Kabupaten Wonosobo adalah sebuah wilayah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kecamatan Wonosobo Kota. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang di timur, Kabupaten Purworejo di selatan, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara di barat, serta Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal di utara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kabupaten Wonosobo | |
|---|---|
| Transkripsi bahasa daerah | |
| • Hanacaraka | ꦮꦤꦱꦧ |
| • Pegon | واناسابا |
| • Alfabet Jawa | Wånåsåbå |
| Julukan: Seribu Gunung | |
| Motto: | |
![]() Peta | |
| Koordinat: 7°21′41″S 109°55′36″E / 7.361389°S 109.926669°E / -7.361389; 109.926669 | |
| Negara | |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Dasar hukum | UU No. 13 Tahun 1950 |
| Hari jadi | 24 Juli 1825 |
| Ibu kota | Wonosobo |
| Jumlah satuan pemerintahan | Daftar
|
| Pemerintahan | |
| • Jenis | Pemerintah Daerah Kabupaten |
| • Bupati | Afif Nurhidayat |
| • Wakil Bupati | Amir Husein |
| • Sekretaris Daerah | Edi Rianto |
| • Ketua DPRD | Saman Halim Nurrohman |
| Luas | |
| • Total | 984,68 km2 (380,19 sq mi) |
| Populasi (2024)[2] | |
| • Total | 920.510 |
| • Kepadatan | 930/km2 (2,400/sq mi) |
| Demografi | |
| • Agama | |
| • Bahasa | Indonesia (resmi) Bahasa Jawa -Banyumasan (sebagian) -Kedu (sebagian) |
| • IPM | tinggi (2023) |
| Zona waktu | UTC+07:00 (WIB) |
| Kode pos | |
| Kode BPS | |
| Kode area telepon | +62 286 |
| Kode ISO 3166 | ID-JT |
| Pelat kendaraan | AA xxxx *F/*P/*Z |
| Kode Kemendagri | 33.07 |
| PAD | Rp.243.395.028.265.- |
| DAU | Rp.748.447.761.000.- (2015)[5] |
| Semboyan daerah | Wonosobo ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah) |
| Slogan pariwisata | Wonosobo, the Soul of Java |
| Flora resmi | Karika |
| Fauna resmi | Domba |
| Situs web | www |
| |
Kabupaten Wonosobo (bahasa Jawa: Hanacaraka: ꦮꦤꦱꦧ, Pegon: واناساباcode: jv is deprecated translit. Wånåsåbå) adalah sebuah wilayah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kecamatan Wonosobo Kota. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang di timur, Kabupaten Purworejo di selatan, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara di barat, serta Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal di utara.
Kabupaten Wonosobo berdiri pada 24 Juli 1825[6] sebagai kabupaten di bawah Kesultanan Yogyakarta seusai pertempuran dalam Perang Diponegoro. Kyai Moh. Ngampah, yang membantu Diponegoro, diangkat sebagai bupati pertama dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Setjonegoro.
Kata Wonosobo berasal dari Bahasa Jawa: Wanasaba, yang secara harfiah berarti "tempat berkumpul di hutan". Bahasa Jawa sendiri mengambilnya dari Bahasa Sanskerta: vanasabhā yang artinya kurang lebih sama. Kedua kata ini juga dikenal sebagai dua buku dari Mahabharata: "Sabhaparwa" dan "Wanaparwa".
Arti lambang daerah Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut:
Berdasarkan cerita rakyat, pada awal abad ke-17 tersebutlah 3 orang pengelana masing-masing bernama Kiai Kolodete, Kiai Karim dan Kiai Walik, mulai merintis permukiman yang diketahui saat ini bernama Wonosobo. Selanjutnya, Kiai Kolodete bermukim di Dataran Tinggi Dieng, Kiai Karim bermukim di daerah Kalibeber dan Kiai Walik bermukim di sekitar Kota Wonosobo sekarang.
Di kemudian hari, dikenal beberapa tokoh penguasa daerah Wonosobo seperti Tumenggung Kartowaseso sebagai penguasa daerah Wonosobo yang pusat kekuasaannya di Selomanik. Dikenal pula tokoh yang bernama Tumenggung Wiroduta sebagai penguasa Wonosobo yang pusat kekuasaannya di Pecekelan-Kalilusi, yang selanjutnya dipindahkan ke Ledok, Wonosobo, atau Plobangan saat ini.
