Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Puja (Buddhisme)

Dalam Buddhisme, puja, pemujaan, atau puja bakti simbolis diberikan kepada Triratna sehingga menimbulkan rasa syukur dan inspirasi kontemplatif. Puja merupakan salah satu praktik bakti dengan persembahan materi maupun nonmateri yang disertai pembacaan paritta. Pemujaan materi biasanya melibatkan benda-benda sederhana, seperti lilin yang menyala atau lampu minyak, dupa yang menyala, bunga, makanan, buah, air atau minuman. Pemujaan nonmateri dilakukan dengan mempraktikkan ajaran Sang Buddha.

Praktik religi agama Buddha
Diperbarui 23 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Puja (Buddhisme)
Artikel ini berisi tentang praktik pemujaan dalam Buddhisme. Untuk pembahasan berbagai praktik bakti, lihat Bakti (Buddhisme). Untuk praktik bederma, lihat Dāna.
Prosesi meditasi dan penyalaan lilin di Candi Borobudur, sebagai salah satu bentuk puja kepada Sang Buddha, yang melambangkan cahaya kebijaksanaan dengan segala ketulusan hati, rasa hormat, dan bakti.
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
  • Istilah
  • Indeks
  • Garis besar
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Mazhab
  • Konsensus pemersatu
Arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílè Dàdào
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Paritta
  • Sastra Pali
Mahāyāna–Vajrayāna
  • Sutra Mahāyāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
  • Buddha
  • Bodhisatwa
  • Buddha masa ini:
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
  • 4 tempat suci utama:
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
  • Buddha masa lampau:
  • Kassapa
  • Koṇāgamana
  • Kakusandha
  • Vessabhū
  • Sikhī
  • Vipassī
  • dll.
  • Dīpaṅkara
  • Buddha masa depan:
  • Metteyya
  • Bawahan:
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna–Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
    • Kwan Im
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
Keyakinan
  • Ketuhanan
  • Hukum Alam
  • Pandangan
  • Kesesatan
  • Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia
  • Perlindungan
  • Pancasila
  • Karma
    • Kehendak
    • Akibat
  • Punarbawa
  • Alam Kehidupan
  • Samsara
  • Māra
  • Pencerahan
  • Nirwana
  • Acinteyya
Tiga corak
  • Ketidakkekalan
  • Penderitaan
  • Tanpa atma
Gugusan
  • Rupa
  • Kesadaran
  • Persepsi
  • Perasaan
  • Saṅkhāra
  • Nāmarūpa
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Kontak indra
  • Kemunculan Bersebab
Faktor mental
  • Malu
  • Takut
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Delusi
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Kewawasan
  • Bodhipakkhiyā
  • dll.
Meditasi
  • Samatha-vipassanā
    • Jhāna
    • Satipaṭṭhāna
    • Sampajañña
    • Kammaṭṭhāna
      • Anussati
        • Maraṇasati
        • Ānāpānasati
      • Paṭikūlamanasikāra
    • Brahmawihara
      • Cinta kasih
      • Belas kasih
      • Simpati
      • Ketenangan / Keseimbangan batin
  • Abhiññā
    • Iddhi
Bakti
  • Puja
  • Pelimpahan jasa
  • Namaskara
  • Pradaksina
  • Pindapata
  • Ziarah
Praktik lainnya
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Dana
  • Sila
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Usaha
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Astasila
  • Fangseng
  • Sādhu
  • Sangha
  • Parisā
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Pandita
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
  • Kepala wihara
  • Saṅgharāja
Murid penting
  • Biksu:
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • Mahākassapa
  • Ānanda
  • 10 murid utama
  • Biksuni:
  • Pajāpatī Gotamī
  • Khemā
  • Uppalavaṇṇā
  • Kisā Gotamī
  • Upasaka:
  • Tapussa dan Bhallika
  • Anāthapiṇḍika
  • Citta
  • Hatthaka
  • Upasika:
  • Sujātā
  • Khujjuttarā
  • Veḷukaṇḍakiyā
  • Visākhā
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Dhammasālā
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Kelenteng
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Magha
  • Waisak
  • Asalha
  • Kathina
  • Uposatha
  • Hari Lahir Buddha
  • Hari Bodhi
  • Hari Abhidhamma
  • Ulambana
  • Hari Parinirwana
  • Budaya
  • Masyarakat
Produk
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Bendera
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Darmacakra
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Humanisme
  • Kalender
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Sarira
    • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seni rupa
Hubungan dengan …
  • Agama timur
  • Baháʼí
  • Dunia Romawi
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Hinduisme
  • Jainisme
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Penindasan
  • Yahudi
Pandangan tentang …
  • Aborsi
  • Anikonisme
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Ilmu pengetahuan
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Masturbasi
  • Orientasi seksual
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarianisme
  •  Portal Buddhisme
  • l
  • b
  • s

