PT Safari Dharma Sakti, juga sering disebut dengan OBL, adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Temanggung, Jawa Tengah. Didirikan pada tahun 1951 dengan nama Perusahaan Truk Hien, perusahaan otobus ini menjalankan bus antarkota dan pariwisata dalam dua jenama, yakni Safari Dharma Raya dan Safari Dharma Jaya. Selain dua jenis layanan bus di atas, perusahaan otobus ini juga mengoperasikan kurir serta bus untuk keperluan khusus, termasuk bus apron bandar udara di sejumlah bandara internasional di Indonesia, serta bus untuk mobilitas tim nasional sepak bola Indonesia. Perusahaan otobus ini memiliki kantor perwakilan dan garasi cabang di Jakarta; Yogyakarta; Denpasar, Bali; serta Mataram dan Bima, Nusa Tenggara Barat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Sebelumnya |
|
|---|---|
| Didirikan | 1951 (1951) |
| Kantor pusat | Jalan Pangeran Diponegoro 25, Temanggung, Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia |
| Wilayah layanan | Jawa dan Kepulauan Nusa Tenggara |
| Jenis layanan |
|
| Hub | |
| Ruang tunggu | Tersedia di kantor pusat dan setiap kantor perwakilan OBL |
| Garasi | |
| Armada | 200 unit (Mercedes-Benz, King Long, Hino, Volvo, Scania, MAN) |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Direktur Utama | Hendro Darmojuwono |
| Karyawan | 500 |
| Situs web | safaridharmasakti |
PT Safari Dharma Sakti, juga sering disebut dengan OBL (inisial dari nama pendirinya yakni Oei Bie Lay), adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Temanggung, Jawa Tengah. Didirikan pada tahun 1951 dengan nama Perusahaan Truk Hien, perusahaan otobus ini menjalankan bus antarkota dan pariwisata dalam dua jenama, yakni Safari Dharma Raya (kelas eksekutif, super eksekutif, dan pariwisata) dan Safari Dharma Jaya (kelas ekonomi non-AC). Selain dua jenis layanan bus di atas, perusahaan otobus ini juga mengoperasikan kurir serta bus untuk keperluan khusus, termasuk bus apron bandar udara di sejumlah bandara internasional di Indonesia, serta bus untuk mobilitas tim nasional sepak bola Indonesia. Perusahaan otobus ini memiliki kantor perwakilan dan garasi cabang di Jakarta; Yogyakarta; Denpasar, Bali; serta Mataram dan Bima, Nusa Tenggara Barat.
Pada masa pasca-kemerdekaan, Kabupaten Temanggung menghadapi kendala serius dalam bidang transportasi barang, khususnya untuk mengangkut hasil bumi masyarakat. Kondisi geografis dan keterbatasan sarana angkutan membuat distribusi hasil pertanian tidak berjalan optimal. Melihat peluang tersebut, Oei Bie Lay yang kemudian dikenal dengan nama Darmojuwono, seorang pengusaha berdarah Tionghoa-Indonesia, mengambil inisiatif untuk terjun ke bidang transportasi. Pada tahun 1951, ia mendirikan sebuah usaha angkutan bernama OBL, yang merupakan inisial dari namanya sendiri, dengan tujuan utama melayani pengangkutan hasil bumi di wilayah Temanggung dan sekitarnya.[1]
Pada tahap awal, Oei menjalankan bisnisnya dengan modal yang sangat terbatas, yakni hanya dua unit mobil sedan. Kedua kendaraan tersebut dimodifikasi secara sederhana agar dapat difungsikan sebagai bus kecil untuk mengangkut barang maupun penumpang. Meskipun dimulai dari skala kecil, usaha ekspedisi ini menunjukkan perkembangan yang cukup pesat seiring meningkatnya kebutuhan transportasi masyarakat. Perkembangan tersebut mendorong Oei untuk melakukan konsolidasi usaha, yang kemudian melahirkan perusahaan baru bernama Perusahaan Truk Hien. Pada masa awal operasinya, Perusahaan Truk Hien melayani rute Magelang–Ngadirojo.[1]
