PT Hiba Utama adalah kelompok perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Jakarta dan dikenal sebagai salah satu pemain besar dalam industri transportasi darat nasional. Kelompok usaha ini membawahi sekitar 16 jenama dan perusahaan otobus yang beroperasi di berbagai wilayah, meliputi Pulau Jawa, Bali, dan Sumatra. Layanan yang disediakan pun sangat beragam, mulai dari angkutan bus antarkota, bus pariwisata, bus antar-jemput karyawan, hingga bus perkotaan yang melayani kawasan Jabodetabek. Dengan skala operasional yang luas dan jaringan layanan yang menyeluruh, Hiba Group termasuk dalam jajaran perusahaan otobus swasta terbesar dan terkaya di Indonesia, mengoperasikan sekitar 2.000 armada bus yang beroperasi setiap hari, dan menempati posisi setelah Mayasari Bakti dalam hal jumlah armada.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Didirikan | 1949 (1949) |
|---|---|
| Kantor pusat | Jalan Raya Bekasi km 17, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, Indonesia |
| Wilayah layanan | |
| Jenis layanan |
|
| Garasi | |
| Armada | 2.000 unit (Hino dan Mercedes-Benz) |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Operator |
|
| Direktur Utama | Jacobus Irawan |
| Situs web | hibautama |
PT Hiba Utama (Hiba Group) adalah kelompok perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Jakarta dan dikenal sebagai salah satu pemain besar dalam industri transportasi darat nasional. Kelompok usaha ini membawahi sekitar 16 jenama dan perusahaan otobus yang beroperasi di berbagai wilayah, meliputi Pulau Jawa, Bali, dan Sumatra. Layanan yang disediakan pun sangat beragam, mulai dari angkutan bus antarkota, bus pariwisata, bus antar-jemput karyawan, hingga bus perkotaan yang melayani kawasan Jabodetabek.[1] Dengan skala operasional yang luas dan jaringan layanan yang menyeluruh, Hiba Group termasuk dalam jajaran perusahaan otobus swasta terbesar dan terkaya di Indonesia, mengoperasikan sekitar 2.000 armada bus yang beroperasi setiap hari, dan menempati posisi setelah Mayasari Bakti dalam hal jumlah armada.[2]
Kantor pusat sekaligus garasi utama Hiba Group berlokasi di Jalan Raya Bekasi km 17, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, yang menjadi pusat pengendalian operasional perusahaan.[3] Selain itu, perusahaan ini juga memiliki garasi kedua yang terletak di kawasan Cakung, Jakarta Timur, untuk mendukung kelancaran operasional armada yang besar.[4] Tidak hanya bergerak di bidang angkutan bus, Hiba Group juga melakukan diversifikasi usaha dengan membuka layanan sewa mobil, jasa kurir dan logistik, serta pernah mengembangkan unit usaha taksi. Di samping itu, kelompok usaha ini turut merambah sektor otomotif dengan membuka dealer resmi Hino Motors, sehingga memperkuat posisinya sebagai kelompok usaha transportasi dan pendukung transportasi yang terintegrasi[5][6]
Hiba Utama pertama kali berdiri pada tahun 1949 dengan nama Hiba, didirikan oleh Hermawan Singgih. Pada masa awal operasinya, perusahaan otobus ini mengelola layanan bus pariwisata. Seiring perkembangan bisnis, Hiba memperluas layanan dengan mengoperasikan bus antar-jemput serta menyediakan jasa sewa mobil.[5][6] Ketika didirikan, perusahaan ini memulai usaha dengan modal berupa 20 unit truk.[7]
