PT Putra Remaja Sentosa adalah perusahaan otobus Indonesia yang didirikan di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, dan kini berpusat di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Perusahaan otobus ini melayani tiga jenis layanan, yakni bus antarkota antarprovinsi dengan trayek Jawa–Sumatra, bus antar-jemput yang melayani rute Jawa Tengah dan DIY, serta bus pariwisata. Didirikan pada tahun 1980 sebagai entitas yang berpisah dari PO Remaja Express, perusahaan otobus ini dikenal sebagai salah satu perusahaan otobus asal Jawa yang merintis trayek menuju Sumatra dari Yogyakarta. Kantor pusat dan garasi utamanya terletak di Jalan Siliwangi, Banyuraden, Gamping, Sleman.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Didirikan | 1980 (1980) |
|---|---|
| Kantor pusat | Jalan Siliwangi, Demakijo, Banyuraden, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia |
| Wilayah layanan | |
| Jenis layanan | |
| Armada | 150 unit/hari (2024) |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Direktur Utama | The Tiong Kwie |
| Situs web | putraremaja |
PT Putra Remaja Sentosa adalah perusahaan otobus Indonesia yang didirikan di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, dan kini berpusat di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Perusahaan otobus ini melayani tiga jenis layanan, yakni bus antarkota antarprovinsi dengan trayek Jawa–Sumatra, bus antar-jemput yang melayani rute Jawa Tengah dan DIY, serta bus pariwisata. Didirikan pada tahun 1980 sebagai entitas yang berpisah dari PO Remaja Express, perusahaan otobus ini dikenal sebagai salah satu perusahaan otobus asal Jawa yang merintis trayek menuju Sumatra dari Yogyakarta (selain Handoyo, Maju Lancar, Ramayana, Prayogo, dan Sumber Waras). Kantor pusat dan garasi utamanya terletak di Jalan Siliwangi, Banyuraden, Gamping, Sleman.
PO Putra Remaja berawal dari perjalanan hidup The Tiong Kwie, seorang Tionghoa-Indonesia kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, yang kemudian dikenal dengan nama Sutikno. Pada masa mudanya, ia merantau ke Muntilan, Magelang, dan bekerja di salah satu perusahaan otobus terbesar di Kabupaten Magelang, yakni PO Ramayana. Kariernya di perusahaan tersebut dimulai dari posisi paling bawah sebagai kondektur, kemudian berlanjut menjadi montir, hingga akhirnya dipercaya mengemudikan bus. Berkat ketekunan, kedisiplinan, dan kepercayaan yang ia bangun selama bekerja, The kemudian mendapat tanggung jawab untuk mengelola PO Remaja Express, sebuah perusahaan otobus yang dipimpin oleh adik pemilik PO Ramayana. Dari pengalaman mengelola perusahaan inilah tumbuh keinginannya untuk mendirikan perusahaan otobus sendiri.[1][2]
Kesempatan untuk mewujudkan keinginan tersebut datang ketika pemilik Remaja Express menghibahkan enam unit bus kepada The. Dari keenam bus itu, hanya dua unit yang masih laik jalan, sementara empat lainnya dalam kondisi rusak berat. Dengan modal keterampilan teknis dan kerja keras, The secara bertahap memperbaiki bus-bus tersebut hingga dapat kembali dioperasikan. Bus-bus inilah yang kemudian menjadi modal awal pendirian perusahaan otobus baru yang diberi nama PO Putra Remaja.[3][4] Perusahaan ini didirikan bersama rekannya, Suhartono, dan mulai beroperasi di Muntilan, dengan garasi bus sekaligus kantor pusat berlokasi di Jalan F.X. Suhaji No. 4, Muntilan, Jawa Tengah, serta melayani angkutan penumpang pada siang hari.[2]
Selama lebih dari sepuluh tahun beroperasi, PO Putra Remaja menunjukkan perkembangan yang stabil dan mulai memperoleh keuntungan yang konsisten. Seiring perubahan kebutuhan pasar, perusahaan ini kemudian mengalihkan jadwal operasionalnya dari bus siang menjadi bus malam. Pada tahun 1990, Putra Remaja secara resmi memfokuskan layanannya sebagai bus malam dengan trayek utama Yogyakarta–DKI Jakarta dan Yogyakarta–Serang, Banten. Perubahan strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan daya saing perusahaan di tengah ketatnya persaingan industri transportasi darat pada masa itu.[2]
Perkembangan perusahaan terus berlanjut hingga pada tahun 1999 kantor pusat dan garasi utama PO Putra Remaja dipindahkan ke Yogyakarta, tepatnya di Jalan Ring Road Barat (Jalan Siliwangi), Demakijo, Banyuraden, Gamping, Sleman. Pada tahun yang sama, perusahaan mulai melakukan ekspansi trayek ke luar Pulau Jawa, khususnya ke wilayah Sumatera Selatan. Langkah ini menandai fase baru Putra Remaja sebagai perusahaan otobus yang tidak hanya melayani jalur antarkota di Pulau Jawa, tetapi juga antarpulau, sehingga jangkauan layanannya semakin luas.[2]
