Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiSuku Karo
Artikel Wikipedia

Suku Karo

Suku Karo merupakan salah satu kelompok kelompok etnik Batak yang menyebar dan menetap di Tanah Karo. Etnis ini merupakan salah satu etnis terbesar di Sumatra Utara. Nama etnis ini dijadikan sebagai nama salah satu kabupaten di Sumatra Utara, yaitu Kabupaten Karo. Etnis ini memiliki bahasa yang disebut bahasa Batak Karo atau cakap Karo. Pakaian adat Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Konon, Kota Medan didirikan oleh seorang tokoh Karo yang bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

salah satu kelompok etnik Batak
Diperbarui 7 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Indonesian ethnic groupTemplat:SHORTDESC:Indonesian ethnic group
artikel ini mungkin memberikan berat tak wajar pada suatu gagasan, insiden, atau kontroversi. Tolong bantu perbaiki dengan menulis ulang secara seimbang yang menyajikan sudut pandang berbeda. (Desember 2024) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Artikel ini bukan mengenai Suku Kao.
Untuk kegunaan lain, lihat Karo.
Artikel ini mengandung Surat Batak. Tanpa dukungan perenderan yang baik, Anda mungkin akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain.
Orang Karo
Kalak Karo
ᯂᯞᯂ᯳ ᯂᯒᯭ
Malem Sambat Kaban
Tifatul Sembiring
Latief Sitepu
Anthony Sinisuka Ginting
Tanta Ginting
Cory Sriwaty Sebayang
Lyodra Ginting
Adrianus Meliala
Arifin Tarigan
Jumlah populasi
± 1.100.000 (2010)
Bahasa
Bahasa Indonesia, Bahasa Karo (Dialek Jahe-jahe Dan Dialek Gugung), Melayu Deli
Agama
  • Kristen Protestan (57.5%) [1]
  • Islam (21,3%)[2]
  • Kristen Katolik (18,7%)[3]
  • Buddha (1.4%)[4][5]
  • Lainnya (1.1%)
Kelompok etnik terkait
  • Alas
  • Singkil
  • Kluet
  • Batak Pakpak
  • Batak Simalungun
  • Batak Toba
  • Melayu

Suku Karo (Surat Batak: ᯂᯞᯂ᯳ ᯆᯗᯂ᯳ ᯂᯒᯭ, transliterasi: Kalak Batak Karo; lazim disebut sebagai Karo saja) merupakan salah satu kelompok kelompok etnik Batak yang menyebar dan menetap di Tanah Karo (mendiami wilayah Sumatra Utara dan sebagian Aceh; meliputi Kabupaten Karo, sebagian Kabupaten Aceh Tenggara, Langkat, Dairi, Simalungun, Deli Serdang, Kota Medan, dan Kota Binjai). Etnis ini merupakan salah satu etnis terbesar di Sumatra Utara. Nama etnis ini dijadikan sebagai nama salah satu kabupaten di Sumatra Utara, yaitu Kabupaten Karo. Etnis ini memiliki bahasa yang disebut bahasa Batak Karo atau cakap Karo. Pakaian adat Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Konon, Kota Medan didirikan oleh seorang tokoh Karo yang bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

Sejarah dan etimologi

Karo adalah etnis yang mendiami Tanah Karo (meliputi Kabupaten Karo, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Deli Serdang, Kota Medan, Kota Binjai, dan Kabupaten Aceh Tenggara). Etnis ini memiliki bahasa yang disebut bahasa Karo dan memiliki salam khas yaitu Mejuah-juah. Adapun rumah tradisional masyarakat Karo atau yang dikenal dengan nama Siwaluh Jabu yang berarti rumah untuk delapan keluarga, yaitu rumah yang terdiri dari delapan bilik yang masing-masing bilik dihuni oleh satu keluarga. Tiap keluarga yang menghuni rumah itu memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan pola kekerabatan masing-masing.

Awal mulanya sejarah kerajaan di Dataran Tinggi Karo yang saat ini menjadi Kabupaten Karo sulit diketahui pasti karena keterbatasan sumber yang jelas. Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa pada abad ke-13, Kerajaan Kuta Buluh dan Kerajaan Sicapah menyerang dan menghancurkan Kerajaan Nagur Pase.[6]

Pada abad ke-15, Kerajaan Sebayak Kuta Buluh menghapuskan kerajaan Nagur Pase sepenuhnya. Saat itu, Sebayak Kuta Buluh (raja Kuta Buluh) yang bermarga Perangin-angin memiliki kekuatan jauh lebih unggul dibandingkan Sebayak Sicapah bermarga Karo-karo dan Sebayak Nagur Pase bermarga Ginting Suka. Tahun itu pula muncul kerajaan baru, yaitu: Kerajaan Lingga yang sekarang ini menjadi Kecamatan Simpang Empat, Kerajaan Barus Jahe yang sekarang ini menjadi Kecamatan Barus Jahe, Kerajaan Srinembah yang sekarang ini menjadi Kecamatan Munthe, dan Kerajaan Suka yang sekarang ini menjadi Kecamatan Tiga Panah.[6]

Pengaruh Kesultanan Aceh

Pada tahun 1868, pengaruh Kesultanan Aceh sangat terasa ketika Sultan Aceh bernama Tuan Kita (Tengku Palembang) datang ke Dataran Tinggi Karo.[6]

Kemudian di tahun 1880, Tengku Syeh (Tengku Lau Bahun) datang menemui para Sebayak di Lingga, Barus Jahe, Suka, dan Sarinembah untuk menjalin hubungan kerjasama sebagai tanda persahabatan.[6]

Seorang wanita Karo mengenakan kain (Gatip Ampar) di atas bahunya dan anting-anting (padung perak), dan seorang pria Karo kemungkinan mengenakan Julu Berjongkit atau Ragi Santik sebagai penutup pinggul. Foto diambil di salah satu desa di Kabupaten Karo, sekitar tahun 1914-1919.

Wilayah Karo

Siwaluh Jabu
(Rumah tradisional masyarakat Karo)
Siwaluh Jabu tempo dulu di Kabanjahe.
Siwaluh Jabu di Desa Dokan.

