Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Hyang

Hyang adalah istilah atau nama ilahiah dalam berbagai agama wadi pribumi pulau Jawa dan Bali; yakni Gama Buda/Budi bukan (Buddha), Kejawen (ꦏꦼꦗꦮꦺꦤ꧀), Wiwitan (ᮝᮤᮝᮤᮒᮔ᮪), maupun Gamatirta (ᬕᬫᬢᬶᬃᬢ). Secara hakikatnya, Hyang pada mulanya merujuk kepada entitas penghuni pegunungan di pulau Jawa yang disembah.

nama ilahiah dalam agama pribumi pulau Jawa dan Bali (Kapitayan, Kejawen, Sunda Wiwitan, dan Gamatirta)
Diperbarui 7 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Hyang
Kata hyang dalam Aksara Sunda
Asma "Hyang" dalam kaligrafi aksara Jawa

Hyang (aksara Bali: ᬳ᭄ᬬᬂ; aksara Jawa: ꦲꦾꦁ ; aksara Sunda: ᮠᮡᮀ; Osing: Iyangcode: osi is deprecated ; Melayu: يڠ yang)[1] adalah istilah atau nama ilahiah dalam berbagai agama wadi pribumi pulau Jawa dan Bali; yakni Gama Buda/Budi bukan (Buddha), Kejawen (ꦏꦼꦗꦮꦺꦤ꧀), Wiwitan (ᮝᮤᮝᮤᮒᮔ᮪), maupun Gamatirta (ᬕᬫᬢᬶᬃᬢ). Secara hakikatnya, Hyang pada mulanya merujuk kepada entitas (baik itu berupa roh maupun arwah leluhur) penghuni pegunungan di pulau Jawa yang disembah (entah itu Pegunungan Iyang di Jawa Timur ataupun Parahyangan di Jawa Barat).

Terminologi

Terminologi “Hyang” dapat ditemukan dalam Prasasti Sanghyang Tapak, prasasti yang berasal dari Jawa Barat

Istilah Hyang secara etimologis berakar dari bahasa kuno Jawa–Sunda (bahasa kuno serumpun pribumi Jawa),[a] yang memiliki arti "sosok yang disembah" atau "tuhan", yang mana secara hakikatnya merujuk kepada sosok sembahan bersifat tak kasat mata yang menetap di suatu lokasi maupun objek.[2] Lebih lanjut, istilah hyang itu sendiri dalam bahasa Jawa kuno juga dapat bermakna "[suara yang] keras" atau "bising", yang mana dapat merujuk kepada firman Hyang yang pernah disampaikan kepada umat manusia dalam rupa suara yang keras (secara pendengaran duniawi manusia).[2] Istilah tersebut masih lestari dalam bahasa Baduy, Bali, Jawa, Osing, Sunda, dan Tengger yang digunakan oleh masyarakat etnis Baduy, Bali, Jawa, Osing, Sunda, dan Tengger hingga masa kini. Namun dalam bahasa Osing secara spesifik, Hyang dapat dieja sebagai "Iyang" atau "Hiyang" sesuai dengan nama Pegunungan Iyang.[1]

Peribadatan

Sembahyang

Artikel utama: Sembahyang
Prosesi Sembahyang masyarakat etnis Bali

Bentuk peribadatan untuk memuja atau menyembah Hyang biasanya disebut sebagai Sembahyang, yang mana tersusun dari dua kata Jawa kuno, yakni "sĕmbah" dan "Hyang". Kosakata bahasa Jawa seperti ꦱꦶꦩ꧀ꦧꦃ (sembah) dan ꦲꦺꦪꦁ ([h]yang) yang umum digunakan pada masa kini untuk ritual agama berbakti pada Tuhan.

Angembang

Angembang merupakan salah satu bentuk Sembahyang dengan menggunakan bunga (disebut sebagai kembyang dalam bahasa Osing)[3] sebagai sarana atau media pemujaan terhadap Hyang. Di Bali, Angembang lebih dikenali sebagai ᬜᭂᬓᬃ (Nyekar), yang mana merujuk kepada hal serupa.

Tembang

Artikel utama: Tembang

Selama prosesi Angembang, dilakukan perapalan doa atau mantra yang kerap disebut sebagai Tembang (dieja sebagai Tembyang dalam bahasa Osing);[4] berakar dari kata "tĕmu" dan "Hyang" dalam bahasa kuno Jawa–Sunda, yang bermakna "[pujian untuk] mendekatkan diri ke Hyang".

Kahyangan

Tempat di mana para Hyang bernaung atau bertempat tinggal secara umum disebut Kahyangan (dalam bahasa Osing dieja sebagai Kayangan),[5] kata tersebut sejatinya berakar dari kata Hyang itu sendiri, tetapi telah diberi konfiks khas Jawa–Sunda ‘ka--an’ sehingga memiliki arti "keilahian" atau "kedewaan". Parahyangan dan Pegunungan Iyang merupakan dua areal pegunungan sakral yang dipercayai sebagai tempat di mana para Hyang bernaung, dan kata Hyang (atau juga dieja sebagai Iyang menurut bahasa Osing)[1] diduga diserap dari nama kedua pegunungan tersebut, yang mana keduanya dianggap sebagai kahyangan ("tempat Hyang berdiam") oleh masyarakat pulau Jawa pada umumnya.

