Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Karma dalam Buddhisme

Dalam Buddhisme, karma artinya perbuatan, entah itu perbuatan baik atau buruk yang dilakukan melalui pikiran, ucapan dan perbuatan badan jasmani yang disertai dengan niat/kemauan/ kehendak (cetanā), yang berpotensi akan menimbulkan akibat (vipaka) di masa mendatang. Akibat yang muncul adalah konsekuensi yang sepadan dengan kualitas dari perbuatan, di mana niat baik menghasilkan kebahagiaan, sedangkan niat buruk menimbulkan penderitaan. Niat tersebut dianggap sebagai faktor penentu dalam jenis kelahiran kembali dalam samsara, yaitu siklus kelahiran berulang.

suatu perbuatan berkehendak yang menghasilkan buah atau akibat
Diperbarui 23 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Terjemahan dari
karma
Inggriskarma
Palikammacode: pi is deprecated
Sanskertaकर्मन्code: sa is deprecated
(IAST: karman)
Tionghoa業 or 业code: zh is deprecated
(Pinyin: yècode: pny is deprecated )
Jepang業 or ごうcode: ja is deprecated
(rōmaji: goucode: ja is deprecated )
Korea업 or 業code: ko is deprecated
(RR: uhbcode: ko is deprecated )
Tibetལས།code: bo is deprecated
(Wylie: las;
THL: lé;
code: bo is deprecated )
Bengaliকর্মcode: bn is deprecated
Myanmarကံcode: my is deprecated code: my is deprecated
(MLCTS: kàɰ̃code: my is deprecated )
Thaiกรรมcode: th is deprecated
(RTGS: gam)
VietnamNghiệpcode: vi is deprecated
Khmerកម្ម
(UNGEGN: kâmm; ALA-LC: kamm; IPA: [kam])
code: km is deprecated
Sinhalaකර්මcode: si is deprecated
(karma)
Daftar Istilah Buddhis
  • l
  • b
  • s
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
  • Istilah
  • Indeks
  • Garis besar
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Mazhab
  • Konsensus pemersatu
Arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílè Dàdào
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Paritta
  • Sastra Pali
Mahāyāna–Vajrayāna
  • Sutra Mahāyāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
  • Buddha
  • Bodhisatwa
  • Buddha masa ini:
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
  • 4 tempat suci utama:
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
  • Buddha masa lampau:
  • Kassapa
  • Koṇāgamana
  • Kakusandha
  • Vessabhū
  • Sikhī
  • Vipassī
  • dll.
  • Dīpaṅkara
  • Buddha masa depan:
  • Metteyya
  • Bawahan:
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna–Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
    • Kwan Im
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
Keyakinan
  • Ketuhanan
  • Hukum Alam
  • Pandangan
  • Kesesatan
  • Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia
  • Perlindungan
  • Pancasila
  • Karma
    • Kehendak
    • Akibat
  • Punarbawa
  • Alam Kehidupan
  • Samsara
  • Māra
  • Pencerahan
  • Nirwana
  • Acinteyya
Tiga corak
  • Ketidakkekalan
  • Penderitaan
  • Tanpa atma
Gugusan
  • Rupa
  • Kesadaran
  • Persepsi
  • Perasaan
  • Saṅkhāra
  • Nāmarūpa
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Kontak indra
  • Kemunculan Bersebab
Faktor mental
  • Malu
  • Takut
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Delusi
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Kewawasan
  • Bodhipakkhiyā
  • dll.
Meditasi
  • Samatha-vipassanā
    • Jhāna
    • Satipaṭṭhāna
    • Sampajañña
    • Kammaṭṭhāna
      • Anussati
        • Maraṇasati
        • Ānāpānasati
      • Paṭikūlamanasikāra
    • Brahmawihara
      • Cinta kasih
      • Belas kasih
      • Simpati
      • Ketenangan / Keseimbangan batin
  • Abhiññā
    • Iddhi
Bakti
  • Puja
  • Pelimpahan jasa
  • Namaskara
  • Pradaksina
  • Pindapata
  • Ziarah
Praktik lainnya
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Dana
  • Sila
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Usaha
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Astasila
  • Fangseng
  • Sādhu
  • Sangha
  • Parisā
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Pandita
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
  • Kepala wihara
  • Saṅgharāja
Murid penting
  • Biksu:
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • Mahākassapa
  • Ānanda
  • 10 murid utama
  • Biksuni:
  • Pajāpatī Gotamī
  • Khemā
  • Uppalavaṇṇā
  • Kisā Gotamī
  • Upasaka:
  • Tapussa dan Bhallika
  • Anāthapiṇḍika
  • Citta
  • Hatthaka
  • Upasika:
  • Sujātā
  • Khujjuttarā
  • Veḷukaṇḍakiyā
  • Visākhā
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Dhammasālā
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Kelenteng
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Magha
  • Waisak
  • Asalha
  • Kathina
  • Uposatha
  • Hari Lahir Buddha
  • Hari Bodhi
  • Hari Abhidhamma
  • Ulambana
  • Hari Parinirwana
  • Budaya
  • Masyarakat
Produk
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Bendera
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Darmacakra
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Humanisme
  • Kalender
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Sarira
    • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seni rupa
Hubungan dengan …
  • Agama timur
  • Baháʼí
  • Dunia Romawi
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Hinduisme
  • Jainisme
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Penindasan
  • Yahudi
Pandangan tentang …
  • Aborsi
  • Anikonisme
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Ilmu pengetahuan
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Masturbasi
  • Orientasi seksual
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarianisme
  •  Portal Buddhisme
  • l
  • b
  • s

