Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Serat Wulangreh

Serat Wulangreh adalah karya sastra berupa tembang macapat karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, raja Keraton Kasunanan Surakarta, yang lahir pada 2 September 1768. Beliau bertahta sejak 29 November 1788 hingga akhir hayatnya pada 1 Oktober 1820.

Wikipedia article
Diperbarui 23 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Serat Wulangreh
Serat Wulangreh
Serat Wulangreh, cetakan 1929.
PengarangPakubuwana IV
NegaraKasunanan Surakarta
BahasaJawa
Genre
  • Macapat
  • pitutur
TeksSerat Wulangreh di Wikisource
Serat Wulangreh, bagian pupuh pertama ( Dhandhanggula)

Serat Wulangreh (bahasa Jawa: ꧋ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦮꦸꦭꦁꦫꦺꦃ꧉code: jv is deprecated ) adalah karya sastra berupa tembang macapat karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, raja Keraton Kasunanan Surakarta, yang lahir pada 2 September 1768. Beliau bertahta sejak 29 November 1788 hingga akhir hayatnya pada 1 Oktober 1820.

Serat Wulang Reh saat ini disimpan di Museum Radya Pustaka, Perpustakaan Reksa Pustaka, dan Perpustakaan Sasana Pustaka di Surakarta.

Kata wulang bersinonim dengan kata pitutur memiliki arti ajaran. Kata reh berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya jalan, aturan dan laku cara mencapai atau tuntutan. Wulang Reh dapat dimaknai ajaran untuk mencapai sesuatu. Sesuatu yang dimaksud dalam karya ini adalah laku menuju hidup harmoni atau sempurna. Untuk lebih jelasnya, berikut dikutipkan tembang yang memuat pengertian kata tersebut:

Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara
artinya ilmu itu bisa dipahami/ dikuasai harus dengan cara, cara pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara.

Berdasarkan makna tembang tersebut, laku adalah langkah atau cara mencapai karakter mulia bukan ilmu dalam arti ilmu pengetahuan semata, seperti yang banyak kita jumpai pada saat ini. Lembaga pendidikan lebih memfokuskan pengkajian ilmu pengetahuan dan mengesampingkan ajaran moral dan budi pekerti.[1]

Keistimewaan karya ini adalah tidak seratus persen menggunakan bahasa jawa arkhaik (kuno) sehingga memudahkan pembaca dalam memahaminya.[2] Walaupun demikian, terdapat hal-hal yang perlu dicermati karena karya tersebut merupakan sinkretisme Islam-Kejawen, atau tidak sepenuhnya merupakan ajaran Islam sehingga akan menimbulkan perbedaan sudut pandang bagi pembaca yang berbeda ideologinya.[1]

Struktur

Struktur Serat Wulang Reh terdiri dari 13 macam tembang (pupuh), dengan jumlah pada/bait yang berbeda, yaitu:[3][4]

  1. Dhandhanggula, terdiri 8 pada/bait dan 10 gatra (baris) per baitnya, dengan guru lagu 10-i, 10-a, 8-é, 7-u, 9-i, 7-a, 6-u, 8-a, 12-i, 7-a
  2. Kinanthi terdiri 16 pada/bait & 6 baris/bait, dengan guru lagu 8-u, 8-i, 8-a, 8-i, 8-a, 8-i
  3. Gambuh terdiri 17 pada/bait & 5 baris/bait, dengan guru lagu 7-u, 10-u, 12-i, 8-u, 8-o, 8-i, 8-u
  4. Pangkur terdiri 17 pada/bait, dengan guru lagu 8-a, 11-i, 8-u, 7-a, 12-u, 8-a, 8-i
  5. Maskumambang terdiri 34 pada/bait, dengan guru lagu 12-i, 6-a, 8-i, 8-a
  6. Megatruh terdiri 17 pada/bait, dengan guru lagu 12-u, 8-i, 8-u, 8-i, 8-o
  7. Durma terdiri 12 pada/bait, dengan guru lagu 12-a, 7-a, 6-a, 7-a, 8-i, 5-a, 7-a
  8. Wirangrong terdiri 27 pada/bait, dengan guru lagu 10-i, 6-a, 8-e, 7-a, 8-e, 8-a
  9. Pocung terdiri 23 pada/bait, dengan guru lagu 12-u, 6-a, 8-i, 12-a
  10. Mijil terdiri 26 pada/bait, dengan guru lagu 10-i, 6-o, 10-e, 10-i, 6-i, 6-o
  11. Asmaradana terdiri 28 pada/bait, dengan guru lagu 8-i, 8-a, 8-e, 8-a, 7-a, 8-a, 8-i
  12. Sinom terdiri 33 pada/bait, dengan guru lagu 8-a, 8-i, 8-a, 8-i, 7-a, 8-i, 8-a, 8-i, 12-a
  13. Girisa terdiri 25 pada/bait & 8 baris/bait, dengan guru lagu 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a.

