Indriya (secara harfiah berarti "milik atau disetujui oleh Indra") adalah istilah dalam bahasa Sanskerta dan Pali untuk kekuatan atau kemampuan fisik secara umum,[1][2][3][4] dan secara khusus merujuk pada lima indra spiritual, lima atau enam indra indrawi, serta dua puluh dua indra fenomenologis.[a]
Etimologi
Indriya, secara harfiah berarti "milik atau disetujui oleh Indra," dewa utama dalam Regweda dan penguasa surga Tavatiṁsa (juga dikenal sebagai Sakka atau Śakra dalam agama Buddha). Oleh karena itu, indriya berkonotasi dengan supremasi (kekuasaan tertinggi), dominasi, dan kendali, yang dibuktikan dengan makna umumnya sebagai "kemampuan, kekuatan" dari Regweda.[5][6][7][8]
Dalam bahasa Sanskerta dan Pali Buddhis, istilah ini umumnya merujuk pada kekuatan atau kemampuan fisik, dan lebih khusus lagi pada lima indra spiritual, lima atau enam indra indrawi, atau dua puluh dua indra fenomenologis.
Lima indra spiritual
Dalam Suttapiṭaka dari Tripitaka Pali, "lima indra spiritual" (Pali: pañc'indriyāni), juga dikenal sebagai "lima akar spiritual", yang berkontribusi pada kondisi pikiran yang terjaga, adalah:[butuh rujukan]
SN 48.10 adalah salah satu dari beberapa diskursus yang mencirikan indra-indra spiritual ini dengan cara berikut:
Dalam SN 48.51, Buddha menyatakan bahwa, dari kelima indra ini, kebijaksanaan adalah yang "utama" (agga).[13]
Kelima indra ini tercantum dalam tujuh set kualitas yang dipuji oleh Buddha sebagai hal yang kondusif bagi Pencerahan (bodhipakkhiyādhammā).[14]
Menyeimbangkan lima indra spiritual
Dalam AN 6.55, Buddha menasihati seorang biku yang sedang putus asa, Sona, untuk menyeimbangkan atau "menyetel" indra spiritualnya seperti seseorang menyetel alat musik:
- "... bagaimana menurutmu: ketika senar [kecapimu] tidak terlalu tegang atau terlalu kendur, tetapi disetel pada nada yang tepat, apakah [kecapimu] selaras & dapat dimainkan?"
- "Ya, Yang Mulia."
- "Sama halnya, Sona, kegigihan (viriya) yang terlalu menggebu-gebu akan mengarah pada kegelisahan (uddhacca), viriya yang terlalu kendur akan mengarah pada kemalasan (kosajja). Oleh karena itu, engkau harus menentukan nada yang tepat untuk kegigihanmu, menyelaraskan nada [kelima] indra [dengan hal itu], dan di sanalah angkat tema/subjek meditasimu."[15][16]
Terkait hal ini, kitab Visuddhimagga dan kitab tafsir Pali pasca-kanonik lainnya[17] memperingatkan agar jangan sampai ada satu indra spiritual yang mendominasi dan menghambat keempat indra lainnya, dan karenanya merekomendasikan modifikasi indra yang mendominasi tersebut dengan penyelidikan fenomena (lihat dhamma vicaya) atau pengembangan ketenangan (samatha). Selain itu, kitab-kitab tafsir ini secara khusus menyarankan agar lima indra spiritual dikembangkan dalam pasangan yang saling menyeimbangkan:[butuh rujukan]
Perhatian-penuh (sati) |
| |
Keyakinan (saddhā) |
Pemahaman (paññā) |
|
Semangat (viriya) |
Konsentrasi (samādhi) |
Perhatian-penuh (sati) |
| Keseimbangan lima indra spiritual. |
|
- "Bagi orang yang kuat keyakinannya namun lemah pemahamannya (paññā), ia memiliki keyakinan (saddhā) yang tidak kritis dan tidak berdasar. Orang yang kuat pemahamannya namun lemah keyakinannya tersesat pada kelicikan dan sama sulitnya untuk disembuhkan seperti orang yang sakit karena penyakit yang disebabkan oleh obat-obatan. Dengan menyeimbangkan keduanya, seseorang memiliki keyakinan hanya ketika ada dasar yang kuat untuk itu." (Vism. Bab IV, §47, ¶1)