Dalam Buddhisme, karma (Pali: kamma; Sanskerta: कर्म) artinya perbuatan, entah itu perbuatan baik atau buruk yang dilakukan melalui pikiran, ucapan dan perbuatan badan jasmani yang disertai dengan niat/kemauan/ kehendak (cetanā),[1] yang berpotensi akan menimbulkan akibat (vipaka) di masa mendatang. Akibat yang muncul adalah konsekuensi yang sepadan dengan kualitas dari perbuatan, di mana niat baik menghasilkan kebahagiaan, sedangkan niat buruk menimbulkan penderitaan.[2] Niat tersebut dianggap sebagai faktor penentu dalam jenis kelahiran kembali dalam samsara, yaitu siklus kelahiran berulang.

Etimologi

Karma (Sanskerta: karman; Pali: kamma; Tibet: las)[3] adalah istilah bahasa Sanskerta yang secara harfiah berarti "tindakan" atau "perbuatan". Kata ini berakar dari kata kerja kṛ, yang berarti "melakukan", "membuat", "melaksanakan", atau "menyelesaikan".[4]

Karmaphala (Tibet: rgyu 'bras[5][3][a]) merujuk pada "buah",[6][7][8] "efek",[9] atau "hasil"[10] dari karma. Istilah lain yang serupa adalah karmavipaka, yang berarti "pematangan"[11] atau "proses memasak"[12] karma:

Efek jangka panjang dari pilihan-pilihan karmis ini disebut sebagai 'pematangan' (vipāka) atau 'buah' (phala) dari suatu tindakan mengandung karma.[7]

Istilah ini menggunakan metafora dari dunia pertanian:[8][13]

seseorang menabur benih, kemudian terdapat selang waktu di mana proses yang tidak kasat mata terjadi, hingga akhirnya tanaman tersebut tumbuh dan dapat dipanen.[8]

Pemahaman tentang Karma

Karma didefinisikan oleh Buddha dalam Aṅguttara Nikāya (6.63):


“ ”
Niat (cetanā), aku katakan, adalah kamma. Dengan berniat, seseorang melakukan kamma melalui tubuh, ucapan, dan pikiran.
— Nibbedhikasutta, AN 6.63

Karma dan karmaphala merupakan konsep mendasar dalam Buddhisme.[10][14] Kedua konsep ini menjelaskan bagaimana tindakan yang dilakukan dengan niat mengikat seseorang pada kelahiran kembali dalam samsāra, sedangkan jalan yang diajarkan Sang Buddha, yang dicontohkan dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan, menunjukkan cara untuk keluar dari samsara.

Kelahiran kembali

Artikel utama: Kelahiran kembali (Buddha)

Kelahiran kembali merupakan keyakinan umum dalam semua tradisi Buddhis. Ajaran ini menyatakan bahwa kelahiran dan kematian dalam siklus berulang yang digerakkan oleh ketidaktahuan (avidyā), nafsu keinginan (tṛṣṇā), dan kebencian (dveṣa). Siklus ini disebut samsāra, suatu proses tanpa awal dan terus berlanjut. Pembebasan dari samsāra dapat dicapai dengan menapaki Jalan Buddhis, yang membawa pada pengetahuan (vidyā) serta penghentian nafsu dan kebencian, sehingga siklus kelahiran kembali berhenti.

Karma

Siklus kelahiran kembali ditentukan oleh karma,[15] yang secara harfiah berarti “tindakan”.[21] Dalam tradisi Buddhis, karma merujuk pada perbuatan yang didorong oleh niat atau kehendak (cetanā),[22][23][8] baik melalui tubuh, ucapan, maupun pikiran, yang menimbulkan akibat (vipaka) di masa depan.