Sering terjadi kekeliruan dalam percakapan sehari-hari di mana wilayah Karo hanya diidentikkan dengan Kabupaten Karo. Padahal, Tanah Karo (Taneh Karo) jauh lebih luas daripada Kabupaten Karo meliputi:

Kabupaten Karo

Tanah Karo (1917).

Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Karo. Wilayah yang terkenal di kabupaten ini adalah Berastagi dan Kabanjahe. Berastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatra Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal, jus markisa. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau "Taneh Karo Simalem". Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah trites. Trites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isi lambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran. Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan istimewa yang di suguhkan kepada yang dihormati.

Kota Medan

Pendiri Kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Sebagian sejarawan dan pemerhati budaya juga memercayai bahwa asal mula nama Kota Medan berasal dari bahasa Karo, "madan" yang berarti "obat". Namun pendapat ini masih menjadi pro dan kontra karena terdapat beberapa versi mengenai asal mula nama Medan.

Kota Binjai

Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan Kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari Kota Medan sebagai ibu kota Provinsi Sumatra Utara. Nama "Binjai" juga dipercaya berasal dari gabungan kedua kosakata bahasa Karo, "ben" dan "i-jei" yang artinya "bermalam di sini". Hal tersebut kemudian diucapkan "Binjei" dan menjadi "Binjai" hingga sekarang. Namun, dalam bahasa Melayu, Binjai adalah nama pohon dengan buah yang dapat dimakan Mangifera caesia sehingga kota Binjai memperoleh namanya dari pohon tersebut.

Kabupaten Langkat

Orang Karo di Kabupaten Langkat mendiami daerah hulu, seperti Bahorok, Kutambaru, Sei Bingai, Kuala, Salapian, Selesai, Batang Serangan, dan Serapit. Teluk Aru yang berada di Langkat Hilir juga pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Haru, kerajaan bercorak Karo-Melayu yang di mana menjadi leluhur dari raja dan sultan Melayu Sumatra Timur.

Kabupaten Dairi

Wilayah Kabupaten Dairi pada umumnya subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang berkualitas. Sebagian Kabupaten Dairi yang merupakan bagian dari Tanah Karo adalah:

  • Kecamatan Taneh Pinem
  • Kecamatan Tigalingga
  • Kecamatan Gunung Sitember
  • Kecamatan Siempat Nempu Hilir

Kabupaten Aceh Tenggara

Tanah Karo di Kabupaten Aceh Tenggara meliputi:

  • Kecamatan Lawe Sigala-Gala
  • Kecamatan Babul Makmur
  • Kecamatan Semadam

Kabupaten Deli Serdang

  • Kecamatan Tanjung Morawa
  • Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hulu
  • Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hilir
  • Kecamatan Sibolangit
  • Kecamatan Pancur Batu
  • Kecamatan Kutalimbaru
  • Kecamatan Sunggal
  • Kecamatan Deli Tua
  • Kecamatan Sibiru-biru
  • Kecamatan Gunung Meriah

Kabupaten Simalungun

  • Kecamatan Dolok Silau
  • Kecamatan Pamatang Silimahuta
  • Kecamatan Silimakuta

Marga

Artikel utama: Marga Karo

Etnis Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Merga disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok utama (marga inti/pokok), yang disebut dengan merga silima. Kelima merga tersebut adalah:

Marga utama (merga silima)
GintingKarokaroPeranginanginSembiringTarigan
Sub-marga AjartambunBarusBangunBrahmanaBondong
BaboBukitBenjerangBunuhajiGanagana
BerasGurusingaKacinambunBusokGersang
Guru PatihKabanKeliatColiaGerneng
GaramataKacaribuLaksaDepariJampang
JandibataKarosekaliLimbengGurukinayanKerendam
JawakKemitManoKelingPurba
ManikKetarenNamohajiKelokoPekan
MunteManikPencawanKembarenSibero
PaseParokaPenggarusMahaSilangit
SeragihPurbaPerbesiMeliala/MilalaTambun
SukaSamuraPinemMuhamTambak
SugihenSinubulanSebayangPandiaTegur
SinusingaSinuhajiSingarimbunPandebayangTendang
TumanggerSinukabanSinuratPelawiTua
—SinulinggaSukatendelSinukapar—
—SinurayaTanjungSinulaki—
—SitepuUlunjandiSinupayung—
—SurbaktiUwirTekang—
—Torong———
—Ujung———

Kelima marga Karo tersebut mempunyai sub-marga masing-masing, di mana setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Marga diperoleh secara turun termurun dari ayah, marga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Jikalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut (b)ersenina. Demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru yang sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring (Sembiring Kembaren).

Falsafah kemasyarakatan

Pasangan pengantin pria dan wanita menikah dengan pakaian adat Karo lengkap dengan Uis dan tudung Karo untuk perempuan, serta bekabuluh untuk laki-laki.

Hal lain yang penting dalam susunan masyarakat Karo adalah rakut sitelu, yang artinya secara metaforik adalah Tungku Nan Tiga, yang berarti Ikatan yang Tiga. Arti rakut sitelu tersebut adalah Sangkep Nggeluh (Kelengkapan Hidup) bagi orang Karo. Kelengkapan yang dimaksud adalah lembaga sosial yang terdapat dalam masyarakat Karo yang terdiri dari tiga kelompok, yaitu:

  1. Kalimbubu
  2. Anak Beru
  3. Sembuyak
  • Kalimbubu dapat didefinisikan sebagai keluarga pemberi istri.
  • Anak Beru yaitu keluarga yang mengambil atau menerima istri.
  • Sembuyak adalah keluarga satu galur keturunan merga atau keluarga inti.

Orang Karo mempunyai salam khas yaitu Mejuah-juah atau lengkapnya adalah mejuah-juah kita kerina yang memiliki arti sehat-sehat kita semua, baik-baik kita semua, kedamaian, kesehatan, kebaikan untuk kita semua.

Sistem kekerabatan

Kedua mempelai dari etnis Karo berbusana adat Karo.