Dalam Buddhisme, puja, pemujaan, atau puja bakti (Pāli: pūjā bhatti; Sanskerta: pūjā bhakti) simbolis diberikan kepada Triratna (Buddha, Dhamma, dan Sangha) sehingga menimbulkan rasa syukur dan inspirasi kontemplatif.[1] Puja merupakan salah satu praktik bakti dengan persembahan materi maupun nonmateri yang disertai pembacaan paritta (syair-syair perlindungan, pemujaan, dan pemberkatan). Pemujaan materi biasanya melibatkan benda-benda sederhana, seperti lilin yang menyala atau lampu minyak,[2] dupa yang menyala,[3] bunga,[4] makanan, buah, air atau minuman.[5] Pemujaan nonmateri dilakukan dengan mempraktikkan ajaran Sang Buddha.

Dalam kerangka ajaran hukum karma dan kelahiran kembali Buddhis tradisional, pemujaan mengarah pada akumulasi kebajikan yang mengarah pada:

  • kelahiran kembali yang lebih baik dalam siklus kelahiran dan kematian (Pali: vaṭṭagāminī-kusala)
  • kemajuan menuju pembebasan dari penderitaan (Pali: vivaṭṭagāminī-kusala)[6][7]

Pemujaan ini sering kali berfungsi sebagai persiapan untuk meditasi.[8]

Dalam aliran Theravāda, ada dua jenis pemujaan yang berbeda:

  • pemujaan materi atau keramahtamahan (Pali: āmisa-pūjā[9] atau sakkara-pūjā[10])[11]
  • pemujaan praktik (Pali: paṭipatti-pūjā[12])

Theravāda

Puja materi

Puja materi berupa bunga sembari pradaksina pada hari raya Waisak di Pusdiklat Sikkhādama Santibhūmi, Bumi Serpong Damai, Kota Tangerang

Pemujaan materi (āmisa-pūjā atau sakkara-pūjā) dianggap sebagai pemujaan eksternal berupa "perkataan dan perbuatan".[9] Pemujaan materi mencakupi praktik derma atau kemurahan hati (Pali: dāna atau cāga).[13] Praktik ini juga merupakan praktik penghormatan Triratna (Buddha, Dhamma dan Sangha) dengan tujuan untuk memperdalam komitmen seseorang terhadap Jalan Mulia Berunsur Delapan. Lantunan (chanting) paritta tradisional dalam bahasa Pali yang dilantunkan ketika mempersembahkan lilin yang menyala (padīpa pūjā) dan dupa (sugandha pūjā) kepada rupang Buddha adalah:[14][15][16]

Ghanasārappadittena
Dīpena tama-dhaṃsinā
Tiloka-dīpaṃ sambuddhaṃ
Pūjayāmi tamo-nudaṃ

Ghandha-sambhāra-yuttena
Dhūpenāhaṃ sugandhinā
Pūjaye pūjaneyyaṃ taṃ
Pūjābhajanamuttamaṃ

Dengan pelita yang bersinar cemerlang,
Yang melenyapkan kegelapan ini
Saya menghormati Sang Buddha yang sempurna
Sang Penerang terhadap tiga penjuru dunia

Dengan dupa yang harum
dan aroma yang semerbak
Saya bersujud kepada-Nya
Yang mulia dan patut dihormati

—Pūjā-kātha

Dengan merenungkan suatu persembahan untuk pemujaan, seseorang secara nyata melihat ketidakkekalan hidup (Pali: anicca), salah satu dari trilaksana yang menjadi ciri segala sesuatu yang menjadi dasar ajaran Sang Buddha kepada murid-murid-Nya. Praktik ini tertuang pada bagian akhir dari salah satu lantunan tradisional berbahasa Pāli ketika mempersembahkan bunga (puppha pūjā) kepada Buddha:[14][17]

Vaṇṇa gandha guṇopetaṃ,
etaṃ kusuma santatiṃ;

Pūjayāmi munindassa,
siripāda saroruhe;

Pūjemi buddhaṃ kusumenanena,
puññena metena ca hotu mokkhaṃ;

Pupphaṃ milāyāti yathā,
idaṃ me kāyo tathā yāti vināsa bhāvaṃ.