Memasuki tahun 1973, Hiba telah mengoperasikan bus bermesin Mercedes-Benz OM 321 serta mengembangkan layanan sewa mobil dengan armada Ford Falcon dan Datsun keluaran 1972.[8] Pada periode tersebut, kantor pusat sekaligus garasi utama perusahaan berada di Jalan Garuda, Kemayoran, Jakarta Pusat, yang menjadi lokasi resmi pendirian perusahaan otobus tersebut.[9]
Hiba, yang kemudian dikenal sebagai Hiba Utama, merupakan salah satu perusahaan otobus prestisius di kawasan Jabotabek, meskipun perjalanan menuju posisi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Pada 8 Januari 1979 terjadi insiden penyanderaan pimpinan perusahaan oleh 12 karyawan, sebuah peristiwa yang mencerminkan dinamika ketenagakerjaan yang keras pada masa itu sekaligus menunjukkan bahwa perusahaan telah tumbuh cukup besar sehingga masalah internal pun ikut berkembang. Hingga diberitakan oleh Suara Karya pada 20 Mei 1980, kasus tersebut bahkan belum terselesaikan secara tuntas. Pada fase ini pula Hiba Utama sedang beradaptasi dengan tata kelola industri transportasi yang semakin modern, di tengah tuntutan profesionalisme dan ekspansi armada yang semakin besar.[9]
Memasuki dekade 1980-an, peran Hiba Utama dalam dunia transportasi Jabotabek semakin mendapatkan legitimasi formal. Perusahaan ini diakui sebagai salah satu operator bus yang berhak melayani angkutan pariwisata di bawah regulasi Pemerintah DKI Jakarta. Pengakuan tersebut menempatkan Hiba Utama sejajar dengan operator besar lain seperti PPD, Big Bird, Arion, Permai, dan Pluit Jaya, menandakan bahwa kualitas layanan serta kapasitas operasional perusahaan dianggap memenuhi standar tinggi.[10] Kepercayaan pemerintah dan masyarakat terhadap Hiba Utama semakin meningkat ketika, saat para pengemudi PPD menggelar aksi menuntut gaji ke-14 pada 16 Januari 1980, perusahaan ini ikut mengerahkan armada bantuan agar penumpang tetap terangkut, meski tidak terlibat dalam aksi tersebut.[11]
Kepercayaan yang semakin besar itu kembali terlihat ketika pada 8 Juni 1980, Hiba Utama dipercaya sebagai mitra transportasi resmi untuk penyelenggaraan Pemilihan Remaja Teladan 1980, dengan menyediakan 25 bus pariwisata untuk kegiatan tur para peserta. Perusahaan kemudian memperluas perannya dalam sektor pariwisata dan logistik. Pada tahun 1987, Hiba Utama menjadi penyedia angkutan bagi wisatawan yang menuju Kepulauan Seribu melalui Marina Ancol,[12] sekaligus terlibat dalam transportasi menuju Pasar Induk bersama Kabapin Jaya dan Wahana Jaya Baru. Kemitraan-kemitraan ini menunjukkan bahwa Hiba Utama bukan hanya pemain penting dalam mobilitas wisatawan, tetapi juga bagian dari sistem distribusi logistik yang membutuhkan ketepatan serta manajemen armada yang dapat diandalkan.[13]
Peran Hiba Utama dalam layanan angkutan musiman pun semakin terlihat ketika pada Mei 1987, perusahaan ini tercatat sebagai salah satu operator yang menyiapkan armada tambahan untuk melayani lonjakan penumpang pada musim mudik Lebaran. Bersama lebih dari 20 perusahaan otobus lain seperti Pluit Jaya, Arion, ATS, Gumarang Jaya, dan lainnya, Hiba Utama beroperasi dengan standar tarif sebesar Rp10,40 per km sesuai ketetapan Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya kala itu.[14] Pada akhir tahun yang sama, bus-bus pariwisata Hiba Utama sudah digunakan untuk perjalanan wisata ke berbagai daerah di Jawa, Bali, dan Sumatra, didukung oleh satu kantor pusat, empat kantor perwakilan, dan garasi bus yang berlokasi di Klender, Kemayoran, Kebayoran Baru, Grogol, dan Tomang Raya. Perusahaan juga dikenal sigap menghadapi musim hujan dengan melakukan pemeriksaan mesin, rem, dan ban secara berkala, sejalan dengan perhatian khusus Wakil Direktur Utama kala itu Krisna Hidayat terhadap keselamatan dan profesionalisme pengemudi.[15]