Seiring berjalannya waktu, kebutuhan mobilitas masyarakat Jawa, khususnya di segmen transportasi antarkota, terus meningkat. Melihat peluang tersebut, Oei memutuskan untuk melakukan ekspansi usaha ke sektor angkutan penumpang yang lebih luas. Pada tahun 1969, ia membentuk perusahaan perseorangan baru bernama Safari Dharma Raya, yang menaungi dua jenama: Safari Dharma Raya untuk kelas eksekutif dan super eksekutif,[2] dan Safari Dharma Jaya untuk kelas ekonomi non-AC. Bersamaan dengan pendirian perusahaan ini, Oei membuka rute bus antarkota dalam provinsi, yaitu Magelang–Candiroto dan Temanggung–Wonosobo–Purwokerto, dengan mengoperasikan lima unit bus sebagai modal awal.[3]
Permintaan transportasi yang terus tumbuh mendorong Safari Dharma Raya untuk melangkah lebih jauh. Pada tahun 1971, perusahaan ini mulai mengoperasikan layanan bus malam antarkota antarprovinsi, sekaligus membuka trayek Temanggung–Surabaya–Malang. Pada tahun yang sama, Oei juga mulai mendatangkan armada bus bermesin Dodge Fargo untuk menunjang operasional. Selanjutnya, jumlah armada diperkuat dengan penambahan bus Dodge K700 dan Mercedes-Benz LP911, yang meningkatkan kapasitas serta keandalan layanan perusahaan.[1][4]
Nama Safari Dharma Raya sendiri memiliki makna filosofis yang cukup mendalam. Menurut Oei, kata safari berarti "perjalanan", dharma dimaknai sebagai "keberkahan", dan raya merujuk pada jalan raya. Secara keseluruhan, nama tersebut mencerminkan harapan agar perusahaan mampu memberikan pelayanan perjalanan yang penuh keberkahan dan keselamatan, baik bagi para penumpang maupun pengguna jalan lainnya. Filosofi ini menjadi landasan nilai dalam menjalankan operasional perusahaan sejak awal berdirinya.[5]
Ekspansi rute terus dilakukan pada tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1974, Safari Dharma Raya membuka trayek baru yang menghubungkan Kota Yogyakarta dengan DKI Jakarta melalui Magelang dan Semarang. Untuk mendukung pengembangan tersebut, Oei kembali mendatangkan armada baru berupa bus Mercedes-Benz OF 1113. Perkembangan bisnis yang semakin besar dan terstruktur akhirnya membawa Safari Dharma Raya memperoleh status badan hukum perseroan terbatas pada tahun 1981 dengan nama PT Safari Dharma Sakti, dengan fokus pada layanan bus dan logistik antarkota antarprovinsi.[1][4]
Pada tahun 1989, estafet kepemimpinan mulai melibatkan generasi kedua, ketika dua putra Oei, yakni Hendro dan Santoso, masing-masing menjabat sebagai komisaris dan direktur utama. Keduanya menjalankan strategi ekspansi dengan membuka kantor di DKI Jakarta dan Temanggung untuk memperkuat jaringan operasional perusahaan.[5] Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, Safari Dharma Raya memperluas jangkauan layanannya hingga ke Bali dan Nusa Tenggara Barat. Pada tahun 1997 dibuka trayek DKI Jakarta–Surabaya–Denpasar–Mataram serta Temanggung–Surabaya–Denpasar–Mataram.[1]
Ekspansi berlanjut dengan pembukaan sejumlah rute baru, termasuk hingga Kota Bima di Pulau Sumbawa. Selain itu, perusahaan otobus ini bekerja sama dengan PT Gapura Angkasa sebagai operator bus apron di Bandara Internasional Juanda dan I Gusti Ngurah Rai dan mulai mengembangkan jasa bus pariwisata. Setelah meninggalnya Santoso pada 2011, kepemimpinan perusahaan dilanjutkan oleh Setiawati sebagai komisaris dan Hendro sebagai direktur. Hingga kini, Safari Dharma Raya mengoperasikan sekitar 200 unit bus dan mempekerjakan kurang lebih 500 karyawan yang tersebar di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.[1][3][6]

Safari Dharma Raya dikenal luas sebagai perusahaan otobus yang berani menggunakan armada dengan spesifikasi tidak lazim dibandingkan mayoritas bus di Indonesia. Perusahaan ini tercatat pernah maupun sedang mengoperasikan bus dengan sasis dari berbagai merek, seperti Mercedes-Benz, Hino, King Long, Scania, hingga MAN. Beberapa unit bahkan didatangkan dalam kondisi completely built-up (CBU), yang menegaskan orientasi mereka pada kualitas dan keunikan. Di antara seluruh armadanya yang siap operasi, sasis Mercedes-Benz tetap menjadi tulang punggung utama. Hal ini membentuk identitas Safari Dharma Raya sebagai PO yang dekat dengan teknologi dan inovasi pabrikan Eropa.[5]