Berkualitas baik, harum, dan beraneka warna,
selama setumpuk bunga ini bertahan;

Saya memuja Sang Bijak Nan Suci,
pada telapak kaki-Nya yang berada di atas teratai;

Saya memuja Buddha dengan bunga ini,
dengan kebajikan ini semoga saya mencapai pembebasan (moksa);

Layaknya bunga-bunga ini yang akan layu,
demikian tubuhku ini akan mengalami kehancuran.

—Puppha Pūjā

Dalam tradisi Saṅgha Theravāda Indonesia, paritta yang dibacakan adalah:[18]

Yamamha kho mayaṁ bhagavantaṁ saraṇaṁ gatā, yo no bhagavā satthā, yassa ca mayaṁ bhagavato dhammaṁ rocema, imehi sakkārehi taṁ bhagavantaṁ sasaddhammaṁ sasāvakasaṅghaṁ abhipūjayāma.

Kami berlindung kepada Sang Bhagavā. Sang Bhagavā guru agung kami. Dalam Dhamma Sang Bhagavā kami berbahagia. Dengan persembahan ini, kami memuja Sang Bhagavā, beserta Dhamma dan Saṅgha.

—Pūjā-kathā

(Untuk daftar koleksi lantunan paritta umum dalam praktik puja bakti dari tradisi yang sama, lihat Paritta#Lantunan umum.)

Puja nonmateri

Seorang pria Burma bermeditasi di Myanmar sebagai suatu bentuk puja nonmateri. Praktik meditasi yang meluas dipraktikkan oleh umat awam merupakan perkembangan modern dalam aliran Theravāda (pernah ada masa ketika praktik meditasi lebih terkesan khusus anggota sangha).

Dalam Kanon Pali, Sang Buddha menyatakan pemujaan praktik (paṭipatti) sebagai "cara terbaik untuk menghormati Sang Buddha"[19] dan sebagai pemujaan "tertinggi".[20] Ini terutama merupakan pemujaan internal untuk pengembangan batin (citta, bhāvanā, dan samādhi).[21]


“ ”
“Tetapi Ananda, bhikkhu atau bhikkhuni mana pun, baik laki-laki maupun perempuan, yang menjalankan Dhamma, hidup lurus dalam Dhamma, berjalan di jalan Dhamma, melalui orang itulah Tathāgata dihormati, dimuliakan, dijunjung, dipuja, dan dihormati dengan derajat tertinggi.”
— Mahāparinibbāna Sutta, DN 16
terj. Indra Anggara

Pemujaan nonmateri atau pemujaan praktik (paṭipatti-pūjā) dapat diwujudkan dengan mengembangkan praktik-praktik:

  • derma atau kemurahan hati (dāna atau cāga)
  • perilaku moral (sīla)
  • meditasi (samādhi)
  • kebijaksanaan (paññā)

Berdoa

Lihat pula: Paritta
Seorang biksu melantunkan paritta malam di dalam sebuah wihara yang terletak di dekat kota Kantharalak, Thailand.