Salah seorang cucu Kiai Karim juga disebut sebagai salah seorang penguasa Wonosobo. Cucu Kiai Karim tersebut dikenal sebagai Ki Singowedono yang telah mendapat hadiah suatu tempat di Selomerto dari Keraton Mataram serta diangkat sebagai penguasa daerah ini namanya diganti menjadi Tumenggung Jogonegoro. Pada masa ini pusat kekuasaan dipindahkan ke Selomerto. Setelah meninggal dunia, Tumenggung Jogonegoro dimakamkan di Desa Pakuncen.
Selanjutnya pada masa Perang Diponegoro (1825–1830), Wonosobo merupakan salah satu basis pertahanan pasukan pendukung Diponegoro. Beberapa tokoh penting yang mendukung perjuangan Diponegoro adalah Imam Misbach atau kemudian dikenal sebagai Tumenggung Kertosinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegaran, Gajah Permodo dan Kiai Muhamad Ngarpah.
Dalam pertempuran melawan Belanda, Kiai Muhamad Ngarpah berhasil memperoleh kemenangan yang pertama. Atas keberhasilan itu, Pangeran Diponegoro memberikan nama kepada Kiai Muhamad Ngarpah dengan nama Tumenggung Setjonegoro. Selanjutnya Tumenggung Setjonegoro diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelar nama Tumenggung Setjonegoro.
Eksistensi kekuasaan Setjonegoro di daerah Ledok ini dapat dilihat lebih jauh dari berbagai sumber termasuk laporan Belanda yang dibuat setelah Perang Diponegoro berakhir. Disebutkan pula bahwa Setjonegoro adalah bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke daerah Kota Wonosobo saat ini.
Dari hasil seminar Hari Jadi Wonosobo 28 April 1994, yang dihadiri oleh Tim Peneliti dari Fakultas Sastra UGM, Muspida, Sesepuh dan Pinisepuh Wonosobo termasuk yang ada di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Pimpinan DPRD dan Pimpinan Komisi serta Instansi Pemerintah Wonosobo yang telah menyepakati Hari Jadi Wonosobo jatuh pada tanggal 24 Juli 1825.
Sebagian besar area Kabupaten Wonosobo adalah daerah pegunungan. Bagian timur (perbatasan dengan Kabupaten Temanggung) terdapat dua gunung berapi: Gunung Sindoro (3.136 meter) dan Gunung Sumbing (3.371 meter). Daerah utara merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng, dengan puncaknya Gunung Prahu (2.565 meter), Telaga Menjer, dan Danau Cebong. Di sebelah selatan wilayah dataran rendah Wonosobo, terdapat Waduk Wadaslintang.
Ibu kota Kabupaten Wonosobo berada di tengah-tengah daerah kabupaten, yang merupakan daerah hulu Kali Serayu. Wonosobo dilintasi jalan provinsi yang menghubungkan Semarang-Purwokerto.
Batas wilayah Kabupaten Wonosobo yaitu :
| Utara | Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Batang |
| Timur | Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang |
| Selatan | Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kebumen |
| Barat | Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Kebumen |
Topografi wilayah Kabupaten Wonosobo memiliki ciri yang berbukit dan bergunung, terletak pada ketinggian antara 200 sampai 2.250 m di atas permukaan laut. Kelerengan merupakan suatu kemiringan tanah di mana sudut kemiringan dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang horizontal dan dinyatakan dalam persen. Kabupaten Wonosobo dibagi menjadi 7 wilayah kemiringan, yaitu :
Wilayah Kabupaten Wonosobo beriklim tropis basah dan kering (Am) dengan dua pola musim, yakni musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan di kabupaten ini berlangsung lebih panjang, yakni pada periode Oktober hingga Mei dengan intensitas yang tinggi sebagai akibat efek orografis wilayah ini yang berada di wilayah Pegunungan Serayu. Sementara itu, musim kemarau berlangsung cukup singkat pada periode Juni hingga September dan pada musim inilah wilayah Wonosobo mengalami Bediding atau periode suhu udara dingin di musim kemarau.