Tutur Siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan, yaitu terdiri dari delapan golongan:

  1. Puang Kalimbubu
  2. Kalimbubu
  3. Senina
  4. Sembuyak
  5. Senina Sipemeren
  6. Senina Sepengalon/Sedalanen
  7. Anak Beru
  8. Anak Beru Menteri

Dalam pelaksanaan upacara adat, Tutur Siwaluh ini masih dapat dibagi lagi dalam kelompok-kelompok lebih khusus sesuai dengan keperluan dalam pelaksanaan upacara yang dilaksanakan, yaitu sebagai berikut :

  1. Puang Kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang
  2. Kalimbubu adalah kelompok pemberi istri kepada keluarga tertentu. Kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi :
    • Kalimbubu Bena-bena atau Kalimbubu Tua, yaitu kelompok pemberi istri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi istri adalah dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah Kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah Kalimbubu Bena-bena / Kalimbubu Tua dari anak A. Jadi Kalimbubu Bena-bena atau Kalimbubu Tua adalah kalimbubu dari ayah kandung.
    • Kalimbubu Simada Dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu Simada Dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut Kalimbubu Simada Dareh karena mereka yang dianggap mempunyai keturunan sedarah, karena sedarah maka itu juga yang terdapat dalam diri keponakannya.
    • Kalimbubu Iperdemui, yaitu yang berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Maka seseorang itu yang menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkawinan.
  3. Senina, yaitu mereka yang bersaudara karena mempunyai merga dan submerga yang sama.
  4. Sembuyak, yaitu secara harfiah artinya adalah satu dan Mbuyak yang artinya adalah kandungan. Maka artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan sub-merga juga, dalam bahasa Karo disebut Sindauh Ipedeher (Yang jauh menjadi dekat).
  5. Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak Siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai istri yang bersaudara.
  6. Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperistri dari beru yang sama.
  7. Anak beru, yang berarti pihak yang mengambil istri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti Anak Beru Menteri dan Anak Beru Singikuri. Anak beru ini terdiri lagi sebagai berikut :
    • Anak Beru Tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil istri dari keluarga tertentu (Kalimbubu-nya). Anak Beru Tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubu-nya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak Beru Tua juga berfungsi sebagai Anak Beru Singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat.
    • Anak Beru Cekoh Baka Tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubu-nya. Anak Beru Cekoh Baka Tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah Anak Beru Cekoh Baka Tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga Bere-bere Mama.
  8. Anak Beru Menteri, yaitu anak berunya si anak beru. Asal kata Menteri adalah dari kata Minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubu-nya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut Anak Beru Singkuri, yaitu anak beru-nya si Anak Beru Menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.

Bahasa dan aksara

Artikel utama: Bahasa Karo dan Surat Batak
Ukiran dari sebuah tulisan ratapan Karo (Bilang-bilang) menggunakan aksara Karo pada media bambu.

Bahasa Karo merupakan bahasa Austronesia dan digolongkan dalam rumpun bahasa Batak bagian utara[7] yang utamanya dituturkan oleh masyarakat Karo di wilayah Kabupaten Karo, Kabupaten Langkat, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Dairi, dan Kota Medan.

Aksara yang digunakan oleh orang Karo bernama Surat Sepuluh Siwah yang berarti 'sembilan belas aksara' yang merupakan varian dari Aksara Batak. Aksara ini adalah aksara kuno yang dipergunakan oleh masyarakat Karo, akan tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas bahkan hampir tidak pernah digunakan lagi.

Kalender Karo

Nama-nama bulan

Adapun nama-nama bulan dan binatang atau benda apa yang bersamaan dengan bulan bersangkutan adalah sebagai berikut:

  • Bulan Sipaka sada merupakan bulan kambing
  • Bulan Sipaka dua merupakan bulan lembu
  • Bulan Sipaka telu merupakan bulan gaya (cacing)
  • Bulan Sipaka empat merupakan bulan padek (katak)
  • Bulan Sipaka lima merupakan bulan arimo (harimau)
  • Bulan Sipaka enem merupakan bulan kuliki (elang)
  • Bulan Sipaka pitu merupakan bulan kayu
  • Bulan Sipaka waluh merupakan bulan tambok (kolam)
  • Bulan Sipaka siwah merupakan bulan gayo (kepiting)
  • Bulan Sipaka sepuluh merupakan bulan belobat, baluat atau balobat (sejenis alat musik tiup)
  • Bulan Sipaka sepuluh sada merupakan bulan batu
  • Bulan Sipaka sepuluh dua merupakan bulan binurung (ikan)

Nama-nama hari

Nama-nama hari pada suku Karo apabila diperhatikan banyak miripnya dengan kata-kata bahasa Sanskerta. Setiap hari dari tanggal itu mempunyai makna atau pengertian tertentu. Oleh karena itu apabila seseorang hendak merencanakan sesuatu, misalnya keberangkatan ke tempat jauh, berperang ke medan laga, memasuki rumah baru dan berbagai kegiatan lainnya. selalu dilihat harinya yang dianggap paling cocok. Di sinilah besarnya peranan "guru si beloh niktik wari" (dukun/orang tua yang pintar melihat hari dan bulan yang baik dan serasi), yang dengan perhitungannya secara saksama, ia menyarankan agar suatu acara yang direncanakan dilakukan pada hari X.

Adapun nama yang 30 dalam satu bulan adalah sebagai berikut:

  1. Aditia
  2. Suma
  3. Nggara
  4. Budaha
  5. Beras pati
  6. Cukra enem
  7. Belah naik
  8. Aditia naik
  9. Sumana siwah
  10. Nggara sepuluh
  11. Budaha ngadep
  12. Beras pati tangkep
  13. Cukera dudu (lau)
  14. Belah purnama raya
  15. Tula
  16. Suma cepik
  17. Nggara enggo tula
  18. Budaha gok
  19. Beras pati
  20. Cukra si 20
  21. Belah turun
  22. Aditia turun
  23. Sumana mate
  24. Nggara simbelin
  25. Budaha medem
  26. Beras pati medem
  27. Cukrana mate
  28. Mate bulan ngulak
  29. Dalan bulan
  30. Sami sara

Budaya dan kesenian

Museum Pusaka Karo di Berastagi.