Suatu perbuatan baru dapat disebut kamma/karma bila dilakukan dengan niat (cetanā), apabila suatu perbuatan yang dilakukan tidak disertai dengan niat maka tidak disebut dengan karma.[1][24] Berkenaan dengan Karma, Sang Buddha bersabda dalam Kitab Anguttara Nikaya:


“ ”
"O, bhikkhu, kehendak untuk berbuat (Pali: cetanā) itulah yang kami namakan Kamma. Sesudah berkendak orang lantas berbuat dengan badan jasmani (kaya), perkataan (vaci) dan pikiran (mano)“.[25]
— Nibbedhika Sutta, AN 6.63

Vipaka

Artikel utama: Vipāka

Karma menghasilkan akibat di masa depan yang disebut vipaka (hasil) atau karma-phala (buah tindakan).[6][26] Meskipun masa lalu memengaruhi kondisi saat ini, ia tidak menentukan masa depan secara mutlak. Terdapat tiga dimensi waktu yang saling berinteraksi yaitu masa lampau yang berfungsi sebagai dasar atau landasan situasi kehidupan saat ini, masa sekarang yang merupakan titik krusial di mana individu memiliki kehendak bebas (cetana) untuk menentukan tindakan baru, masa yang akan datang merupakan hasil akumulasi dari pilihan-pilihan di masa lalu dan tindakan pada saat ini.[27]

Mekanisme hukum karma sering dianalogikan dengan batu yang dilemparkan ke kolam tenang. Getaran atau riak air yang dihasilkan akan melebar hingga mencapai tepi kolam, kemudian memantul kembali ke titik asal. Hal ini mengilustrasikan bahwa setiap energi moral yang dilepaskan melalui pikiran, ucapan, atau perbuatan pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya.[27] Kamma-Vipaka beroperasi sebagai hukum alam yang bersifat universal dan tidak memihak, mirip dengan hukum fisika.


“ ”
Sesuai dengan benih yang telah ditaburkan begitulah buah yang akan dipetiknya, pembuat kebaikan akan mendapat kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Tertaburlah olehmu biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah-buah dari padanya
— Samuddakasutta, SN 11.10

Hasil dari karma bukanlah satu nasib yang sudah ditakdirkan,[27][28] ataupun hutang piutang kepada seseorang yang ditagih.[29][30][31] Kesalahpahaman paling umum mengenai vipaka adalah anggapan bahwa segala sesuatu yang menimpa seseorang semata-mata merupakan akibat dari perbuatan baik atau buruk yang pernah ia lakukan di masa lalu (pubbekatahetū).[32] Ajaran Buddha mengenai karma tidak bersifat deterministik total seperti dalam Jainisme.[b][35][36][34] Karma bukanlah proses yang kaku dan mekanis, melainkan suatu proses yang lentur, dinamis, dan terus berubah. Tidak semua kondisi yang dialami pada masa kini dapat sepenuhnya dijelaskan semata-mata sebagai akibat karma.[c][36] Tidak terdapat hubungan linear yang tetap antara suatu tindakan tertentu dan hasilnya,[37] karena hukum karma hanyalah salah satu dari hukum alam (niyāma) yang bekerja di alam semesta ini.[38]

Terdapat banyak jenis bentuk-bentuk kamma. Bentuk kamma yang lebih berat (bermutu) dapat menekan—bahkan menggugurkan—bentuk-bentuk kamma yang lain. Singkatnya: Kamma Vipaka dapat diperlunak, dibelokkan, ditekan, bahkan digugurkan.[27]

Jenis Karma

Karma dibagi berdasarkan 4 kelompok yakni berdasarkan fungsinya, berdasarkan kekuatan karma, berdasarkan waktu berbuahnya, dan berdasarkan tempat di mana berbuah.

Kamma berdasarkan fungsinya:[39]

  1. Janaka Kamma adalah karma yang berfungsi untuk mendorong kelahiran suatu makhuk.
  2. Upatahmbaka Kamma adalah karma yang fungsinya untuk memperkuat, menambah Janaka Kamma jadi hasilnya bisa menjadi besar (kamma yang searah).
  3. Upapilaka Kamma adalah karma yang mengurangi kekuatan Janaka Kamma yang arahnya berlawanan.
  4. Upaghataka Kamma karma yang berfungsi untuk memotong dan menghancurkan kekuatan dari Janaka Kamma serta memproduksi hasilnya sendiri.