| Data iklim Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bulan | Jan | Feb | Mar | Apr | Mei | Jun | Jul | Agt | Sep | Okt | Nov | Des | Tahun |
| Rata-rata tertinggi °C (°F) | 26.3 (79.3) |
26.7 (80.1) |
26.7 (80.1) |
27.1 (80.8) |
27.0 (80.6) |
26.3 (79.3) |
25.9 (78.6) |
26.1 (79) |
27.2 (81) |
27.8 (82) |
26.9 (80.4) |
26.5 (79.7) |
26.71 (80.08) |
| Rata-rata terendah °C (°F) | 19.9 (67.8) |
20.1 (68.2) |
19.8 (67.6) |
19.5 (67.1) |
18.9 (66) |
18.2 (64.8) |
17.8 (64) |
17.7 (63.9) |
18.4 (65.1) |
19.1 (66.4) |
19.6 (67.3) |
20.1 (68.2) |
19.09 (66.37) |
| Presipitasi mm (inci) | 489 (19.25) |
464 (18.27) |
477 (18.78) |
403 (15.87) |
229 (9.02) |
124 (4.88) |
71 (2.8) |
43 (1.69) |
71 (2.8) |
221 (8.7) |
461 (18.15) |
539 (21.22) |
3.592 (141,43) |
| Rata-rata hari hujan | 20 | 19 | 19 | 17 | 11 | 7 | 4 | 3 | 4 | 10 | 18 | 21 | 153 |
| % kelembapan | 94 | 92 | 91 | 89 | 87 | 86 | 83 | 81 | 80 | 85 | 88 | 90 | 87.2 |
| Rata-rata sinar matahari harian | 5.2 | 5.3 | 5.9 | 6.2 | 6.7 | 7.3 | 7.9 | 8.2 | 7.5 | 6.7 | 6.1 | 5.6 | 6.55 |
| Sumber #1: Climate-Data.org[7] & Weather Atlas[8] | |||||||||||||
| Sumber #2: BMKG[9] | |||||||||||||

Artikel ini membutuhkan penyuntingan tata letak agar sesuai dengan pedoman Wikipedia. |
| Bupati Wonosobo | |
|---|---|
Lambang Kabupaten Wonosobo | |
| Kediaman | Kantor Bupati Wonosobo, Jawa Tengah |
| Masa jabatan | 5 Tahun |
| Pejabat pertama | Tumenggung Setjonegoro |
| Situs web | http://wonosobokab.go.id |
Berikut adalah Daftar Bupati Wonosobo dari masa ke masa. <onlyinclude>
| No | Foto | Nama Bupati | Awal Menjabat | Akhir Menjabat | Wakil Bupati | Keterangan | Ref. |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | K.R.T. Setjonegoro | 1825 | 1832 | ||||
| 2 | Tumenggung R. Mangoenkoesoemo | 1832 | 1857 | ||||
| 3 | Tumenggung R. Kertonegoro | 1857 | 1863 | ||||
| 4 | Tumenggung Tjokroadisoerdjo | 1863 | 1869 | ||||
| 5 | Tumenggung Soerjohadikoesoemo | 1869 | 1898 | ||||
| 6 | R. Tumenggung Soerjohadinegoro | 1898 | 1919 | ||||
| 7 | Adipati R.A. Sosrohadiprodjo | 1920 | 1944 | ||||
| 8 | R. Singgih
Hadipoero |
1944 | 1946 | ||||
| Masa Pemerintahan Indonesia | |||||||
| 9 | R. Soemindro | 1946 | 1950 | ||||
| 10 | R. Kadri | 1950 | 1954 | ||||
| 11 | R. Oemar Soerjokoesoemo | 1955 | 1955 | ||||
| 12 | R. Sangidi Hadisoetirto | 1955 | 1957 | ||||
| 13 | Rapingoen Wimbohadi Sedjono | 1957 | 1959 | Kepala Daerah | |||
| 14 | R. Wibowo Hellie | 1960 | 1967 | ||||
| 15 | Drs. R. Darodjat A.N.S | 1967 | 1974 | Bupati Kepala Daerah | |||
| 16 | R. Mardjaban | 1974 | 1975 | Pj. Bupati Kepala Daerah | |||
| 17 | Drs. Soekanto | 1975 | 1985 | Bupati Kepala Daerah | |||
| 18 | Drs. Poedjihardjo | 1985 | 1990 | Bupati Kepala Daerah | |||
| 19 | Drs. H. Soemadi | 1990 | 1995 | Bupati Kepala Daerah | |||
| 20 | Drs. H. Margono | 1995 | 2000 | Bupati Kepala Daerah | |||
| 21 | Drs. Trimarwan Nugrohadi | 2000 | 2005 | Drs. H. Abdul Kholiq Arif, M.Si | Bupati | ||
| 22 | Drs. H. Abdul Kholiq Arif, M.Si | 2005 | 2015 | H.Munthohar (2005-2010)
Dra. Hj. Maya Rosida, M.M. (2010-2015) |
Bupati | ||
| 23 | Eko Purnomo, S.E., M.M. | 2016 | 2021 | Ir. H. Agus Subagiyo, M.Si. | Bupati | ||
| 24 | H. Afif Nurhidayat, S.Ag | 26 Febuari 2021 | 20 Februari 2025 | amir Husein | Bupati | ||
Berikut ini adalah jumlah anggota DPRD Kabupaten Wonosobo sejak pemilihan umum 2004.