Pada tahun 1988, harian Neraca melaporkan bahwa bus-bus Hiba Utama banyak disewa untuk keperluan wisata mulai dari rombongan domestik, mancanegara, hingga sekolah dan perguruan tinggi. Dengan armada sebanyak 170 unit bus ber-AC dan non-AC yang dirawat secara berkala, perusahaan menekankan kenyamanan dan keamanan sebagai nilai utama. Selain penguatan armada, Hiba Utama juga membentuk wadah internal untuk mempererat hubungan antarkaryawan serta meningkatkan produktivitas, sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi perusahaan. Seluruh langkah ini menunjukkan bagaimana Hiba Utama berkembang sebagai aktor penting dalam dunia angkutan pariwisata dan logistik Indonesia pada era 1980-an, sembari terus meningkatkan kualitas layanan dan pengelolaan sumber daya manusia.[16][7]
Sepanjang dekade 1990-an, Hiba Utama memainkan peranan penting dalam penataan transportasi umum Jakarta. Meski menjadi operator resmi dengan posisi strategis, perusahaan ini menghadapi tantangan terkait armada tua yang kerap menjadi target penertiban bersama operator lain seperti Setianegara dan Sahabat, serta angkot ilegal. Bus-bus yang tidak laik jalan ini menimbulkan risiko kecelakaan, sehingga Dinas Perhubungan sering melakukan operasi gabungan dan penyegelan.[17]
Di sisi lain, isu keselamatan turut membayangi reputasi perusahaan. Dua kecelakaan besar terjadi dalam periode tersebut: kecelakaan pada 24 April 1990 di jembatan Balonggandu yang menewaskan sembilan orang dan membuat arus lalu lintas di Jalan Tol Jakarta–Cikampek dialihkan ke jalan raya Purwakarta–Subang,[18] serta tabrakan dengan bus milik PO Muncul pada 12 Februari 1997 di Brebes yang menewaskan lima orang.[19] Insiden-insiden ini memperkuat sorotan terhadap keselamatan operasional Hiba Utama.
Walau dihadapkan berbagai persoalan, Hiba Utama tetap dilibatkan dalam kebijakan strategis transportasi publik. Perusahaan ini berperan menyediakan armada bantuan saat mogok massal pengemudi bus MetroMini pada 7 September 1994[20] dan saat pengalihan 110 unit bus PPD untuk kebutuhan KTT APEC 1994.[21] Hiba Utama juga dipercaya sebagai operator armada bantuan mudik, terutama pada musim Lebaran 1995 dan 1998, karena statusnya sebagai operator besar dan berizin.[22][23]
Pada Januari 1997, Hiba Utama meraih penghargaan Adikaryottama Wisata, yaitu penghargaan tertinggi di bidang jasa pariwisata. Hiba Utama dinilai mampu mempertahankan prestasi selama empat tahun berturut-turut (Adikarya Wisata 1993–1996) sebagai penyedia layanan bus pariwisata yang dinilai unggul dan profesional. Penghargaan ini diberikan oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta, dalam sebuah acara resmi yang juga dihadiri pejabat pemerintah, sebagai bentuk pengakuan atas konsistensi kualitas pelayanan, kontribusi terhadap pengembangan pariwisata, serta kemampuannya bersaing dan beradaptasi dengan kebutuhan sektor pariwisata yang terus berkembang.[24]
Menjelang akhir dekade 1990-an, Hiba Utama mulai memperluas bisnisnya dari pariwisata ke layanan bus reguler (perkotaan dan antarkota). Pada 24 Maret 1997, tercatat bahwa Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta sedang memproses izin trayek reguler Hiba Utama. Hal ini merupakan prasyarat untuk membuka layanan Patas AC guna menjawab kebutuhan masyarakat akan transportasi terjangkau.[25] Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Krisna Hidayat, perusahaan meluncurkan tiga jenama baru—Laju Utama, Bela Utama, dan Laju Prima—dengan yang terakhir Laju Prima memulai debut pada 2002 melalui trayek Merak–Bandung dan Merak–Kampung Rambutan.[26]