Kamma berdasarkan kekuatannya atau tingkat prioritasnya:[40]

  1. Garuka Kamma adalah karma dari kuatnya perbuatan akibatnya paling besar atau kuat, sehingga tidak bisa dihentikan atau digantikan karma lainnya. Yang termasuk dalam kamma ini: Akusala Garuka Kamma.
  2. Āsanna-kamma adalah karma yang dilakukan atau diingat beberapa saat menjelang kematian
  3. Āciṇṇa-kamma adalah karma yang dilakukan secara terus menerus yang akhirnya akan menjadi watak atau kebiasaan.
  4. Kaṭattā-kamma adalah perbuatan apa saja yang tidak termasuk dalam kategori-kategori sebelumnya. Karma jenis ini cetananya ringan dan kekuatannya paling ringan.

Kamma berdasarkan jangka waktu berbuahnya:[41]

  1. Diṭṭhadhamma Vedanīya Kamma adalah karma yang berbuahnya juga dalam kehidupan sekarang.
  2. Upapajja Vedanīya Kamma adalah perbuatan yang kita lakukan sekarang, hasilnya tepat di kehidupan yang akan datang.
  3. Aparāpariya Vedanīya Kamma adalah perbuatan yang hasilnya berulang kali berbuah selama beberapa kehidupan.
  4. Ahosi Kamma adalah karma yang tidak bisa berbuah lagi, karena jangka waktu berbuah dan kondisi pendukungya sudah habis.

Kamma berdasarkan tempat di mana berbuah:[42]

  1. Akusala kamma – karma buruk
  2. Kàmàvacara kusala kamma – karma baik alam nafsu-indera
  3. Råpàvacara kusala kamma – karma baik alam materi-halus
  4. Aråpàvacara Kusala Kamma – karma baik alam tak-bermater

Tiga golongan kamma

  1. Kamma Pikiran (mano-kamma)
  2. Kamma Ucapan (vaci-kamma)
  3. Kamma Perbuatan (kaya-kamma)

10 jenis kamma buruk (Akusalakammapatha)

Ada sepuluh rangkaian perbuatan buruk: tiga dengan jasmani, empat dengan ucapan, dan tiga dengan pikiran:[43]

  1. Pembunuhan (Pànàtipàta) akibatnya pendek umur, berpenyakitan, senantiasa dalam kesedihan karena terpisah dari keadaan atau orang yang dicintai, dalam hidupnya senantiasa berada dalam ketakutan,dijauhi orang.[44]
  2. Pencurian (Adinnàdànà) akibatnya kemiskinan, dinista dan dihina, dirangsang oleh keinginan yang senantiasa tak tercapai, penghidupannya senantiasa tergantung pada orang lain.
  3. Perbuatan asusila (Kàmesumicchàcàrà) akibatnya mempunyai banyak musuh, beristeri atau bersuami yang tidak disenangi, terlahir sebagai pria atau wanita yang tidak normal perasaan seksnya.
  4. Berdusta (Musàvàdà) akibatnya menjadi sasaran penghinaan, tidak dipercaya khalayak ramai.
  5. Bergunjing (Pisuõavàcà) akibatnya kehilangan sahabat-sahabat tanpa alasan yang jelas.
  6. Kata-kata kasar dan kotor (Pharusavàcà) akibatnya sering didakwa yang bukan-bukan oleh orang lain.
  7. Omong kosong (Samphappalàpà) akibatnya bertubuh cacat, berbicara tidak tegas, tidak dipercaya oleh khalayak ramai.
  8. Keserakahan (Abhijjhà) akibatnya tidak tercapai keinginan yang sangat diharap-harapkan.
  9. Dendam, kemauan jahat / niat untuk mencelakakan mahluk lain (Vyàpàda) akibatnya buruk rupa, macam-macam penyakit, watak tercela.[44]
  10. Pandangan salah (Micchàdiññhi) akibatnya tidak melihat keadaan yang sewajarnya, kurang bijaksana, kurang cerdas, penyakit yang lama sembuhnya, pendapat yang tercela.