Seni budaya

Pencitraan Hyang wujud jelmaan manusia dalam bentuk kesenian Wayang kulit (foto ini merupakan digitalisasi dari salah satu koleksi benda kebudayaan Indonesia di Tropenmuseum)

Selain dalam bentuk peribadatan yang khusyuk, penyembahan akan Hyang juga dapat disalurkan dalam bentuk kesenian yang kemudian berkembang menjadi budaya dan diinterpretasikan secara berbeda dalam masing-masing etnis pulau Jawa dan Bali.

Di Bali

Di Bali, masyarakat etnis Bali (termasuk juga Bali Aga) mengembangkan beraneka ragam bentuk kesenian yang melambangkan peribadatan akan Hyang, ataupun semata-mata untuk merepresentasikan keagungan Hyang dalam berbagai bidang ke-maha-anNya. Diantaranya, yakni:

  1. Tari Sang Hyang
  2. Tari Sang Hyang Jaran
  3. Tari Sang Hyang Penyalin
  4. Tari Sang Hyang Sengkrong
  5. Mabuncing Sang Hyang Dong Ding

Di Jawa Barat

Di wilayah Jawa Barat, masyarakat etnis Sunda memiliki beberapa jenis interpretasi untuk memuja dan menelisik Hyang. Diantaranya, yakni:

  1. Sasakala Curug Sang Hyang Taraje
  2. Ngalokat Cai Situ Sang Hyang
  3. Nyangku

Di Jawa Tengah dan Timur

Di Jawa Tengah dan Timur, masyarakat etnis Jawa baik dari yang usia muda maupun tua memiliki bentuk kebudayaan unik yang berkembang sebagai bentuk wujud pengagungan akan Hyang. Diantaranya, yakni:

  1. Kembar Mayang
  2. Sekar Puyang

Lihat pula

  • Allah
  • Yahweh

Referensi

  1. 1 2 3 "Arti "Iyang" dalam Kamus Bahasa Osing (Daring)". belambangan.com. Banyuwangi: Sengker Kuwung – Belambangan. 2019.
  2. 1 2 "Old Javanese-English Dictionary". sealang.net (dalam bahasa Kawi and Inggris). Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. 1982. cari hyaṅ dalam kamus
  3. ↑ "Arti "kembyang" dalam Kamus Bahasa Osing (Daring)". belambangan.com. Banyuwangi: Sengker Kuwung – Belambangan. 2019.
  4. ↑ "Arti "tembyang" dalam Kamus Bahasa Osing (Daring)". belambangan.com. Banyuwangi: Sengker Kuwung – Belambangan. 2019.
  5. ↑ "Arti "kayangan" dalam Kamus Bahasa Osing (Daring)". belambangan.com. Banyuwangi: Sengker Kuwung – Belambangan. 2019.