Mengawali dekade 2000-an, Hiba Group telah memiliki layanan yang lengkap, mulai dari bus perkotaan, bus pariwisata, dan bus antarkota. Namun, isu keselamatan dan dinamika pasar masih membayangi reputasi perusahaan otobus ini: Meskipun telah menjadi nama besar dalam sejarah transportasi bus di Indonesia, kualitas layanan dan keselamatan armadanya pernah menjadi sorotan publik. Memasuki tahun 2005, Hiba Utama menghadapi dinamika pasar transportasi darat yang semakin kompetitif, terutama di segmen bus perkotaan. Misalnya, pada Agustus 2005, trayek bus perkotaan Hiba Utama P 125 di Terminal Blok M dialihkan dari Blok M–Tanjung Priok menjadi Tanjung Priok–Pasar Baru.[27]
Bahkan pada periode ini, Hiba Utama pernah dikritik. Pada Juli 2008, seorang penumpang menyampaikan keluhan lewat surat pembaca di detik.com bahwa pelayanan Hiba Utama masih "jauh dari layak". Mereka mengeluhkan keterlambatan perjalanan, rute yang tidak sesuai perjanjian, serta kondisi bus yang buruk hingga harus didorong di tengah malam.[28]
Meski begitu, Hiba Utama tetap dihargai dan dihormati, terkhususnya melalui penghargaan yang diraih. Pada 20 Oktober 2010, perusahaan otobus ini menerima penghargaan dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia sebagai salah satu operator bus yang memberikan pelayanan baik selama angkutan Lebaran.[29] Pada 16 Maret 2011, Kemenhub memberikan penghargaan loyalitas 30 tahun berkarya dalam sejarah transportasi bus Indonesia kepada Hiba Utama.[30]
Segmen AKAP Hiba Group diproyeksikan untuk tidak menggunakan jenama maupun logo "Hiba Utama" sejak pertama kali dirintis oleh Krisna Hidayat. Alih-alih, perusahaan otobus ini justru menggunakan jenama dan anak-anak usaha baru. Setelah merintis sendiri Laju Utama, Bela Utama, dan Laju Prima, perusahaan otobus ini justru mengakuisisi trayek maupun armada dari berbagai perusahaan otobus lain yang sedang kolaps. Hiba Group hadir tidak hanya untuk menyelamatkan, tetapi juga menjadi manuver bisnis untuk memperkuat dominasi Hiba Group.[31] Tercatat, Hiba Group memegang jenama seperti Murni Jaya, Setia Negara, Kurnia Jaya, Asli Prima, Hiba Putra, Berdikari, dan masih banyak lagi.[32]
Menanggapi banyaknya komplain mengenai bus-busnya yang sudah tua, pada tahun 2016, Hiba Group yang kala itu sudah dipimpin oleh generasi keempat, Jacobus Irawan, melakukan peremajaan armada massal untuk dua jenama flagship dari Hiba Group, yakni Hiba Utama di sektor pariwisata dan Laju Prima di sektor AKAP. Unit-unit bus ini menggunakan sasis dari Hino Motors, sedangkan karoserinya sendiri dibuat di Laksana untuk Hiba Utama dan Adi Putro untuk Laju Prima. Bahkan di saat yang sama, Hiba Group juga melakukan penjenamaan ulang Hiba Utama dengan pola pengecatan baru, yang dikenal dengan nama "Hiba Utama Signature" dengan warna dasar ungu. Irawan mengatakan bahwa pada 2016, Hiba Group sudah mengoperasikan 3.000 armada secara kumulatif.[32]