Dengan catatan bahwa guru wilangan (jumlah suku kata per baris, angka pertama) + guru lagu (huruf hidup terakhir pada tiap baris, huruf setelah angka dan -) pada tembang macapatnya bisa berbeda untuk beberapa versi, tergantung pada pakem yang dianut. Misalnya, pada tembang 9. Pocung: 12-u berarti 12 suku kata dengan huruf hidup terakhir u, dilanjutkan dengan 6-a berarti 6 suku kata dengan huruf hidup terakhir a, dst... (lihat contoh di bawah masing-masing tembang).

1. Dhandhanggula

Pupuh pembuka ini menegaskan tujuan Wulangreh: memberikan tuntunan moral bagi manusia agar mencapai keluhuran budi. Pakubuwana IV menekankan pentingnya sikap sabar, kesadaran diri, dan menjauhi perilaku sombong. Manusia dianjurkan untuk selalu mawas diri (eling lan waspada) serta memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Berikut adalah bait pertamanya: [5]

Yogyanira kang para prajurit, (terdiri dari 10 suku-kata dengan akhiran i. 10-i)
lamun bisa sira anuladha, (terdiri dari 10 suku-kata dengan akhiran a, 10-a)
duk ing uni caritané, (terdiri dari 8 suku-kata dengan akhiran é, 8-é)
andelira sang prabu, (7-u)
Sasrabahu ing Maespati, (9-i)
aran patih Suwanda, (7-a)
lelabuhanipun, (6-u)
kang ginelung tri prakara, (8-a)
guna kaya purun ingkang den antepi, (12-i)
nuhoni trah utama (7-a).

Bait kedua:

Nanging yen sira nggeguru kaki, (terdiri dari 10 suku-kata dengan akhiran i. 10-i)
Amaliha manungsa kang nyata, (terdiri dari 10 suku-kata dengan akhiran a, 10-a)
Ingkang becik martabaté, (terdiri dari 8 suku-kata dengan akhiran é, 8-é)
Sarta kang wruh ing khukum, (7-u)
Kang ngibadah lan kang ngirangi, (9-i)
Sokur oleh wong tapa, (7-a)
Iya kang wus mungkul, (6-u)
Tan mikir piwewehing lyan, (8-a)
Iku pantes yen den guronano kaki, (12-i)
Sartane kawruhira, (7-a).

Bait ketiga....dan seterusnya, sampai pada bait ke delapan.

2. Kinanthi

Pupuh Kinanthi memaparkan tuntunan hidup yang harus dipegang agar seseorang senantiasa berada di jalan benar. Ajarannya meliputi ketekunan bekerja, berbicara dengan sopan, menghormati orang tua, dan menjaga hubungan dengan sesama. Manusia dituntut untuk selalu berusaha, hidup prihatin dan banyak berpuasa. Contoh bait pertama:[6]

Padha gulangen ing kalbu, 8-u
ing sasmita amrih lantip, 8-i
aja pijer mangan nendra, 8-a
kaprawiran den kaesthi, 8-i
pesunen sariranira, 8-a
sudanen dhahar lan guling. 8-i

(Kalian biasakanlah mengasah kalbu, agar (pikiranmu) tajam menangkap isyarat, jangan hanya selalu makan dan tidur, jangkaulah sikap kepahlawanan, dan latihlah dirimu, serta kurangi makan dan tidur.)

...

3. Gambuh

Gambuh menekankan pentingnya keharmonisan dalam kehidupan sosial. Individu ideal adalah yang mampu menempatkan diri, memahami perasaan orang lain, dan menjaga tata susila. Kearifan dalam berbicara dan bertindak menjadi kunci menciptakan masyarakat yang tenteram.