10 jenis kamma baik (Kusalakammapatha)

Ada sepuluh rangkaian perbuatan baik - tiga dengan jasmani, empat dengan ucapan, dan tiga dengan pikiran.[45]

  1. Menghindari membunuh (Pànàtipàta-virati)
  2. Menghindari mencuri (Adinnàdàna-virati)
  3. Menghindari perbuata asusila (Kàmesumicchàcàrà-virati)
  4. Menghindari berdusta (Pisuõavàcà-virati)
  5. Menghindari menfitnah (Pànàtipàta-virati)
  6. Menghindari berkata kasar (Pharusavàcà-virati)
  7. Menghindari berkata tidak berguna (Samphappalàpà-virati )
  8. Tidak menginginkan milik orang lain (Anabhijjhà)
  9. Keinginan baik atau tidak adanya niat jahat untuk mencelakakan makhluk lain (Avyàpàda)
  10. Pandangan benar yang percaya akan karma dan akibatnya (Sammàdiññhi)

10 dasar perbuatan baik (Puññakiriyavatthu)

Sepuluh dasar perbuatan baik yang harus dilakukan karena akan membuahkan hasil yang sangat besar:[46]

  1. Gemar beramal dan bermurah hati akan berakibat dengan diperolehnya kekayaan dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang.[47]
  2. Hidup bersusila atau menjalankan sila mengakibatkan terlahir kembali dalam keluarga luhur yang keadaannya berbahagia.
  3. Bermeditasi berakibat dengan terlahir kembali di alam-alam sorga.
  4. Berendah hati dan hormat kepada yang lebih tua atau orang suci menyebabkan terlahir kembali dalam keluarga luhur.
  5. Berbakti atau melayani dalam perbuatan baik akan berbuah dengan diperolehnya penghargaan dari masyarakat.
  6. Cenderung untuk membagi kebahagiaan kepada orang lain atau pelimpahan jasa berbuah dengan terlahir kembali dalam keadaan berlebih-lebihan dalam banyak hal.
  7. Bergembira terhadap kebaikan yang dilakukan orang lain akan menyebabkan terlahir dalam lingkungan yang menggembirakan.
  8. Sering mendengarkan Dhamma berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan.
  9. Menyebarkan atau mengajarkan Dhamma berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan (sama dengan No. 8).
  10. Meluruskan pandangan salah orang lain berbuah dengan diperkuatnya keyakinan.

Lima bentuk kamma celaka (Akusala garuka kamma)

Lima perbuatan durhaka di bawah ini mempunyai akibat yang sangat berat ialah kelahiran di alam neraka:

  1. Membunuh ibu.
  2. Membunuh ayah.
  3. Membunuh seorang Arahat.
  4. Melukai seorang Buddha.
  5. Menyebabkan perpecahan dalam Sangha.

Lihat pula

  • Kebajikan (Buddhisme)
  • Samsara (Buddhisme)
  • Kemunculan Bersebab
  • Karma
  • l
  • b
  • s
   Topik Buddhisme   
  • Outline Garis besar
  • Daftar istilah
  • Indeks
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Konsensus pemersatu
Aliran arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílèdàdào
  • Dhammakāya
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Sastra Pali
  • Paritta
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
Kitab daring
  • SuttaCentral
  • Chaṭṭha Saṅgāyana Tipiṭaka
  • dhammatalks.org
  • 84000
  • NTI Reader - Taishō
  • Buddha
  • Bodhisatwa
Buddha saat ini dan keluarga
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
4 tempat suci utama
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
Buddha penting sebelumnya
  • Dīpaṅkara
  • Vipassī
  • Sikhī
  • Vessabhū
  • Kakusandha
  • Koṇāgamana
  • Kassapa
Buddha selanjutnya
  • Metteyya
Bawahan
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
  • Empat Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia Berunsur Delapan
  • Trilaksana
    • Ketidakkekalan
    • Penderitaan
    • Tanpa atma
  • Pandangan
  • Titthiya
  • Ketuhanan
  • Niyāma
  • Keyakinan
  • Triratna
  • Pancasila
  • Māra
  • Karma
  • Nirwana
  • Kemunculan Bersebab
  • Gugusan
    • Materi
    • Kesadaran
    • Persepsi
    • Perasaan
    • Saṅkhāra
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Loka
  • Punarbawa
  • Samsara
  • Bodhi
  • Abhiññā
  • Cetasika
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Moha
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Perhatian penuh
  • Bodhipakkhiyā
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Malu
  • Takut
  • Dana
  • Sila
  • Meditasi
    • Samatha-vipassanā
    • Ānāpānasati
    • Satipaṭṭhāna
    • Kammaṭṭhāna
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Energi
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Brahmavihāra
    • Cinta kasih
    • Karuna
    • Simpati
    • Ketenangan
    • Keseimbangan batin
  • Astasila
  • Bakti
    • Puja
    • Namaskara
    • Pradaksina
    • Pindapata
    • Pelimpahan jasa
    • Ziarah
  • Sādhu
  • Sangha
  • Majelis
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • 10 murid utama Buddha Gotama
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Waisak
  • Asalha
  • Magha
  • Kathina
  • Hari Abhidhamma
  • Uposatha
  • Budaya
  • Masyarakat
  • Aborsi
  • Agama-agama Timur
  • Anikonisme
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Baháʼí
  • Bendera Buddhis
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Darmacakra
  • Dunia Romawi
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Hinduisme
  • Humanisme
  • Ilmu pengetahuan
  • Jainisme
  • Kalender
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Masturbasi
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Orientasi seksual
  • Penindasan
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Seni rupa
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarisme
  • Yahudi
  • Category Kategori
  •  Portal Agama
  •  Portal Buddhisme

