Bungung Barania merupakan tradisi memohon harapan pada sumur keramat di Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa yang dalam kepercayaan masyarakat lokal dianggap sebagai sumber keberanian.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Bungung Barania merupakan tradisi memohon harapan pada sumur keramat di Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa yang dalam kepercayaan masyarakat lokal dianggap sebagai sumber keberanian.[1][2]
Berdasarkan asal katanya Bungung Barania berarti Sumur Berani. Sumur ini terletak tidak jauh dari makam Sultan Hasanudin, yakni sekitar 10 km di sebelah selatan kota Makassar.[1][3] Setiap dua atau tiga tahun, benda pusaka seperti keris dan poke tamannyala dibawa ke Bungung Barania sebagai rangkaian tahapan dari Upacara Gaukang tu Bajeng.[4][5]
Tradisi memohon doa di sumur ini telah dilakukan oleh masyarakat Kutuli, Bajeng, sejak abad ke-15. Dalam sejarahnya, Karaeng Loe, raja Bantaeng pada masa itu, ingin memperluas wilayahnya ke Polongbangkeng, Takalar. Ketika tiba di kampung Mataallo, Karaeng Loe dan pengikutnya tidak kunjung menemukan sumber air. Namun, dari tongkat yang ditancapkannya keluar lubang mata air. Setelah minum dan mandi dengan air tersebut, mereka merasa lebih berani.[3]
Relevan dengan hal tersebut, konon pahlawan-pahlawan Gowa yang akan bertempur akan mandi dahulu di sumur Bungung Barania, untuk memantik keberaniannya.[4] Para pahlawan yang sudah mandi di sumur keramat ini akan merasa lebih kuat untuk mengalahkan dan menghancurkan musuh-musuhnya. Namun, ketika Sultan Hasanuddin kalah dalam perang, air Bungung Barania ini mendidih. Kemudian, air sumur itu membatu dan sumur itu mengering, sehingga sulit terlihat, menyisakan hanya sebuah batu. Kering dan menghilangnya sumur ini dikaitkan dengan pertanda keruntuhan kerajaan Gowa.[1]
Pelaksanaan tradisi Bungung Barania dibimbing oleh sosok Daeng Guru dan memiliki beberapa tahapan yang perlu dilalui. Sebelum memulai, orang yang ingin menjalankan tradisi perlu memiliki alasan atau nazar yang disampaikan pada Daeng Guru. Setelah itu, Daeng Guru akan membaca doa diawali dengan surah al-Fatihah dan doa lainnya yang hanya diketahui oleh keturunan Daeng Guru. Dalam prosesi doa ini, masyarakat menyiapkan makanan yang kemudian dimakan bersama oleh keluarga. Pada tahap terakhir, orang yang bernazar akan dimandikan oleh Daeng Guru ataupun oleh orang tua anak tersebut. Orang yang bernazar akan mengambil air sebanyak tiga timba, kemudian mengucapkan rasa syukur dalam hati. Ritual pemandian ini dilakukan sebanyak tiga kali.[3]