Sekar gambuh ping catur,
Kang cinatur polah kang kalantur,
Tanpa tutur katula-tula katali,
Kadalu warsa kapatuh,
Katutuh pan dadi awon
....

4. Pangkur

Bagian ini membahas pengendalian hawa nafsu. Individu dianjurkan untuk meninggalkan perilaku buruk, mengendalikan keserakahan, dan mengutamakan kebajikan. Pakubuwana IV menekankan bahwa orang yang dapat mengekang nafsunya akan mencapai ketenteraman batin serta dihormati masyarakat.

Mingkar-mingkuring angkara,
Akarana karenan mardi siwi,
Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta,
Mrih kertarto, pakartining ngelmu luhung,
Kang tumrap neng tanah Jawa,
Agama-ageming aji.

5. Maskumambang

Maskumambang membahas pentingnya budi pekerti sedini mungkin. Ajaran ini kerap dikaitkan dengan pendidikan anak: peran orang tua dan guru sangat penting dalam membentuk karakter. Nasihat utamanya adalah keteladanan, kedisiplinan, dan keteguhan moral.

Dhuh anak mas sira wajib angurmati,
Marang yayah rena,
Aja pisan kumawani,
Anyenyamah gawe susah.

6. Megatruh (Duduk Wuluh atau gugur)

Kabeh iku mung manungsa kang pinujul,
Marga duwe lahir batin,
Jroning urip iku mau,
Isi ati klawan budi,
Iku pirantine ewong.

7. Durma

Pupuh ini menegur perilaku kasar, amarah, dan tindakan destruktif. Pakubuwana IV menasihati agar manusia menghindari kekerasan dan lebih memilih jalan kedamaian. Durma menegaskan bahwa pengendalian emosi adalah fondasi dari kepemimpinan yang bijaksana.

Dipunsami hambanting sariranira,
Cecegah dhahar guling,
Darapon sudaa,
Napsu kang ngambra-ambra,
Rerema hing tyasireki,
Dadi sabarang,
Karsanira lestari.

8. Wirangrong

Sinar wengi nymarak ati wening (10-i)
Purnama sumunar (6-a)
Nuntun rasa ing batine (8-e)
Kinarya pangrasanya (7-a)
Ngrumangsani pepelinge (8-e)
Tumrap laku kang utama (8-a)

9. Pocung

Pupuh penutup ini mengingatkan manusia akan kefanaan hidup. Setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan, sehingga manusia harus menjalani hidup dengan penuh kehati-hatian dan kebajikan. Pocung berfungsi sebagai renungan agar seseorang tidak terjerat kesia-siaan duniawi.

Ngelmu iku kalakone kanthi laku,
Lekase lawan kas,
Tegese kas nyantosani,
Setya budya pengekesing dur angkara.

10. Mijil

Bagian ini menguraikan lahirnya manusia dalam dunia penuh tantangan dan godaan. Oleh karena itu, setiap orang harus belajar mengenali dirinya—baik kekuatan maupun kelemahannya. Dengan memahami diri, manusia dapat menjalankan hidup dengan mantap dan tidak mudah terombang-ambing.

Dedalane guna lawan sekti,
Kudu andhap asor,
Wani ngalah dhuwur wekasane,
Tumungkula yen dipundukani,
Bapang den simpangi,
Ana catur mungkur.

11. Asmaradana

Bagian ini menyoroti bahaya pergaulan yang tidak terarah dan pentingnya memilih lingkungan yang baik. Pakubuwana IV memperingatkan agar manusia berhati-hati dalam urusan asmara dan hubungan sosial, sebab kesalahan memilih teman dapat menjerumuskan seseorang pada kehancuran moral.

Rasa ati gumlar sami (8-i)
Kang anggegulang ing tresna (8-a)
Lumrahing kang nyawijine (8-e)
Nglelipura rasa lara (8-a)
Sihing manah manembah (7-a)
Marang kang dadi pepadang (8-a)
Mrih tentreming sukma asli (8-i)

12. Sinom

Pupuh Sinom berisi nasihat untuk menuntut ilmu. Pentingnya mencari guru yang baik, menjaga sikap rendah hati, dan mematuhi tata krama dalam proses belajar merupakan pesan utama. Ilmu harus diamalkan dengan bijak dan tidak digunakan untuk merugikan orang lain.