| Partai Politik | Jumlah Kursi dalam Periode | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| 2004–2009[1] | 2009–2014[2] | 2014–2019[3] | 2019–2024[4] | 2024–2029 | ||
| PKB | 12 | |||||
| Gerindra | (baru) 1 | |||||
| PDI-P | 14 | |||||
| Golkar | 6 | |||||
| NasDem | (baru) 4 | |||||
| PKS | 0 | |||||
| Hanura | (baru) 1 | |||||
| PAN | 6 | |||||
| Demokrat | (baru) 1 | |||||
| Perindo | (baru) 1 | |||||
| PPP | 6 | |||||
| PKNU | (baru) 2 | |||||
| Jumlah Anggota | 45 | |||||
| Jumlah Partai | 6 | |||||

Kabupaten Wonosobo terdiri dari 15 kecamatan, 29 kelurahan, dan 236 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 858.273 jiwa dengan luas wilayah 981,41 km² dan sebaran penduduk 874 jiwa/km².[5][6]
Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Wonosobo, adalah sebagai berikut:
| Kode Kemendagri | Kecamatan | Jumlah Kelurahan | Jumlah Desa | Kodepos[7] | Status | Daftar Desa/Kelurahan |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 33.07.12 | Garung | 1 | 14 | 56353 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.07.15 | Kalibawang | 8 | 56375 | Desa | ||
| 33.07.07 | Kalikajar | 1 | 18 | 56372 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.07.04 | Kaliwiro | 1 | 20 | 56364 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.07.13 | Kejajar | 1 | 15 | 56354 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.07.02 | Kepil | 1 | 20 | 56374 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.07.08 | Kertek | 2 | 19 | 56371 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.07.05 | Leksono | 1 | 13 | 56362 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.07.11 | Mojotengah | 3 | 16 | 56351 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.07.03 | Sapuran | 1 | 16 | 56373 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.07.06 | Selomerto | 2 | 22 | 56361 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.07.14 | Sukoharjo | 17 | 56363 | Desa | ||
| 33.07.01 | Wadaslintang | 1 | 16 | 56365 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.07.10 | Watumalang | 1 | 15 | 56352 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.07.09 | Wonosobo | 13 | 7 | 56311-56319 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| TOTAL | 29 | 236 |
Wonosobo adalah daerah dengan keadaan tanah yang begitu subur sehingga banyak sekali tanaman yang dapat tumbuh contohnya adalah sayuran. Mulai dari dataran tinggi Dieng sampai Kaliwiro (yang merupakan wilayah rendah) terdapat banyak sekali sayuran. berbagai macam sayuran dapat tumbuh seperti, kubis, kentang, seledri, daun kocai, sawi, mentimun, bayam, terong, cabai, kangkung, dan masih banyak tumbuhan yang termasuk jenis sayuran lain.
Di wilayah yang dijuluki kota dingin ini juga dapat tumbuh berbagai buah-buahan. Adapun buah yang dapat tumbuh adalah pisang, pepaya, durian, mangga, jambu, duku, rambutan, buah naga, nanas, kelengkeng, stroberi, anggur, manggis, dan lain-lain. Selain itu, ada beberapa buah-buahan yang tumbuh di dalam tanah yaitu singkong dan ubi jalar. Salah satu yang menjadi Buah Khas di Wonosobo adalah buah carica (Vasconcellea cundinamarcencis), buahnya mirip buah pepaya akan tetapi memiliki tekstur yang lebih keras sedikit dan ukurannya lebih kecil.
Kabupaten ini merupakan Jalur tengah antara Purwokerto–Semarang, jalan Provinsi Antara Purworejo–Wonosobo Dan Kebumen–Wonosobo via Wadaslintang–Prembun.
