Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Lambertus Nicodemus Palar

Lambertus Nicodemus Palar, juga dikenal sebagai Babe Palar adalah seorang politikus yang mewakili Indonesia dalam berbagai posisi diplomatik, terutama sebagai perwakilan Indonesia pertama di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia juga pernah menjabat sebagai duta besar di India, Jerman Barat, Uni Soviet, Kanada, dan Amerika Serikat. Ia adalah putra dari Gerrit Palar dan Jacoba Lumanauw.

Pahlawan Nasional Indonesia
Diperbarui 13 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Lambertus Nicodemus Palar
Ini adalah nama Minahasa, marganya adalah Palar.
Lambertus Nicodemus Palar
Potret resmi, ca 1966
Utusan Tetap Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-1
Masa jabatan
1950–1953
Sebelum
Pendahulu
Tidak ada
Pengganti
Sudjarwo Tjondronegoro
Sebelum
Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ke-4
Masa jabatan
5 Mei 1965 – 6 April 1966
Sebelum
Pendahulu
Zairin Zain
Pengganti
Suwito Kusumowidagdo
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir(1900-06-05)5 Juni 1900
Tomohon, Sulawesi Utara, Hindia Belanda
Meninggal13 Februari 1981(1981-02-13) (umur 80)
Jakarta, Indonesia
Suami/istriJohanna Petronella Volmers
Anak3
AlmamaterTechnische Hoogeschool te Bandoeng
Rechtshoogeschool te Batavia
Pahlawan Nasional Indonesia
S.K. Presiden No. 068/TK/2013 tanggal 6 November 2013.
  • Pahlawan Nasional Indonesia Suntingan nilai di Wikidata
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Lambertus Nicodemus Palar (5 Juni 1900 – 13 Februari 1981), juga dikenal sebagai Babe Palar adalah seorang politikus yang mewakili Indonesia dalam berbagai posisi diplomatik, terutama sebagai perwakilan Indonesia pertama di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia juga pernah menjabat sebagai duta besar di India, Jerman Barat, Uni Soviet, Kanada, dan Amerika Serikat. Ia adalah putra dari Gerrit Palar dan Jacoba Lumanauw.

Kehidupan awal dan pendidikan

Palar masuk sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Tondano. Dia kemudian masuk Algemeene Middelbare School (AMS) B di Yogyakarta dan tinggal bersama Sam Ratulangi. Di AMS B Yogyakarta inilah ia pertama kali berkenalan dengan politik dan ide-ide nasionalis dan menjadi anggota organisasi pemuda nasionalis Jong Minahasa.[1]

Setelah lulus AMS tahun 1922, Palar meneruskan ke jenjang pendidikan tingginya di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang sekarang dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB) selama sekitar satu tahun. Di kampus ini, Palar bertemu dengan Sukarno dan mahasiswa nasionalis lainnya dan aktif dalam menyelenggarakan pertemuan dan pidato nasionalis. Karena dilanda sakit yang parah, Palar hampir satu tahun terbaring di tempat tidur dan terpaksa menghentikan kuliahnya dan kembali ke Minahasa. Setelah sembuh ia bekerja sebentar di Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM).[1]

Pada tahun 1924 Palar memulai kembali kuliahnya di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta, cikal-bakal Fakultas Hukum Universitas Indonesia). Di sana ia bergabung dengan paham sosialis-demokrat melalui seorang anggota Volksraad yaitu J. E. Stokvis, Ketua Indische Sociaal-Democratische Partij (ISDP - Partai Sosialis-Demokrat Hindia). Setelah pemberontakan komunis tahun 1926 gagal di Jawa dan Sumatra, pemerintah Hindia Belanda mengambil tindakan represif termasuk deportasi ke Boven Digoel. Melihat kondisi tersebut, keluarga Palar mencari perlindungan di tempat lain. Pada tahun 1928, Palar pindah ke Belanda.[1] Pada tanggal 4 Agustus 1928 Palar berangkat dari Batavia menuju Rotterdam, Belanda dengan kapal "Tabanan" yang tiba di tujuan pada bulan September 1928.[2]