Nuladha laku utama,
Tumraping wong tanah Jawi,
Wong agung ing Ngeksiganda,
Panembahan Senapati,
Kepati amarsudi,
Sudane hawa lan nepsu,
Pinesu tapa brata,
Tanapi ing siyang ratri,
Amemangun karyenak tyas ing sasama.

13. Girisa

Bait pertama:[7]

Asli dalam bahasa Jawa Terjemahan bhs Indonesia

Anak putu den estokna, 8-a
warah wuruke pun bapa, 8-a
aja na ingkang sembrana, 8-a
marang wuruke wong tuwa, 8-a
ing lair batin den bisa, 8-a
anganggo wuruking bapa, 8-a
ing tyas den padha santosa, 8-a
teguhana jroning nala. 8-a

Anak cucu lakukanlah,
ajaran dan didikan bapak,
jangan ada yang sembrana/ceroboh atau kurang hati-hati,
terhadap ajaran orang tua,
bila bisa lahir dan batin,
menggunakan ajarannya bapak,
di hati harus selalu kuat,
dan teguh dalam pendirian.

Bait kedua:

déné utamaning nata, 8a
bèr budi bawa leksana, 8a
liré bèr budi mangkono, 8a
lila legawa ing driya, 8a
agung dènya paring dana, 8a
anggeganjar saben dina, 8a
liré kang bawa leksana, 8a
anetepi pangandika, 8a.

Penelitian

Jika dilihat dari wujud tulisannya, Wulang Reh ditemukan dalam disertasi, thesis, skripsi, makalah, bahkan dapat dijumpai di dunia maya. Tulisan-tulisan tentang Wulang Reh pada umumnya mengupas isi atau maknanya yang kemudian bermuara pada interpretasi kandungan Wulang Reh, seperti nilai-nilai luhur, moral dan budi pekerti (ada yang menyebut dengan istilah etika), nilai-nilai religius, sampai pada ajaran tentang kepemimpinan.[2] Ada pula yang melakukan secara khusus dari segi bahasa.

Yuli Widiyono [8] - melakukan penelitian Tema, Nilasi Estetika dan Pendidikan dalam Serat Wulang Reh. Hasil kesimpulannya adalah:

  • Pertama, tema yang terdapat pada serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV yaitu: ajaran untuk memilih guru, kebijaksanaan dan bergaul, kepribadian,tema tata krama, ajaran berbakti pada orang lain, tema ketuhanan, berbakti kepada pemerintah, pengendalian diri, tema kekeluargaan, tema keselamatan, keikhlasan dan kesabaran, beribadah dengan baik, ajaran tentang keluhuran.
  • Kedua, Keindahan serat Wulangreh adanya ritme dan rima serta bunyi bahasa meliputi purwakanthi swara, purwakanthi guru swara, dan purwakanthi lumaksita. Pemahaman tentang diksi (Pemilihan kata), aliterasi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, dan metrum terdapat dalam serat Wulangreh.
  • Ketiga, nilai pendidikan moral pada Serat Wulangreh adalah nilai pendidikan moral kaitan antara manusia dengan Tuhan meliputi berserah diri kepada Tuhan, patuh kepada Tuhan, nilai pendidikan moral kaitan antara manusia dengan sesama, nilai pendidikan moral kaitannya manusia dengan diri pribadi, dan nilai tentang agama.
  • 'Keempat, ajaran yang ada pada serat wulangreh merupakan ajaran tata kaprajan ‘ajaran tentang perintah memberikan pengajaran untuk mencapai keluhuran hidup, ajaran pada serat Wedhatama merupakan ajaran tentang ilmu keutamaan.

Rukiyah,[9] melakukan penelitian dari aspek kepemimpinan dalam Serat Wulang Reh. Kesimpulannya:Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak memiliki sifat lonyo, lemer, genjah, angrong pasanakan, nyumur gumiling, ambuntut arit, adigang, adigung, dan adiguna. Sebaliknya seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat jujur, tidak mengharapkan pemberian orang lain, rajin beribadah, serta tekun mengabdi kepada masyarakat.