Orang Karo mempunyai beberapa kebudayaan tradisional, mulai dari kesenian (sastra), dan tari tradisional. Beberapa tari tradisional Karo adalah:

  • Piso Surit
  • Tari Lima Serangkai
  • Tari Terang Bulan
  • Tari Baka
  • Tari Ndikkar
  • Tari Ndurung
  • Tari Tongkat
  • Tari Sigundari
  • Tari Mbuah Page
  • Tari Tiga Sibolangit
  • Pantun
  • Petatah petitih
  • Petuah
  • Syair (bersyair)
  • Senandung/nandung (dendang)
  • Gendang
  • Guro Aron-aron
  • Gurindam
  • Anding-andingen
  • Kuan-kuanen
  • Bilang-bilang (ratapan)
  • Cakap Lumat
  • Dengang Duka
  • Gundala Gundala
  • Tari sambut/tari penyambutan/tari persembahan (Tari Mejuah-juah)

Seni bela diri (Silat Karo)

Seni bela diri orang karo merupakan Silat Karo yang dalam bahasa Karo disebut ndikar. Kata tersebut mulai jarang digunakan masyarakat Karo sehingga kini asing terdengar. Masyarakat Karo dewasa ini cenderung menyebutnya dengan nama Silat Karo saja.

Kata ndikar untuk penamaan bela diri/silat dalam bahasa Karo kadang kerap disamakan dengan kata pandikar. Kata ndikar hanya untuk menyebut silat/bela diri, sedangkan pandikar merupakan seseorang yang mempunyai ilmu bela diri yang tinggi atau bisa juga orang yang mendalami ilmu bela diri dan memiliki ilmu bela diri.

Seni musik

Instrumen alat-alat musik tradisional Karo.

Alat musik tradisional Karo adalah Gendang Karo. Biasanya disebut Gendang “Lima Sedalinen” yang artinya seperangkat gendang tari yang terdiri dari lima unsur.

Unsur disini terdiri dari beberapa alat musik tradisional Karo seperti kulcapi, balobat, surdam, keteng-keteng, murhab, serune, gendang si ngindungi, sendang si nganaki, penganak dan gung. Alat tradisional ini sering digunakan untuk menari, menyanyi dan berbagai ritus tradisi.

Jadi gendang Karo sudah lengkap (lima sedalinen) jika sudah ada serune, gendang si ngindungi, gendang si nganaki, penganak dan gung dalam mengiringi sebuah upacara atau pesta.

Seni tari

Pasangan Karo menari.

Tari dalam bahasa Karo disebut "landek". Pola dasar tari Karo adalah posisi tubuh, gerakan tangan, gerakan naik turun lutut (endek) disesuaikan dengan tempo gendang dan gerak kaki. Pola dasar tarian itu ditambah dengan variasi tertentu sehingga tarian tersebut menarik dan indah.

Tarian berkaitan adat misalnya memasuki rumah baru, pesta perkawinan, upacara kematian dan lain-lain. Tarian berkaitan dengan ritus dan religi biasa dipimpin oleh guru (dukun). Misalnya tari mulih-mulih, tari tungkat, erpangir ku lau, tari baka, tari begu deleng, tari muncang, dan lain-lain.

Tarian berkaitan dengan hiburan digolongkan secara umum. Misalnya tari gundala-gundala, tari ndikkar dan lain-lain. Sejak tahun 1960 tari Karo bertambah dengan adanya tari kreasi baru. Misalnya tari lima serangkai yang dipadu dari lima jenis tari yaitu tari morah-morah, tari perakut, tari cipa jok, tari patam-patam lance dan tari kabang kiung. Setelah itu muncul pula tari piso surit, tari terang bulan, tari roti manis dan tari tanam padi.

Seni ukir/pahat

Keragaman seni pahat dan ukir etnis Karo terlihat dari corak ragam bangunannya. Dulu orang yang ahli membuat bangunan Karo disebut "Pande Tukang".

Hal ini terlihat dari jenis-jenis bangunan Karo seperti rumah Siwaluh Jabu, Geriten, Jambur, Batang, Lige-lige, Kalimbaban, Sapo Gunung, dan Lipo. Seni ukir yang menjadi kekayaan kesenian Karo terlihat pada setiap ukiran bangunannya seperti Ukir Cekili Kambing, Ukir Ipen-Ipen, Ukir Embun Sikawiten, Ukir Lipan Nangkih Tongkeh, Ukir Tandak Kerbo Payung, Ukir Pengeretret, dan Ciken.

Suku Karo juga memiliki drama tradisional yang disebut dengan Gundala-Gundala.

Pakaian adat

Ciri utama pakaian adat Karo adalah pada kain tradisional yang disebut Uis. Uis merupakan bahasa Karo yang berarti kain. Secara tradisional Uis dibuat dengan menggunakan kembaya yang menyerupai kapas lalu dijadikan benang dan dicelup dengan pewarna.[8]

Salah satu Pakaian adat Karo yang masih sering digunakan adalah pakaian pernikahan adatnya

Seni tulis

Seni tulis Karo adalah karya sastra yang terbit sebelum 28 Oktober 1928, dimana mereka di usung dengan tema-tema yang berbeda.[9]

Kain Tradisional Uis Karo

Kain tradisional Uis Karo adalah simbol yang sudah ada sejak dahulu yang telah disepakati oleh leluhur Karo dan digunakan untuk acara-acara adat tradisional masyarakat Karo. Uis gara atau

Pernikahan adat Karo

Dalam adat Karo, pernikahan dikenal sebagai pasu-pasu, dan dilakukan dilakukan pemberkatan atau akad nikah, dan biasanya pasu-pasu memiliki saksi nikah.[10]

Busana perkawinan adat suku Karo terdiri dari beberapa bagian seperti bulang-bulang, tudung, Uis gara, kampuh, uis kapal, Uis nipes. Setiap Pakaian pada pernikahan adat Karo memiliki makna yang sangat mendalam.

Mempelai laki-laki Karo menggunakan uis beka buluh yang diletakkan diatas kepala sebagai topi yang disebut dengan bulang-bulang. Bulang-bulang adalah kain beka buluh yang dikenakan oleh pengantin pria dan orang tua yang memiliki makna ialah gambaran anak raja. Uis beka buluh juga dipakaikan oleh pengantin pria yang diletakkan di bagian bahu pria yang membentuk lipatan segitiga. Lipatan Beka Buluh memiliki fungsi sebagai penangkal kejahatan dari orang jahat.