- "... Kemalasan menguasai orang yang kuat konsentrasinya (samādhi) dan lemah semangatnya (viriya), karena konsentrasi mendukung kemalasan. Kegelisahan (uddhacca) menguasai orang yang kuat semangatnya dan lemah konsentrasinya, karena semangat mendukung kegelisahan. Namun konsentrasi yang dibersamai dengan semangat tidak dapat jatuh ke dalam kemalasan, dan semangat yang dibersamai dengan konsentrasi tidak dapat jatuh ke dalam kegelisahan. Jadi, keduanya harus diseimbangkan; karena penyerapan (jhāna) muncul seiring dengan keseimbangan keduanya." (Vism. Bab IV, §47, ¶2)
- "... Orang yang melatih konsentrasi (samādhi) membutuhkan keyakinan (saddhā) yang kuat, karena dengan keyakinan dan kepercayaan seperti itulah ia mencapai penyerapan (jhāna)." (Vism. Bab IV, §48)
- "... Lalu ada [keseimbangan] konsentrasi (samādhi) dan pemahaman (paññā). Orang yang melatih konsentrasi membutuhkan penyatuan/kemanunggalan (ekaggatā) pikiran yang kuat, karena dengan itulah ia mencapai penyerapan (jhāna); dan orang yang melatih pandangan-terang (vipassanā) membutuhkan pemahaman yang kuat, karena dengan itulah ia mencapai penembusan karakteristik/corak umum; tetapi dengan keseimbangan keduanya, ia juga mencapai penyerapan." (Vism. Bab IV, §48)
Penafsir Buddhaghosa menambahkan:
- "Akan tetapi, perhatian-penuh (sati) yang kuat dibutuhkan dalam segala keadaan; karena perhatian-penuh melindungi pikiran agar tidak jatuh ke dalam kegelisahan (uddhacca) melalui keyakinan (saddhā), semangat (viriya), dan pemahaman (paññā), yang mendukung kegelisahan; dan dari jatuh ke dalam kemalasan melalui konsentrasi (samādhi), yang mendukung kemalasan." (Vism. Bab IV, §49).[18]
Hubungan dengan lima kekuatan
Dalam Sāketa Sutta (SN 48.43), Sang Buddha menyatakan bahwa pañcindriya dapat menjadi pañcabala, dan pañcabala dapat menjadi pañcindriya.
“
| “Ada metode penjelasan, para bhikkhu, yang dengannya lima indria (pañcindriya) menjadi lima kekuatan (pañcabala) dan lima kekuatan menjadi lima indria. Dan apakah metode penjelasan itu? Yaitu bahwa indria keyakinan (saddhindriya) adalah kekuatan keyakinan (saddhābala); bahwa kekuatan keyakinan adalah indria keyakinan. Bahwa indria kegigihan (vīriyindriya) adalah kekuatan kegigihan (vīriyabala); bahwa kekuatan kegigihan adalah indria kegigihan. Bahwa indria perhatian (satindriya) adalah kekuatan perhatian (satibala); bahwa kekuatan perhatian adalah indria perhatian. Bahwa indria konsentrasi (samādhindriya) adalah kekuatan konsentrasi (samādhibala); bahwa kekuatan konsentrasi adalah indria konsentrasi. Bahwa indria kebijaksanaan (paññindriya) adalah kekuatan kebijaksanaan (paññābala); bahwa kekuatan kebijaksanaan adalah indria kebijaksanaan. |
”
— Sāketa Sutta, SN 48.43 terj. Indra Anggara |
Beliau kemudian menggunakan metafora sungai yang melewati pulau di tengah sungai; pulau ini menciptakan aliran sungai ganda, tetapi aliran sungai tersebut juga dapat dilihat sebagai satu aliran sungai tunggal dengan metode penjelasan tertentu.[19]
“
| “Adalah, para bhikkhu, karena ia telah mengembangkan dan melatih kelima indria (pañcindriya) ini maka seorang bhikkhu, dengan hancurnya noda-noda (āsava), dalam kehidupan ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran yang tanpa noda (anāsavaṁ cetovimuttiṁ), kebebasan melalui kebijaksanaan (paññāvimutti), menembus untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung (abhiññā).” |
”
— Sāketa Sutta, SN 48.43 terj. Indra Anggara |
Kitab komentar Pāli menyatakan bahwa kelima kualitas ini adalah "indra/kemampuan" (indriya) ketika digunakan untuk mengendalikan lingkup pengaruhnya, dan merupakan "kekuatan" (bala) ketika tidak tergoyahkan oleh kekuatan-kekuatan yang berlawanan.[20]
Enam indra indrawi
Dalam Suttapiṭaka, enam indra indrawi dirujuk dengan cara yang mirip dengan saḷāyatana ('enam pusat pengalaman', 'enam landasan indra', 'enam ranah indra'). Indra-indra ini terdiri dari pancaindra (lima indra) ditambah dengan "pikiran" atau "batin" (mana) sebagai yang keenam:[21] (penambahan tanda hubung untuk istilah Pali dalam kurung hanya untuk kemudahan pembacaan)
