Suku Bati adalah sebuah kelompok etnis yang mendiami Kabupaten Seram Bagian Timur di Provinsi Maluku, Indonesia. Mereka berbicara dalam bahasa Bati, sebuah bahasa Austronesia. Mereka sering dikaitkan dengan Orang Bati, makhluk mitologi lokal yang menyerupai manusia setengah kelelawar.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Jumlah populasi | |
|---|---|
| 8.000[1] | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Indonesia (Seram Bagian Timur) | |
| Bahasa | |
| Bati (asli) dan Indonesia | |
| Agama | |
| Islam Sunni | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Alifuru |
Suku Bati adalah sebuah kelompok etnis yang mendiami Kabupaten Seram Bagian Timur di Provinsi Maluku, Indonesia.[2] Mereka berbicara dalam bahasa Bati, sebuah bahasa Austronesia.[3] Mereka sering dikaitkan dengan Orang Bati, makhluk mitologi lokal yang menyerupai manusia setengah kelelawar.[4][5]
Dalam buku Esuriun Orang Bati (2013), disebutkan bahwa masyarakat Bati tersebar di 27 desa, khususnya di kecamatan Kian Darat, salah satunya adalah Bati Kelusi. Jumlah orang Bati yang tercatat pada waktu itu sekitar 8.000 orang.[1] Mereka diklasifikasikan sebagai kelompok masyarakat Alifuru.[6]
Sebagian besar orang Bati adalah Muslim.[7] Meskipun demikian, mereka masih dipengaruhi oleh kepercayaan tradisional yang diwariskan dari nenek moyang mereka.[8]
Suku Bati terbagi menjadi komunitas-komunitas kecil dan pemerintahan adat mereka berbentuk dusun atau desa (wanuya). Bati Kelusi konon merupakan pemukiman awal tempat terbentuknya suku Bati, dan lokasinya paling jauh dari semua pemukiman Bati lainnya.[9]
Dari Bati Kelusi, sebagian penduduknya pindah dan menyebar membentuk klan atau pemukiman baru seperti Bati Rumbouw, Bati Rumoga, Bati Tabalean, Bati Kelsaur, Bati Kilwouw, Bati Sayei, dan beberapa pemukiman kecil lainnya. Meskipun demikian, semua orang Bati masih tinggal di sekitar Pegunungan Bati.[9]
Masyarakat Bati bergantung pada hasil kebun dan hutan mereka untuk penghidupan. Mereka mencari nafkah dengan berburu dan berkebun. Produk pertanian mereka terutama berupa kelapa, sagu, pala, dan cengkeh, tetapi juga cabai, tomat, sayuran, singkong, dan ubi jalar.[10]