Jīvitindriya adalah istilah Buddhis yang diterjemahkan sebagai "indra kehidupan", "kemampuan kehidupan", "unsur kehidupan", "daya kehidupan", atau "vitalitas". Jīvitindriya diidentifikasi sebagai salah satu dari tujuh faktor mental universal (sabbacittasādhāraṇa-cetasika) dalam ajaran Abhidhamma Theravāda. Dalam konteks ini, jīvitindriya didefinisikan sebagai faktor-mental yang mempertahankan kehidupan citta (kesadaran/pikiran/batin) dan faktor mental lain yang menyertainya. Karakteristik dari jīvitindriya dikatakan sebagai "pengawasan tanpa henti".
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Terjemahan dari Jīvitindriya | |
|---|---|
| Inggris | life faculty, vitality |
| Pali | jīvitindriyacode: pi is deprecated |
| Sanskerta | jīvitindriyacode: sa is deprecated |
| Tionghoa | 命根code: zh is deprecated |
| Myanmar | ဇီဝိတိန္ဒြိယcode: my is deprecated |
| Thai | ชีวิตินทรีย์code: th is deprecated (RTGS: chiwitinsi) |
| Vietnam | mạng quyềncode: vi is deprecated |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari Abhidhamma Theravāda |
| 52 faktor mental (cetasika) |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
Jīvitindriya (bahasa Pali dan Sanskerta) adalah istilah Buddhis yang diterjemahkan sebagai "indra kehidupan", "kemampuan kehidupan", "unsur kehidupan", "daya kehidupan", atau "vitalitas". Jīvitindriya diidentifikasi sebagai salah satu dari tujuh faktor mental universal (sabbacittasādhāraṇa-cetasika) dalam ajaran Abhidhamma Theravāda. Dalam konteks ini, jīvitindriya didefinisikan sebagai faktor-mental yang mempertahankan kehidupan citta (kesadaran/pikiran/batin) dan faktor mental lain yang menyertainya. Karakteristik dari jīvitindriya dikatakan sebagai "pengawasan tanpa henti" (ceaseless watching).[1][2]
Bhikkhu Bodhi, dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, menyatakan:
Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa jīvitindriya didefinisikan dalam empat batasan:[4]
Lebih lanjut, dijelaskan:
Indra-kehidupan mental adalah faktor-mental yang menjaga dhamma-dhamma yang muncul bersamanya untuk tetap hidup. Dia disebut sebagai indra karena mempunyai kemampuan seperti seorang raja dalam mengendalikan semua dhamma-dhamma yang muncul bersamanya. Pengaruh faktor-mental ini terhadap keberlangsungan hidup dhamma-dhamma yang muncul bersamanya sangatlah dominan. Dengan karakteristiknya, dia merawat mereka walaupun harus dipahami bahwa perawatan yang dia lakukan hanya terjadi pada saat dhamma-dhamma tersebut eksis — bukan pada saat dhamma-dhamma tersebut telah lenyap. Dengan kata lain, dia menjaga supaya dhamma-dhamma yang muncul bersamanya bisa menyelesaikan tiga momen eksistensi, yaitu kemunculan, keberlangsungan, dan kelenyapan.
Kitab komentar memberikan perumpamaan indra-kehidupan seperti air yang merawat dan memastikan bunga-bunga teratai untuk tetap hidup. Bunga-bunga teratai adalah perumpamaan untuk dhamma-dhamma yang tidak terpisah dengan dirinya. Apabila tidak ada indra-kehidupan di dalam kesadaran, maka kesadaran dan faktor-faktor-mental tidak akan bisa hidup dan melangsungkan eksistensinya. Faktor-mental ini hadir di setiap jenis kesadaran, dan itulah mengapa dia disebut sebagai indra-kehidupan mental (nāma jīvitindriya) untuk membedakannya dengan pasangannya, yaitu indra-kehidupan materi (rūpa jīvitindriya)[4] ...
Dalam ajaran Buddha Mahāyāna, terdapat berbagai macam definisi untuk jīvitindriya. Kitab Dharmaskandhapādaśāstra (sebuah karya Abhidharma awal dari aliran Sarvāstivāda) mendefinisikan jīvitindriya sebagai: suatu indra (faculty) yang bertahan, berlanjut, mempertahankan, menghidupkan, dan mengoperasikan apa yang kita sebut sebagai makhluk hidup.[5]
Jīvitaṃ berarti "kehidupan", dan indriya berarti "indra pengendali" (controlling faculty).