Dari sisi kelembagaan, pada tahun 2002 PO Putra Remaja resmi berubah status dari perusahaan perseorangan menjadi persekutuan komanditer (CV). Dalam struktur ini, The menjabat sebagai Direktur Utama dengan kepemilikan saham sebesar 60 persen, sementara Suhartono memegang 40 persen saham. Setahun kemudian, perusahaan membuka trayek terjauh menuju Pekanbaru, Riau, meskipun masih bersifat situasional.[2] Perkembangan signifikan kembali terjadi pada tahun 2016 ketika status badan hukum perusahaan diubah menjadi perseroan terbatas dengan nama PT Putra Remaja Sentosa. Hingga periode 2023–2024, di bawah kepemimpinan The sebagai Direktur Utama, Putra Remaja telah mengoperasikan sekitar 150 unit bus yang beroperasi setiap hari, menegaskan posisinya sebagai salah satu perusahaan otobus yang diperhitungkan di Indonesia.[5]

PO Putra Remaja mengoperasikan sekitar 150 unit bus yang beroperasi setiap hari dan dikenal sebagai perusahaan otobus yang sangat aktif melakukan pembaruan armada.[5] Perusahaan ini tidak membatasi diri pada satu merek atau tipe tertentu, baik dari sisi sasis maupun karoseri, sehingga armadanya selalu terasa segar dan relevan dengan perkembangan industri transportasi darat. Unit-unit bus baru diterima secara berkala melalui kerja sama dengan berbagai agen pemegang merek otomotif serta perusahaan karoseri besar di Indonesia. Strategi ini membuat Putra Remaja mampu menghadirkan layanan yang kompetitif, mulai dari kelas eksekutif hingga super eksekutif, dengan fasilitas modern yang mengutamakan kenyamanan penumpang perjalanan jarak jauh.[6]
Dari segi sasis, Putra Remaja banyak mengandalkan sasis kelas premium yang telah terbukti performa dan keandalannya. Salah satu yang paling menonjol adalah Mercedes-Benz OH 1626L Euro 4, yang memiliki tenaga sekitar 260 hp (190 kW) dan dilengkapi sistem suspensi udara, sehingga memberikan kenyamanan optimal di rute antarkota dan antarpulau.[7] Selain itu, armada terdahulu Putra Remaja juga menggunakan sasis Mercedes-Benz OH 1626 non-Euro 4 yang lama dikenal sebagai tulang punggung operasional mereka, khususnya untuk rute panjang Jawa–Sumatra. Pilihan sasis ini mencerminkan fokus perusahaan pada durabilitas, kestabilan, dan kenyamanan berkendara.[8]
Tidak hanya bergantung pada Mercedes-Benz, Putra Remaja juga memperkaya armadanya dengan sasis dari pabrikan lain, seperti Scania K310iB. Sasis asal Swedia ini dikenal memiliki karakter mesin yang bertenaga, halus, dan efisien, sehingga cocok untuk layanan kelas atas. Unit-unit Scania tersebut kemudian dirakit dengan karoseri Legacy SR-2 HD Prime S produksi Laksana. Kombinasi ini menghadirkan bus dengan performa tinggi sekaligus tampilan modern, yang mampu bersaing di segmen premium dan memenuhi ekspektasi penumpang akan kenyamanan perjalanan jarak jauh.[9]
Pada sisi karoseri, Putra Remaja memiliki variasi yang cukup luas, tergantung pada periode pembelian armada. Unit-unit terbaru banyak menggunakan karoseri Legacy SR-3 HD Prime serta Neo HD Prime Ultimate Edition dari Laksana, yang menonjolkan desain elegan dan futuristis. Karoseri ini dilengkapi kaca ganda atau bando tipis untuk meningkatkan visibilitas, kursi rebah dengan port USB di setiap baris, serta fasilitas tambahan seperti toilet dan televisi di dalam kabin.[6][7] Selain Laksana, Putra Remaja juga pernah menambah armada dengan bodi Skylander R22 dari New Armada,[10] serta memiliki unit dari Morodadi Prima. Pada periode 2020–2021, sejumlah bus dengan sasis Mercedes-Benz OH 1526 juga menjalani proses rebody dari bodi Travego menjadi Ventura.[11] Di samping itu, PO ini dikenal sebagai kolektor setia karoseri Adi Putro Jetbus dari berbagai generasi.[12]
Secara visual, bus-bus Putra Remaja sangat mudah dikenali melalui ciri khas pola pengecatannya. Dominasi warna biru dongker dipadukan dengan gambar burung belibis berwarna putih yang dicat atau ditempel pada bodi bus menjadi identitas kuat perusahaan ini. Menurut The (Sutikno), gambar burung belibis tersebut merupakan analogi dari frasa "Beli Bis", yang dimaknai sebagai semangat perusahaan untuk terus membeli dan menambah unit bus baru. Filosofi ini sekaligus mencerminkan komitmen Putra Remaja dalam menjaga armadanya tetap modern, kompetitif, dan menarik di mata penumpang.[7]

