PT Sadaya Ampat Fokker Abadi Rukun Indah adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Dikenal sebagai pemain tetap di trayek antarkota dalam provinsi Semarang–Solo, perusahaan otobus ini dahulu menggunakan jenama Safari Eka Kapti, sebelum mengalami perpecahan internal. Kini, perusahaan ini mengoperasikan bus antarkota dan pariwisata dengan empat jenama: Royal Safari dan Taruna untuk bus antarkota dalam provinsi, Blue Star untuk bus pariwisata, dan Blue Line untuk bus antarkota antarprovinsi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bus antarkota dalam provinsi Royal Safari dengan trayek Solo–Semarang | |
| Sebelumnya | Safari Eka Kapti |
|---|---|
| Didirikan | 1979 (1979) |
| Kantor pusat | Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia |
| Wilayah layanan | Trayek Solo–Semarang |
| Jenis layanan | Bus antarkota dalam provinsi |
| Armada | 50 unit (2020) |
| Karyawan | 170 (2020) |
PT Sadaya Ampat Fokker Abadi Rukun Indah (keratabasa dari nama SAFARI) adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Dikenal sebagai pemain tetap di trayek antarkota dalam provinsi Semarang–Solo, perusahaan otobus ini dahulu menggunakan jenama Safari Eka Kapti, sebelum mengalami perpecahan internal. Kini, perusahaan ini mengoperasikan bus antarkota dan pariwisata dengan empat jenama: Royal Safari dan Taruna untuk bus antarkota dalam provinsi, Blue Star untuk bus pariwisata, dan Blue Line untuk bus antarkota antarprovinsi.
Safari Eka Kapti didirikan pada tahun 1979 di Kota Salatiga, Jawa Tengah, oleh dua orang pedagang sembako yang bernama "Koh Wiik" dan "Kon Shin"[1] (versi Budiasih 2002 menyebut pendirinya adalah satu orang bernama Hadi Wijaya).[2] Pendirian perusahaan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat akan transportasi antarkota yang aman, nyaman, dan terjangkau di tengah berkembangnya aktivitas ekonomi dan mobilitas penduduk Jawa Tengah pada akhir dekade 1970-an. Safari Eka Kapti mulai beroperasi dengan dua unit bus yang melayani trayek utama Solo–Salatiga–Semarang. Sejak awal berdirinya, perusahaan mengusung prinsip profesionalitas dan kenyamanan penumpang sebagai prioritas utama, sehingga cepat dikenal dan dipercaya oleh masyarakat di wilayah sekitarnya.[2]
Pada dekade 1980-an, Safari Eka Kapti mulai memperluas jaringan layanannya dengan menambah armada dan trayek baru. Perusahaan ini dikenal memiliki armada dengan standar tinggi untuk zamannya, menggunakan sasis dan mesin buatan Mercedes-Benz, yang dikenal tangguh dan nyaman. Ekspansi usaha tersebut turut menandai perubahan status perusahaan dari sekadar bisnis keluarga lokal menjadi operator transportasi antarkota yang cukup disegani di Jawa Tengah dan Jawa Timur.[2] Dikenal sebagai "raja akuisisi", Safari Eka Kapti banyak membeli bus dan trayek dari perusahaan otobus lain, terutama pada perusahaan otobus yang berada dalam kondisi sakit. Misalnya Raya Indah dengan jurusan Wonogiri–Solo–Semarang, serta Giri Indah trayek Wonogiri–Solo–Semarang pada 1987 (dan mengganti jenamanya menjadi Taruna).[1] Pada dekade ini pula, Safari Eka Kapti membuka trayek Semarang–Magelang–Yogyakarta (akuisisi PO Joko Kendil, menggunakan jenama Safari), serta membuka trayek Semarang–Purworejo, Semarang–Ponorogo, dan Semarang–Pacitan (ketiganya menggunakan jenama Duta Kartika).[2] Akuisisi terakhir dilakukan tahun 1990-an dengan mengakuisisi trayek AKDP PO Rajawali dan menggantinya dengan jenama Satria.[butuh rujukan]
Meski demikian, akusisi perusahaan otobus bermasalah tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Ketika mengakuisisi trayek PO Kembang Mas, sehubungan dengan pembukaan jenama baru Fajar Karya (kemudian Duta Kartika) pada 1985–1986, Safari Eka Kapti, yang kala itu dipimpin oleh Muhyiddin H.S., sempat menghadapi peristiwa penipuan yang melibatkan transaksi tiga unit bus oleh pihak terkait PO Kembang Mas. Kasus tersebut menjadi pelajaran penting bagi manajemen untuk memperkuat sistem administrasi dan keuangan perusahaan agar tetap kokoh menghadapi risiko bisnis di dunia transportasi.[3]
Memasuki tahun 1990-an, PO Safari Eka Kapti mencapai masa kejayaannya. Armada busnya semakin banyak beroperasi di jalur-jalur utama Pulau Jawa, seperti Semarang–Solo–Surabaya dan Yogyakarta–Jakarta. Di masa ini, perusahaan mulai dikenal luas karena layanan busnya yang mengedepankan ketepatan waktu dan kenyamanan penumpang. Struktur manajemen pun mulai ditata lebih profesional dengan adanya pembagian fungsi operasional, teknis, serta administrasi yang jelas. Keberhasilan Safari Eka Kapti mempertahankan mutu layanan dan memperluas jangkauan trayek menjadikannya salah satu perusahaan otobus ternama di Jawa Tengah dan menjadi inspirasi bagi banyak pelaku usaha transportasi lainnya.[4]