Secara umum, umat Buddha Theravāda mendefinisikan ulang terminologi berdoa sebagai aktivitas batin yang merenungi Dhamma dan menyampaikan puji-pujian kepada Triratna, bukan meminta sesuatu yang diinginkan kepada makhluk apa pun. Jika berdoa didefinisikan sebagai suatu aktivitas batin yang memohon atau meminta sesuatu yang diinginkan—misalnya kebahagiaan—kepada dewa, brahma, atau makhluk apa pun yang diyakini bisa memberikannya, maka Buddhisme menolak kegiatan berdoa. Dengan pengertian tersebut, kebahagiaan dianggap hanya bisa didapatkan melalui berdoa dan merupakan hadiah dari makhluk yang diminta. Apabila makhluk tersebut tidak berkenan, maka kebahagiaan tidak bisa terwujud karena tidak ada makhluk lain yang bisa menghalangi kehendaknya; termasuk diri sendiri. Dengan demikian, kebahagiaan menjadi sesuatu yang berada di luar kuasa seseorang. Dengan batasan istilah seperti ini, maka paritta buddhis, seperti Ettāvatā dan Brahmavihārapharaṇa, tidak termasuk dalam terminologi berdoa karena keduanya melibatkan perbuatan baik yang menjadi faktor utama kemunculan kebahagiaan.[22] Dengan tiadanya keyakinan terhadap suatu pencipta dunia, pandangan Buddhisme mengenai berdoa pun tidak melibatkan kehadiran pencipta dunia. Dalam Iṭṭha Sutta (Aṅguttara Nikāya 5.43),[23] Buddha menyatakan bahwa kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan alam surga tidak dapat diperoleh melalui doa-doa atau aspirasi-aspirasi. Kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan alam surga hanya dapat diperoleh dengan mempraktikkan jalan yang menuju padanya. Alih-alih berdoa untuk meminta kebahagiaan kepada suatu sosok, Sammāsambuddha mengatakan bahwa sebab dari kebahagiaan adalah mengikuti jalan yang membawa ke kebahagiaan. Jalan yang membawa ke kebahagiaan adalah praktik-praktik kebajikan, seperti dāna (bederma), sīla (moralitas), dan lain-lain (dānasīlādikā puññapaṭipadā).[22]


... “Perumah tangga, ada lima hal ini yang diharapkan, diinginkan, disukai, dan jarang diperoleh di dunia ini. Apakah lima ini? Umur panjang, perumah tangga, adalah diharapkan, diinginkan, disukai, dan jarang diperoleh di dunia ini. Kecantikan … Kebahagiaan … Kemasyhuran … Alam surga adalah diharapkan, diinginkan, disukai, dan jarang diperoleh di dunia ini. Ini adalah kelima hal yang diharapkan, diinginkan, disukai, dan jarang diperoleh di dunia ini.

“Kelima hal ini, perumah tangga, yang diharapkan, diinginkan, disukai, dan jarang diperoleh di dunia ini, Aku katakan, tidak dapat diperoleh melalui doa-doa atau aspirasi-aspirasi. Jika kelima hal ini yang diharapkan, diinginkan, disukai, dan jarang diperoleh di dunia ini dapat diperoleh melalui doa-doa atau aspirasi-aspirasi, siapakah yang akan kekurangan sesuatu?

(1) “Perumah tangga, siswa mulia yang menginginkan umur panjang seharusnya tidak berdoa demi umur panjang atau bersenang-senang di dalamnya atau [secara pasif] merindukannya. Seorang siswa mulia yang menginginkan umur panjang harus mempraktikkan jalan yang mengarah pada umur panjang. Karena ketika ia mempraktikkan jalan yang mengarah pada umur panjang, maka hal itu akan mengarah pada diperolehnya umur panjang, dan ia memperoleh umur panjang apakah surgawi atau pun manusiawi.

(2) “Perumah tangga, siswa mulia yang menginginkan kecantikan …

(3) … yang menginginkan kebahagiaan …

(4) … yang menginginkan kemasyhuran seharusnya tidak berdoa demi kemasyhuran atau bersenang-senang di dalamnya atau [secara pasif] merindukannya. Seorang siswa mulia yang menginginkan kemasyhuran harus mempraktikkan jalan yang mengarah pada kemasyhuran. Karena ketika ia mempraktikkan jalan yang mengarah pada kemasyhuran, maka hal itu akan mengarah pada diperolehnya kemasyhuran, dan ia memperoleh kemasyhuran apakah surgawi atau pun manusiawi.

(5) “Perumah tangga, siswa mulia yang menginginkan surga seharusnya tidak berdoa demi surga atau bersenang-senang di dalamnya atau [secara pasif] merindukannya. Seorang siswa mulia yang menginginkan surga harus mempraktikkan jalan yang mengarah menuju surga. Karena ketika ia mempraktikkan jalan yang mengarah menuju surga, maka hal itu akan mengarah pada diperolehnya surga, dan ia memperoleh surga.” ...

