Suku Duriankari, disebut juga sebagai Efpan, adalah kelompok etnis yang mendiami Kampung Duriankari di Kecamatan Salawati Tengah, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia. Mereka sebelumnya menggunakan bahasa Duriankari (Duriankere), sebelum punah pada tahun 1990-an, penggunaannya digantikan oleh bahasa Moi dan Ma'ya (Salawati). Suku ini hidup dari meramu sagu dan menangkap ikan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Jumlah populasi | |
|---|---|
| 15 (1979)[1] | |
| Bahasa | |
| Duriankari (punah), Moi, Ma'ya (Salawati), dan Indonesia | |
| Agama | |
| Kekristenan (terutama Protestan) | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Inanwatan • Moi • Ma'ya |
Suku Duriankari, disebut juga sebagai Efpan, adalah kelompok etnis yang mendiami Kampung Duriankari di Kecamatan Salawati Tengah, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia. Mereka sebelumnya menggunakan bahasa Duriankari (Duriankere), sebelum punah pada tahun 1990-an,[2] penggunaannya digantikan oleh bahasa Moi dan Ma'ya (Salawati). Suku ini hidup dari meramu sagu dan menangkap ikan.[1]
Populasi suku ini hampir punah. Jumlah populasi yang masih hidup pada tahun 1979 hanya 15 orang. Jumlah mereka adalah yang terkecil di antara kelompok etnis di sekitarnya.[3] Karena jumlah mereka yang sedikit, mereka berasimilasi dan selalu hidup atau bermukim bersama dengan orang Kawit yang merupakan sub-suku Moi. Oleh karena itu, mereka terkadang juga disebut sebagai orang Kawit. Mereka umumnya beragama Kristen Protestan.[1]
Suku Duriankari saat ini sebagian besar berasimilasi dengan suku Kawit. Kampung yang mereka huni, Duriankari, sebagian besar dihuni oleh suku Kawit, yang mencakup 70% dari keseluruhan populasi kampung tersebut. Kampung Duriankari terletak di bagian selatan Pulau Salawati.[4]
Bahasa asli yang digunakan oleh suku Duriankari adalah salah satu dari dua bahasa non-Austronesia yang digunakan di Kepulauan Raja Ampat, yang lainnya adalah bahasa Seget, anggota rumpun bahasa Kepala Burung Barat, yang dituturkan di timur dan selatan Salawati.[5] Orang Inanwatan menganggap penutur bahasa Duriankari sebagai keturunan orang Inanwatan yang terbawa jauh ke barat oleh banjir mistis.[2]
Bahasa Duriankari, yang sekarang telah punah, dituturkan di sebuah desa di bagian selatan Salawati, yang diperkirakan berkerabat dengan bahasa Inanwatan di pantai selatan Kepala Burung. Kedua kelompok tersebut (Duriankari dan Seget) merupakan hasil migrasi baru-baru ini ke Kepulauan Raja Ampat. Namun, terdapat bukti linguistik yang kuat bahwa bahasa non-Austronesia digunakan di kepulauan tersebut sebelum kedatangan penutur bahasa Austronesia.[5]