Suku Patani adalah salah satu kelompok etnis Austronesia yang mendiami wilayah tenggara Pulau Halmahera, khususnya di Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Mereka adalah penutur asli Bahasa Patani, sebuah bahasa Austronesia dari rumpun Malayo-Polinesia Tengah–Timur.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Suku Patani adalah salah satu kelompok etnis Austronesia yang mendiami wilayah tenggara Pulau Halmahera, khususnya di Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Mereka adalah penutur asli Bahasa Patani, sebuah bahasa Austronesia dari rumpun Malayo-Polinesia Tengah–Timur.[1]
Suku Patani sering disebut bersama dengan suku-suku tetangga seperti Suku Maba, Suku Weda, dan Suku Sawai sebagai bagian dari kelompok Austronesia di bagian tengah dan timur Halmahera.[2]
Wilayah Patani secara historis termasuk dalam wilayah pengaruh Kesultanan Tidore. Pada masa lalu, masyarakat Patani, Weda, dan Maba dikenal sebagai kelompok yang aktif di laut (sering disebut sebagai "perompak" oleh sumber kolonial) di perairan Maluku Utara.[3]
Mereka menuturkan Bahasa Patani yang memiliki dua dialek utama:
Pada tahun 1951 jumlah penutur diperkirakan sekitar 2.700 jiwa, sedangkan data Ethnologue tahun 2000 mencatat sekitar 10.600 penutur.[4]
Suku Patani mendiami wilayah pesisir timur Halmahera, terutama di Kecamatan Patani, Patani Utara, dan Patani Barat. Wilayah ini terkenal dengan produksi pala berkualitas tinggi, kakao, kopra, dan kepiting kelapa.
Masyarakat Patani sebagian besar beragama Islam dengan masih mempertahankan beberapa praktik adat pra-Islam. Mereka memiliki tradisi lisan yang kuat dan termasuk dalam kelompok "Gamrange" (Weda-Patani-Maba) yang memiliki ikatan budaya dan sejarah yang erat.