Suku Ampari adalah kelompok rumpun etnis Yapen yang mendiami pesisir timur Pulau Yapen yang meliputi Kepulauan Ambai, Nusawani, Angkaisera, Teluk Ampimoi dan pesisir barat Yapen Timur, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua, Indonesia. Populasi suku Ambai berjumlah sekitar 7.500 jiwa yang tersebar di sepuluh desa. Kesepuluh desa tersebut adalah Ambai, Rondepi, Adiwipi, Randawaipi, Menawi, Wadapi-Laut, Randaways, Wari-Roni, Sumberbaba, Nunsembai, dan Dawai. Suku ini dikenal sudah lama berhubungan dengan dunia luar. Hal ini terlihat dari suku Ampari sudah mengenal metode perladangan padi dan kegiatan perdagangan "kain timur", selain itu suku ini bisa ditemui di wilayah di luar Kepulauan Yapen setelah bermigrasi seperti di pesisir Waropen, Jayapura, Nabire, Wasior, Biak, Sorong, dan Manokwari.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Ampari | |
|---|---|
| Jumlah populasi | |
| 7.500[1] | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Kabupaten Kepulauan Yapen | |
| Bahasa | |
| Indonesia • Ambai | |
| Agama | |
| Kristen Protestan | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Yapen (Yawa Unat • Busami • Arui Sai • Berbai • Pombawo • 3W) |
Suku Ampari (atau Ambai) adalah kelompok rumpun etnis Yapen yang mendiami pesisir timur Pulau Yapen yang meliputi Kepulauan Ambai,[1] Nusawani, Angkaisera, Teluk Ampimoi dan pesisir barat Yapen Timur, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua, Indonesia. Populasi suku Ambai berjumlah sekitar 7.500 jiwa yang tersebar di sepuluh desa.[1] Kesepuluh desa tersebut adalah Ambai, Rondepi, Adiwipi, Randawaipi, Menawi, Wadapi-Laut, Randaways, Wari-Roni, Sumberbaba, Nunsembai, dan Dawai.[1] Suku ini dikenal sudah lama berhubungan dengan dunia luar. Hal ini terlihat dari suku Ampari sudah mengenal metode perladangan padi dan kegiatan perdagangan "kain timur",[1] selain itu suku ini bisa ditemui di wilayah di luar Kepulauan Yapen setelah bermigrasi seperti di pesisir Waropen, Jayapura, Nabire, Wasior, Biak, Sorong, dan Manokwari.[2]
Nama Ambai sendiri berasal dari kata embai yang dalam bahasa Ambai berarti "bulan". Sedangkan Ampari adalah nama dewa dalam mitologi lokal yang berwujud binatang yang dikisahkan dalam cerita rakyat Serador dan Ampari.[3] Suku Ampari juga biasa dipanggil berdasarkan nama kampungnya seperti orang Ambai, orang Menawi, orang Wadapi, orang Saweru, orang Korombobi, dan orang Randawaya.
Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Ambai[4] dengan dialek yang berbeda di masing-masing kampung. Menurut glottolog terdapat tiga dialek bahasa Ambai, Ambai Pusat, Randawaya, dan Menawi.[5]