Saat ini, kepemimpinan Hiba Group ada di tangan Irawan. Dalam sebuah advertorial historis yang ditulis di Kompas.id, Hiba Group merayakan 70 tahun eksistensinya dengan menegaskan bahwa kunci keberlangsungan bisnis angkutan adalah "bekerja dengan hati" dan konsistensi — hal ini diwujudkan melalui pelayanan transportasi yang aman, nyaman, dan berkualitas sejak 1949. Meski menghadapi perubahan teknologi dan tuntutan pelanggan yang cepat, Hiba tetap menjaga kepuasan pelanggan sebagai prioritas dan mengimbangi perkembangan dengan sistem pemantauan armada 24 jam dan layanan berbasis ponsel cerdas. Selain itu, Hiba Group juga membina pengemudi bus lewat pelatihan agar aman. Pada peringatan ulang tahun ke-70 Hiba Group, perusahaan otobus ini mengadakan aktivitas sosial seperti donor darah, kunjungan ke panti asuhan, dan kompetisi mekanik untuk meningkatkan profesionalisme teknisi.[33]
Sekitar 30 tahun pertama beroperasi, Hiba Utama awalnya setia dengan sasis atau bus completely built-up (CBU) dari Mercedes-Benz. Pada sebuah iklan yang dicetak pada Kompas tanggal 4 April 1973, Hiba Utama telah mengoperasikan bus-bus dengan mesin Mercedes-Benz OM 321. Waktu itu, garasi utama Hiba Utama masih terletak di Kemayoran, Jakarta Pusat.[8] Pada tahun 1987, perusahaan otobus ini sudah mengoperasikan 170 unit bus, baik yang ber-AC maupun non-AC serta mempekerjakan 220 karyawan. Hiba Utama kala itu sudah mengoperasikan bus dari berbagai merek, termasuk Mercedes-Benz, Hino, Mitsubishi Fuso/Colt Diesel, dan Isuzu Diesel. Unit bus Hiba Utama kala itu berupa bus besar 54 tempat duduk, bus sedang 25 tempat duduk, dan bus kecil 8 tempat duduk.[7]
Di era 2000-an, Hiba Group diketahui memiliki berbagai macam sasis. Pada Laju Prima, Laju Utama, dan Bela Utama, dahulu pernah ada sasis produksi Yutong, Hino, Golden Dragon, dan Volvo.[34] Semenjak anak usaha Hiba Group, Hibaindo Armada Motor, menjadi dealer resmi Hino, Hiba Group otomatis memercayakan sasis buatan Hino untuk armada barunya. Ketika peluncuran peremajaan armada baru untuk Hiba Utama dan Laju Prima sebanyak 130 unit, Hiba Group memilih menggunakan sasis Hino RK8 R260. Irawan menyebut bahwa perawatan sasis Hino RK8 R260 relatif mudah, dan ia pun merasakan keuntungannya saat menggunakan sasis bus tersebut.[32]
Untuk karoseri bus, sejak 2016 Hiba Group memercayakan Laksana dan Adi Putro. Ketika Irawan ditanya mengenai alasan pemilihan perusahaan karoseri tersebut, ia menjawab bahwa model karoseri New Setra Jetbus2+ HDD dan SHD merupakan model yang sedang digandrungi oleh operator dan pengguna jasa bus pada masa itu. Meski demikian, Hiba Group masih bersedia mengoperasikan bus-bus lama mereka, selama masih memenuhi aturan masa pakai.[32]
Pada November 2020, Laju Prima dan Murni Jaya meluncurkan bus tingkat yang dirakit di perusahaan karoseri Laksana, sehingga menambah kekayaan armada AKAP di koridor Trans-Jawa. Bus-bus tersebut menggunakan karoseri Legacy SR-2 Double Decker, tetapi berbeda di bagian sasis: Laju Prima menggunakan sasis Volvo B11R 430 tenaga kuda (320 kW) torsi 1.970 N⋅m (1.450 lbf⋅ft), sedangkan Murni Jaya mengandalkan sasis Mercedes-Benz OH 2542 422 tenaga kuda (315 kW) torsi 1.900 N⋅m (1.400 lbf⋅ft). Unit bus ini menggunakan pola pengecatan "Hiba Utama Signature" untuk mempertegas status kedua jenama tersebut sebagai bagian dari Hiba Group. Interior kedua unit ini dirancang dengan delapan kursi eksekutif dengan leg rest, sedangkan lantai atasnya berupa kabin penumpang dengan bangku yang disusun 2-2 tanpa leg rest, tetapi dilengkapi footrest. Bus ini juga dilengkapi fasilitas toilet.[35][3]
