Suku Moni adalah kelompok etnis yang mendiami Kabupaten Intan Jaya di Papua Tengah, Indonesia. Sebaran geografis utama suku ini terdapat di wilayah Dogandoga, Kemandoga, Mbiandoga, Weandoga (Paniai), Duma-Dama, dan Domondoga. Mereka berbicara bahasa Moni. Mereka menghormati kangguru pohon besar hitam dan putih bersiul sebagai leluhur yang disebut Bondegzeu (dingiso). Bondegzeu tidak diketahui oleh komunitas ilmiah sampai zoologis Tim Flannery mendeskripsikannya pada tahun 1995.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Migani | |
|---|---|
Suku Moni di Sungai Kemabu, Intan Jaya. | |
| Jumlah populasi | |
| 63.309 (2010)[1] | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Bahasa | |
| Bahasa Migani, Bahasa Indonesia | |
| Agama | |
| Kristen Katolik (dominan), Animisme | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Mee, Napan (Auye), Wolani |
Suku Moni (dikenal juga sebagai Miga Mene atau Migani) adalah kelompok etnis yang mendiami Kabupaten Intan Jaya di Papua Tengah, Indonesia. Sebaran geografis utama suku ini terdapat di wilayah Dogandoga, Kemandoga, Mbiandoga, Weandoga (Paniai), Duma-Dama, dan Domondoga. Mereka berbicara bahasa Moni. Mereka menghormati kangguru pohon besar hitam dan putih bersiul sebagai leluhur yang disebut Bondegzeu (dingiso). Bondegzeu tidak diketahui oleh komunitas ilmiah sampai zoologis Tim Flannery mendeskripsikannya pada tahun 1995.[2]
Menurut tradisi sejarah, suku Moni berasal dari tempat yang disebut Mbugumbamba, yang dalam bahasa moni artinya turun (mbugum) dan bubar/terbang (mbamba) yaitu tempat berpencarnya manusia pertama. Lokasi ini disebut juga Mbagimenboda yang berasal dari kata mbagime jalu sebuah tumbuhan, dan ndoga artinya pinggiran sungai, sehingga artinya lembah yang ditumbuhi mbagime yaitu pinggiran Sungai Baliem atau Mbagimebu (Lembah Baliem).[3]
Mereka mempercayai diri sebagai suku pertama yang keluar dari Baliem yang kemudian pergi ke arah timur, hingga ke wilayah PNG sekarang. Disana mereka tingal beratus-ratus tahun, tetapi mereka merasa tidak sesuai, sehingga berpindah lagi. Pertama ke arah Vanimo lalu Arso dan Waris. Kemudian terus ke arah barat laut hingga ke Padang Bulan (Abepura). Dari sini mereka pergi ke Genyem melalui Pegunungan Cycloop untuk menghindari Danau Sentani yang mereka anggap telaga jahat. Dari genyem mereka pergi ke arah Sarmi ke tempat yang dinamakan Iwilundoga (Pauwi/Pawi) dipinggir sungai Iwidu dimana mereka mengenal kapak batu iwi. Di tempat ini mereka berpencar dikarenakan menghindari luapan Danau (telaga jahat) dengan pergi ke dataran tinggi sehingga kemudian masuk ke Pegunungan Tengah ke wilayah adat suku Moni sekarang yang disebut Hege Naga I artinya rumah yang memberi nafas kehidupan.[3]
Kata "Migani" berasal dari kata miga yang artinya 'asli, murni, tulen' dan ni yang artinya 'orang, manusia'. Sehingga arti Migani adalah 'manusia sejati'. Sedangkan istilah "Moni" pertama kali digunakan tahun 1970-an oleh Bupati Nabire (1969–1972), Karel Gobay. Saat itu, situasi dilanda konflik antar suku dan penyebabnya diketahui adalah suku Migani. Bupati Gobay yang berusaha mengatasi masalah ini menghadapi watak orang Migani yang keras. Oleh karena itu, ia kecewa sehingga mulai menyebut dengan nama orang Moni.
Kata "Moni" berasal dari kata bahasa Mee, nomo atau mou yang berarti 'keladi' (yang dimakan menyebabkan gatal) dan ni, dari kata mene dalam bahasa Migani berarti orang. Makna ini berarti negatif karena hendak mengatakan bahwa orang Migani itu sama dengan keladi yang sudah tidak bisa dikonsumsi lagi oleh manusia karena menyebabkan gatal, tidak enak, dan seterusnya. Generasi setelah 1970an lebih sering menggunakan kata Moni karena sudah lebih populer dan generasi sebelumnya menggunakan kata Migani (Pater Kleopas Sojuna Sondegau, 2021).[4]
Baju adat suku Moni adalah gosaga yang terbuat dari kunden (labu kuning) untuk laki-laki dan sabo (cawat) yang terbuat dari rumput ilalang dan serat untuk perempuan.[5]
Rumah adat suku Moni berbentuk berupa gubuk persegi panjang yang beratapkan kulit kayu pohon domo atau migi dan memiliki dinding dari papan kayu dan diikat dengan tali rotan atau dari pohon zembelo dan butala (juga digunakan untuk membuat noken). Rumah tersebut secara adat dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan. Rumah laki-laki disebut nduni dan hanya ditepati oleh pria dan laki-laki yang sudah dewasa, sedangkan rumah perempuan disebut minai dan ditepati oleh anak-anak, ibu, dan gadis. Selain itu terdapat juga tugu api atau perapian hurai waiya. Satu pemukiman suku Moni berisi sekitar 2 hingga 10 rumah yang berisi sekitar 10 hingga 60 orang.[5]
Disebut dengan nama Hane Zambaya, tradisi memotong jari ini dipercaya untuk membuat arwah untuk tetap tinggal di rumah sampai luka jari tersebut sembuh atau perasaan sedih karena ditinggal baru akan sembuh setelah luka di jari tersebut sudah sembuh. Setelah pemakamaman orang yang ditinggalkan kemudian memotong dua ruas jarinya menggunakan parang, elasangee (kapak batu), atau benda tajam lain setelah diikat dengan tali. Hane Zambaya berlaku untuk semua jari kecuali ibu jari. Sejak tahun 2000-an tradisi ini sudah dilarang oleh pemerintah daerah dan pemuka agama sehingga sudah tidak dilakukan.[6]