... “Pañcime, gahapati, dhammā iṭṭhā kantā manāpā dullabhā lokasmiṁ. Katame pañca? Āyu, gahapati, iṭṭho kanto manāpo dullabho lokasmiṁ; vaṇṇo iṭṭho kanto manāpo dullabho lokasmiṁ; sukhaṁ iṭṭhaṁ kantaṁ manāpaṁ dullabhaṁ lokasmiṁ; yaso iṭṭho kanto manāpo dullabho lokasmiṁ; saggā iṭṭhā kantā manāpā dullabhā lokasmiṁ. Ime kho, gahapati, pañca dhammā iṭṭhā kantā manāpā dullabhā lokasmiṁ.

Imesaṁ kho, gahapati, pañcannaṁ dhammānaṁ iṭṭhānaṁ kantānaṁ manāpānaṁ dullabhānaṁ lokasmiṁ na āyācanahetu vā patthanāhetu vā paṭilābhaṁ vadāmi. Imesaṁ kho, gahapati, pañcannaṁ dhammānaṁ iṭṭhānaṁ kantānaṁ manāpānaṁ dullabhānaṁ lokasmiṁ āyācanahetu vā patthanāhetu vā paṭilābho abhavissa, ko idha kena hāyetha?

(1) Na kho, gahapati, arahati ariyasāvako āyukāmo āyuṁ āyācituṁ vā abhinandituṁ vā āyussa vāpi hetu. Āyukāmena, gahapati, ariyasāvakena āyusaṁvattanikā paṭipadā paṭipajjitabbā. Āyusaṁvattanikā hissa paṭipadā paṭipannā āyupaṭilābhāya saṁvattati. So lābhī hoti āyussa dibbassa vā mānusassa vā.

(2) Na kho, gahapati, arahati ariyasāvako vaṇṇakāmo vaṇṇaṁ āyācituṁ vā abhinandituṁ vā vaṇṇassa vāpi hetu. Vaṇṇakāmena, gahapati, ariyasāvakena vaṇṇasaṁvattanikā paṭipadā paṭipajjitabbā. Vaṇṇasaṁvattanikā hissa paṭipadā paṭipannā vaṇṇapaṭilābhāya saṁvattati. So lābhī hoti vaṇṇassa dibbassa vā mānusassa vā.

(3) Na kho, gahapati, arahati ariyasāvako sukhakāmo sukhaṁ āyācituṁ vā abhinandituṁ vā sukhassa vāpi hetu. Sukhakāmena, gahapati, ariyasāvakena sukhasaṁvattanikā paṭipadā paṭipajjitabbā. Sukhasaṁvattanikā hissa paṭipadā paṭipannā sukhapaṭilābhāya saṁvattati. So lābhī hoti sukhassa dibbassa vā mānusassa vā.

(4) Na kho, gahapati, arahati ariyasāvako yasakāmo yasaṁ āyācituṁ vā abhinandituṁ vā yasassa vāpi hetu. Yasakāmena, gahapati, ariyasāvakena yasasaṁvattanikā paṭipadā paṭipajjitabbā. Yasasaṁvattanikā hissa paṭipadā paṭipannā yasapaṭilābhāya saṁvattati. So lābhī hoti yasassa dibbassa vā mānusassa vā.

(5) Na kho, gahapati, arahati ariyasāvako saggakāmo saggaṁ āyācituṁ vā abhinandituṁ vā saggānaṁ vāpi hetu. Saggakāmena, gahapati, ariyasāvakena saggasaṁvattanikā paṭipadā paṭipajjitabbā. Saggasaṁvattanikā hissa paṭipadā paṭipannā saggapaṭilābhāya saṁvattati. So lābhī hoti saggānanti.

— Iṭṭha Sutta, AN 5.43
terj. Indra Anggara

Mahāyāna

Dalam aliran-aliran Buddhisme Utara, objek-objek yang digunakan untuk praktik puja, seperti patung Buddha atau penggambaran suci lainnya, diletakkan di belakang:

  • air (melambangkan keramahtamahan, untuk membasuh muka dan kaki)
  • syal (Tibet kha-btags, pesembahan persahabatan)
  • bunga, dupa, lampu, wewangian dan makanan (mewakili seseorang yang mengabdikan seluruh indranya untuk latihan spiritual).[24]

Puja dengan materi dipenuhi dengan pemaknaan sebagai berikut:

  • penyalaan lilin atau lampu minyak melambangkan cahaya kebijaksanaan yang menerangi kegelapan kebodohan.
  • pembakaran dupa melambangkan wangi moralitas.
  • bunga melambangkan cita-cita untuk mencapai tubuh Buddha dengan tiga puluh dua tanda Buddha serta ajaran ketidakkekalan. Sebagai alternatif, sebuah syair Zen mengungkapkan keinginan agar "bunga" pikiran "mekar di musim semi pencerahan".[25]
  • makanan, buah, air, minuman melambangkan nektar Dharma dan keinginan untuk mencapainya.