Pada tanggal 14 Desember 2022, 23 unit bus Laju Prima dan 12 unit bus Murni Jaya berhasil mencetak rekor 1.000.000 kilometer (620.000 mi) tanpa turun mesin, bersama dengan Garuda Mas. Santiko Wardoyo, Direktur Operasional Hino Motor Sales Indonesia, menilai bahwa Hiba Group dan Garuda Mas rajin melakukan perawatan serta selalu menggunakan suku cadang asli, sehingga menguntungkan secara bisnis dan operasional kendaraan semakin maksimal.[36]
Pada tahun 2023, Hiba Utama menambah armada baru dengan sasis dan karoseri buatan Adi Putro dan Laksana. Dari Adi Putro, perusahaan otobus ini memesan Jetbus3+ MD double-glass yang ditopang sasis medium Isuzu NQR 71, sehingga meski ukurannya kompak tetap terlihat mewah.[37] Sementara itu, dari Laksana, bus pariwisata baru lainnya diluncurkan dengan balutan karoseri Legacy SR-3 Panorama produksi Laksana, tetapi ditopang oleh sasis Hino RM, memberikan kombinasi kenyamanan dan kinerja mesin yang kokoh.[38] Pada 14 November 2023, Hiba Utama merilis lagi bus dari Adi Putro, kali ini Jetbus5.[39]

Hiba Utama, yang merupakan jenama bus pertama Hiba Group, didirikan oleh Hermawan Singgih pada tahun 1949 untuk menyelenggarakan bus pariwisata dan carter untuk acara personal maupun perusahaan. Hingga sekarang, Hiba Utama masih konsisten melayani bus pariwisata, dengan armada-armada yang telah diremajakan dan juga unit baru.[1] Hiba Utama juga memiliki layanan bus perkotaan Jabodetabek dan menghadirkan bus bandar udara (JA Connexion) menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten.[40]
Selain Hiba Utama, Hiba Group juga memiliki bus dengan jenama Berdikari. Jenama bus ini dioperasikan oleh anak usaha Hiba Group, PT Karunia Berkat Abadi dan hanya melayani bus antar-jemput karyawan dan pariwisata dengan bus besar dan bus sedang.[1]

Hiba Group mulai terjun ke dunia bus bertrayek sejak 1997, saat Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta sedang memproses izin trayek reguler Hiba Utama.[25] Hasilnya, Hiba Utama memiliki bus perkotaan reguler, serta meluncurkan tiga jenama otobus yang semuanya berjalan sebagai bus antarkota: Laju Prima, Laju Utama, dan Bela Utama. Ketiga jenama bus itu dipegang langsung oleh PT Hiba Utama dan PT Hiba Prima Sejahtera. Yang paling muda dari ketiga jenama bus adalah Laju Prima; memulai debut pada 2002 melalui trayek Pelabuhan Merak (Kota Cilegon, Banten)–Kota Bandung, Jawa Barat dan DKI Jakarta.[26]
Unit yang terbanyak dimiliki Laju Prima, yang dinilai memiliki reputasi yang sangat baik di mata konsumen sehingga menjadi idola untuk mengantar ke tempat tujuan. Adapun Laju Utama memiliki trayek Jawa Barat, seperti Jakarta–Sukabumi, sementara Bela Utama melayani layanan bus antarkota seperti Pelabuhan Merak (Kota Cilegon, Banten) menuju DKI Jakarta, DKI Jakarta menuju Keresidenan Priangan Barat, serta seluruh kota di Jawa Tengah. Ciri-ciri ketiga bus ini memiliki pola pengecatan dasar putih dengan tambahan warna biru, merah, dan kuning, yang meruncing seperti membentuk paruh elang.[1]

Sejarah perkembangan Murni Jaya dan Asli Prima tidak lepas dari perkembangan dua perusahaan otobus asal Labuan, Pandeglang, Banten, yakni Murni dan Asli (dikenal sebagai "Murni Putih" dan "Asli Putih"). Kepengurusan bus Murni (yang saat ini memiliki nama legal PT Dwi Murni Mustika) saat ini ada di tangan keluarga Uung Humaedi, sedangkan pengelolaan bus Asli "Putih" ada di tangan keluarga Dedi.[41] Tidak diketahui kapan perusahaan otobus ini berdiri, tetapi tercatat pada 1981 PO Murni waktu itu dipimpin oleh Sugianto Rustiandi.[42] Satu-satunya trayek utama yang dimiliki kedua perusahaan otobus ini adalah Labuan–DKI Jakarta. Di awal-awal operasinya, bus-bus milik Murni dikenal dengan reputasinya yang suka ugal-ugalan di jalan, sehingga dijuluki "White Killer".[43]
