PT Perusahaan Motor Transport Ondernemer Hasan (PMTOH) adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Kota Banda Aceh, Aceh. Perusahaan otobus ini melayani bus antarkota antarprovinsi jarak jauh dengan trayek Sumatra dan Jawa, serta memiliki dua perusahaan kurir dengan nama KSI dan PMTOH Cargo. Didirikan pada tahun 1957, PMTOH merupakan salah satu perusahaan otobus tertua dan terbesar di Provinsi Aceh yang masih beroperasi hingga kini.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Didirikan | 1957 |
|---|---|
| Kantor pusat | Jalan Kuta Alam, Banda Aceh, Aceh, Indonesia |
| Wilayah layanan | |
| Jenis layanan | |
| Armada | Mercedes-Benz |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Direktur Utama | Jumadi Hamid |
PT Perusahaan Motor Transport Ondernemer Hasan (PMTOH) adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Kota Banda Aceh, Aceh. Perusahaan otobus ini melayani bus antarkota antarprovinsi jarak jauh dengan trayek Sumatra dan Jawa, serta memiliki dua perusahaan kurir dengan nama KSI dan PMTOH Cargo. Didirikan pada tahun 1957, PMTOH merupakan salah satu perusahaan otobus tertua dan terbesar di Provinsi Aceh yang masih beroperasi hingga kini.
PMTOH dikenal sebagai pemegang rekor terjauh di Indonesia yang masih aktif, yakni trayek Banda Aceh–Solo, Jawa Tengah, dengan jarak 3.000 kilometer (1.900 mi).[1]
PMTOH didirikan pada tahun 1957 oleh seorang pengusaha asal Aceh bernama Muhammad Hasan.[2][3] Meskipun sempat berhenti beroperasi pada 1960-an, setelah sekitar empat tahun perusahaan ini kembali aktif dengan sistem manajemen yang diperbaharui. Sejak awal, PMTOH menancapkan reputasi sebagai perusahaan otobus yang tangguh—berasal dari Sumatra dan kemudian memperluas layanan hingga ke Jawa.[2]
Lompatan penting terjadi pada tahun 1986, ketika PMTOH mulai membuka trayek antarpulau ke Jawa, menjadikannya salah satu perusahaan otobus dengan rute sangat panjang di Indonesia.[2] Misalnya, trayek Medan–Solo dengan jarak 2.524 kilometer (1.568 mi) pernah dilayani, menempuh waktu hingga 55 jam perjalanan. Hal ini menunjukkan ambisi dan kapasitas PMTOH dalam menghadapi tantangan jarak dan infrastruktur transportasi antarpulau.[2]
Dalam hal kepemilikan dan kesinambungan usaha keluarga, perusahaan ini kini telah berada di generasi ketiga. Hasan menyerahkan estafet kepada anaknya, Abdul Hamid Hasan, kemudian dilanjutkan oleh cucunya, Jumadi Hamid, yang saat ini mengelola PMTOH. Model kepemilikan seperti ini menggambarkan bagaimana usaha transportasi ini mempertahankan warisan keluarga sekaligus menghadapi dinamika industri yang semakin kompetitif.[2]
Selain bisnis bus, PMTOH juga mengembangkan sayap logistik dan kurir melalui pendirian PT Kharisma Selaras Indotama (KSI) dan PMTOH Cargo sebagai entitas pengangkutan barang, misalnya tekstil ke Aceh dan komoditas seperti alpukat serta arang ke Jakarta. Langkah ini menandai diversifikasi usaha dari transportasi penumpang ke kargo/ekspedisi, memungkinkan perusahaan memanfaatkan jaringan darat dan antarpulau yang sudah ada.[4]
Namun, perjalanan ini tidak bebas tantangan. Periode kejayaan PMTOH antara 1986 hingga 2000 mulai terganggu oleh persaingan yang semakin ketat—khususnya munculnya maskapai penerbangan tarif rendah yang menggerus segmen bus jarak jauh.[2]
PMTOH saat ini setia dengan sasis premium seperti Scania dan Mercedes-Benz. Di segmen Mercedes-Benz, PMTOH mengoperasikan sasis OH 1626, OH 1830, dan OH 1836.[5]
Pada tahun 2014, PMTOH melakukan peremajaan armada dengan mendatangkan unit baru berkaroseri Jetbus2 HD dari Adi Putro. Armada baru ini dilengkapi fitur seperti full AC, Wi-Fi, serta toilet. Varian Jetbus2 HD ini dirancang berbeda dari generasi sebelumnya: model lampu depan dan belakang yang diperbaharui, serta bodi yang dibuat sedikit lebih tinggi dibanding varian Jetbus non-HD maupun Jetbus HD biasa.[6]
Dari segi karoseri dan kemewahan kabin, sejak 2015, bus-bus baru PMTOH beserta operator lainnya di Aceh menggunakan karoseri produksi Adi Putro (dan kadang Gunung Mas) yang dirancang dengan interior yang lebih mewah: reclining seat 2-2, leg rest, USB charger, dan posisi penumpang yang dibuat lebih tinggi sehingga pandangan ke luar jendela lebih luas.[5] Misalnya, karoseri Jetbus 5 MHD yang dioperasikan PMTOH memiliki panjang 12.000 mm, lebar 2.500 mm, dan tinggi sekitar 3.710 mm, dengan bagasi luas dan fitur modern seperti port USB dan toilet.[7]
Sebelum adanya layanan maskapai penerbangan bertarif rendah dari berbagai maskapai penerbangan, jasa transportasi penumpang Sumatra–Jawa didominasi oleh angkutan bus yang dikategorikan sebagai bus antarkota. Ribuan kilometer Jalan Raya Lintas Sumatra diramaikan oleh ratusan operator bus yang melayani trayek antarkota di Sumatra, maupun trayek ke pulau Jawa. Pada masa jaya angkutan penumpang bus jarak jauh dari akhir dekade 1970-an hingga awal dekade 2000-an, beberapa operator bus di Sumatra berkembang menjadi besar. Di antara beberapa operator bus tersebut, PMTOH, bersama Kurnia Anugerah Pusaka (Aceh), ALS (Sumatera Utara), ANS dan NPM (Sumatera Barat), serta Gumarang Jaya (Lampung), mendominasi Jalan Raya Lintas Sumatra, baik lintas tengah maupun lintas timur.[8][9]
ALS dan PMTOH dikenal bersaing dalam "perebutan takhta" trayek terpanjang di Indonesia. Pada akhir dekade 1990-an hingga 2003, ALS pernah memegang rekor trayek terjauh, yakni Medan–Denpasar.[10] Saat ini, trayek terjauh ALS adalah Medan–Jember, dengan jarak mencapai 2.839 kilometer (1.764 mi).[11] Sementara itu, trayek terjauh bus PMTOH adalah Banda Aceh–Surakarta, Jawa Tengah, dengan jarak 3.000 kilometer (1.900 mi), menjadikan PMTOH sebagai pemegang rekor trayek bus terjauh Indonesia yang aktif pada saat ini.[1] Sebelumnya, PMTOH juga memiliki trayek yang lebih panjang lagi, yakni Banda Aceh–Yogyakarta, tetapi trayek tersebut sudah ditutup.[12]
Sekarang PMTOH hanya melayani rute Kota Banda Aceh–DKI Jakarta, Kota Medan–DKI Jakarta–Kota Bandung,[13] dan Banda Aceh–Kota Medan[14][15]