Vipāka, umum diterjemahkan sebagai akibat, efek, hasil, atau resultan, adalah istilah dalam tradisi Buddhis dan Jain yang merujuk pada pematangan atau hasil dari karma, yakni perbuatan yang dilakukan dengan niat atau kehendak (cetanā). Konsep tentang hubungan antara perbuatan dan akibatnya (kamma-vipāka) merupakan salah satu ajaran pokok dalam Buddhisme.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Vipāka (Sanskerta dan Pali), umum diterjemahkan sebagai akibat, efek, hasil, atau resultan, adalah istilah dalam tradisi Buddhis dan Jain yang merujuk pada pematangan atau hasil dari karma (Pali: kamma), yakni perbuatan yang dilakukan dengan niat atau kehendak (cetanā). Konsep tentang hubungan antara perbuatan dan akibatnya (kamma-vipāka) merupakan salah satu ajaran pokok dalam Buddhisme.
Vipāka dipahami sebagai hasil karma, dan merupakan fenomena mental yang bersifat netral secara moral. Fenomena ini merupakan akibat dari tindakan berkehendak (kamma), baik yang baik (kusala) maupun yang tidak baik (akusala), yang dilakukan melalui tubuh, ucapan, atau pikiran, baik dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan sebelumnya. Dalam Buddhisme, pandangan bahwa segala hal semata-mata merupakan akibat dari perbuatan masa lalu dianggap sebagai pandangan keliru.[1]
Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan:[2]
Resultan (vipāka) adalah wujud alamiah yang asalnya dari kamma baik (kusala) atau kamma tidak baik (akusala) yang saling berlawanan satu dengan yang lainnya (aññamaññaviruddhānaṃ kusalākusalānaṃ pākāti vipākā, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Abhidhammatthavibhāvinīṭīkā).
Kata pāka di vipāka berarti masak atau matang—merujuk kepada keadaan buah yang sudah masak. Akan tetapi, di sini kita terjemahkan menjadi resultan. Resultan yang tidak-baik (akusala-vipāka), dengan demikian, berarti buah dari kamma tidak-baik yang telah dilakukan di masa lalu. Sebaliknya, resultan yang baik (kusala-vipāka) adalah buah dari kamma baik yang telah dilakukan di masa lalu.
Istilah resultan di sini hanya merujuk kepada dhamma nonmateri (arūpa dhamma) dan bukan merujuk kepada dhamma yang bersifat materi (rūpa). Memang benar bahwa di antara materi-materi tertentu terdapat materi yang berasal dari kamma, misalnya sensitivitas-mata dan lain-lain; tetapi materi tersebut tidak bisa dikatakan sebagai resultan. Dengan demikian, maka kesadaran (citta) yang merupakan buah dari kamma yang tidak-baik disebut sebagai kesadaran-resultan yang tidak-baik.
Dalam tradisi Abhidhamma Theravāda, secara teknis, kesadaran resultan (vipākacitta) muncul sebagai akibat masaknya benih kamma. Kesadaran resultan yang tidak-baik (akusalavipāka-citta) adalah jenis kesadaran yang merupakan buah kamma-buruk; sedangkan kesadaran resultan yang baik (kusalavipāka-citta) adalah jenis kesadaran yang merupakan buah kamma-baik.[3]
Istilah vipāka sering diterjemahkan sebagai: