Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Ketidaktahuan (Buddhisme)

Dalam Buddhisme, ketidaktahuan atau kebodohan merujuk pada kesalahpahaman atas hakikat realitas, khususnya tentang ketidakkekalan (anicca) dan tanpa atma (anatta). Avijjā sinonim dengan faktor-mental moha dalam Abhidhamma Theravāda. Ketidaktahuan adalah akar penyebab dari dukkha, dan dinyatakan sebagai mata rantai pertama, dalam Kemunculan Bersebab, dari sebuah proses yang mengarah pada punarbawa.

Istilah Buddhisme
Diperbarui 23 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Untuk konsep serupa dalam agama Hindu, lihat Avidyā (Hindu).
Artikel ini bukan mengenai Moha (Buddhisme).
Terjemahan dari
ketidaktahuan
Indonesiaketidaktahuan,
kebodohan
code: id is deprecated
Inggrisignorance, misconceptions
Paliavijjā
(Brah.: 𑀅𑀯𑀺𑀚𑁆𑀚𑀸)
code: pi is deprecated
Sanskertaavidyā
(Dev: अविद्या)
code: sa is deprecated
Tionghoa無明code: zh is deprecated
(Pinyin: wú míngcode: pny is deprecated )
Jepang無明
(mumyō)
code: ja is deprecated
Korea(Hangeul) 무명
(Hanja) 無明
code: ko is deprecated
(RR: mu myeongcode: ko is deprecated )
Tibetམ་རིག་པcode: bo is deprecated
(Wylie: ma rig pa;
THL: ma rigpa
code: bo is deprecated )
Myanmarအဝိဇ္ဇာcode: my is deprecated
(MLCTS: əweɪʔzàcode: my is deprecated )
Thaiอวิชชา
(RTGS: awitcha)
code: th is deprecated
Vietnamvô minhcode: vi is deprecated
Khmerអវិជ្ជា, អវិទ្យាcode: km is deprecated
(UNGEGN: âvĭchchéa, âvĭtyéa)
Sinhalaඅවිද්‍යාවcode: si is deprecated
Daftar Istilah Buddhis
  • l
  • b
  • s
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
  • Istilah
  • Indeks
  • Garis besar
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Mazhab
  • Konsensus pemersatu
Arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílè Dàdào
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Paritta
  • Sastra Pali
Mahāyāna–Vajrayāna
  • Sutra Mahāyāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
  • Buddha
  • Bodhisatwa
  • Buddha masa ini:
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
  • 4 tempat suci utama:
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
  • Buddha masa lampau:
  • Kassapa
  • Koṇāgamana
  • Kakusandha
  • Vessabhū
  • Sikhī
  • Vipassī
  • dll.
  • Dīpaṅkara
  • Buddha masa depan:
  • Metteyya
  • Bawahan:
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna–Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
    • Kwan Im
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
Keyakinan
  • Ketuhanan
  • Hukum Alam
  • Pandangan
  • Kesesatan
  • Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia
  • Perlindungan
  • Pancasila
  • Karma
    • Kehendak
    • Akibat
  • Punarbawa
  • Alam Kehidupan
  • Samsara
  • Māra
  • Pencerahan
  • Nirwana
  • Acinteyya
Tiga corak
  • Ketidakkekalan
  • Penderitaan
  • Tanpa atma
Gugusan
  • Rupa
  • Kesadaran
  • Persepsi
  • Perasaan
  • Saṅkhāra
  • Nāmarūpa
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Kontak indra
  • Kemunculan Bersebab
Faktor mental
  • Malu
  • Takut
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Delusi
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Kewawasan
  • Bodhipakkhiyā
  • dll.
Meditasi
  • Samatha-vipassanā
    • Jhāna
    • Satipaṭṭhāna
    • Sampajañña
    • Kammaṭṭhāna
      • Anussati
        • Maraṇasati
        • Ānāpānasati
      • Paṭikūlamanasikāra
    • Brahmawihara
      • Cinta kasih
      • Belas kasih
      • Simpati
      • Ketenangan / Keseimbangan batin
  • Abhiññā
    • Iddhi
Bakti
  • Puja
  • Pelimpahan jasa
  • Namaskara
  • Pradaksina
  • Pindapata
  • Ziarah
Praktik lainnya
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Dana
  • Sila
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Usaha
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Astasila
  • Fangseng
  • Sādhu
  • Sangha
  • Parisā
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Pandita
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
  • Kepala wihara
  • Saṅgharāja
Murid penting
  • Biksu:
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • Mahākassapa
  • Ānanda
  • 10 murid utama
  • Biksuni:
  • Pajāpatī Gotamī
  • Khemā
  • Uppalavaṇṇā
  • Kisā Gotamī
  • Upasaka:
  • Tapussa dan Bhallika
  • Anāthapiṇḍika
  • Citta
  • Hatthaka
  • Upasika:
  • Sujātā
  • Khujjuttarā
  • Veḷukaṇḍakiyā
  • Visākhā
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Dhammasālā
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Kelenteng
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Magha
  • Waisak
  • Asalha
  • Kathina
  • Uposatha
  • Hari Lahir Buddha
  • Hari Bodhi
  • Hari Abhidhamma
  • Ulambana
  • Hari Parinirwana
  • Budaya
  • Masyarakat
Produk
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Bendera
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Darmacakra
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Humanisme
  • Kalender
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Sarira
    • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seni rupa
Hubungan dengan …
  • Agama timur
  • Baháʼí
  • Dunia Romawi
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Hinduisme
  • Jainisme
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Penindasan
  • Yahudi
Pandangan tentang …
  • Aborsi
  • Anikonisme
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Ilmu pengetahuan
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Masturbasi
  • Orientasi seksual
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarianisme
  •  Portal Buddhisme
  • l
  • b
  • s

Dalam Buddhisme, ketidaktahuan atau kebodohan[1][2][3] (Pali: avijjā; Sanskerta: अविद्या, avidyā) merujuk pada kesalahpahaman atas hakikat realitas, khususnya tentang ketidakkekalan (anicca) dan tanpa atma (anatta).[2][4][5] Avijjā sinonim dengan faktor-mental moha (delusi, kekeliruan, kebodohan batin) dalam Abhidhamma Theravāda.[6] Ketidaktahuan adalah akar penyebab dari dukkha (duka, penderitaan, rasa sakit, ketidakpuasan),[7] dan dinyatakan sebagai mata rantai pertama, dalam Kemunculan Bersebab, dari sebuah proses yang mengarah pada punarbawa.[8]

Ketidaktahuan disebutkan dalam ajaran Buddha dalam berbagai konteks:

  • Penyebab tidak merealisasi Empat Kebenaran Mulia[9]
  • Mata rantai pertama dalam Kemunculan Bersebab
  • Satu dari daftar sepuluh jenis belenggu dalam aliran Theravāda
  • Sinonim dari moha dalam ajaran Abhidhamma Theravāda
  • Salah satu dari tiga racun dalam aliran Mahayana
  • Salah satu dari enam akar klesha dalam ajaran Abhidharma Mahāyāna

Gambaran umum

Ketidaktahuan dijelaskan dengan berbagai cara atau pada tingkat yang berbeda dalam ajaran atau tradisi Buddhis yang berbeda. Pada tingkat yang paling mendasar, ini adalah ketidaktahuan atau salah pemahaman tentang hakikat realitas;[a] lebih spesifik lagi tentang hakikat ajaran Tanpa-Diri dan sebab-musabab yang saling bergantungan.[2][5][12] Ketidaktahuan bukan berarti "kekurangan informasi," menurut Peter Harvey, melainkan "salah persepsi tentang realitas yang lebih mendalam".[9] Gethin menyebut ketidaktahuan sebagai "kesalahpahaman positif", bukan sekadar ketiadaan pengetahuan.[13] Ini adalah konsep kunci dalam agama Buddha yang menyatakan bahwa ketidaktahuan terhadap hakikat realitas, alih-alih dosa sebagaimana dalam agama-agama Abrahamik, dianggap sebagai akar mendasar dari dukkha.[14] Lenyapnya ketidaktahuan ini membawa pada akhir dari dukkha.[15]

Meskipun istilah avidyā atau avijjā yang ditemukan dalam agama Buddha dan sistem pemikiran India lainnya sering diterjemahkan sebagai "ignorance (ketidaktahuan)" dalam bahasa Inggris, Alex Wayman menyatakan bahwa ini adalah salah terjemahan karena maknanya lebih dari sekadar ignorance. Ia menyarankan istilah "unwisdom (ketidakbijaksanaan)" sebagai padanan yang lebih baik.[16] Istilah tersebut tidak hanya mencakup ketidaktahuan karena kegelapan, tetapi juga pengaburan, kesalahpahaman, salah mengira ilusi sebagai realitas, atau yang tidak kekal sebagai kekal, atau penderitaan sebagai kebahagiaan, atau bukan-diri sebagai diri (delusi).[16] Pengetahuan yang salah adalah bentuk lain dari avidyā atau avijjā, menurut Wayman.[16]


“ ”
“Di sini, para bhikkhu, kaum duniawi yang tidak terpelajar, yang bukan merupakan salah satu di antara para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang bukan salah satu di antara orang-orang superior dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, menganggap bentuk sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk, atau bentuk sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk. Ia menganggap perasaan sebagai diri … persepsi sebagai diri … bentukan-bentukan sebagai diri … kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran.

“Demikianlah cara menganggap segala sesuatu dan [gagasan] ‘Aku’ ini belum lenyap dalam dirinya. Karena ‘aku’ belum lenyap, di sana terjadi suatu turunan dari lima indria—indria mata, indria telinga, indria hidung, indria lidah, indria badan. Ada, para bhikkhu, pikiran, ada fenomena-fenomena pikiran, ada unsur ketidaktahuan. Ketika kaum duniawi yang tidak terpelajar terkontak oleh perasaan yang muncul dari kontak-ketidaktahuan, maka ‘aku’ muncul padanya; ‘aku adalah ini’ muncul padanya; ‘aku akan menjadi’ dan ‘aku tidak akan menjadi’, dan ‘aku terdiri dari bentuk’ dan ‘aku akan menjadi tanpa-bentuk’, dan ‘aku akan memiliki persepsi’ dan ‘aku akan menjadi tanpa persepsi’ dan ‘aku akan menjadi bukan memiliki persepsi juga bukan tanpa persepsi’—hal-hal ini muncul padanya.

“Lima indria itu tetap ada di sana, para bhikkhu, namun sehubungan dengan lima indria itu, siswa mulia yang terpelajar meninggalkan ketidaktahuan dan membangkitkan pengetahuan sejati. Dengan meluruhnya ketidaktahuan dan munculnya pengetahuan sejati, ‘aku’ tidak muncul padanya; ‘aku adalah ini’ tidak muncul padanya’; ‘aku akan menjadi’ dan ‘aku tidak akan menjadi’ dan ‘aku terdiri dari bentuk’ dan ‘aku akan menjadi tanpa-bentuk’, dan ‘aku akan memiliki persepsi’ dan ‘aku akan menjadi tanpa persepsi’ dan ‘aku akan menjadi bukan memiliki persepsi juga bukan tanpa persepsi’—hal-hal ini tidak muncul padanya.”