Karier politik di Belanda

Pada tahun 1930, Palar menjadi anggota Sociaal-Democratische Arbeiders Partij (SDAP) setelah SDAP melaksanakan Kongres Kolonial dan mengadakan pengambilan suara yang menyatakan beberapa posisi partai termasuk hak kemerdekaan nasional untuk Hindia Belanda tanpa syarat. Palar menjabat sebagai sekretaris Komisi Kolonial SDAP dan Nederlands Verbond van Vakverenigingen (NVV) mulai Oktober 1933. Dia juga adalah direktur Persbureau Indonesia (Persindo) yang ditugaskan untuk mengirim artikel-artikel tentang sosial demokrasi dari Belanda ke pers di Hindia Belanda. Pada tahun 1938, Palar kembali ke tanah airnya bersama isterinya, Johanna Petronella Volmers, yang dinikahinya pada tanggal 26 Juni 1935.[1] Dia mengunjungi berbagai daerah di Indonesia untuk menghimpun informasi. Dia menemukan bahwa gerakan kemerdekaan Indonesia sedang giat dan dia menulis tentang pengalamannya pada saat dia kembali ke Belanda.[3]

Selama pendudukan Jerman di Belanda ketika Perang Dunia II, Palar tidak bisa bekerja untuk SDAP sehingga dia bekerja di laboratorium Van der Waals. Dia juga bekerja sebagai guru bahasa Melayu dan sebagai gitaris orkestra keroncong. Sementara perang, Palar dan istrinya tergabung dalam gerakan bawah tanah anti-Nazi.[4]

Setelah perang, Palar terpilih menjadi anggota Tweede Kamer dari partai Partij van de Arbeid (PvdA), sebuah partai baru yang bermula dari SDAP.[3][5] Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Palar mendukung pernyataan ini dan mempromosikan hubungan dengan pemimpin-pemimpin Indonesia. Hal ini tidak disambut baik oleh PvdA sehingga menyebabkan partai ini menjauhkan diri dari posisi yang sebelumnya mendukung hak kemerdekaan Indonesia.[3] Setelah ditugaskan untuk mengadakan misi ke Indonesia, Palar sempat bertemu kembali dengan para pemimpin kemerdekaan Indonesia. Di Belanda, Palar berusaha untuk mendesak penyelesaian konflik antara Belanda dan Indonesia tanpa kekerasan, tetapi pada tanggal 20 Juli 1947 parlemen Belanda menyetujui untuk melakukan aksi polisionil di Indonesia. Palar kemudian mengundurkan diri sebagai anggota parlemen dan anggota PvdA.[5]

Karier diplomatik

Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta dan Juliana dari Belanda pada upacara penandatanganan di Den Haag di mana Belanda mengakui kedaulatan Indonesia
Palar tiba di Belanda, 1950

Palar bergabung dengan usaha pengakuan internasional kemerdekaan Indonesia dengan menjadi Wakil Indonesia di PBB pada tahun 1947. Posisi ini dijabatnya sampai tahun 1953. Pada masa jabatannya peristiwa-peristiwa penting terjadi seperti konflik antara Belanda dan Indonesia, pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda, dan masuknya Indonesia menjadi anggota PBB.[3][4][5]

Pada saat konflik antara Belanda dan Indonesia, Palar memperdebatkan posisi kedaulatan Indonesia di PBB dan di Dewan Keamanan walaupun pada saat itu dia hanya mendapat gelar "peninjau" di PBB karena Indonesia belum menjadi anggota pada saat itu. Setelah Agresi Militer II yang dikecam oleh Dewan Keamanan PBB, Perjanjian Roem Royen disetujui yang kemudian diikuti dengan Konferensi Meja Bundar dan pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

