Suku Yaur adalah salah satu suku yang mendiami wilayah pesisir utara Kabupaten Nabire tepatnya di Distrik Yaur. Wilayah yang didiami suku Yaur termasuk kedalam wilayah adat Saireri yang meliputi pesisir utara Nabire, Kepulauan Biak, serta Pulau Yapen.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Suku Yaur di Kwatisore beserta seorang korano (kepala kampung) dan pemandu, 1903 | |
| Jumlah populasi | |
|---|---|
| 700[1] | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Indonesia (pesisir Kabupaten Nabire) | |
| Bahasa | |
| Yaur Melayu Papua (lingua franca) | |
| Agama | |
| Kekristenan, Agama tradisional (mayoritas), Islam (minoritas)[1] | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Yerisiam • Wate • Umari |
Suku Yaur adalah salah satu suku yang mendiami wilayah pesisir utara Kabupaten Nabire tepatnya di Distrik Yaur.[2] Wilayah yang didiami suku Yaur termasuk kedalam wilayah adat Saireri yang meliputi pesisir utara Nabire, Kepulauan Biak, serta Pulau Yapen.[3]

Suku Yaur adalah pemburu-pengumpul. Mereka berburu biawak di Lembah Waroromi selama musim buah untuk diambil kulit dan dagingnya, karena biawak biasanya mendekati pohon buah-buahan. Setelah diburu, kulitnya dimanfaatkan untuk tifa dan pembuatan furnitur dinding, sedangkan daging asapnya dijual di pasar Nabire.[4]
Yaur atau Jaur adalah sebuah bahasa yang termasuk kedalam dalam rumpun bahasa Cenderawasih (Teluk Geelvink) cabang dari keluarga Austronesia yang dituturkan di Provinsi Papua Tengah, Indonesia. Bahasa ini memiliki sekitar 300 penutur.[5]