— Samanupassanā Sutta, SN 22.47
terj. Indra Anggara


Dalam konteks lain, avidyā atau avijjā mencakup ketidaktahuan atau ketidakpahaman atas hakikat ketidakkekalan (anicca) dari berbagai fenomena, Empat Kebenaran Mulia,[9] ajaran Buddhis lainnya, atau jalan untuk mengakhiri penderitaan.[17][18] Sonam Rinchen menyatakan ketidaktahuan dalam konteks dua belas mata rantai (Kemunculan Bersebab) bahwa, "Ketidaktahuan adalah kebalikan dari pemahaman bahwa seseorang atau fenomena lain tidak memiliki eksistensi intrinsik. Mereka yang dipengaruhi oleh ketidaktahuan ini menciptakan perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan mereka ke dalam keberadaan duniawi lanjutan."[19] Tidak memahami Empat Kebenaran Mulia, atau implikasinya, juga merupakan avijjā.[20]

Dalam tradisi-tradisi

Theravāda

  12 Mata Rantai (nidāna) 
Kemunculan Bersebab:
 
Ketidaktahuan (avijjā)
↓
Formasi (saṅkhārā)
↓
Kesadaran (viññāṇa)
↓
Batin-&-Jasmani (nāmarūpa)
↓
6 Landasan Indra (saḷāyatana)
↓
Kontak (phassa)
↓
Perasaan (vedanā)
↓
Nafsu (taṇhā)
↓
Kemelekatan (upādāna)
↓
Kemenjadian (bhava)
↓
Kelahiran (jati)
↓
Tua & Mati (jarā-maraṇa)
  • l
  • b
  • s

Bhikkhu Bodhi menyatakan bahwa avijjā merupakan bagian penting dari ajaran Abhidhamma Theravāda tentang kemunculan yang bergantung (paṭiccasamuppāda) pada kondisi yang menopang siklus kelahiran dan kematian. Salah satu kondisi tersebut adalah formasi karma yang muncul dari ketidaktahuan. Dengan kata lain, Bodhi menyatakan, ketidaktahuan (avijjā) mengaburkan "persepsi tentang hakikat sejati segala sesuatu sebagaimana katarak mengaburkan persepsi objek yang terlihat". Dalam literatur Suttanta, ketidaktahuan ini mengacu pada ketidaktahuan tentang Empat Kebenaran Mulia. Dalam literatur Abhidhamma, selain atas Empat Kebenaran Mulia, ketidaktahuan juga merujuk pada ketidaktahuan atas 'kehidupan pra-kelahiran lampau' dan 'kehidupan masa depan pasca-kematian' seseorang, dan atas kemunculan yang bergantung.[21]

Mahāyāna

Lihat pula: Perbedaan Svatantrika–Prasaṅgika

Tradisi Mahāyāna menganggap ketidaktahuan (avidyā) tentang hakikat realitas dan kehidupan lampau yang tak berawal sebagai sebuah kekuatan primordial (asali), yang hanya dapat dipatahkan melalui pengetahuan (prajñā) tentang Kekosongan (śūnyatā).[22] Namun, menurut Jens Braarvig, dibandingkan dengan tradisi Buddhis lainnya, avidyā tidak begitu ditekankan; sebaliknya, penekanan lebih diberikan pada upaya "mengonstruksi realitas ilusi" berdasarkan konseptualisasi, padahal realitas tertingginya adalah Kekosongan.[23]

Avidyā adalah kekotoran terbesar dan penyebab utama penderitaan serta kelahiran kembali. Pengetahuann tentang Kekosongan, menurut Garfield dan Edelglass, yaitu "ketiadaan sifat intrinsik (inherent nature) dari semua fenomena, termasuk diri, memutus kekotoran batin"; pengetahuan tentang Kekosongan tersebut menghasilkan pencerahan penuh.[24]

Vajrayāna

Tradisi Vajrayāna menganggap ketidaktahuan sebagai belenggu keterikatan dalam samsara, dan ajaran-ajarannya berfokus pada jalan Tantra di bawah bimbingan seorang guru untuk melenyapkan avidyā dan mencapai pembebasan dalam satu masa kehidupan.[25]