- indra penglihatan (cakkh-indriya)
- indra pendengaran (sot-indriya)
- indra penciuman (ghān-indriya)
- indra pengecapan (jivh-indriya)
- indra sentuhan (kāy-indriya)
- indra pikiran/batin (man-indriya)
Kelima indra yang pertama terkadang dirujuk sebagai pancaindra fisik (misalnya, pañcannaṃ indriyānaṃ avakanti).[21]
Dua puluh dua indra
Dalam Abhidhammapiṭaka, pengertian indriya diperluas menjadi dua puluh dua "indra fenomenologis" atau "kekuatan pengendali" (Pali: bāvīsati indriyāni)[22] yaitu: (penambahan tanda hubung untuk istilah Pali dalam kurung hanya untuk kemudahan pembacaan)
- indra mata/penglihatan (cakkh-indriya)
- indra telinga/pendengaran (sot-indriya)
- indra hidung/penciuman (ghān-indriya)
- indra lidah/pengecapan (jivh-indriya)
- indra tubuh/sentuhan (kāy-indriya)
- indra pikiran/batin (man-indriya)
- femininitas (itth-indriya)
- maskulinitas (puris-indriya)
- kehidupan atau vitalitas (jīvit-indriya)
- rasa senang fisik/jasmaniah (sukh-indriya)
- rasa sakit fisik/jasmaniah (dukkh-indriya)
- sukacita mental/batiniah (somanass-indriya)
- dukacita mental/batiniah (domanass-indriya)
- keseimbangan/ketidakberpihakan batin (upekkh-indriya)
- keyakinan (saddh-indriya)
- semangat (viriy-indriya)
- perhatian penuh (sat-indriya)
- konsentrasi (samādhi-indriya)
- kebijaksanaan (paññ-indriya)
- tiga indra-pengetahuan yang terakhir
- pemikiran "Aku akan mengetahui yang belum diketahui" (anaññāta-ñassāmīt-indriya)
- pengetahuan-tertinggi, pengetahuan-sempurna (aññ-indriya)
- orang yang telah mengetahui, yang pengetahuannya telah disempurnakan (aññātā-vindriya)
Menurut kitab risalah pasca-kanonik Visuddhimagga, 22 indra ini bersama dengan konsep-konsep seperti gugusan, landasan indra, Empat Kebenaran Mulia, dan Kemunculan Bersebab merupakan "tanah" bagi tumbuhnya kebijaksanaan (paññā).[24]
Pengelompokan indra lainnya
Dalam Tripitaka Pali, terkadang diskursus atau bagian-bagian Abhidhamma yang berbeda akan merujuk pada himpunan bagian yang berbeda dari 22 indra fenomenologis ini. Demikian pula, sebagai contoh, dalam Abhidhammapiṭaka terdapat rujukan pada "indra bentuk/materi berunsur delapan" (aṭṭhavidhaṃ indriya-rūpaṃ) yang mencakup lima indra indrawi pertama (indra mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh) ditambah tiga indra fisik (femininitas, maskulinitas, dan vitalitas).[25]
Catatan
- ↑ Bodhi (2000) menerjemahkan indriya sebagai "indra spiritual" dan, terkadang (terutama saat merujuk pada sumber-sumber Abhidhamma Theravāda), "indra." Buddhaghosa & Ñāṇamoli (1999) secara konsisten menerjemahkan indriya sekadar sebagai "indra" baik dalam konteks lima indra spiritual (misalnya, hlm. 128-9) maupun 22 indra fenomenologis (Bab XVI). Conze (1993) menyebutkan dan menggunakan terjemahan "indra," "indra pengendali," dan "indra spiritual,"; dan merujuk pada lima indriya sebagai "kebajikan utama." Thanissaro (1998) menggunakan "indra." Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 122-123, entri untuk "Indriya," (diakses 2007-05-27) mendefinisikannya sebagai: "Indriya adalah salah satu kategori yang paling komprehensif & penting dalam filsafat psikologis & etika Buddhis, yang berarti 'prinsip pengendali, kekuatan pengarah, élan, dynamis'...: (a) dengan rujukan pada daya tangkap indra 'fakultas, fungsi'...."
Referensi
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1509
- ↑ Conze (1993), n. 1
- ↑ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 122, entry "indriya"
- ↑ Thanissaro (1998), Part II, sec. E, "The Five Faculties."