Dominasi Mercedes-Benz dalam armada Safari Dharma Raya terlihat dari beragam tipe yang digunakan, mulai dari OH 1526, OH 1626, OH 1830, OH 1836, hingga OH 2542. Banyaknya varian ini menjadikan Safari Dharma Raya kerap dipilih sebagai "kelinci percobaan" untuk pengujian dan penerapan teknologi baru dari Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI). Eksperimen ini mencakup aspek mesin, konfigurasi sasis, hingga kesesuaian dengan kebutuhan operasional di Indonesia. Pendekatan tersebut membuat armada Safari Dharma Raya sering tampil berbeda dari PO lain yang cenderung bermain aman. Dari sisi teknis, armada mereka dikenal tangguh sekaligus unik.[5]
Untuk urusan bodi bus, Safari Dharma Raya banyak mengandalkan karoseri Adi Putro dan Morodadi Prima. Pada era 1990-an hingga awal 2010-an, perusahaan ini dikenal sangat konsisten mengikuti tren sasis Mercedes-Benz yang dipadukan dengan karoseri Adi Putro. Bahkan, Safari Dharma Raya tercatat sebagai pelanggan pertama yang memesan karoseri bus produksi Adi Putro, bersama dengan bersama dengan Bandung Express dan Kramat Djati. Bus Neoplan dengan sasis dan bodi monokok rakitan Adi Putro pernah menjadi bagian armada mereka. Langkah tersebut memperkuat citra Safari Dharma Raya sebagai pelopor penggunaan bodi bus modern pada masanya.[7]

Memasuki era armada modern, Safari Dharma Raya semakin sering menggunakan karoseri dengan desain khusus atau custom. Morodadi Prima menjadi perusahaan karoseri langganannya, terutama untuk memadukan sasis-sasis yang tergolong tidak umum. Salah satu contohnya adalah penggunaan sasis Mercedes-Benz OF 917 dengan jarak sumbu roda panjang yang dipasangkan dengan karoseri Satria VR. Bodi ini sejatinya dirancang untuk bus sedang, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan layanan Safari Dharma Raya. Tata letak interiornya pun tetap mempertahankan gaya karoseri Patriot, lengkap dengan konfigurasi 18 kursi 2-1, leg rest, toilet, dan area merokok.[8]
Keunikan armada Safari Dharma Raya juga tecermin dari kehadiran bus tingkat mewah yang diberi nama "Khaleesi". Bus ini menggunakan sasis Mercedes-Benz OC 500 RF 2542 dan karoseri Morodadi Prima Patriot DD dengan nuansa khas bus tingkat Eropa. Konfigurasinya sangat eksklusif, hanya menyediakan 8 kursi di lantai bawah dan 48 kursi di lantai atas, serta dilengkapi toilet dan area merokok. Unit ini sempat dioperasikan pada rute Jakarta–Jatipuro sebagai layanan kelas eksekutif. Namun, sejak 7 Mei 2023, bus tersebut dihentikan dari trayek utama karena pertimbangan operasional.[9][10]

Selain armada, Safari Dharma Raya memiliki ciri khas visual yang mudah dikenali. Logo "OBL" selalu disertakan pada kaca depan dan belakang bus, yang merupakan inisial nama pendiri sekaligus nama awal perusahaan. Ciri paling ikonik adalah lukisan atau stiker empat ekor gajah di sisi bodi bus. Empat gajah tersebut melambangkan empat anak Oei, yang diharapkan menjadi generasi penerus yang solid dan kompak. Perpaduan armada unik dan simbol visual yang konsisten membuat Safari Dharma Raya memiliki identitas kuat di dunia transportasi bus Indonesia.[5]
Sementara itu, bus-bus modern dari Safari Dharma Raya juga menampilkan pola pengecatan yang lebih modern dan segar. Termasuk permainan bidang berupa aksen pecahan berlian warna biru di bodi samping dan merah di bagian belakang. Hal ini menambah kesan modern dan adaptif yang ditonjolkan oleh perusahaan otobus ini. Tambahannya lagi, bus-bus modern ini banyak menonjolkan aksen kromium pada kaca depan, grill, bemper, jendela samping, serta bagian selendang di dekat pintu depannya.[8]