Avidyā diidentifikasi sebagai mata rantai pertama dari dua belas sebab musabab yang saling bergantungan—serangkaian mata rantai yang menjelaskan mengapa suatu makhluk bereinkarnasi dan tetap terikat dalam samsara, yaitu siklus kelahiran dan kematian berulang di enam alam kehidupan.[26]

Catatan

  1. ↑ Avijjā atau avidyā dapat didefinisikan pada tingkat yang berbeda; misalnya, dapat didefinisikan sebagai salah persepsi tentang hakikat realitas, atau sebagai tidak memahami empat kesunyataan mulia. Sebagai contoh: Jeffrey Hopkins menyatakan: "[Ketidaktahuan] bukan sekadar ketidakmampuan untuk menangkap kebenaran, tetapi sebuah salah pemahaman aktif terhadap status diri sendiri dan semua objek lainnya—pikiran atau tubuh sendiri, orang lain, dan sebagainya. Ini adalah konsepsi atau asumsi bahwa fenomena ada dengan cara yang jauh lebih konkret daripada yang sebenarnya. Berdasarkan salah pemahaman terhadap status orang dan benda ini, kita terseret ke dalam nafsu ragawi yang menyakitkan (rāga) dan kebencian (dosa)..."[10] Sonam Rinchen menyatakan: "Setiap perbuatan meninggalkan jejaknya di batin/pikiran, dan kemudian nafsu-keinginan serta kemelekatan mengaktifkan jejak tersebut untuk memunculkan hasilnya. Yang mendasari jenis perbuatan ini adalah ketidaktahuan kita, yaitu kesalahpahaman bawaan kita tentang diri, akar dari semua masalah kita.[11]

Referensi

  1. ↑ Keown 2013, hlm. 73.
  2. 1 2 3 Trainor 2004, hlm. 74.
  3. ↑ Robert Buswell & Donald Lopez 2013, hlm. 1070.
  4. ↑ Dan Lusthaus (2014). Buddhist Phenomenology: A Philosophical Investigation of Yogacara Buddhism and the Ch'eng Wei-shih Lun. Routledge. hlm. 533–534. ISBN 978-1-317-97342-3.
  5. 1 2 Conze 2013, hlm. 39-40.
  6. ↑ Robert E. Buswell Jr.; Donald S. Lopez Jr. (2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press. hlm. 546, 59, 68. ISBN 978-1-4008-4805-8.
  7. ↑ Robert Buswell & Donald Lopez 2013, hlm. 86.
  8. ↑ David Webster (31 December 2004). The Philosophy of Desire in the Buddhist Pali Canon. Routledge. hlm. 206. ISBN 978-1-134-27941-8.
  9. 1 2 3 Harvey 1990, hlm. 67.
  10. ↑ Dalai Lama (1992), hlm. 4 (from the Introduction by Jeffrey Hopkins)
  11. ↑ Sonam Rinchen (2006), p. 14.
  12. ↑ Williams & Tribe 2000, hlm. 66-67, Quote: Dari perspektif ini, Tanpa-Diri dan sebab-musabab yang saling bergantungan bersama-sama membentuk dua pilar gnosis (vidya) terakhir yang merupakan penawar bagi ketidaktahuan (avidya)..
  13. ↑ Gethin 1998, hlm. 150.
  14. ↑ Harvey 1990, hlm. 65-68.
  15. ↑ Edelglass 2009, hlm. 171.
  16. 1 2 3 Alex Wayman (1957). "The Meaning of Unwisdom (Avidya)". Philosophy East and West. 7 (1/2): 21–25. doi:10.2307/1396830. JSTOR 1396830.
  17. ↑ Johannes Bronkhorst (2009), Buddhist Teaching in India, Simon & Schuster, ISBN 0-861715667, pages 40-43
  18. ↑ Peter Harvey 2013, hlm. 5, 40, 134-137.
  19. ↑ Sonam Rinchen (2006), p. 51.
  20. ↑ Ajahn Sucitto (2010), Kindle Locations 1125-1132.
  21. ↑ A Comprehensive Manual of Abhidhamma: The Abhidhammattha Sangaha, Bhikkhu Bodhi (2003), p. 295
  22. ↑ Bruno Petzold (1995). The Classification of Buddhism. Otto Harrassowitz Verlag. hlm. 259–260, 849. ISBN 978-3-447-03373-2.
  23. ↑ Guttorm Fløistad (2012). Philosophie asiatique/Asian philosophy. Springer. hlm. 201. ISBN 978-94-011-2510-9.
  24. ↑ Jay L. Garfield; William Edelglass (2011). The Oxford Handbook of World Philosophy. Oxford University Press. hlm. 288. ISBN 978-0-19-532899-8.
  25. ↑ Trainor 2004, hlm. 162.
  26. ↑ Peter Harvey (2015). Steven M. Emmanuel (ed.). A Companion to Buddhist Philosophy. John Wiley & Sons. hlm. 50–60. ISBN 978-1-119-14466-3.