Mempelai wanita Karo terdapat beberapa uis yang digunakan dalam prosesi upacara adat Karo yaitu uis nipes, uis gara dan lainnya.

Kegiatan kebudayaan dan adat-istiadat

  • Merdang Merdem: "Kerja tahun" yang disertai "Gendang guro-guro aron".
  • Mahpah: "Kerja tahun" yang disertai "Gendang guro-guro aron".
  • Mengket Rumah Mbaru: Pesta perayaan memasuki rumah (adat/ibadat) baru.
  • Mbesur-mbesuri: "Mengenyangkan" memberi makan untuk wanita yang hamil 7 bulan, dengan harapan memenuhi keinginannya sebelum melahirkan.
  • Cawir Metua: Upacara adat/ritual kematian.
  • Ndilo Udan: Memanggil hujan.
  • Rebu-rebu: Mirip dengan pesta "kerja tahun".
  • Ngumbung: Hari jeda "aron" (kumpulan pekerja di desa).
  • Erpangir Ku Lau: Penyucian diri (untuk membuang sial).
  • Raleng Tendi: "Ngicik Tendi", yaitu memanggil jiwa setelah seseorang kurang tenang karena terkejut secara suatu kejadian yang tidak disangka-sangka.
  • Motong Rambai: Pesta kecil keluarga-handai taulan untuk memanggkas habis rambut bayi (balita) yang terjalin dan tidak rapih.
  • Ngaloken Cincin Upah Tendi: Upacara keluarga pemberian cincin permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere atau dari Bibi ke Permain).
  • Manok Sangkepi
  • Mbaba Belo Selambar (MBS): Rangkaian ritus Pernikahan adat Karo
  • Ngaloken Rawit: Upacara keluarga pemberian pisau (tumbuk lada) atau belati atau clurit kecil yang berupa permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere) - keponakan laki-laki.

Kuliner khas

Makanan

Rumah makan babi panggang karo di Tigapanah.

Kuliner Karo banyak ragamnya, salah satu yang terkenal adalah babi panggang karo, sering disingkat sebagai BPK. Babi panggang karo dibuat dengan cara memanggang babi yang sebelumnya telah diberi bumbu khas, yang di dalamnya terdapat tuba atau andaliman. Umumnya orang Karo yang menjual babi panggang karo di warung makan ataupun restoran, tetapi tidak jarang juga ditemukan orang non-Karo yang juga menjual hidangan tersebut seperti orang Batak Toba, Nias, dan lain-lain.

Kuliner Karo lainnya meliputi: kidu-kidu, manuk getah, arsik nurung mas, cimpa, unung-unung, cincang bohan, pagit-pagit, trites, gule kuta-kuta (gulai ayam kampung), tasak telu, mi keling, bihun bebek, bika ambon, lemang Karo, cipera, anyang pakis, gule bulung gadung, dan lain-lain.

Minuman

Selain makanan, minuman khas Karo pun banyak macam ragamnya. Minuman yang terkenal adalah susu kitik, yaitu teh susu telur khas Karo. Minuman ini umumnya disajikan di warung kopi di daerah Karo.

Lagu daerah

Beberapa lagu yang berasal dari daerah Karo adalah:

  • Piso Surit
  • Mbiring Manggis
  • Mejuah-juah
  • Famili Teksi
  • Sora Mido
  • Tengguli Laneng
  • Pincala
  • Si Lampas Melumang
  • O Taneh Karo
  • Deleng Sinabung

Agama (kepercayaan)

Gereja GBKP dan masjid yang berhadapan di Perteguhen.
Gereja GBKP dengan ornamen kesukuan Karo

.

Mayoritas orang Karo memeluk agama Kristen Protestan (57.5%), Kristen Katolik (18.7%), Islam (21.3%), dan Pemena (1.1%). Lalu ada sebagian kecil yang beragama Hindu dan Buddha yaitu sekitar 1.4%.

Sebagian kecil orang Karo di Dusun Pintu Besi menganut agama Hindu yang di mana memiliki kemiripan dengan agama Hindu Bali mulai dari tempat ibadah berupa pura hingga upacara keagamaan.[11]

Umumnya pemeluk agama Pemena (agama awal dan agama asli Karo) berada di desa yang berada di dekat atau di kaki Gunung Sinabung.

Pemeluk agama tradisional/kepercayaan lama lainnya dapat ditemui di pedalaman dan mereka nyaris punah. Agama lainnya pun terutama agama Buddha dapat ditemui di perkotaan tetapi jumlahnya sangat sedikit.

Gereja yang didominasi masyarakat Karo

Gereja GBKP Kabanjahe.
  • Gereja Batak dan Karo Protestan (GBKP) (Paling dominan)
  • Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI)

Tokoh

Artikel utama: Daftar tokoh Karo
  • Guru Patimpus Sembiring Pelawi
  • Djamin Ginting Suka
  • Lyodra Ginting
  • Tio Fanta Pinem
  • Malem Sambat Kaban
  • Tanta Ginting
  • Gusti Terkelin Surbakti
  • Latief Sitepu
  • Anthony Sinisuka Ginting
  • Arman Depari
  • Tifatul Sembiring

Galeri

  • Petani Karo.
    Petani Karo.
  • Wanita Karo zaman dahulu berpakaian tradisional Karo.
    Wanita Karo zaman dahulu berpakaian tradisional Karo.
  • Petani Karo.
    Petani Karo.
  • Seorang kakek memainkan kulcapi, yaitu alat musik tradisional Karo.
    Seorang kakek memainkan kulcapi, yaitu alat musik tradisional Karo.
  • Foto gadis Karo dengan pakaian tradisional tahun 1925, koleksi Tropenmuseum.
    Foto gadis Karo dengan pakaian tradisional tahun 1925, koleksi Tropenmuseum.