Sejak pertama kali diluncurkan, PO Safari Dharma Raya menjadikan bus antarkota sebagai lini bisnis utamanya. Safari Dharma Raya melayani trayek bus antarkota antara Jawa dan Kepulauan Nusa Tenggara. Sebagai salah satu perusahaan otobus yang telah berkembang pesat sejak awal berdirinya, Safari Dharma Raya tidak hanya fokus pada rute-rute dalam satu pulau tetapi juga memperluas jaringan layanannya ke luar Pulau Jawa, termasuk rute panjang menuju Bali dan Nusa Tenggara Barat seperti Bima, Sumbawa dan Mataram, Lombok yang menjadi bagian dari perjalanan pulang-pergi melintasi beberapa zona geografis yang berbeda.[11][12]
Dalam operasionalnya di Pulau Jawa, Safari Dharma Raya dikenal melayani berbagai jalur penting antar kota besar, termasuk trayek populer seperti DKI Jakarta–Temanggung–Kota Yogyakarta yang per 2023 dilengkapi dengan unit bus sedang mewah. Pada trayek tersebut, perusahaan menghadirkan bus berkapasitas kursi lebih sedikit tapi dilengkapi fasilitas premium seperti reclining seat, leg rest, toilet, serta kaca depan tunggal (single-glass) yang memberi pemandangan luas kepada penumpang, menunjukkan komitmen PO untuk menghadirkan kenyamanan di luar kelas bus besar tradisional.[8]
Ekspansi Safari Dharma Raya juga mencakup layanan rute antarprovinsi yang menghubungkan Jawa dengan Nusa Tenggara Barat, dengan trayek unggulannya Temanggung–Mataram, Lombok serta trayek terjauhnya, yakni DKI Jakarta–Kota Bima. Kedua rute ini memiliki jarak yang sangat jauh dan membutuhkan waktu perjalanan yang panjang, menjadikannya salah satu jalur AKAP yang menantang sekaligus penting bagi mobilitas masyarakat lintas pulau. Perjalanan panjang tersebut tidak hanya melayani wisatawan atau keluarga, tetapi juga memainkan peran penting dalam mendukung mobilitas pendidikan dan ekonomi masyarakat setempat, terutama bagi mereka dari daerah seperti NTB yang sering melakukan perjalanan ke Yogyakarta atau kota besar lainnya.[11][12][13]
Meskipun fokus pada fase bertahan dengan armada dan trayek yang dimilikinya, Safari Dharma Raya juga menghadapi tantangan operasional. Misalnya, perusahaan sempat menghentikan operasi di beberapa trayek yang kurang menguntungkan, seperti rute DKI Jakarta–Kota Surakarta, akibat rendahnya okupansi penumpang sehingga tidak lagi layak secara bisnis untuk dipertahankan. Upaya penyesuaian rute dan alokasi armada seperti itu merupakan bagian dari strategi PO dalam mempertahankan efisiensi serta kualitas layanan secara keseluruhan, sambil tetap berusaha memenuhi kebutuhan perjalanan darat masyarakat di berbagai wilayah yang dilayaninya.[14]
Safari Dharma Raya tidak hanya dikenal sebagai operator bus antarkota antarpovinsi, tetapi juga memiliki lengan bisnis nontrayek berupa layanan bus pariwisata. Melalui unit usaha ini, Safari Dharma Raya menyediakan armada yang dapat disewakan untuk beragam kebutuhan perjalanan wisata dan kegiatan khusus. Layanan bus pariwisata tersebut melayani berbagai segmen, mulai dari perjalanan wisata keluarga, kegiatan gathering perusahaan, wisata religi, hingga karyawisata pelajar dan institusi. Dengan cakupan penggunaan yang luas, bus pariwisata Safari Dharma Raya dirancang untuk memberikan fleksibilitas serta kenyamanan sesuai kebutuhan pelanggan, sekaligus menjadi pelengkap dari bisnis utama perusahaan di sektor transportasi darat.[15]
Armada bus pariwisata Safari Dharma Raya dikelola secara terpisah dari armada bus reguler yang melayani rute tetap. Pembeda yang paling mudah dikenali adalah penggunaan tulisan "Bus Pariwisata" dengan huruf kursif pada bodi samping kendaraan, menggantikan nama "Safari Dharma Raya" yang biasanya tertera pada bus reguler. Selain itu, perusahaan ini juga memiliki beberapa unit bus yang tergolong unik dan dialokasikan khusus untuk keperluan pariwisata. Salah satu contohnya adalah bus berkaroseri Morodadi Prima Tourismo produksi tahun 2012 yang kemudian dimodifikasi dengan penambahan kaca sunroof di bagian atap, sehingga menghadirkan konsep bus Panoramic yang memberikan pengalaman visual lebih luas bagi penumpang. Bus Panoramic tersebut menggunakan sasis Mercedes-Benz O 500 R 1836, yang dikenal andal dan nyaman untuk perjalanan jarak menengah hingga jauh, sekaligus memperkuat citra Safari Dharma Raya di segmen bus pariwisata.[16]