Referensi

  1. 1 2 Endang Nurhayati, Nilai nilai moral islami dalam Serat Wulang Reh
  2. 1 2 HR Utami, Bahasa Pitutur Dalam Serat Wulang Reh, Karya Paku Buwono IV Kajian Sosiopragmatik
  3. ↑ Muchson AR, Kandungan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Serat Wulang Reh
  4. ↑ ""Pengertian Guru Wilangan, Guru Lagu, dan Guru Gatra dalam Tembang Macapat"". detik.com. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
  5. ↑ "Mengenal Tembang Dhandhanggula dalam Sastra Jawa Beserta Contohnya". detik.com. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  6. ↑ "Serat Wulangreh Pupuh Kinanthi". kompas.com. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  7. ↑ "KOMPETENSI PRAGMATIK DALAM SERAT WULANGREH KARYA SRI SUSUHUNAN PAKUBUWANA IV" (PDF). pdfs.semanticscholar.org. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  8. ↑ "Widiyono, Yuli (2010), Kajian Tema, Nilai Estetika, dan Pendidikan dalam Serat Wulangreh Karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2014-10-30. Diakses tanggal 2013-11-08.
  9. ↑ Rukiyah, Konsep Kepemimpinan Dalam Serat Wulangreh.

Pranala luar

Wikisource Jawa memiliki teks asli yang berkaitan dengan artikel ini:
Serat Wulangreh
  • Wulang Rèh, Pakubuwana IV, 1931, sastra.org
  • Wulang Rèh, Pakubuwana IV, 1960, sastra.org
  • l
  • b
  • s
Filsafat Jawa
Diri dan Ketuhanan
  • Bhinneka Tunggal Ika
  • Hyang
  • Manunggaling kawula gusti
  • Mati sajroning urip
  • Ngudi kasampurnan
  • Rasa jati
  • Sangkan paraning dumadi
  • Sedulur papat
  • Suwung
  • Tombo ati
  • Tridaya
Kesusilaan
  • Empan papan
  • Ewuh pakewuh
  • Mikul dhuwur, mendhem jero
  • Ngalah, ngalih, ngamuk
  • Ngunduh wohing pakarti
  • Nrima ing pandum
  • Ojo dumeh
  • Pager mangkok
  • Pasemon
  • Samadya
  • Sawang sinawang
  • Sumarah
Keindahan
  • Estetika Jawa (sekumpulan konsep keindahan)
  • Memayu hayuning bawana
  • Asmaragama
Kepemimpinan
  • Astabrata
  • Ing ngarsa sung tuladha
  • Jer basuki mawa béya
  • Rawe-rawe rantas
  • Sura dira jayaningrat
  • Tiji Tibeh
  • Tridarma
Pengetahuan
  • Ilmu titen
  • Kawruh Begja
  • Kawruh Jiwa
  • Macapat
  • Palintangan Jawa
  • Pawukon
  • Primbon
  • Sumbu Filosofis
Tokoh
  • Empu Kanwa
  • Empu Tantular
  • Empu Panuluh
  • Ki Ageng Suryomentaram
  • Koentjaraningrat
  • Notonagoro
  • Parmono
  • Poerbatjaraka
  • Pakubuwana IV
  • Ranggawarsita
  • Selo Soemardjan
  • Soenoto
  • Sosrokartono
  • Supadjar
  • Yasadipura I
Pustaka
  • Sastra Jawa Baru
  • Arjunawijaya
  • Arjunawiwāha
  • Bhāratayuddha
  • Dewaruci
  • Serat Centhini
  • Serat Kalatidha
  • Ramayana
  • Serat Wedhatama
  • Serat Wirid
  • Sutasoma
  • Wulangreh
Lain-lain
  • Saminisme
  • Kejawen

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Struktur
  2. 1. Dhandhanggula
  3. 2. Kinanthi
  4. 3. Gambuh
  5. 4. Pangkur
  6. 5. Maskumambang
  7. 6. Megatruh (Duduk Wuluh atau gugur)
  8. 7. Durma
  9. 8. Wirangrong
  10. 9. Pocung
  11. 10. Mijil
  12. 11. Asmaradana
  13. 12. Sinom
  14. 13. Girisa
  15. Penelitian
  16. Referensi

Artikel Terkait

Serat Centhini

sastra Jawa tentang ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa

Macapat

sastra Jawa yang ditulis dalam tembang macapat termasuk Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, dan Serat Kalatidha. Puisi tradisional Jawa atau tembang biasanya

Sastra Jawa

Kanjeng Sultan Agung. Serat Wulangreh merupakan karya sastra berbentuk tembang hasil buah karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Serat Wedhatama adalah sebuah

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026