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1509
- ↑ Conze (1993), n. 1
- ↑ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 122, entry "indriya"
- ↑ Thanissaro (1998), Part II, sec. E, "The Five Faculties."
- ↑ Sebagai alternatif, SN 48.8 dan AN 5.15 mengidentifikasi "keyakinan" sebagai rujukan pada keyakinan empat ganda dari pemasuk-arus (sotāpanna) yang oleh Conze (1993), n. 28, dan Nyanaponika & Bodhi (1999), hlm. 297, n. 9, diidentifikasi sebagai keyakinan pada Tiga Permata dan "moralitas yang sempurna."
- ↑ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 685, mendefinisikan "samādhi" pertama-tama sebagai "konsentrasi; kondisi pikiran dan meditasi yang terkonsentrasi, terpusat pada diri sendiri, dan penuh perhatian ...." Shankman (2008), hlm. 3, mencatat: "Samādhi, umumnya diterjemahkan sebagai 'konsentrasi' ..." (meskipun, bukunya dimulai dengan, "Istilah samādhi pada dasarnya berarti 'ketidakteralihan'"). Samādhi telah diterjemahkan sebagai "konsentrasi" oleh penerjemah kontemporer termasuk Bodhi (2000, di seluruh bagian) dan Thanissaro (1997a).
- ↑ Dalam Shankman (2008), hlm. 169, saat wawancara, Ajahn Brahmavamso menyatakan: "'Konsentrasi' tidak pernah menjadi terjemahan yang sangat baik untuk samādhi, dan saya telah beralih dari itu ke 'ketenangan yang penuh perhatian.'" Feldman (2023), sebagai bagian dari pengantar seri daring selama sebulan tentang samādhi, menulis: "[Sang Buddha] berbicara tentang penggunaan kekuatan samādhi — kekuatan ketenangan dan keterhubungan — dalam beralih ke pengembangan pemahaman dan pembebasan dalam pandangan terang."
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1671-73; dan, Thanissaro (1997a).
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1695.
- ↑ Sementara kitab tafsir Pali secara konsisten menggunakan istilah bodhipakkhiyā dhammā ("kondisi-kondisi yang kondusif bagi pencerahan") untuk merujuk pada tujuh set kualitas pencerahan (yaitu, empat landasan perhatian, empat usaha benar, empat landasan kemampuan, lima indra, lima kekuatan, tujuh bojjhaṅga, dan Jalan Mulia Berunsur Delapan) (lihat, misalnya, Bodhi, 2000, hlm. 1937, n. 235), pencarian tipitaka SLTP Sinhala (menggunakan mesin pencari Universitas La Trobe di "La Trobe University: Pali Canon Online Database". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-09-27. Diakses tanggal 2007-11-21.) menemukan frasa Pali bodhipakkhiyā dhammā hanya muncul sekali dalam sutta-sutta awal: di Sālā Sutta (SN 48.51) di mana istilah tersebut merujuk semata-mata pada lima indra spiritual ini yaitu keyakinan (saddhā), semangat (viriya), perhatian-penuh (sati), konsentrasi (samādhi), dan kebijaksanaan (paññā) (Bodhi, 2000, hlm. 1695).
- ↑ Thanissaro (1997b). Lihat juga Nyanaponika & Bodhi (1999), hlm. 168-70. Mengikuti Nyanaponika & Bodhi, kata Pali vīṇā (yang dibiarkan tidak diterjemahkan oleh Thanissaro) diterjemahkan di sini sebagai "kecapi"; frasa dalam kurung siku lainnya berasal dari Thanissaro (1997b). Dalam Nyanaponika & Bodhi (1999), mereka menerjemahkan baris terakhir kutipan ini sebagai: "Oleh karena itu, Soṇa, jaga keseimbangan energimu, tembuslah keseimbangan indra-indra spiritual, dan di sana raihlah objekmu." Dalam catatan akhir terkait (hlm. 301-2, n. 31), mereka memberikan interpretasi tafsir tentang "objek, tanda meditasi" (nimitta) sebagai: "Bila keseimbangan seperti itu ada, objek dapat muncul dengan jelas, sama seperti bayangan wajah di cermin; dan Anda harus meraih objek ini, baik itu berupa ketenangan, pandangan terang, jalan atau buah."
- ↑ Lihat juga Aggi Sutta ("Khotbah Api," SN 46.53) di mana, dalam konteks tujuh faktor pencerahan, Buddha menasihati bahwa seseorang harus mengembangkan semangat (dan faktor-faktor lainnya) saat mengalami pikiran yang lesu dan mengembangkan konsentrasi (dan faktor-faktor lainnya) saat mengalami pikiran yang gelisah (Bodhi, 2000, hlm. 1605-7).