Catatan

  1. ↑ Dalam percakapan sehari-hari di Tibet, istilah las, "karma", sering digunakan untuk menunjukkan keseluruhan proses karma dan buahnya.[3]
  2. ↑ Thanissaro Bhikkhu: "Tidak seperti teori kausalitas linier — yang membuat Vedis dan Jain melihat hubungan antara suatu tindakan dan hasilnya sebagai sesuatu yang dapat diprediksi dan timbal balik — prinsip kondisi ini/itu membuat hubungan itu secara inheren kompleks. Hasil karma yang dialami pada suatu titik waktu tertentu tidak hanya berasal dari karma masa lalu, tetapi juga dari karma masa kini. Ini berarti bahwa, meskipun ada pola umum yang menghubungkan tindakan kebiasaan dengan hasil yang sesuai [MN 135], tidak ada hubungan satu lawan satu, timbal balik, yang tetap antara tindakan tertentu dan hasilnya. Sebaliknya, hasilnya ditentukan oleh konteks tindakan tersebut, baik dalam hal tindakan yang mendahului atau mengikutinya [MN 136] dan dalam hal keadaan pikiran seseorang pada saat bertindak atau hasilnya [AN 3:99]. [...] Lingkaran umpan balik yang melekat Dalam "kondisi ini/itu" berarti bahwa penyelesaian hubungan sebab-akibat tertentu memang bisa sangat kompleks. Ini menjelaskan mengapa Buddha mengatakan dalam AN 4:77 bahwa hasil karma adalah tak terukur. Hanya orang yang telah mengembangkan jangkauan mental seorang Buddha—yang juga tak terukur—yang mampu menelusuri seluk-beluk jaringan karma. Premis karma sederhana—bahwa niat yang terampil menghasilkan hasil yang menguntungkan, dan niat yang tidak terampil menghasilkan hasil yang tidak menguntungkan—tetapi proses bagaimana hasil tersebut terwujud sangat rumit sehingga tidak dapat dipetakan sepenuhnya. Kita dapat membandingkan ini dengan himpunan Mandelbrot, himpunan matematika yang dihasilkan oleh persamaan sederhana, tetapi grafiknya sangat kompleks sehingga mungkin tidak akan pernah sepenuhnya dieksplorasi."[33][34]
  3. ↑ Lihat Sivaka Sutta (Samyutta Nikaya 36.21), di mana Sang Buddha menyebutkan delapan kemungkinan penyebab yang dapat menimbulkan pengalaman. Hanya penyebab kedelapan yang dapat dikaitkan dengan karma.[36] Sang Buddha menjelaskan bahwa yang berpandangan demikian adalah keliru: "Maka para brahmana dan para pertapa yang berdoktrin dan berpandangan bahwa apa pun yang dirasakan seseorang — kesenangan, penderitaan, bukan kesenangan maupun penderitaan — sepenuhnya disebabkan oleh apa yang telah dilakukan sebelumnya — telah melampaui apa yang mereka sendiri ketahui, melampaui apa yang disepakati oleh dunia. Karena itu saya katakan bahwa para brahmana dan para pertapa itu keliru."

