Suku Dayak Pesaguan adalah sub-suku Dayak yang mendiami Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Indonesia. Masyarakat Dayak Pesaguan adalah kelompok masyarakat asli yang mendiami wilayah pehuluan aliran Sungai Pesaguan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). Kelompok ini tersebar di wilayah tiga kecamatan, yaitu: Kecamatan Tumbang Titi di bagian paling timur, Desa Lalang Panjang di bagian tengah, dan Kecamatan Sungai Melayu Rayak di bagian barat. Secara statistik, nama suku Pesaguan pertama kali muncul dalam sensus BPS tahun 2000, tetapi akhirnya dalam sensus tahun 2010 suku Pesaguan digabung ke dalam suku Dayak.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Suku Dayak Pesaguan adalah sub-suku Dayak yang mendiami Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Indonesia. Masyarakat Dayak Pesaguan adalah kelompok masyarakat asli yang mendiami wilayah pehuluan aliran Sungai Pesaguan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). Kelompok ini tersebar di wilayah tiga kecamatan, yaitu: Kecamatan Tumbang Titi di bagian paling timur, Desa Lalang Panjang di bagian tengah, dan Kecamatan Sungai Melayu Rayak di bagian barat. Secara statistik, nama suku Pesaguan pertama kali muncul dalam sensus BPS tahun 2000, tetapi akhirnya dalam sensus tahun 2010 suku Pesaguan digabung ke dalam suku Dayak.
Musim buah bagi masyarakat Dayak Pesaguan bukanlah hal yang biasa. Apalagi jika pada musim buah yang sangat melimpah. Masyarakat adat mewujudkannya dengan melakukan rangkaian upacara.
Masyarakat adat Dayak Pesaguan di Kab. Ketapang setidaknya mengenal 7 rangkaian upacara adat buah-galau (buah-buahan). Ketujuh upacara adat buah tersebut lazimnya dilakukan pada setiap musim buah raya. Musim buah raya biasanya ditandai dengan berbuahnya beberapa jenis buah seperti kelampai, kumpang, limat (janta') dan kekalik. Rangkaian upacara adat buah dipimpin oleh seorang Belian(bolin) buah. Upacara adat buah dimulai dari memorum doun memangkah dohan pada saat kuntum mulai tumbuh.
Usai upacara ini, masyarakat tidak boleh memanjat pohon durian dan mengambilnya malam hari. Seorang Belian buah tidak boleh memakan semua jenis buah sampai pada upacara nyabit buah atau ninjangan senggayung, kecuali pinang-sirih. Ketika bunga mulai kembang dilanjutkan dengan upacara merimbang bunga' (memelihara kembang).
Kemudian pada saat kembang mulai jadi buah (biasanya berpatokan pada pohon durian) diadakan upacara adat menimang/memandian pansai. Upacara ini disertai dengan upacara ritual ma-alap senggayung (alat musik yang terbuat dari bambu).[1]
Masyarakat Pesaguan memiliki gong-gong dengan tipe yang, bisa dikatakan paling bervariasi di antara kelompok-kelompok Dayak lainnya di Kalimantan Barat. Terdapat enam tipe alat keluarga gong yang ditemukan dalam kebudayaan Pesaguan.[2]
Lagu daerah Suku Dayak Pesaguan:
Ritual Keagamaan Suku Dayak Pesaguan:
| Bahasa Pesaguan | Bahasa Banjar | Arti |
|---|---|---|
| colukot | salukut | bakar |