Indonesia menjadi anggota ke-60 di PBB pada tanggal 28 September 1950.[6] Pada saat berpidato di muka Sidang Umum PBB sebagai Perwakilan Indonesia di PBB paling pertama, Palar berterima kasih kepada para pendukung Indonesia dan berjanji Indonesia akan melaksanakan kewajibannya sebagai anggota PBB. Palar tetap di PBB sampai saat dia ditunjuk sebagai Duta Besar Indonesia di India pada tahun 1953.[5] Pada tahun 1955, Palar diminta kembali ke Indonesia dan ikutserta dalam persiapan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika, yang mengumpulkan negara-negara di Asia dan Afrika di mana kebanyakan dari negara tersebut baru merdeka.[5] Setelah pelaksanaan konferensi, Palar memulai kembali tugas diplomatisnya melalui jabatan Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet merangkap Jerman Timur.[7]: 232  Dari tahun 1957 sampai 1962, dia menjadi Duta Besar Indonesia untuk Kanada dan setelah itu kembali menjadi Duta Besar di PBB sampai tahun 1965.[5] Karena konflik antara Indonesia dan Malaysia dan setelah Malaysia terpilih untuk masuk Dewan Keamanan PBB, Sukarno mencabut keanggotaan Indonesia di PBB. Palar kemudian menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.[5] Pada saat kepemimpinan Suharto pada tahun 1966, Indonesia kembali meminta masuk keanggotaan PBB melalui pesan yang disampaikan kepada Sekretaris Jendral PBB oleh Palar.[4]

Pensiun dan kematian

Palar pensiun dari dinas luar negeri pada tahun 1968 setelah mengabdi kepada negara di masa-masa awal perjuangan dan konflik, serta memperjuangkan kemerdekaannya di kancah diplomatik. Palar kembali ke Jakarta, tetapi tetap aktif mengajar, bekerja sosial, dan menjadi penasihat Perwakilan Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Lambertus Nicodemus Palar meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 13 Februari 1981.[8] Ia meninggalkan istri, Johanna Petronella "Yoke" Volmers, dan anak-anaknya, Maria Elisabeth Singh, Maesi Martowardojo, dan Bintoar Palar.

Pada 6 November 2013, L. N. Palar bersama dengan Radjiman Wedyodiningrat dan T.B. Simatupang dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.[9]

Sumber

  1. 1 2 3 4 "PALAR, Lambertus Nicodemus" (dalam bahasa Belanda). Biografisch Woordenboek van het Socialisme en de Arbeidersbeweging in Nederland. 1 April 2024. Diakses tanggal 19 Maret 2025.
  2. ↑ (Belanda) "Passagiers" dalam Harian "Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad" edisi 1 September 1928.
  3. 1 2 3 4 "Sejarah Hidup L.N. Palar, Perwakilan Indonesia Pertama di PBB". tirto.id. Diakses tanggal 2020-06-13.
  4. 1 2 3 "Melawan Nazi Hingga Berdiplomasi". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. Diakses tanggal 2020-06-13.
  5. 1 2 3 4 5 6 7 Prabowo, Panca Hari (2013-11-08). Ratomo, Unggul Tri (ed.). "LN Palar dan perjuangan diplomasi Indonesia". ANTARA News. Diakses tanggal 2020-06-13.
  6. ↑ "United Nations - Office of Legal Affairs". legal.un.org. Diakses tanggal 2020-06-13.
  7. ↑ Turambi, Judie (2017). Lambertus Nicodemus 'Babe' Palar: The First Indonesian Ambassador to the United Nations, Diplomat Legendaris Indonesia: From Tomohon to New York. Yogyakarta: Matapadi Presindo. ISBN 9786021634233.
  8. ↑ Schwidder (1998).
  9. ↑ Parlina (2013).