Sumber-sumber

  • Robert Buswell; Donald Lopez (2013), Princeton Dictionary of Buddhism, Princeton, NJ: Princeton University Press, ISBN 9780691157863
  • Conze, Edward (2013), Buddhist Thought in India: Three Phases of Buddhist Philosophy, Routledge, ISBN 978-1-134-54231-4
  • Edelglass, William; et al. (2009), Buddhist Philosophy: Essential Readings, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-532817-2
  • Gethin, Rupert (1998), Foundations of Buddhism, Oxford University Press
  • Harvey, Peter (1990), An Introduction to Buddhism, Cambridge University Press
  • Peter Harvey (2013), The Selfless Mind: Personality, Consciousness and Nirvana in Early Buddhism, Routledge, ISBN 978-1-136-78329-6
  • Keown, Damien (2013). Buddhism: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-966383-5.
  • Trainor, Kevin (2004), Buddhism: The Illustrated Guide, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-517398-7
  • Williams, Paul; Tribe, Anthony (2000), Buddhist Thought: A Complete Introduction to the Indian Tradition, Routledge, ISBN 0-415207010
  • Ajahn Sucitto (2010). Turning the Wheel of Truth: Commentary on the Buddha's First Teaching. Shambhala.
  • Bhikkhu Bodhi (2003), A Comprehensive Manual of Abhidhamma, Pariyatti Publishing
  • Chogyam Trungpa (1972). "Karma and Rebirth: The Twelve Nidanas, by Chogyam Trungpa Rinpoche." Karma and the Twelve Nidanas, A Sourcebook for the Shambhala School of Buddhist Studies. Vajradhatu Publications.
  • Dalai Lama (1992). The Meaning of Life, translated and edited by Jeffrey Hopkins, Boston: Wisdom.
  • Mingyur Rinpoche (2007). The Joy of Living: Unlocking the Secret and Science of Happiness. Harmony. Kindle Edition.
  • Sonam Rinchen (2006). How Karma Works: The Twelve Links of Dependent Arising, Snow Lion.

Bacaan lanjutan

  • Avijjā and Āsava, Surendranath Dasgupta, 1940
  • Daniel Goleman: Vital Lies, Simple Truths: The Psychology of Self Deception (1985) Bloomsbury Publishing. ISBN 978-0-7475-3413-6
  • Avijja Sutta, diterjemahkan dari bahasa Pali ke bahasa Inggris oleh Thanissaro Bhikkhu

