kekayaan kesenian Karo terlihat pada setiap ukiran bangunannya seperti Ukir Cekili Kambing, Ukir Ipen-Ipen, Ukir Embun Sikawiten, Ukir Lipan Nangkih Tongkeh, Ukir Tandak Kerbo Payung, Ukir Pengeretret, dan Ciken.
Suku Karo juga memiliki drama tradisional yang disebut dengan Gundala-Gundala.
Ciri utama pakaian adat Karo adalah pada kain tradisional yang disebut Uis. Uis merupakan bahasa Karo yang berarti kain. Secara tradisional Uis dibuat dengan menggunakan kembaya yang menyerupai kapas lalu dijadikan benang dan dicelup dengan pewarna.[8]
Salah satu Pakaian adat Karo yang masih sering digunakan adalah pakaian pernikahan adatnya
Seni tulis Karo adalah karya sastra yang terbit sebelum 28 Oktober 1928, dimana mereka di usung dengan tema-tema yang berbeda.[9]
Kain tradisional Uis Karo adalah simbol yang sudah ada sejak dahulu yang telah disepakati oleh leluhur Karo dan digunakan untuk acara-acara adat tradisional masyarakat Karo. Uis gara atau
Dalam adat Karo, pernikahan dikenal sebagai pasu-pasu, dan dilakukan dilakukan pemberkatan atau akad nikah, dan biasanya pasu-pasu memiliki saksi nikah.[10]
Busana perkawinan adat suku Karo terdiri dari beberapa bagian seperti bulang-bulang, tudung, Uis gara, kampuh, uis kapal, Uis nipes. Setiap Pakaian pada pernikahan adat Karo memiliki makna yang sangat mendalam.
Mempelai laki-laki Karo menggunakan uis beka buluh yang diletakkan diatas kepala sebagai topi yang disebut dengan bulang-bulang. Bulang-bulang adalah kain beka buluh yang dikenakan oleh pengantin pria dan orang tua yang memiliki makna ialah gambaran anak raja. Uis beka buluh juga dipakaikan oleh pengantin pria yang diletakkan di bagian bahu pria yang membentuk lipatan segitiga. Lipatan Beka Buluh memiliki fungsi sebagai penangkal kejahatan dari orang jahat.
Mempelai wanita Karo terdapat beberapa uis yang digunakan dalam prosesi upacara adat Karo yaitu uis nipes, uis gara dan lainnya.

Kuliner Karo banyak ragamnya, salah satu yang terkenal adalah babi panggang karo, sering disingkat sebagai BPK. Babi panggang karo dibuat dengan cara memanggang babi yang sebelumnya telah diberi bumbu khas, yang di dalamnya terdapat tuba atau andaliman. Umumnya orang Karo yang menjual babi panggang karo di warung makan ataupun restoran, tetapi tidak jarang juga ditemukan orang non-Karo yang juga menjual hidangan tersebut seperti orang Batak Toba, Nias, dan lain-lain.
Kuliner Karo lainnya meliputi: kidu-kidu, manuk getah, arsik nurung mas, cimpa, unung-unung, cincang bohan, pagit-pagit, trites, gule kuta-kuta (gulai ayam kampung), tasak telu, mi keling, bihun bebek, bika ambon, lemang Karo, cipera, anyang pakis, gule bulung gadung, dan lain-lain.
Selain makanan, minuman khas Karo pun banyak macam ragamnya. Minuman yang terkenal adalah susu kitik, yaitu teh susu telur khas Karo. Minuman ini umumnya disajikan di warung kopi di daerah Karo.
Beberapa lagu yang berasal dari daerah Karo adalah:


.
Mayoritas orang Karo memeluk agama Kristen Protestan (57.5%), Kristen Katolik (18.7%), Islam (21.3%), dan Pemena (1.1%). Lalu ada sebagian kecil yang beragama Hindu dan Buddha yaitu sekitar 1.4%.
Sebagian kecil orang Karo di Dusun Pintu Besi menganut agama Hindu yang di mana memiliki kemiripan dengan agama Hindu Bali mulai dari tempat ibadah berupa pura hingga upacara keagamaan.[11]
Umumnya pemeluk agama Pemena (agama awal dan agama asli Karo) berada di desa yang berada di dekat atau di kaki Gunung Sinabung.
Pemeluk agama tradisional/kepercayaan lama lainnya dapat ditemui di pedalaman dan mereka nyaris punah. Agama lainnya pun terutama agama Buddha dapat ditemui di perkotaan tetapi jumlahnya sangat sedikit.
