PT Gunung Harta adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Kabupaten Tabanan, Bali. Perusahaan otobus ini menjalankan bus antarkota dan pariwisata. Didirikan pada tahun 1993 oleh I Wayan Sutika, Gunung Harta awalnya melayani bus antarkota dalam provinsi di Bali, kemudian melakukan ekspansi menjadi rute bus antarkota antarprovinsi dengan rute Jawa dan Bali. Sekitar 2001, PT Gunung Harta kemudian membuka cabang di Kota Malang, Jawa Timur yang kelak menjadi PT Gunung Harta Transport Solutions (GHTS), yang beroperasi sebagai perusahaan terpisah, meski masih satu grup. Per 2017, PT Gunung Harta memiliki 110 karyawan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sebuah bus Gunung Harta di Terminal Purabaya | |
| Didirikan | 1993 (1993) |
|---|---|
| Mulai operasi | 1993 |
| Kantor pusat | Tabanan, Bali, Indonesia |
| Wilayah layanan | |
| Jenis layanan | |
| Hub | |
| Ruang tunggu | Eksekutif, VIP, Ekonomi |
| Garasi | Tabanan, Malang, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Direktur Utama | Kadek Jaya Manuaba |
| Situs web | www |
PT Gunung Harta adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Kabupaten Tabanan, Bali. Perusahaan otobus ini menjalankan bus antarkota dan pariwisata. Didirikan pada tahun 1993 oleh I Wayan Sutika, Gunung Harta awalnya melayani bus antarkota dalam provinsi di Bali, kemudian melakukan ekspansi menjadi rute bus antarkota antarprovinsi dengan rute Jawa dan Bali. Sekitar 2001, PT Gunung Harta kemudian membuka cabang di Kota Malang, Jawa Timur yang kelak menjadi PT Gunung Harta Transport Solutions (GHTS), yang beroperasi sebagai perusahaan terpisah, meski masih satu grup.[1] Per 2017, PT Gunung Harta memiliki 110 karyawan.[2]
I Wayan Sutika adalah seorang laki-laki asal Bali yang tumbuh besar di Wongaya Gede, Penebel, Tabanan. Meski demikian, sebagian besar kehidupannya ia jalani di Banjar Anyar, Kediri, Tabanan. Dari lingkungan inilah Sutika mulai merintis usaha transportasi yang kelak dikenal luas sebagai PO Gunung Harta.[3]
Dengan modal awal satu unit bus Mercedes-Benz 1813,[3] pada tahun 1993 Sutika mendirikan PO Gunung Harta yang saat itu masih berbadan hukum usaha dagang dengan nama UD Gunung Harta. Pada masa awal operasinya, Gunung Harta melayani rute antarkota dalam provinsi (AKDP) Denpasar–Gilimanuk. Kepercayaan masyarakat Bali serta dukungan lembaga jasa keuangan menjadi faktor penting yang mendorong perkembangan usaha ini.[2]
Pada tahun 1995, Gunung Harta mulai memperluas layanannya ke angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP).[2] Perkembangan perusahaan terus berlanjut hingga pada tahun 1999 status badan hukum Gunung Harta berubah menjadi perseroan terbatas dengan nama PT Gunung Harta.[3] Di tahun yang sama, I Wayan Sutika juga sempat terjun ke dunia politik sebagai anggota DPRD Bali periode 1999–2004 melalui PDI Perjuangan, sebelum akhirnya memutuskan untuk fokus kembali mengelola perusahaannya.[4]
Memasuki tahun 2004, Gunung Harta telah mengoperasikan sekitar 40 unit bus dan membuka berbagai trayek baru dari Denpasar menuju Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat (non-Bodebek), hingga DKI Jakarta. Selain mengembangkan layanan AKAP, Gunung Harta juga merambah ke sektor bus pariwisata dan jasa kurir, sambil tetap mempertahankan layanan AKDP di Bali sebagai fondasi awal kesuksesannya.[5] Pada tahun 2016, Sutika menyerahkan jabatan direktur utama PT Gunung Harta kepada anak keduanya, Kadek Jaya Manuaba, seiring dengan bertambahnya usia.[3]