Catatan kaki

  1. ↑ dalam dokumentasi latin untuk bahasa Jawa kuno, Hyang biasanya ditulis secara diakritik sebagai hyaṅ maupun hyaŋ.
  • l
  • b
  • s
Mitologi di Indonesia
Aceh
  • Balum Beude
  • Beuno
  • Burong Tujoh
  • Geunteut
  • Sane
Sumatera
  • Mak Lampir
  • Orang bunian
  • Orang pendek
  • Pelesit
  • Silewe Nazarata
  • Putri Tangguk
  • Siluman harimau
  • Kuntilanak
Kepulauan Riau
  • Buaya Pulau Bayan
  • Buaya putih Sungai Pulai
  • Gajah Mina
  • Hantu laut
  • Hantu wanita Potong Lembu
  • Orang bedung
  • Ruh Datuk Kemuning
Jawa
  • Aji Saka
  • Babi ngepet
  • Ahool
  • Aul
  • Banaspati
  • Danyang
  • Dewata Cengkar
  • Dewi Sri
  • Genderuwo
  • Gundul pringis
  • Kuda Sembrani
  • Jailangkung
  • Jenglot
  • Lampor
  • Naga Jawa
  • Nyi Blorong
  • Onggo-inggi
  • Pocong
  • Ratu Laut Selatan
  • Ratu Laut Utara
  • Sundel bolong
  • Tuyul
  • Urangayu
  • Warak ngendok
  • Wewe Gombel
  • Kolor ijo
Bali
  • Barong
  • Batara Kala
  • Bulan Pejeng
  • Hyang
  • Kala Rau
  • Leak
  • Rangda
  • Setesuyara
  • Twalen
Kalimantan
  • Amot
  • Kuyang
  • Lembuswana
  • Hudoq
Sulawesi
  • Asu panting
  • Bungung Barania
  • Batitong
  • Bombo
  • Cambeu'
  • Dompe
  • Kalimpau'
  • Kembar buaya
  • Kongkong pancing
  • Longga
  • I Laurang Manusia Udang
  • Meong Palo Karellae
  • Nene' Pakande
  • Pogo
  • Nenek Toeng Royong
  • Noni
  • Parakang
  • Pok-pok
  • Sangiang Serri
  • Sumiati
  • Sureq Galigo
  • Tallu Ana
  • Toakala
  • Tomanurung
  • Wa Ndiu-Ndiu
Nusa Tenggara
  • Ebu gogo
  • Suanggi
  • Veo
Maluku
  • Hainuwele
  • Buaya Putih
Papua
  • Imunu
  • l
  • b
  • s
Filsafat Jawa
Diri dan Ketuhanan
  • Bhinneka Tunggal Ika
  • Hyang
  • Manunggaling kawula gusti
  • Mati sajroning urip
  • Ngudi kasampurnan
  • Rasa jati
  • Sangkan paraning dumadi
  • Sedulur papat
  • Suwung
  • Tombo ati
  • Tridaya
Kesusilaan
  • Empan papan
  • Ewuh pakewuh
  • Mikul dhuwur, mendhem jero
  • Ngalah, ngalih, ngamuk
  • Ngunduh wohing pakarti
  • Nrima ing pandum
  • Ojo dumeh
  • Pager mangkok
  • Pasemon
  • Samadya
  • Sawang sinawang
  • Sumarah
Keindahan
  • Estetika Jawa (sekumpulan konsep keindahan)
  • Memayu hayuning bawana
  • Asmaragama
Kepemimpinan
  • Astabrata
  • Ing ngarsa sung tuladha
  • Jer basuki mawa béya
  • Rawe-rawe rantas
  • Sura dira jayaningrat
  • Tiji Tibeh
  • Tridarma
Pengetahuan
  • Ilmu titen
  • Kawruh Begja
  • Kawruh Jiwa
  • Macapat
  • Palintangan Jawa
  • Pawukon
  • Primbon
  • Sumbu Filosofis
Tokoh
  • Empu Kanwa
  • Empu Tantular
  • Empu Panuluh
  • Ki Ageng Suryomentaram
  • Koentjaraningrat
  • Notonagoro
  • Parmono
  • Poerbatjaraka
  • Pakubuwana IV
  • Ranggawarsita
  • Selo Soemardjan
  • Soenoto
  • Sosrokartono
  • Supadjar
  • Yasadipura I
Pustaka
  • Sastra Jawa Baru
  • Arjunawijaya
  • Arjunawiwāha
  • Bhāratayuddha
  • Dewaruci
  • Serat Centhini
  • Serat Kalatidha
  • Ramayana
  • Serat Wedhatama
  • Serat Wirid
  • Sutasoma
  • Wulangreh
Lain-lain
  • Saminisme
  • Kejawen
  • l
  • b
  • s
Filsafat Indonesia
Jawa & Sansekerta
  • Astabrata
  • Bhinneka Tunggal Ika
  • Empan papan
  • Ing ngarsa sung tuladha
  • Jer basuki mawa béya
  • Gotong royong
  • Manunggaling kawula gusti
  • Memayu hayuning bawana
  • Mikul dhuwur, mendhem jero
  • Ngalah, ngalih, ngamuk
  • Ngunduh wohing pakarti
  • Nrima ing pandum
  • Ojo dumeh
  • Pancasila
  • Rawe-rawe rantas
  • Samadya
  • Sawang sinawang
  • Sura dira jayaningrat
Sunda
  • Cageur, bageur, bener, pinter, singer
  • Nyaah ka indung
  • Silih asah, silih asih, silih asuh
  • Someah hade ka semah
Bali
  • Tri hita karana
  • Tri kaya parisudha
Minangkabau
  • Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah
  • Anak dipangku, kamanakan dibimbiang
  • Hidup segan mati tak mau
  • Telunjuk lurus kelingking berkait
Batak
  • Anakkon hi do hamoraon di au
  • Dalihan na tolu
  • Hamoraon, hagabeon, hasangapon
  • Marsialapari
  • Ugamo Malim
Bugis - Makassar
  • Siri’ na pacce
  • Lempu' na getteng
Banjar
  • Waja sampai kaputing
Madura
  • Lebbi bagus pote tollang
Minahasa
  • Mapalus
Melayu
  • Budi dan bahasa
  • Lempar batu sembunyi tangan
  • Malu itu adalah iman
  • Udang di balik batu
Dayak
  • Belom Bahadat
  • Handep
  • Huma betang
  • Tiwah
Sasak
  • Tarekat Wetu Telu
Lainnya
  • Salam Lintas Agama
  • Hukum kekekalan penderitaan
Lihat pula: Daftar Filsuf Indonesia & Kearifan lokal Indonesia

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Terminologi
  2. Peribadatan
  3. Sembahyang
  4. Angembang
  5. Kahyangan
  6. Seni budaya
  7. Di Bali
  8. Di Jawa Barat
  9. Di Jawa Tengah dan Timur
  10. Lihat pula
  11. Referensi
  12. Catatan kaki
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026