Angkutan Kota wilayah Kabupaten Wonosobo dan beberapa rute yang menghubungkan Kabupaten Temanggung dengan Kabupaten Banjarnegara
Jl. Pasar II - Jl. A. Yani - Jl. Kartini - Jl. Pemuda - Jl. Tirto Aji - Jl. Sabuk Alu - Jl. S. Parman - Jl. Mayjen Bambang Sugeng - Jl. Raya Magelang - Pangkalan Kertek - Jl. Raya Magelang - Jl. Mayjen Bambang Sugeng - Jl. S. Parman - Jl. K. Muntang - Jl. Tosari - Jl. Bhayangkara - Jl. Resimen 18 - Jl. Pasar II
Jl. Pasar I - Jl. A. Yani - Jl. Kartini - Jl. Pemuda - Jl. Masjid - Jl. Dieng - Sub Terminal Garung - Jl. Dieng - Jl. P. Ronggolawe - Jl. Sindoro - Jl. Angkatan 45 - Jl. S. Parman - Jl. Sumbing - Jl. Resimen 18 - Jl. Pasar I
Jl. Pasar I - Jl. A. Yani - Jl. Kartini - Jl. Pemuda - Jl. Masjid - Jl. Argo Peni - Jl. Kalibeber - Terminal Mojotengah - Jl. Kalibeber - Jl. Argo Peni - Jl. P Ronggolawe - Jl. Sindoro - Jl. Angkatan 45 - Jl. S. Parman - Jl. Sumbing - Jl. Resimen 18 - Jl. Pasar I
Jl. Pasar I - Jl. A. Yani - Jl. Kartini - Jl. Pemuda - Jl. Kauman - Jl. Mangli - Jl. Bumiroso - Jl. Gondang - Terminal Gondang - Jl. Gondang - Jl.Bumiroso - Jl Mangli - Jl. Kauman - Jl. Tirto Aji - Jl. Sindoro - Jl. Angkatan 45 - Jl. S. Parman - Jl. Sumbing - Jl. Resimen 18 - Jl. Pasar I
Jl. Pasar I - Jl. A. Yani - Jl. Kartini - Jl. Pemuda - Jl. Tirto Aji - Jl. Sabuk Alu - Jl. K. Muntang - Jl. A. Yani - Jl. Tjogo Negoro - Jl. Banyumas - Terminal Sawangan - Jl. Banyumas - Jl. Tjogo Negoro - Jl. A. Yani - Jl. R. Sumendro - Jl. Bhayangkara - Jl. Resimen 18 - Jl. Pasar I
Jl. Pasar II - Jl. A. Yani - Jl. Kartini - Jl. Pemuda - Jl. Tirto Aji - Jl. Sabuk Alu - Jl. K. Muntang - Jl. A. Yani - Jl. Tjogo Negoro - Jl. Banyumas - Jl. Leksono - Terminal Leksono - Jl. Leksono - Jl. Banyumas - Jl. Tjogo Negoro - Jl. A. Yani - Jl. R. Sumendro - Jl. Bhayangkara - Jl. Resimen 18 - Jl. Pasar II
Jl. Pasar II - Jl. A. Yani - Jl. Kartini - Jl. Pemuda - Jl. Tirto Aji - Jl. Sabuk Alu - Jl. S. Parman - Jl. Mayjen Bambang Sugeng - Jl. Wonolelo - Terminal Wonolelo - Jl. Wonolelo - Jl. Mayjen Bambang Sugeng - Jl S. Parman - Jl. K. Muntang - Jl. Tosari - Jl. Bhayangkara - Jl. Resimen 18 - Jl. Pasar II
Jl. Pasar II - Jl. A. Yani - Jl. Kartini - Jl. Pemuda - Jl. Tirto Aji - Jl. Sabuk Alu - Jl. K. Muntang - Jl. A. Yani - Jl. Kasiran - Pacarmulyo - Jl. Pacarmulyo - Gondang - Jl. Pacarmulyo - Gondang - Jl. Kasiran - Pacarmulyo - Jl A. Yani - Jl. R. Sumendro - Jl. Bhayangkara - Jl. Resimen 18 - Jl. Pasar II
Jl. Pasar I - Jl.A. Yani - Jl. Kartini - Jl. Pemuda - Jl. Masjid - Jl. Dieng - Jl. Manggisan Permai - Jl. Manggisan Lama - Jl. Limbangan - Terminal Limbangan - Jl. Limbangan - Jl.Manggisan Lama - Jl. Manggisan Permai - Jl. Dieng - Jl. P. Ronggolawe - Jl. Sindoro - Jl. Angkatan 45 - Jl. S. Parman - Jl. Sumbing - Jl. Resimen 18 - Jl. Pasar I