| Didirikan | 9 Desember 2011 (2011-12-09) |
|---|---|
| Kantor pusat | Malang, Jawa Timur, Indonesia |
| Wilayah layanan | Jawa |
| Jenis layanan | |
| Hub | |
| Ruang tunggu | Tersedia di kantor pusat dan garasi utama GHTS di Malang |
| Armada | 90 unit (2024) |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Direktur Utama | I Gede Yoyok Santoso |
| Situs web | www |
PT Gunung Harta Transport Solutions (GHTS atau Gunung Harta Solutions) awalnya merupakan Gunung Harta divisi Malang, yang dibentuk pada tahun 2001 oleh anak sulung dari Sutika, I Gede Yoyok Santoso. Divisi Malang ini kemudian berubah menjadi perusahaan terpisah sejak 9 Desember 2011[butuh rujukan] dan awalnya berjalan sebagai bus pariwisata. Namun, pada tahun 2016, GHTS membuka trayek antarkota antarprovinsi (AKAP) dengan fokus pada rute bus DKI Jakarta/Kota Bandung, Jawa Barat menuju Jawa Timur dan Jawa Timur menuju Pulau Bali.[3][1]
Pada tahun 2023, GHTS mengumumkan kerja sama mereka dengan PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk. (TKDN) atas pengadaan alat keselamatan canggih berupa sistem kamera pengawas yang diperlengkapi teknologi akal imitasi (AI) dengan perangkat ADAS & Driver Behavior Alerts. Dirancang untuk meningkatkan keamanan penumpang serta pengemudi bus. Sistem ini memiliki fitur deteksi objek, sistem peringatan dini, dan pemantauan kondisi kendaraan secara real time. Hal ini dilakukan dalam rangka mewujudkan perjalanan bebas kecelakaan.[6]
Pada 15 Agustus 2024, GHTS mengumumkan bahwa mereka tak lagi menggunakan bahan bakar solar, dan beralih menggunakan BBM nonsubsidi Dex Series produksi Pertamina. Pada waktu itu, GHTS mengoperasikan 90 armada dengan 17 trayek. Yoyok Santoso beranggapan bahwa menggunakan Dex Series membuat performa bus menjadi lebih efisien, karena selama masih menggunakan solar, bus-bus GHTS sering gonta-ganti filter setiap dua kali pergi pulang, bahkan yang ada tujuh kali. Hal ini menurutnya, berdampak pada performa mesin dan olinya.[7]
Per 2024, GHTS mengoperasikan 90 unit bus.[8] GHTS merupakan salah satu perusahaan otobus Indonesia yang banyak mengoleksi sasis tronton; per 2023 sendiri jumlah sasis tronton yang dimiliki GHTS berjumlah 36 unit. Menurut Yoyok Santoso sendiri, sasis tronton memiliki kaki-kaki yang lebih kokoh, sehingga diklaim memberi kenyamanan yang lebih daripada sasis reguler karena minim guncangan. Hal ini juga didukung dengan rampungnya Jalan Tol Trans-Jawa antara Jakarta dan Surabaya.[9]
Demi meningkatkan layanannya kepada penumpang, baik Gunung Harta maupun GHTS dikenal rajin meremajakan armada bus yang dimilikinya.[10] Armada bus Gunung Harta maupun GHTS memakai sasis bus premium dan tronton seperti Scania (K360iB[11] dan K410iB[12]), Volvo B11R I-Shift,[9] Mercedes-Benz (OC 500 RF 2542,[12] O500 RS 1836,[13] OH 1626,[9] dan OH 1526),[14] Hino (RG 240 PS[15] dan RM 280 PS),[16] serta MAN RR4 480.[17]
Gunung Harta merah tergolong tidak pilih-pilih karoseri bus. Pada Gunung Harta merah, terdapat karoseri bus produksi Adi Putro (Jetbus berbagai seri),[18] Laksana (Legacy SR),[19] Tentrem (Avante),[20] dan New Armada (Skylander).[21] Sementara untuk GHTS, bus-busnya lebih mengandalkan karoseri Adi Putro.[22]