Bus yang dioperasikan oleh Safari Dharma Raya untuk angkutan tim nasional sepak bola Indonesia (Timnas RI) menjadi sorotan publik jelang Pesta Olahraga Asia 2018 karena perannya sebagai kendaraan resmi mobilitas tim. Pada tahun itu, PSSI bekerja sama dengan sponsor Super Soccer untuk menghadirkan dua unit bus yang diperuntukkan bagi Timnas U-23, U-19, U-16, serta tim wanita Indonesia guna pemusatan latihan dan pertandingan. Bus-bus ini berkapasitas sekitar 36 kursi dan dilengkapi fasilitas yang menunjang kenyamanan seperti toilet, pendingin udara, lemari pendingin, LED TV, PlayStation, bahkan ruang kecil untuk konferensi pers, sehingga jauh lebih dari sekadar moda transportasi biasa dan diharapkan dapat memicu semangat tim dalam meraih prestasi. Super Soccer menggandeng Safari Dharma Raya untuk menyediakan unit bus tersebut beserta pengemudi bus dan perawatan, sehingga biaya operasional tidak ditanggung PSSI secara langsung.[17]
Meski demikian, bus hasil kerja sama ini sempat menuai polemik karena tuduhan bahwa unit yang digunakan merupakan bus bekas, yang terlihat dari kemiripan dengan salah satu bus pariwisata milik Safari Dharma Raya, seperti pelat nomor dan logo karoseri yang mirip dengan unit PO tersebut. Wakil Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, menanggapi isu itu dengan menyatakan bahwa PSSI memang hanya memakai bus yang masih menampilkan tulisan Safari Dharma Raya di bodinya, dan seluruh perawatan serta pengemudi bus ditangani oleh pihak sponsor dan vendor, termasuk Safari Dharma Raya sendiri. Menurut penjelasan dari pihak PSSI dan Super Soccer, bus-bus ini adalah bagian dari komitmen kerja sama jangka panjang yang mencapai puluhan tahun, yang tidak hanya memberi fasilitas transportasi tetapi juga menggambarkan dukungan pihak swasta terhadap pengembangan sepak bola nasional.[18]
Safari Dharma Raya bermitra dengan PT Gapura Angkasa sebagai operator bus apron di sejumlah bandara Indonesia, seperti Bandara Internasional Juanda (sejak 1999) dan I Gusti Ngurah Rai (sejak 2002).[1][3][6] Pada tahun 2025, Safari Dharma Raya dan Gapura Angkasa menambah lagi bus apron baru untuk bandara yang ketiga, kali ini Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta. Unit bus yang dioperasikan tersebut diatasnamakan Gapura Angkasa dan berjumlah 3 unit, bersasis Mercedes-Benz O 500 U 1626 LE Euro 5 melalui dealer PT Kedaung Satrya Motor di Surabaya, dengan karoseri bus produksi Morodadi Prima. Safari Dharma Raya diberi kepercayaan untuk menjadi operator bus-bus tersebut.[19]
Bus-bus bandara ini dilengkapi berbagai fitur dan teknologi modern, seperti suspensi self-leveling dengan fitur kneeling untuk memudahkan akses penumpang, serta sistem keselamatan lengkap berupa Full Air Brake System dan ABS. Kehadiran armada baru ini diharapkan mampu mendukung visi PT Gapura Angkasa sebagai perusahaan ground handling kelas dunia dengan konsep ramah lingkungan, sekaligus memperkuat layanan transportasi penumpang di bandara-bandara nasional. Sejak 2014, Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI), melalui unit usaha Mercedes-Benz Bus telah bermitra dengan Gapura Angkasa di Bandara Soekarno–Hatta, dan bus-bus ini akan jalan berdampingan armada sebelumnya. Bahkan Gapura Angkasa merencanakan akan menargetkan 44 bandara internasional di Indonesia memiliki bus apron yang dioperasikan oleh Safari Dharma Raya.[19]