Pranala luar

  • Paṭiccasamuppāda Kemunculan yang Dependen terbitan Vijjākumāra di DhammaCitta, kumpulan esai tentang Kemunculan Bersebab oleh Nyanatiloka Mahāthera, Bhikkhu Bodhi, dan Bhikkhu Ṭhānissaro dalam terjemahan bahasa Indonesia
Didahului oleh:
Jarāmaraṇa
12 mata rantai
Avijjā
Diteruskan oleh:
Saṅkhāra
  • l
  • b
  • s
   Topik Buddhisme   
  • Outline Garis besar
  • Daftar istilah
  • Indeks
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Konsensus pemersatu
Aliran arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílèdàdào
  • Dhammakāya
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Sastra Pali
  • Paritta
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
Kitab daring
  • SuttaCentral
  • Chaṭṭha Saṅgāyana Tipiṭaka
  • dhammatalks.org
  • 84000
  • NTI Reader - Taishō
  • Buddha
  • Bodhisatwa
Buddha saat ini dan keluarga
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
4 tempat suci utama
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
Buddha penting sebelumnya
  • Dīpaṅkara
  • Vipassī
  • Sikhī
  • Vessabhū
  • Kakusandha
  • Koṇāgamana
  • Kassapa
Buddha selanjutnya
  • Metteyya
Bawahan
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
  • Empat Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia Berunsur Delapan
  • Trilaksana
    • Ketidakkekalan
    • Penderitaan
    • Tanpa atma
  • Pandangan
  • Titthiya
  • Ketuhanan
  • Niyāma
  • Keyakinan
  • Triratna
  • Pancasila
  • Māra
  • Karma
  • Nirwana
  • Kemunculan Bersebab
  • Gugusan
    • Materi
    • Kesadaran
    • Persepsi
    • Perasaan
    • Saṅkhāra
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Loka
  • Punarbawa
  • Samsara
  • Bodhi
  • Abhiññā
  • Cetasika
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Moha
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Perhatian penuh
  • Bodhipakkhiyā
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Malu
  • Takut
  • Dana
  • Sila
  • Meditasi
    • Samatha-vipassanā
    • Ānāpānasati
    • Satipaṭṭhāna
    • Kammaṭṭhāna
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Energi
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Brahmavihāra
    • Cinta kasih
    • Karuna
    • Simpati
    • Ketenangan
    • Keseimbangan batin
  • Astasila
  • Bakti
    • Puja
    • Namaskara
    • Pradaksina
    • Pindapata
    • Pelimpahan jasa
    • Ziarah
  • Sādhu
  • Sangha
  • Majelis
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • 10 murid utama Buddha Gotama
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Waisak
  • Asalha
  • Magha
  • Kathina
  • Hari Abhidhamma
  • Uposatha
  • Budaya
  • Masyarakat
  • Aborsi
  • Agama-agama Timur
  • Anikonisme
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Baháʼí
  • Bendera Buddhis
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Darmacakra
  • Dunia Romawi
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Hinduisme
  • Humanisme
  • Ilmu pengetahuan
  • Jainisme
  • Kalender
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Masturbasi
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Orientasi seksual
  • Penindasan
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Seni rupa
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarisme
  • Yahudi
  • Category Kategori
  •  Portal Agama
  •  Portal Buddhisme

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Gambaran umum
  2. Dalam tradisi-tradisi
  3. Theravāda
  4. Mahāyāna
  5. Vajrayāna
  6. Catatan
  7. Referensi
  8. Sumber-sumber
  9. Bacaan lanjutan
  10. Pranala luar

Artikel Terkait

Buddhisme

Agama dan tradisi filosofis dari anak benua India

Daftar istilah Buddhisme

Beberapa istilah dan konsep Buddhis tidak memiliki terjemahan langsung ke dalam bahasa Indonesia yang mencakup luasnya istilah aslinya. Berikut ini adalah

Buddhisme Nikāya

Istilah Buddhisme Nikāya diciptakan oleh Masatoshi Nagatomi sebagai pengganti yang tidak merendahkan dari istilah "Hīnayāna", yang berarti aliran-aliran

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026