Referensi

  1. 1 2 Tin Mon 2000, hlm. 105.
  2. ↑ "Intentional action: kamma (Skt: karma)". www.accesstoinsight.org. Diakses tanggal 2026-04-20.
  3. 1 2 3 Padmakara Translation Group 1994, hlm. 101.
  4. ↑ Chapple 1986, hlm. 2.
  5. ↑ Lichter & Epstein 1983, hlm. 232.
  6. 1 2 Kalupahana 1992, hlm. 166.
  7. 1 2 Keown 2000, hlm. 36-37.
  8. 1 2 3 4 Gombrich 2009, hlm. 19.
  9. ↑ Kopf 2001, hlm. 141.
  10. 1 2 Kragh 2006, hlm. 11.
  11. ↑ Keown 2000, hlm. 810-813.
  12. ↑ Klostermaier 1986, hlm. 93.
  13. ↑ Keown 2000, hlm. 37.
  14. ↑ Lamotte 1987, hlm. 15.
  15. ↑ Buswell 2004, hlm. 712.
  16. ↑ Vetter 1988, hlm. xxi.
  17. ↑ Buswell 2004, hlm. 416.
  18. ↑ Matthews 1986, hlm. 124.
  19. ↑ Schmithausen 1986, hlm. 206-207.
  20. ↑ Bronkhorst 1998, hlm. 13.
  21. ↑ Dalam Buddhisme awal, kelahiran kembali dikaitkan dengan nafsu atau ketidaktahuan,[16][17] dan teori karma mungkin kurang penting dalam soteriologi Buddhisme awal.[18][19][20]
  22. ↑ Bronkhorst 1998.
  23. ↑ Gethin 1998, hlm. 119-120.
  24. ↑ Thanissaro, Bhikkhu. "Kamma: A Study Guide". www.accesstoinsight.org. Diakses tanggal 2026-01-28.
  25. ↑ Rustriana Rusli, Ayu (juni 2020). "Karma dan etos kerja ajaran budha" (PDF). jurnal Al-Adyan. 1 (1): 2–5.
  26. ↑ Mahasi 2003, hlm. 16-17.
  27. 1 2 3 4 Widyadharma, Pandita S. (2010-11-02). "Bab II - Ajaran Sang Buddha". Samaggi Phala (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2026-02-04. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  28. ↑ "What Is Karma?". studybuddhism.com.
  29. ↑ Dipankhara Channel (2026-01-21), Hutang Karma, Benarkah Ada? | Ceramah Dhamma Bhikkhu Dhammadhiro Mahāthera #dipankharachannel, diakses tanggal 2026-02-05
  30. ↑ Pusdiklat Dhammarakkhita (2023-07-31), Hutang Kamma Menurut Ajaran Theravāda, diakses tanggal 2026-02-05
  31. ↑ Gema Dhamma (2023-02-15), Apakah Ada Hutang Hukum Karma? Oleh Y.M Bhikkhu Atthadhiro, Thera, diakses tanggal 2026-02-05
  32. ↑ Dhammika 2015, hlm. 8.
  33. ↑ Thanissaro Bhikkhu menggunakan ejaan Pali untuk karma.
  34. 1 2 "Wings to Awakening: Part I" (PDF). www.accesstoinsight.org. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. Valley Center, CA: Metta Forest Monastery. 2010. hlm. 47–48.
  35. ↑ Kalupahana 1975, hlm. 127.
  36. 1 2 3 Gombrich 2009, hlm. 20.
  37. ↑ "Wings to Awakening: Part I" (PDF). www.accesstoinsight.org. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. Valley Center, CA: Metta Forest Monastery. 2010. hlm. 47–48.
  38. ↑ Mahasi 2003, hlm. 10-13.
  39. ↑ Tin Mon 2000, hlm. 168.
  40. ↑ Tin Mon 2000, hlm. 175.
  41. ↑ Tin Mon 2000, hlm. 189.
  42. ↑ Tin Mon 2000, hlm. 207.
  43. ↑ Tin Mon 2000, hlm. 124.
  44. 1 2 "MN 135 Cūḷakammavibhaṅgasutta". Suttacentral.
  45. ↑ Tin Mon 2000, hlm. 129.
  46. ↑ Tim Mon 2000, hlm. 131.
  47. ↑ "Maccharisutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2026-04-23.