Referensi

  1. ↑ Ginting, Ray Brema (2016). "Kristen di Dataran Tinggi Karo Tahun 1890-1906". Kristen di Dataran Tinggi Karo Tahun 1890-1906. Repositori Institusi Universitas Sumatera Utara (RI-USU).
  2. ↑ Ginting, Dewi (2012-08-08). "SEJARAH BERKEMBANGNYA AGAMA ISLAM DI TANAH KARO SUMATERA UTARA PADA TAHUN 1980- 2010". Ginting, Dewi (2012) SEJARAH BERKEMBANGNYA AGAMA ISLAM DI TANAH KARO SUMATERA UTARA PADA TAHUN 1980- 2010. Undergraduate thesis, UNIMED. UNIMED.
  3. ↑ "Katolik di Tanah Karo: Kabanjahe, 1942-1970an". jurnal.ugm.ac.id. Jurnal Lembaran Sejarah, Vol. 11, No. 2, Oktober 2014 | Mahasiswa S1 Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada. Oktober 2014.
  4. ↑ Rasmamana, Edi Putra (2016-09-03). "PENYEBARAN AGAMA BUDDHA PADA MASYARAKAT KARO DI KABUPATEN LANGKAT". Rasmamana, Edi Putra (2016) PENYEBARAN AGAMA BUDDHA PADA MASYARAKAT KARO DI KABUPATEN LANGKAT. Undergraduate thesis, UNIMED. UNIMED.
  5. ↑ Voice of Nature, Volumes 85-95. Yayasan Indonesia Hijau. 1990. hlm. 45.
  6. 1 2 3 4 Irianna, Irianna (2024-08-18). "Pemerintahan Tradisional di Dataran Tinggi Karo Masa Pemerintahan Kolonial Belanda". Garuda Garda Rujukan Digital. Diakses tanggal 2026-04-24.
  7. ↑ https://petabahasa.kemdikbud.go.id/provinsi.php?idp=Sumatra%20Utara
  8. ↑ Wesnina, _ (2020-04-21). "Perspektif Generasi Muda Suku Karo Terhadap Kain Tradisional Suku Karo: Sebuah Analisis". Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains dan Humaniora (dalam bahasa Inggris). 4 (1). ISSN 2615-4501.
  9. ↑ karo (2011-09-04). "Sastra Karo Selayang Dipandang « Portal Berita Karo". Portal Berita Karo (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-04-24.
  10. ↑ "Adat Istiadat Perkawinan Adat Karo" (PDF).
  11. ↑

Bacaan lanjutan terkait

  • Perangin-angin, Martin. (2004). Orang Karo Diantara Orang Batak. Pustaka Sora Mido

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Karo people.
  • books.google.co.uk
  • hawaii.edu Diarsipkan 2010-06-04 di Wayback Machine.
  • l
  • b
  • s
Suku Karo
Wilayah tradisional
Taneh Karo
Sistem kekerabatan
Orat Tutur
Marga
Ginting  • Karokaro  • Peranginangin  • Sembiring  • Tarigan
Bahasa dan kesusastraan
Bahasa Batak Karo  • Surat Batak  • Perumpamaan Karo  • Turiturin
Hidangan khas
Cimpa  • Nurung Kerah  • Cipera  • Babi Panggang Karo  • Pagit-pagit  • Tasak Telu  • Lomok-lomok
Falsafah
Mejuah-juah  • Rakut Sitelu
Upacara adat
Erpangir ku lau  • Mengket Rumah Mbaru  • Pernikahan adat Karo  • Sarsar Lambe  • Merdang Merdem
Seni dan budaya
Gendang guro-guro aron  • Gendang Lima Sendalanen  • Gendang patam-patam  • Uis Gara  • Tari Lima Serangkai  • Aron  • Piso Surit  • Perkolong-kolong
Alat musik tradisional
Kulcapi  • Keteng-Keteng  • Balobat  • Murbab  • Gendang Singanaki
Agama
Pemena  • Alkitab bahasa Batak Karo  • Gereja Batak Karo Protestan  • Gereja Injili Karo Indonesia
Mitologi
Umang  • Jangak Category Kategori
  • l
  • b
  • s
Suku bangsa Batak
Etnik
  • Batak Angkola
  • Batak Karo
  • Batak Mandailing
  • Batak Pakpak
  • Batak Simalungun
  • Batak Toba
Etnik afiliasi
  • Batak Alas
  • Batak Kluet
  • Pesisir
  • Singkil
Bahasa dan
aksara
Aksara
Surat Batak
Rumpun utara
  • Batak Alas-Kluet (btz)
  • Batak Karo (btx)
  • Batak Pakpak (btd)
Rumpun selatan
  • Batak Angkola (akb)
  • Batak Mandailing (btm)
  • Batak Simalungun (bts)
  • Toba (bbc)
Marga
  • Marga Batak Angkola
  • Marga Batak Karo
  • Marga Batak Mandailing
  • Marga Batak Pakpak
  • Marga Batak Simalungun
  • Marga Batak Toba
Agama
  • Kristen
  • Islam
  • Parmalim
  • Pemena
  • l
  • b
  • s
Suku bangsa di Indonesia
Suku bangsa di Sumatra
Batak
  • Alas
  • Angkola
  • Kluet
  • Karo
  • Mandailing
  • Pakpak (Boang • Kelasen • Keppas • Pegagan • Simsim)
  • Simalungun
  • Singkil
  • Toba
Melayu
  • Asahan
  • Bangka
  • Belitung
  • Bengkulu
  • Deli
  • Langkat
  • Riau
  • Serdang
  • Tamiang
Minangkabau
  • Aneuk Jamee
  • Kampar
  • Minangkabau
  • Mukomuko
  • Pesisir
Melayu Bukit Barisan Selatan
  • Aji
  • Basemah
  • Enim
  • Gedam
  • Gumai
  • Jambi
  • Kaur
  • Kerinci
  • Kikim
  • Kisam
  • Lahat
  • Lematang
  • Lembak
  • Lintang
  • Musi
  • Nasal
  • Ogan
  • Palembang
  • Pekal
  • Penesak
  • Rambang
  • Rawas
  • Saling
  • Sekayu
  • Semende
  • Serawai
Melayu Aborigin
  • Akit
  • Batin
  • Batin Sembilan
  • Bonai
  • Duano
  • Kubu
  • Lubu
  • Laut
  • Mapur
  • Petalangan
  • Sakai
  • Sawang
  • Sekak
  • Talang Mamak
Lampung
  • Abung
  • Daya
  • Saibatin
  • Pepadun
  • Kayu Agung
  • Komering
  • Krui
  • Pubian
  • Ranau
  • Sungkai
Kepulauan Barat Sumatera
  • Enggano
  • Haloban
  • Lekon
  • Mentawai
  • Nias
  • Sigulai
  • Simeulue
Lain-lain
  • Aceh
  • Gayo
  • Mante
  • Orang Pendek
  • Rejang
Tionghoa
  • Tionghoa Aceh
  • Tionghoa Medan
  • Tionghoa Padang
  • Tionghoa Bukittinggi
  • Tionghoa Palembang
  • Tionghoa Bangka
Suku bangsa di Jawa

