Suku Batin adalah suku Melayu di provinsi Jambi di bagian pedalaman pulau Sumatra, Indonesia. Ada sekitar 72.000 (2005) orang Batin yang tinggal di pedalaman Sumatra tengah bagian selatan. Mereka menuturkan bahasa Melayu dengan dialek Jambi. Suku Batin kebanyakan beragama Muslim, tetapi menganut sistem matrilineal. Orang Batin suka hidup berpindah-pindah dan berjiwa gotong royong.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Masyarakat suku Batin di Rantau Panjang sekitar tahun 1914 - 1921 | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
|---|---|
| Provinsi Jambi : Kabupaten Merangin Kabupaten Bungo Kabupaten Sarolangun Kabupaten Tebo | |
| Bahasa | |
| Melayu Jambi, Kerinci, Indonesia | |
| Agama | |
| Islam | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Melayu Jambi, Kerinci, dan Minang |
Suku Batin (bahasa Melayu: Batin atau Bathincode: ms is deprecated ; Jawi: باتين) adalah suku Melayu di provinsi Jambi di bagian pedalaman pulau Sumatra, Indonesia. Ada sekitar 72.000 (2005) orang Batin yang tinggal di pedalaman Sumatra tengah bagian selatan. Mereka menuturkan bahasa Melayu dengan dialek Jambi. Suku Batin kebanyakan beragama Muslim, tetapi menganut sistem matrilineal. Orang Batin suka hidup berpindah-pindah dan berjiwa gotong royong.[1]
Menurut sejarah asal mula penduduk Marga Batin V berasal dari kelompok 60 tumbi yang pindah dari Koto Rayo. karena merasa tidak aman, kemudian pindah dan mencari tempat yang lebih cocok untuk dibuat perkampungan baru.[2]: 13
Untuk menghilangkan jejak, maka Koto Rayo dihilangkan dari permukaan bumi ini demi untuk menjaga keamanan. Kira-kira 20 km dari Koto Rayo persis di Tanjung Muara Semayo, mereka berhenti dan mengadakan musyawarah. Setelah musyawarah selesai ke-60 tumbi menyebar ke lima tempat. Sedangkan yang tinggal di Muara Semayo 19 orang kepala keluarga atau tumbi dikepalai oleh Puyang Depati.[2]: 13
Suku Batin mendiami sekitar Pegunungan Bukit Barisan, kabupaten Merangin, Sarolangun, Bungo, dan Tebo di provinsi Jambi.
Wilayahnya meliputi: Jangkat, Muara Siau, Bangko, Tabir, Pauh, Muara Bungo, Rantau Pandan, Tebo Ulu, dan Tebo Ilir. Masyarakat Batin mulai menempati tempat-tempat tersebut diperkirakan sekitar abad pertama masehi.
Dalam berbahasa suku Batin termasuk bagian dari Bahasa Melayu Jambi, tetapi dialek bahasa Batin juga sebagian dipengaruhi oleh Bahasa Minangkabau.
Sistem kekerabatan orang Batin adalah Matrilineal (garis keturunan ditarik dari pihak ibu). Dalam kehidupan sehari-hari, orang Batin lebih dekat dengan kerabat pihak ibu daripada kerabat pihak ayah. Namun, laki-laki tetap berperan sebagai kepala keluarga dalam rumah tangganya. Di samping sistem pendidikan umum yang dijalankan di sekolah-sekolah, juga terdapat pendidikan dari madrasah-madrasah.
Untuk sistem pemerintahan, suku Batin berawal dari sebuah dusun yang dihuni oleh sejumlah keluarga luas yang disebut piak. Setiap piak dikepalai oleh seorang ninik mamak. Pemimpin dusun yang bergelar rio diangkat berdasarkan hasil musyawarah dari seluruh ninik mamak. Dalam menjalankan kepemimpinannya, rio didampingi oleh para ninik mamak. Dengan demikian, segala keputusan rio haruslah diambil dengan persetujuan para ninik mamak dari piak yang ada di dusun tersebut.