Bacaan lebih lanjut

  • Drooglever, P., Schouten, M., and Lohanda M. (1999) Guide to the Archives on Relations between the Netherlands and Indonesia 1945-1963. Institute of Netherlands History.
  • Hansen, E. (1977) The Dutch East Indies and the Reorientation of Dutch Social Democracy, 1929-40. Indonesia, 23.
  • Kahin, G. (1981) In Memoriam: L. N. Palar. Indonesia, 32.
  • Saxon, W. (1981) Lambertus N. Palar Dead at 80; Battled for Indonesia's Freedom. New York Times, February 15, 1981.
  • "Biografie van Palar, Lambertus Nicodemus". Accessed 20 September 2008. (Belanda)
  • "Lambertus Nicodemus Palar". Accessed 20 September 2008. (Belanda)
  • "History of the Indonesian Mission to the United Nations". Accessed 20 September 2008.
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Tidak ada
Duta Besar RI untuk PBB
1950–1953
Diteruskan oleh:
Sudjarwo Tjondronegoro
Didahului oleh:
Sudarsono
Duta Besar Indonesia untuk India
1953–1956
Diteruskan oleh:
Abdul Kadir
Didahului oleh:
Alexander Andries Maramis
Duta Besar Indonesia untuk Jerman Barat
1956–1956
Diteruskan oleh:
Zairin Zain
Didahului oleh:
Soebandrio
Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet
1956–1956
Diteruskan oleh:
Alexander Andries Maramis
Didahului oleh:
Usman Sastroamidjojo
Duta Besar Indonesia untuk Kanada
1957–1962
Diteruskan oleh:
Moekarto Notowidigdo
Didahului oleh:
Soekardjo Wirjopranoto
Duta Besar RI untuk PBB
1962–1965
Diteruskan oleh:
Roeslan Abdulgani
Didahului oleh:
Zairin Zain
Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat
1965–1966
Diteruskan oleh:
Suwito Kusumowidagdo
  • l
  • b
  • s
Indonesia Pahlawan Nasional Indonesia
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir · Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soeharto  · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Jamin Ginting  · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E. Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Sarwo Edhie Wibowo · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin  · Yos Sudarso · Djatikoesoemo · Moestopo
Kemerdekaan
Agustinus Adisoetjipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Soepeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang
Revolusi
Ahmad Yani · Karel Satsuit Tubun · Mas Tirtodarmo Harjono · Katamso Darmokusumo · Donald Izaac Panjaitan · Pierre Tendean · Siswondo Parman · Sugiyono Mangunwiyoto · R. Suprapto · Sutoyo Siswomiharjo
Pergerakan
Abdurrahman Baswedan · Maria Walanda Maramis · dr. Soetomo · Wage Rudolf Soepratman · Wahidin Soedirohoesodo
Sastra
Abdoel Moeis · Agus Salim · Amir Hamzah · Mohammad Yamin · Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
Seni
Ismail Marzuki · Usmar Ismail
Pendidikan
Dewi Sartika · Kartini · Ki Hadjar Dewantara · Ki Sarmidi Mangunsarkoro · Muhammad Salahuddin · Rahmah El Yunusiyyah  · Rubini Natawisastra · Sardjito · Soeharto Sastrosoeyoso · Syaikhona Muhammad Kholil
Integrasi
Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng · Silas Papare · Syarif Kasim II dari Siak
Pers
M. Tabrani · Roehana Koeddoes · Tirto Adhi Soerjo
Pembangunan
Moestopo · Pangeran Mohammad Noor · Suharso · Siti Hartinah · Teuku Mohammad Hasan · Wilhelmus Zakaria Johannes
Agama
As'ad Samsul Arifin · Abdul Chalim · Abdul Wahab Hasbullah  · Ahmad Dahlan · Ahmad Hanafiah · Ahmad Sanusi · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasyim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid  · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Wahid Hasjim
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Diusulkan · Portal Portal Indonesia
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
Orang
  • Belanda
Lain-lain
  • SNAC

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan awal dan pendidikan
  2. Karier politik di Belanda
  3. Karier diplomatik
  4. Pensiun dan kematian
  5. Sumber
  6. Bacaan lebih lanjut

Artikel Terkait

Pahlawan nasional Indonesia

Gelar penghargaan resmi tingkat tertinggi di Indonesia

Pahlawan Revolusi Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Hari Pahlawan (Indonesia)

Hari Pahlawan Nasional

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026