- ↑ Misalnya, dalam catatan akhir yang terkait dengan AN 6.55, Nyanaponika & Bodhi (1999, hlm. 301-2, n. 31) merujuk pada Aṅguttara Aṭṭhakathā (tafsir AN).
- ↑ Kutipan langsung dari Visuddhimagga berasal dari Buddhaghosa & Ñāṇamoli (1999), hlm. 128-9. Juga disebutkan dalam Bodhi (2000), hlm. 1511; dan, Conze (1993), Bagian II, bab 5, "The Balance of the Faculties."
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1688-89.
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1511.
- 1 2 Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 122-23.
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1508-1509, menyebut ke-22 indra ini sebagai "indra fenomenologis"; sedangkan Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 122-3, entri tentang "indriya" menyebut ke-22 indra ini sebagai "kekuatan pengendali."
- ↑ Lima indra perasaan pada dasarnya adalah skala yang diperluas dari ketiga vedanā, di mana perasaan/sensasi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dibagi lagi dalam pengalaman fisik/jasmaniah dan mental/batiniah (lihat, misalnya, Bodhi, 2000, hlm. 1510).
- ↑ Buddhaghosa & Ñāṇamoli (1999), hlm. 442-443.
- ↑ Lihat, misalnya, Dhs. 709-717, 971-973 (Rhys Davids, 2003, hlm. 215-217, 247); dan, Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 122-123.
Sumber
- Bodhi, Bhikkhu (trans.) (2000). The Connected Discourses of the Buddha: A Translation of the Samyutta Nikaya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-331-1.
- Buddhaghosa, Bhadantacariya & Bhikkhu Ñāṇamoli (trans.) (1999). The Path of Purification: Visuddhimagga. Seattle, WA: BPS Pariyatti Editions. ISBN 1-928706-00-2.
- Conze, Edward (1980, 1993). The Way of Wisdom: The Five Spiritual Faculties (The Wheel Publication No. 65/66). Kandy: Buddhist Publication Society. Diakses pada 2007-05-27 dari "Access to Insight" di: http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/conze/wheel065.html.
- Feldman, Christina (Jan. 5, 2023). Why Did the Buddha Cultivate Samadhi? Diakses 2024-05-04 dari "Tricycle" di https://tricycle.org/article/buddha-samadhi/.
- Nyanaponika Thera & Bhikkhu Bodhi (trans.) (1999). Numerical Discourses of the Buddha: An Anthology of Suttas from the Anguttara Nikaya. Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. ISBN 0-7425-0405-0.
- Rhys Davids, Caroline A. F. ([1900], 2003). Buddhist Manual of Psychological Ethics, of the Fourth Century B.C., Being a Translation, now made for the First Time, from the Original Pāli, of the First Book of the Abhidhamma-Piṭaka, entitled Dhamma-Sangaṇi (Compendium of States or Phenomena). Kessinger Publishing. ISBN 0-7661-4702-9.
- Rhys Davids, T.W. & William Stede (eds.) (1921-5). The Pali Text Society’s Pali–English Dictionary. Chipstead: Pali Text Society. Mesin pencari daring umum untuk PED tersedia di http://dsal.uchicago.edu/dictionaries/pali/.
- Shankman, Richard (2008). The Experience of Samādhi: An In-depth Exploration of Buddhist Meditation. Boston & London: Shambhala. ISBN 978-1-59030-521-8.
- Thanissaro Bhikkhu (1996, 1998). Wings to Awakening: An Anthology from the Pali Canon. Diakses 2007-05-27 dari "Access to Insight" di: http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/thanissaro/wings/index.html.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1997a). Indriya-vibhanga Sutta: Analysis of the Mental Faculties (SN 48.10). Diakses 2007-05-27 dari "Access to Insight" di: http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn48/sn48.010.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1997b). Sona Sutta: About Sona (AN 6.55). Diakses 2008-04-15 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an06/an06.055.than.html.
|
|---|
|
|
| |
|---|
|
|
|---|
| |
|---|
| | Buddha saat ini dan keluarga | |
|---|
| 4 tempat suci utama | |
|---|
| Buddha penting sebelumnya | |
|---|
| Buddha selanjutnya | |
|---|
| Bawahan | |
|---|
| Mahāyāna-Vajrayāna | |
|---|
|
|---|
| |
|---|
| |
|---|
| |
|---|
| |
|---|
|