Sejak awal berdiri, Putra Remaja memfokuskan kegiatan usahanya pada layanan bus antarkota sebagai tulang punggung bisnis. Pada masa perintisan, perusahaan ini mengoperasikan trayek-trayek utama yang menghubungkan Kota Yogyakarta dengan DKI Jakarta. Pemilihan rute tersebut mencerminkan strategi awal Putra Remaja untuk menggarap koridor dengan permintaan penumpang tinggi dan mobilitas antarkota yang padat. Dari trayek inilah reputasi Putra Remaja mulai terbentuk sebagai penyedia layanan bus antarkota jarak menengah hingga jauh.[2]
Perluasan jaringan trayek mulai dilakukan pada tahun 1999 ketika Putra Remaja membuka layanan antarpulau yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatra. Ekspansi ini diawali dengan trayek menuju kota-kota di Lampung dan Sumatera Selatan, yang menjadi pintu masuk penting bagi layanan AKAP lintas pulau. Langkah tersebut menunjukkan keberanian dan visi jangka panjang perusahaan untuk tidak hanya bergantung pada pasar Jawa, tetapi juga menjangkau wilayah Sumatra yang memiliki potensi penumpang besar, khususnya untuk perjalanan ekonomi dan mobilitas antardaerah.[2][13]
Perkembangan trayek lintas Sumatra berlanjut pada tahun 2003 dengan diperpanjangnya rute hingga ke Pekanbaru, Riau. Penambahan trayek ini semakin memperkuat posisi Putra Remaja sebagai operator bus AKAP jarak jauh yang melayani perjalanan antarpulau. Dengan jarak tempuh yang semakin panjang, perusahaan dituntut untuk meningkatkan kualitas armada dan layanan agar tetap kompetitif. Trayek Jawa–Sumatra, dengan trayek terjauhnya Jambi–Blitar, pun menjadi salah satu ciri utama operasi Putra Remaja, yang membedakannya dari banyak PO lain yang hanya berfokus pada rute dalam Pulau Jawa.[2][14]
Memasuki dekade 2020-an, perkembangan trayek Putra Remaja semakin signifikan dengan diluncurkannya layanan kelas Super Eksekutif. Kelas ini mulai dioperasikan pada awal Maret 2022 untuk trayek Kota Yogyakarta serta Surakarta menuju Bandar Lampung, Palembang, dan Jambi. Armada Super Eksekutif dilengkapi fasilitas premium seperti kursi konfigurasi 2-1 dengan leg rest, toilet, layanan makan dan camilan, serta port USB di setiap kursi. Tarif yang ditawarkan berada di kisaran Rp550.000 hingga Rp700.000, menyesuaikan tujuan akhir. Kehadiran kelas ini bertujuan meningkatkan kenyamanan perjalanan jauh dengan memanfaatkan Jalan Tol Trans-Jawa dan penyeberangan menggunakan kapal feri kelas eksekutif agar waktu tempuh lebih efisien.[15]
Meski mengalami pertumbuhan trayek yang pesat, operasional AKAP Putra Remaja juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu insiden terjadi pada Maret 2024, ketika sebuah unit bus disita aparat gabungan di Terminal Tirtonadi, Kota Surakarta, karena hendak berangkat ke Sumatra tanpa kelengkapan surat izin operasi dan trayek, serta hanya membawa fotokopi STNK. Peristiwa ini menjadi catatan penting terkait aspek kepatuhan administratif dalam pengelolaan trayek lintas pulau. Insiden tersebut mencerminkan dinamika dan risiko yang dihadapi perusahaan dalam upaya memperluas jaringan layanan AKAP jarak jauh.[16] Mulai pada tanggal 8 Maret 2026, Putra Remaja kembali melayani layanan bus antarkota Kota Yogyakarta–DKI Jakarta, kali ini mengawali perjalanannya dari Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur[butuh rujukan].
Selain layanan AKAP, Putra Remaja juga merespons perubahan tren transportasi sejak dekade 2010-an dengan mengoperasikan layanan bus antar-jemput atau shuttle. Layanan ini semakin diminati di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta karena dinilai lebih fleksibel, nyaman, dan aman dibandingkan bus antarkota dalam provinsi maupun bus bumel. Keunggulan utama shuttle terletak pada sistem penjemputan door-to-door, sehingga penumpang tidak perlu datang ke terminal. Menjawab pergeseran minat masyarakat dari bus bumel ke shuttle, Putra Remaja mengembangkan jaringan antar-jemput yang melayani berbagai kota penting di Jawa Tengah dan DIY.[17]
Di luar layanan reguler, Putra Remaja juga menjalankan bisnis bus pariwisata sebagai pelengkap portofolio usahanya. Layanan ini melayani penyewaan bus untuk perjalanan wisata, kunjungan rombongan, maupun keperluan lain, terutama pada musim liburan. Bus pariwisata Putra Remaja menjadi salah satu pilihan karena armadanya relatif modern dan terawat. Menurut pihak pemasaran, tarif sewa bus pariwisata bersifat fleksibel dan menyesuaikan dengan permintaan musim libur, durasi pemakaian, serta tujuan perjalanan, sehingga memberikan alternatif transportasi rombongan dengan variasi harga yang dapat disesuaikan kebutuhan pelanggan.[18]