Sumber

  • Tin Mon, Mehm (2000), Karma Pencipta Sesungguhnya, diterjemahkan oleh Wiyono, Agus; Moi, Lai, Yayasan Hadaya Vatthu
  • Padmakara Translation Group (1994), The Words of My Perfect teacher, HarperCollins Publishers India
  • Chapple, Christopher (1986), Karma and Creativity, State University of New York Press, ISBN 0-88706-250-4
  • Lichter, David; Epstein, Lawrence (1983), "Irony in Tibetan Notions of the Good Life", dalam Keyes, Charles F.; Daniel, E. Valentien (ed.), Karma: An Anthropological Inquiry, University of California Press
  • Kalupahana, David (1975), Causality: The Central Philosophy of Buddhism, University of Hawaii Press
  • Kalupahana, David J. (1992), The Principles of Buddhist Psychology, Delhi: Sri Satguru Publications
  • Kalupahana, David (1995), Ethics in Early Buddhism, University of Hawaii Press
  • Keown, Damien (2000), Buddhism: A Very Short Introduction, Oxford University Press, Kindle Edition
  • Gombrich, Richard F. (1991), Buddhist Precept and Practice. Traditional Buddhism in the Rural Highlands of Ceylon, Motilall Banarsidass
  • Gombrich, Richard (1996), Theravada Buddhism. A Social History from Ancient Benares to Modern Colombo, Routledge
  • Gombrich, Richard F. (1997), How Buddhism Began. The Conditioned Genesis of the Early Teachings, New Delhi: Munshiram Manoharlal Publishers Pvt. Ltd.
  • Gombrich, Richard (2009), What the Buddha Thought, Equinox
  • Kopf, Gereon (2001), Beyond Personal Identity: Dōgen, Nishida, and a Phenomenology of No-self, Psychology Press
  • Kragh, Ulrich Timme (2006), Early Buddhist Theories of Action and Result: A Study of Karmaphalasambandha, Candrakirti's Prasannapada, verses 17.1-20, Arbeitskreis für tibetische und buddhistische Studien, Universität Wien, ISBN 3-902501-03-0
  • Klostermaier, Klaus K. (1986), "Contemporary Conceptions of Karma and Rebirth Among North Indian Vaisnavas", dalam Neufeldt, Ronald W. (ed.), Karma and Rebirth: Post-classical Developments, Sri Satguru Publications
  • Lamotte, Etienne (1987), Karmasiddhi Prakarana: The Treatise on Action by Vasubandhu, Asian Humanities Press
  • Lamotte, Etienne (1988), History of Indian Buddhism, Publications de l'Institut Orientaliste de Louvain
  • Lamotte, Etienne (2001), Karmasiddhi Prakarana: The Treatise on Action by Vasubandhu, English translation by Leo M. Pruden, Asian Humanities Press
  • Buswell, Robert E., ed. (2004), Encyclopedia of Buddhism, Macmillan Reference USA
  • Buswell, Robert E.; Lopez, Donald S. Jr., ed. (2013), The Princeton Dictionary of Buddhism, Princeton University Press
  • Vetter, Tillman (1987), "Some remarks on older parts of the Suttanipiita", dalam Seyfort Ruegg, Seyfort; Schmithausen, Lambert (ed.), Earliest Buddhism and Madhyamaka, BRILL
  • Vetter, Tilmann (1988), The Ideas and Meditative Practices of Early Buddhism, BRILL
  • Matthews, Bruce (1986), "Chapter Seven: Post-Classical Developments in the Concepts of Karma and Rebirth in Theravada Buddhism", dalam Neufeldt, Ronald W. (ed.), Karma and Rebirth: Post Classical Developments, State University of New York Press, ISBN 0-87395-990-6
  • Schmithausen, Lambert (1986), "Critical Response", dalam Ronald W. Neufeldt (ed.), Karma and rebirth: Post-classical developments, SUNY
  • Bronkhorst, Johannes (1993), The Two Traditions Of Meditation In Ancient India, Motilal Banarsidass
  • Bronkhorst, Johannes (1998), "Did the Buddha Believe in Karma and Rebirth?", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 21 (1): 1–20
  • Bronkhorst, Johannes (2000), "Karma and Teleology: A Problem and its Solutions in Indian Philosophy", Studia Philologica, Monograph Series, vol. XV, Tokyo: The International Institute for Buddhist Studies of the International College for Advanced Buddhist Studies, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2019-04-07
  • Bucknell, Rod (1984), "The Buddhist Path to Liberation: An Analysis of the Listing of Stages", The Journal of the International Association of Buddhist Studies, 7 (2)
  • Gethin, Rupert (1998), Foundations of Buddhism, Oxford University Press
  • Mahasi, Sayadaw (2003), Teori Kamma dalam Buddhisme (PDF), Vidyasena Production
  • Dhammika, Shravasti (2015), Good Kamma! Bad Kamma! What Exactly Is Kamma?, Buddha Dhamma Mandala Society, ASIN 9810947666, ISBN 9789810947668

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Etimologi
  2. Pemahaman tentang Karma
  3. Kelahiran kembali
  4. Karma
  5. Vipaka
  6. Jenis Karma
  7. Tiga golongan kamma
  8. 10 jenis kamma buruk (Akusalakammapatha)
  9. 10 jenis kamma baik (Kusalakammapatha)
  10. 10 dasar perbuatan baik (Puññakiriyavatthu)
  11. Lima bentuk kamma celaka (Akusala garuka kamma)
  12. Lihat pula
  13. Catatan
  14. Referensi
  15. Sumber

Artikel Terkait

Paramita

konsep kesempurnaan Buddhis

Buddhisme

Agama dan tradisi filosofis dari anak benua India

Keyakinan dalam Buddhisme

Konsep iman dan komitmen religius dalam Buddhisme

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026