Baduy • Banten • Bawean • Betawi • Ciptagelar • Cirebon • Indo • Jawa • Kalang • Kangean • Madura • Melayu • Osing • Peranakan • Sunda • Tengger

Suku bangsa di Kepulauan Nusa Tenggara

Abui • Adang • Adonara • Alor • Amarasi • Anakalangu • Atoni • Bali • Bilba • Bima • Blagar • Boti • Bunak • Dela-Oenale • Dengka • Dhao • Ende • Hamap • Helong • Ile Ape • Kabola • Kafoa • Kamang • Kambera • Kedang • Kelon • Kemak • Ke'o • Kepo' • Kodi • Komodo • Kui • Kula • Lamaholot • Lamalera • Lamatuka • Lamboya • Lamma • Laura • Lembata Barat • Lembata Selatan • Levuka • Lewo Eleng • Lewotobi • Lio • Lole • Melayu Loloan • Kupang • Larantuka • Mamboru • Manggarai • Nage • Nedebang • Ngada • Ngada Timur • Palue • Rajong • Rembong • Retta • Ringgou • Riung • Rongga • Sabu • Sasak • Sawila • Sika • So'a • Sumba • Sumbawa • Tambora • Tereweng • Termanu • Tetun • Tewa • Tii • Uab Meto • Wae Rana • Wanukaka • Wejewa • Wersing

Suku bangsa di Kalimantan *

Abal • Agabag • Ampanang • Aoheng • Bahau • Bakati' • Bekati' Rara • Bekati' Sara • Bakumpai • Banjar • Basap • Bawo • Benyadu' • Bentian • Benuaq • Berau • Bidayuh (Biatah • Bukar-Sadong) • Bolongan • Bukit (Pitap) • Bukitan • Burusu • Dayak • Dusun (Deyah • Malang • Witu) • Embaloh • Iban (Mualang • Seberuang) • Jangkang • Kanayatn • Kayan (Busang • Mahakam • Sungai Kayan • Mendalam • Wahau) • Kebahan • Kelabit • Kembayan • Keninjal • Kenyah (Kelinyau • Wahau • Lebu' Kulit) • Kohin • Krio • Kutai (Kota Bangun • Tenggarong) • Lawangan • Lengilu • Lun Bawang • Ma'anyan • Mali • Mayau • Melayu • Modang • Ngaju (Barangas • Katingan) • Okolod • Ot Danum (Limbai) • Paku • Pasir • Pesaguan • Punan (Aput • Bukat • Hovongan • Kereho • Merah • Merap • Tubu) • Putoh • Ribun • Sa'ban • Sambas • Sanjau Basap • Sanggau • Segai • Selungai Murut • Semandang • Sembakung Murut • Siang Murung • Tagal Murut • Taman • Tausug • Tawoyan • Tidung • Tunjung • Uma' Lasan • Uma' Lung • Wehea

Suku bangsa di Sulawesi

Andio • Aralle-Tabulahan • Bada • Bahonsuai • Bajau • Balaesang • Balantak • Bambam • Banggai • Bantik • Baras • Batui • Behoa • Bentong • Bintauna • Boano • Bobongko • Bolango • Bonerate • Budong-Budong • Bugis • Bungku • Buol • Busoa • Buton (Ciacia • Kulisusu • Lasalimu • Wolio) • Campalagian • Dakka • Dampelas • Dondo • Duri • Enrekang • Gorontalo • Kaidipang • Kaili (Kaili Da'a • Kaili Ledo • Kaili Unde) • Kaimbulawa • Kalao • Kalumpang • Kamaru • Kioko • Kodeoha • Konjo Pegunungan • Konjo Pesisir • Koroni • Kumbewaha • Laiyolo • Lauje • Lemolang • Liabuku • Lindu • Lolak • Luwu • Maiwa • Makassar • Manado • Malimpung • Mamasa • Mamuju • Mandar • Melayu • Minahasa • Moma • Mongondow • Mori (Mori Atas • Mori Bawah) • Moronene • Muna • Napu • Onda'e • Padoe • Pamona • Panasuan • Pancana • Pannei • Pebato • Pendau • Polahi • Ponosakan • Rahambuu • Rampi • Ratahan • Saluan • Sangir • Sarudu • Sedoa • Seko Padang • Seko Tengah • Selayar • Suwawa • Taje • Tajio • Talaud • Taloki • Talondo' • Toala' • Tolaki • Tomadino • Tombelala • Tombulu • Tomini • Tondano • Tonsawang • Tonsea • Tontemboan • Topoiyo • Toraja • Totoli • Tukang Besi Selatan • Tukang Besi Utara • Ulumanda' • Uma • Wana • Waru • Wawonii • Wotu