Jl. Pasar I - Jl. A. Yani - Jl. Kartini - Jl. Pemuda - Jl. Masjid - Jl. Dieng - Jl. Andongsili - Jl. Keseneng - Terminal Keseneng - Jl. Keseneng - Jl. Andongsili - Jl Dieng - Jl. P. Ronggolawe - Jl. Sindoro - Jl. Angkatan - Jl. S. Parman - Jl. Sumbing - Jl. Resimen 18 - Jl. Pasar I
Jl. Pasar II - Jl. A. Yani - Jl. Kartini - Jl. Pemuda - Jl. Tirto Aji - Jl. Sabuk Alu - Jl. K. Muntang - Jl. A. Yani - Jl. Kasiran - Pacarmulyo - Jl. Pacarmulyo - Wonokasian - Jl. Pacarmulyo - Gondang - Jl. Kasiran - Pacarmulyo - Jl A. Yani - Jl. R. Sumendro - Jl. Bhayangkara - Jl. Resimen 18 - Jl. Pasar II
Kabupaten Wonosobo memiliki 4 stasiun di Jalur kereta api Purwokerto–Wonosobo yang sudah berhenti beroperasi, di antaranya:
Bahasa yang dituturkan masyarakat Wonosobo adalah Bahasa Jawa Banyumasan dan Bahasa Jawa Kedu, hal ini dikarenakan letak geografis Kabupaten Wonosobo berada di perbatasan kedua dialek tersebut. Meskipun begitu terdapat sedikit perbedaan dengan dialek-dialek tersebut.[10] masyarakat Wonosobo, meskipun masih satu kabupaten akan tetapi memiliki berbagai macam dialek.
Dialek Banyumasan "logat A ngapak" digunakan Masyarakat Wonosobo utara yakni kecamatan di barat Gunung Sindoro hingga Dieng (meliputi Kejajar, Garung, Mojotengah, Watumalang), dialek Ngapak juga digunakan di Wonosobo barat dan barat daya (Sukoharjo, Leksono, Wadaslintang, Kaliwiro dan sebagian di kecamatan lain). dialek ngapak wonosobo berbeda dengan Dialek Banyumasan umumnya, dan lebih mirip dengan Dialek Banyumasan di Banjarnegara timur, misalnya penggunaan kata ngelih untuk lapar, sedangkan kencot di Wonosobo malah memiliki arti terinjak, selain itu sebagian masyarakat Wonosobo utara mengucapkan huruf y menjadi z misalnya mbok ayu (kakak perempuan) menjadi mbok azu,
sementara masyarakat Wonosobo yang berada di wilayah Kecamatan Wonosobo (kota) dan juga di beberapa Kecamatan sebelah timur dan tenggara yang dekat perbatasan Kabupaten Magelang memiliki dialek Kedu yang cukup kuat yakni "logat O" walaupun untuk sebagian kosakata terkadang di ucapkan dengan logat Ngapak, oleh karena itu setiap orang di Wonosobo dalam berbicara bahasa Jawa memiliki ciri khas masing-masing.
Tempat wisata alam di Kabupaten Wonosobo adalah:
Wonosobo masih kurang banyak akan wisata keluarga. Ada beberapa tempat wisata yang benar-benar kurang dikelola dengan baik. Tampaknya Pemerintah Daerah perlu bekerja sama dengan pihak swasta agar bermunculan tempat wisata menarik di Kabupaten Wonosobo.

Tempat wisata keluarga di Kabupaten Wonosobo antara lain adalah:
Ada beberapa festival di kota Wonosobo ini:
Kabupaten Wonosobo memiliki beberapa oleh-oleh khas, yaitu:
Kabupaten Wonosobo memiliki beberapa masakan khas, yaitu:
Kabupaten Wonosobo memiliki beberapa minuman khas, yaitu:
Kabupaten Wonosobo memiliki beberapa jajanan khas, yaitu:
Kabupaten Wonosobo memiliki beberapa seni budaya, yaitu:
.