Pada 25 Maret 2018, GHTS mengumumkan rencana meremajakan armadanya dengan merilis armada berbasis Mercedes-Benz OC 500 RF 2542 6×2 dan Scania K410 IB 6×2. Bus-bus tersebut menggunakan karoseri Jetbus3+ produksi Adi Putro. Bus tersebut memiliki kapasitas 36 penumpang, dengan fasilitas leg rest, USB, selimut, bantal, service makan, serta audio/video. Ciri khas lainnya yang dimiliki Gunung Harta adalah adanya fasilitas toilet dan area merokok untuk penumpang. Bahkan pada saat yang sama, Yoyok Santoso juga berencana menyelenggarakan pemesanan tiket daring, bekerja sama dengan BRI.[22]
Sementara itu, pada 16 Januari 2025, Gunung Harta meluncurkan kelas Suites Combi untuk rute Yogyakarta–Denpasar. Bus yang diproduksi di Laksana tersebut memiliki kursi dengan konfigurasi 2+1 pada bagian depan ke tengah. Pada kabin tengah, terdapat toilet, dispenser air minum, dan mini bar, sedangkan pada bagian belakangnya terdapat fasilitas kursi sleeper.[19] Bus-bus Gunung Harta dan GHTS mengadopsi teknologi TransTRACK, sistem pemantau penunjang keselamatan yang dikembangkan oleh PT Indo Trans Teknologi.[23]
Bus milik Gunung Harta sendiri bisa dikenali dengan warna coraknya yang berwarna hijau pupus dan merah. Saat ini, warna hijau pupus, yang merupakan warna pola pengecatan Gunung Harta sebelum membentuk spin-off, dimiliki oleh GHTS, sedangkan warna merah dipegang oleh entitas yang asli (PT Gunung Harta).[1]
Meskipun perusahaan ini menggunakan gambar gunung hijau sebagai logonya, armada bus Gunung Harta lebih dikenal dengan gambar karakter Walt Disney, Miki Tikus, di atas awan pada corak bus. Ikon yang menggambarkan Miki Tikus sedang berbaring di atas balon dengan santai ini merepresentasikan kenyamanan bus Gunung Harta itu sendiri, mengingat sebagian besar armada bus Gunung Harta sudah dibekali dengan suspensi udara sehingga membuat perjalanan terasa sangat nyaman. Gunung Harta juga dikenal karena sering membuat pengaturan tempat duduk 16 di kiri dan 18 di kanan agar penumpang tidak berdesakan.[10]
Baik Gunung Harta dan GHTS menjadikan bus antarkota antarprovinsi sebagai lini bisnis utamanya. Hanya saja, fokus trayeknya sendiri berbeda antara kedua perusahaan tersebut. Gunung Harta yang asli ("merah") melayani trayek dari Kota Denpasar, Bali, menuju Kota Yogyakarta;[24] serta Kota Semarang, Jawa Tengah;[25] Kota Bandung, Jawa Barat;[26] dan DKI Jakarta.[27] Bahkan, Gunung Harta juga masih memiliki trayek Denpasar–Gilimanuk serta DKI Jakarta–Yogyakarta, yang merupakan trayek debutnya.[2] Sementara itu, GHTS lebih banyak mengandalkan trayek-trayek panas via tol Trans-Jawa, melayani trayek dengan tujuan DKI Jakarta serta Kota Bandung, Jawa Barat menuju[28] Jember,[29] Kediri,[30] Kota Malang,[28] Ponorogo,[31] dan Sumenep[32] di Jawa Timur, atau Kota Malang, Jawa Timur menuju Denpasar, Bali.[33][29]
Bus pariwisata milik Gunung Harta awalnya diinisiasi oleh divisi Malang (yang kini menjadi GHTS).[3] Namun setelah dipisahkan, baik Gunung Harta maupun GHTS sama-sama memiliki bus pariwisatanya sendiri-sendiri. Armadanya kira-kira sama dengan bus AKAP.
Media terkait Gunung Harta buses di Wikimedia Commons