Referensi

  1. ↑ Lihat, misalnya, Harvey (1990), hlm. 172-3.
  2. ↑ Indaratana (2002), hlm. iv, v; Kapleau (1989), hlm. 193; Khantipalo (1982); Lee & Thanissaro (1998).
  3. ↑ Indaratana (2002), hlm. 11-12.
  4. ↑ Lihat, misalnya, Indaratana (2002), hlm. 11-12. Harvey (1990), hlm. 173, dan Kariyawasam (1995), chapter 1, keduanya berpendapat bahwa bunga adalah bentuk persembahan yang paling umum.
  5. ↑ Kapleau (1989), hlm. 193; Khantipalo (1982); dan, Harvey (1990), hlm. 175, terutama yang berkaitan dengan Buddhisme Utara.
  6. ↑ Lee & Thanissaro (1998). Lihat pula Harvey (1990), hlm. 173, yang dalam membahas “persembahan” menyatakan: "Such acts consequently generate 'merit'."
  7. ↑ "Purity Of Sila [Chapter 5]". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). 2010-01-27. Diakses tanggal 2024-08-20.
  8. ↑ Lihat, misalnya, Indaratana (2002), hlm. v; Kapleau (1989), hlm. 191ff.; dan Khantipalo (1982).
  9. 1 2 Lee & Thanissaro (1998).
  10. ↑ Khantipalo (1982).
  11. ↑ Lihat juga Pindapata terkait praktik tradisional Theravada untuk memberikan sedekan kebutuhan biksu.
  12. ↑ Khantipalo (1982); Lee & Thanissaro (1998).
  13. ↑ Lihat, misalnya, Lee & Thanissaro (1998).
  14. 1 2 Indaratana (2002), hlm. 12.
  15. ↑ Indaratana (2002), hlm. 11. Lihat pula Harvey (1990), hlm. 175, yang menerjemahkan syair persembahan cahaya sebagian sebagai deskripsi Sang Buddha sebagai "the lamp of the three worlds, dispeller of darkness."
  16. ↑ Harvey (1990), hlm. 175.
  17. ↑ Indaratana (2002), hlm. 11. Demikian pula, lihat Harvey (1990), hlm. 173; dan, Kariyawasam (1995), bab. 1, bag. 2, "Personal Worship."
  18. ↑ Saṅgha Theravāda Indonesia; Mapanbudhi (sekarang Magabudhi) (1996). Paritta Suci: Kumpulan Paritta dan Penggunaannya dalam Upacara-Upacara (PDF) (Edisi 7). Malang: Yayasan Dhammadipa Arama. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  19. ↑ Khantipalo (1982), n. 1.
  20. ↑ Lee & Thanissaro (1998).
  21. ↑ "Maha-parinibbana Sutta: Last Days of the Buddha".
  22. 1 2 Kheminda, Ashin. "Berdoa Dari Sudut Pandang Buddhisme". Dhammavihari Buddhist Studies. Diakses tanggal 2022-09-19.
  23. ↑ Anggara, Indra. "AN 5.43: Iṭṭhasutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2022-09-18.
  24. ↑ Harvey (1990), hlm. 175.
  25. ↑ Harvey (1990), hlm. 173.