Suku bangsa di Kepulauan Maluku

Alfur • Alune • Amahai • Ambelau • Ambon • Aputai • Asilulu • Babar Tenggara • Babar Utara • Bacan • Banda • Barakai • Bati • Batuley • Benggoi • Boano • Bobot • Buli • Buru • Dai • Damar Barat • Damar Timur • Dawera-Daweloor • Dobel • Elpaputih • Emplawas • Fordata • Galela • Gamkonora • Gane • Gebe • Geser-Gorom • Gorap • Haruku • Hitu • Horuru • Hoti • Huaulu • Hukumina • Hulung • Ibu • Ili'uun • Imroing • Kadai • Kaibobo • Kamarian • Kao • Karey • Kayeli • Kei • Kisar • Koba • Kola • Kompane • Kur • Laba • Laha • Larike-Wakasihu • Latu • Leti • Liana-Seti • Lisabata-Nuniali • Lisela • Lola • Loloda • Lorang • Loun • Luang • Luhu • Maba • Makian Barat • Makian Timur • Mangole • Manipa • Manombai • Manusela • Mariri • Masarete • Masela Barat • Masela Tengah • Masela Timur • Masiwang • Modole • Moksela • Naka'ela • Nila • Nuaulu (Naulu Selatan • Naulu Utara) • Nusa Laut • Oirata • Pagu • Palumata • Patani • Paulohi • Perai • Piru • Roma • Sahu • Salas • Saleman • Saparua • Sawai • Seit-Kaitetu • Selaru • Seluwasan • Sepa • Serili • Serua • Sula • Tabaru • Taliabu • Talur • Tarangan Barat • Tarangan Timur • Tela-Masbuar • Teluti • Teor • Ternate • Ternateño1 • Te'un • Tidore • Tobelo • Tugun • Togutil • Tulehu • Ujir • Waioli • Watubela • Wemale (Selatan • Utara) • Yalahatan • Yamdena

Suku bangsa di Papua *

Abinomn 3 • Abun 3 • Airoran • Ambai • Amungme • Anasi • Ansus • Arandai • Arfak (Hatam • Moile • Sough • Meyah) • Arguni • As • Asmat (Asmat Pantai Kasuari • Asmat Tengah • Asmat Utara • Asmat Yaosakor) • Atohwaim • Auye • Awbono • Awera • Awyi • Awyu • Bagusa • Baham • Barapasi • Bauzi • Bayono • Bedoanas • Beneraf • Berik • Betaf • Biak • Biga • Biritai • Bonggo • Burate • Burmeso • Burumakok • Buruwai • Busami • Citak • Dabe • Damal • Dani • Dao • Dem • Demisa • Dera • Diebroud • Dineor • Diuwe • Doutai • Duriankere • Dusner • Duvle • Edopi • Ekari • Elseng 3 • Emem • Eritai • Erokwanas • Fayu • Fedan • Foau • Gresi • Hupla • Iau • Iha • Imekko (Suabo • Kais • Puragi • Kaburi • Kokoda) • Irarutu • Iresim • Isirawa • Itik • Iwur • Jofotek-Bromnya • Kaiy • Kalabra • Kamberau • Kamoro • Kapauri • Kaptiau • Karas • Kaure • Kauwera • Kayagar • Kayupulau • Kehu 5 • Keijar • Kemberano • Kembra 5 • Kemtuik • Ketengban • Ketum • Kimaghima • Kimki • Kimyal • Kirikiri • Kofei • Kombai • Komyandaret • Konda • Koneraw • Kopkaka • Korowai • Kosare • Kowiai • Kuri • Kurudu • Kwer • Kwerba • Kwerba Mamberamo • Kwerisa • Kwesten • Kwinsu • Lani • Lepki 5 • Liki • Maden • Maibrat (Ayamaru • Karon Dori • Mare • Aifat • Aitinyo) • Mairasi • Mander • Mandobo Atas • Mandobo Bawah • Manem • Mapia • Marau • Marind (Marind Bian • Maklew-Yab • Kanum • Yei) • Masimasi • Massep 3 • Matbat • Mawes • Ma'ya (Laganyan • Kawe • Wauyai) • Mek (Kosarek • Nipsan • Nalca • Eipomek) • Mekwei • Meoswar • Mer • Mlap • Mo • Moi • Molof 5 • Mombum • Momuna • Moni • Mora • Mor • Morai • Morori • Moskona • Mpur 3 • Munggui • Murkim 5 • Muyu • Nafri • Nakai • Namla 5 • Narau • Ndom • Nduga • Ngalik • Ngalum • Nggem • Nimboran • Ninggerum • Nisa • Obokuitai • Onin • Ormu • Orya • Papasena • Papuma • Pom • Rasawa • Riantana • Roon • Samarokena • Saponi • Sauri • Sause • Saweru • Sawi • Seget • Sekar • Semimi • Sempan • Sentani • Serui-Laut • Sikaritai • Skou • Sobei • Sowanda • Sowari • Sunum • Tabla • Taikat • Tamagario • Tanahmerah • Tandia • Tangko • Tarpia • Tause • Tebi • Tefaro • Tehit • Tobati • Tofanma 5 • Towei • Trimuris • Tsaukambo • Tunggare • Una • Uruangnirin • Usku 5 • Viid • Vitou • Wabo • Waigeo • Walak • Wambon • Wandamen • Wanggom • Wano • Warembori • Wares • Waris • Waritai • Warkay-Bipim • Waropen • Wauyai • Woi • Wolai • Woria • Yahadian • Yali • Yaqay • Yarsun • Yaur • Yawa • Yeretuar • Yetfa • Yoke • Zorop

Suku bangsa lain

Belanda Hitam • Arab-Indonesia • India-Indonesia • Jepang Indonesia • Korea-Indonesia • Filipina-Indonesia • Yahudi-Indonesia • Pakistan-Indonesia • Eropa-Indonesia (Orang Indo • Jerman-Indonesia • Portugis-Indonesia • Armenia-Indonesia • Australia-Indonesia • Bule Depok) • Timor Leste-Indonesia • Mardijkers • Orang Koja • Tionghoa-Indonesia (Orang Peranakan • Cina Benteng) • Orang Lamno • Larantuqueiros

Lihat pula: Pribumi-Nusantara
*Catatan: Kalimantan dan Papua di sini hanya yang termasuk dalam teritori Indonesia.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah dan etimologi
  2. Pengaruh Kesultanan Aceh
  3. Wilayah Karo
  4. Kabupaten Karo
  5. Kota Medan
  6. Kota Binjai
  7. Kabupaten Langkat
  8. Kabupaten Dairi
  9. Kabupaten Aceh Tenggara
  10. Kabupaten Deli Serdang
  11. Kabupaten Simalungun
  12. Marga
  13. Falsafah kemasyarakatan
  14. Sistem kekerabatan
  15. Bahasa dan aksara
  16. Kalender Karo
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026