Setelah akuisisi sebagian armadanya oleh Hiba Group pada tahun 2010,[43] Murni dan Asli terpecah menjadi dua bagian, yakni "Murni Putih" dan "Asli Putih" yang masing-masing dimiliki oleh pemilik lama, serta Murni Jaya (PT Murni Anugrah Jaya Usaha) dan Asli Prima (PT Asli Prima Inti Karya) yang menjadi anak usaha Hiba Group. Dua bus tersebut mulai dibedakan, dengan Murni Jaya menggunakan warna merah[43] dan Asli Prima menggunakan warna hijau telur asin.[44] Pasca-akuisisi sebagian unit bus tersebut, Murni Banten justru mengalami pergolakan, khususnya pada tahun 2020. Di masa pandemi Covid-19, bisnis angkutan semakin terpukul. Pada 7 April 2020, pengusaha dan awak bus dari Murni Putih, Asli Putih, Murni Jaya, dan Asli Prima mendatangi Dinas Perhubungan Kabupaten Pandeglang menolak rencana pemindahan pemberangkatan ke Terminal Kadubanen. Mereka khawatir perubahan itu akan memangkas tarif penumpang dan melemahkan daya saing perusahaan.[41] Pada 13 Mei 2020, pengurus PO Murni Putih menyatakan "cemburu" kepada Murni Jaya karena belum memperoleh bantuan stimulus dari pemerintah sebesar Rp600.000 selama tiga bulan, sementara sopir dan karyawan Murni Jaya sudah tercatat dalam data kepolisian.[45]
Selain mengelola trayek Banten, Murni Jaya juga mengelola rute bus DKI Jakarta–Yogyakarta serta kota-kota di Jawa Tengah. Murni Jaya melayani kelas ekonomi dan eksekutif.[1] Pada tanggal 21 Maret 2012, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memberikan penghargaan Pelayanan AKAP Ekonomi Terbaik kategori Perusahaan Besar kepada Asli Prima.[46]

Perusahaan otobus dan jenama lainnya yang juga merupakan bagian dari Hiba Group (dan sebagian yang disebutkan ini merupakan akuisisi sebagian maupun seluruhnya oleh Hiba Group) adalah:[1]
Di masa kepemimpinan Krisna Hidayat, Hiba Group tidak hanya mengembangkan bisnis bus. Hidayat diketahui juga mengembangkan beberapa bisnis lain, di antaranya taksi, dengan jenama Taxiku. Taxiku menempatkan dirinya sebagai taksi bertarif murah yang beroperasi di Jabodetabek.[47] Taxiku dirintis pada Oktober 2002, menggunakan armada seperti Kia Rio SF dan Chevrolet Lova serta tampil dengan warna kuning. Taxiku bahkan menawarkan fitur menarik, seperti bebas biaya tol untuk bepergian ke bandara. Namun, Taxiku ditutup pada 2017 karena kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan berbagi tumpangan yang semakin menjamur.[48]
Hiba Group juga memiliki anak usaha bernama PT Hibaindo Armada Motor, dealer resmi Hino Motors. Sejak 2016, perusahaan ini memindahkan showroom-nya dari kompleks garasi utama Hiba Utama di Jalan Raya Bekasi km 17, Klender, Jakarta Timur ke garasi Hiba AKAP di Jalan Raya Bekasi km 22, Cakung, Jakarta Timur.[49] Sebagai dealer Hino, Hiba Group otomatis memercayakan sasis buatan Hino untuk armada busnya.[32]
Selain itu, Hiba Group juga memiliki perusahaan persewaan mobil dengan nama Hibarent (PT HRC Prima Sejahtera), serta perusahaan kargo, kurir, dan logistik Hiba Logistics atau Hi-Log (PT Hiba Logistik).[31]
Media terkait Hiba Group buses di Wikimedia Commons