Setelah krisis finansial Asia 1997, Safari Eka Kapti merencanakan akan membuka perusahaan atau jenama khusus bus pariwisata. Dengan berdirinya Blue Star pada 2004, perjalanan Safari Eka Kapti dapat dikatakan memasuki babak baru dalam sejarah transportasi darat Indonesia. Di satu sisi, jenama eksisting Safari, Taruna, Satria, dan Duta Kartika tetap melanjutkan tradisi pelayanan yang telah dibangun sejak 1979; di sisi lain, Blue Star hadir sebagai wujud regenerasi dan semangat kewirausahaan baru dari keluarga besar pendiri Safari Eka Kapti.[1]

Pada tahun 2006, dinamika internal keluarga pendiri Safari Eka Kapti menyebabkan perbedaan pandangan mengenai arah bisnis perusahaan. Perbedaan visi tersebut terutama berkaitan dengan pembagian wilayah operasional, pengelolaan armada, dan rencana trayek baru. Stuasi ini pada akhirnya menyebabkan perusahaan ini pecah menjadi dua:[5]
Sejak awal beroperasinya, Safari Eka Kapti dan penerusnya Royal Safari setia menggunakan sasis dan mesin buatan Mercedes-Benz dari berbagai generasi.[2]
Pasca-perpecahan internal pada 2006, bus yang beroperasi adalah Royal Safari dan Taruna. Royal Safari memiliki fokus trayek antarkota dalam provinsi Semarang–Solo dengan didukung 170 karyawan dan 50 unit bus.[5]
Dua unit bus pariwisata Blue Star dengan karoseri Jetbus5 | |
| Induk | PT SAFARI |
|---|---|
| Didirikan | 2004 (2004) |
| Kantor pusat | Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia |
| Wilayah layanan | |
| Jenis layanan | |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Operator |
|
| Direktur Operasional | Andreas Dian Widjaja |
| Situs web | busbluestar |
PT Blue Star Karsa Unggul adalah anak usaha dari PT SAFARI yang khusus melayani bus pariwisata dan antar-jemput karyawan perusahaan dalam negeri, didirikan tahun 2004.[1] Blue Star merupakan salah satu perusahaan bus pariwisata yang cukup terkenal karena banyak melayani perusahaan-perusahaan swasta lokal dan asing, BUMN, sekolah, yayasan-yayasan sosial, hingga acara-acara keluarga (perkawinan). Bahkan bus-bus Blue Star juga disewa secara rutin untuk program mudik.[7] Di segmen bus antarkota antarprovinsi, perusahaan ini mengoperasikan jenama Blue Line.
Blue Star diketahui telah menggunakan berbagai macam sasis dan karoseri. Pada bus besarnya, Blue Star mengandalkan Mercedes-Benz OH 1626,[8] sementara bus sedangnya menggunakan Isuzu NQR 81 Euro 4.[9] Blue Star juga mengoperasikan unit bus kecil Isuzu Elf dan Toyota HiAce.[10]
Pada tahun 2003, Mercedes-Benz Indonesia (kini bernama Daimler Commercial Vehicles Indonesia) membeli satu-satunya sasis OH 1632 untuk Indonesia. Sasis tersebut awalnya digunakan untuk coaching clinic yang dilakukan di pusat pelatihan Mercedes-Benz di Ciputat, Tangerang Selatan. Seri ini juga diperkenalkan sebagai dari rencana MBI untuk menghadirkan bus berteknologi elektrik, lengkap dengan suspensi udara serta tenaga besar. Awalnya sempat dioperasikan oleh DAMRI, kemudian pada tahun 2011, Blue Star membeli bus tersebut. Bus ini awalnya jalan pariwisata, kemudian dialihkan ke bus antarkota (Blue Line) dengan trayek Matesih–Ciputat, sebelum akhirnya ditutup untuk fokus ke bisnis pariwisata lagi.[11]
Terkait dengan karoseri bus, Blue Star setia dengan karoseri bus produksi Adi Putro untuk bus besarnya, sementara bus sedangnya menggunakan karoseri bus buatam Piala Mas.[9] Tercatat bahwa sejak awal beroperasi, Blue Star dikenal selalu mengikuti tren karoseri bus buatan Adi Putro, mulai dari memesan karoseri Royal Coach Old Setra ke Adi Putro pada era 2000-an, sebelum perusahaan karoseri tersebut beralih ke model-model Travego, kemudian New Setra Jetbus2+,[11] maupun Jetbus3+. Yang terbaru adalah, Blue Star membeli 100 unit bus baru berkaroseri Jetbus5 HDD di atas sasis OH 1626.[12]
Pada 2020 dan 2021, menjelang Idulfitri, pemerintah Indonesia resmi melarang aktivitas mudik dan berwisata sebagai upaya penanganan pandemi Covid-19. Dalam keadaan tersebut, Blue Star menyatakan belum berani mengambil keputusan operasional atau menentukan kebijakan terkait keberangkatan mudik, karena menunggu keputusan final serta petunjuk resmi dari otoritas terkait.[13]
Karena bisnis pariwisata lesu, Blue Star meluncurkan bus antarkota antarprovinsi dengan jenama Blue Line di akhir 2020. Pada 2021, Blue Star yang selama beberapa waktu harus menunggu keputusan akhir pemerintah, melakukan penyesuaian tarif untuk AKAP yang dilayaninya. Berdasarkan laporan pada 21 April 2021, untuk rute dari wilayah DKI Jakarta menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur, tarif naik secara bertahap hingga mencapai Rp460.000 untuk tujuan Jawa Timur pada periode 30 April–5 Mei. Untuk layanan Blue Line sendiri, Blue Star hanya beroperasi pada kelas VIP, dengan 36 tempat duduk konfigurasi 2-2 serta mencakup fasilitas seperti air mineral, makanan ringan, dan toilet—meskipun belum dilengkapi dengan sandaran kaki.[14]