Bibliografi

  • Harvey, Peter (1990). An introduction to Buddhism: Teachings, history and practices. Cambridge: Cambridge University. ISBN 0-521-31333-3.
  • Indaratana Maha Thera, Elgiriye (2002). Vandana: The Album of Pali Devotional Chanting and Hymns. Penang, Malaysia: Mahindarama Dhamma Publication. Diakses 2007-10-22 dari "BuddhaNet" di
  • Kariyawasam, A.G.S. (1995). Buddhist Ceremonies and Rituals of Sri Lanka (The Wheel Publication No. 402/404). Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. Diakses 2007-10-23 dari "Access to Insight" (transkripsi 1996) di http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/kariyawasam/wheel402.html#ch3.
  • Kapleau, Philip (1989b). Zen: Merging of East and West. NY:Anchor Book. ISBN 0-385-26104-7.
  • Khantipalo, Bhikkhu (1982). Lay Buddhist Practice: The Shrine Room, Uposatha Day, Rains Residence (The Wheel No. 206/207). Kandy, Sri Lanka:Buddhist Publication Society. Diakses 2007-10-22 dari "Access to Insight" (ditranskripsi1995) at http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/khantipalo/wheel206.html.
  • Lee Dhammadharo, Ajaan & Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (1998). Visakha Puja. Diakses 2007-10-22 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/lib/thai/lee/visakha.html.
  • Nyanaponika Thera (2000). The Vision of Dhamma: Buddhist Writings of Nyanaponika Thera. Seattle: BPS Pariyatti Editions. ISBN 1-928706-03-7.
  • Soni, R.L. & Bhikkhu Khantipalo (2006). Life's Highest Blessings: The Maha Mangala Sutta. Diakses 2007-10-22 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/soni/wheel254.htm%5B%5D.
  • l
  • b
  • s
   Topik Buddhisme   
  • Outline Garis besar
  • Daftar istilah
  • Indeks
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Konsensus pemersatu
Aliran arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílèdàdào
  • Dhammakāya
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Sastra Pali
  • Paritta
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
Kitab daring
  • SuttaCentral
  • Chaṭṭha Saṅgāyana Tipiṭaka
  • dhammatalks.org
  • 84000
  • NTI Reader - Taishō
  • Buddha
  • Bodhisatwa
Buddha saat ini dan keluarga
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
4 tempat suci utama
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
Buddha penting sebelumnya
  • Dīpaṅkara
  • Vipassī
  • Sikhī
  • Vessabhū
  • Kakusandha
  • Koṇāgamana
  • Kassapa
Buddha selanjutnya
  • Metteyya
Bawahan
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
  • Empat Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia Berunsur Delapan
  • Trilaksana
    • Ketidakkekalan
    • Penderitaan
    • Tanpa atma
  • Pandangan
  • Titthiya
  • Ketuhanan
  • Niyāma
  • Keyakinan
  • Triratna
  • Pancasila
  • Māra
  • Karma
  • Nirwana
  • Kemunculan Bersebab
  • Gugusan
    • Materi
    • Kesadaran
    • Persepsi
    • Perasaan
    • Saṅkhāra
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Loka
  • Punarbawa
  • Samsara
  • Bodhi
  • Abhiññā
  • Cetasika
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Moha
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Perhatian penuh
  • Bodhipakkhiyā
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Malu
  • Takut
  • Dana
  • Sila
  • Meditasi
    • Samatha-vipassanā
    • Ānāpānasati
    • Satipaṭṭhāna
    • Kammaṭṭhāna
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Energi
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Brahmavihāra
    • Cinta kasih
    • Karuna
    • Simpati
    • Ketenangan
    • Keseimbangan batin
  • Astasila
  • Bakti
    • Puja
    • Namaskara
    • Pradaksina
    • Pindapata
    • Pelimpahan jasa
    • Ziarah
  • Sādhu
  • Sangha
  • Majelis
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • 10 murid utama Buddha Gotama
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Waisak
  • Asalha
  • Magha
  • Kathina
  • Hari Abhidhamma
  • Uposatha
  • Budaya
  • Masyarakat
  • Aborsi
  • Agama-agama Timur
  • Anikonisme
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Baháʼí
  • Bendera Buddhis
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Darmacakra
  • Dunia Romawi
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Hinduisme
  • Humanisme
  • Ilmu pengetahuan
  • Jainisme
  • Kalender
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Masturbasi
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Orientasi seksual
  • Penindasan
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Seni rupa
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarisme
  • Yahudi
  • Category Kategori
  •  Portal Agama
  •  Portal Buddhisme

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Theravāda
  2. Puja materi
  3. Puja nonmateri
  4. Berdoa
  5. Mahāyāna
  6. Referensi
  7. Bibliografi
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026