Serat Wulangreh adalah karya sastra berupa tembang macapat karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, raja Keraton Kasunanan Surakarta, yang lahir pada 2 September 1768. Beliau bertahta sejak 29 November 1788 hingga akhir hayatnya pada 1 Oktober 1820.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Serat Wulangreh, cetakan 1929. | |
| Pengarang | Pakubuwana IV |
|---|---|
| Negara | Kasunanan Surakarta |
| Bahasa | Jawa |
| Genre |
|
| Teks | Serat Wulangreh di Wikisource |

Serat Wulangreh (bahasa Jawa: ꧋ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦮꦸꦭꦁꦫꦺꦃ꧉code: jv is deprecated ) adalah karya sastra berupa tembang macapat karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, raja Keraton Kasunanan Surakarta, yang lahir pada 2 September 1768. Beliau bertahta sejak 29 November 1788 hingga akhir hayatnya pada 1 Oktober 1820.
Serat Wulang Reh saat ini disimpan di Museum Radya Pustaka, Perpustakaan Reksa Pustaka, dan Perpustakaan Sasana Pustaka di Surakarta.
Kata wulang bersinonim dengan kata pitutur memiliki arti ajaran. Kata reh berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya jalan, aturan dan laku cara mencapai atau tuntutan. Wulang Reh dapat dimaknai ajaran untuk mencapai sesuatu. Sesuatu yang dimaksud dalam karya ini adalah laku menuju hidup harmoni atau sempurna. Untuk lebih jelasnya, berikut dikutipkan tembang yang memuat pengertian kata tersebut:
Berdasarkan makna tembang tersebut, laku adalah langkah atau cara mencapai karakter mulia bukan ilmu dalam arti ilmu pengetahuan semata, seperti yang banyak kita jumpai pada saat ini. Lembaga pendidikan lebih memfokuskan pengkajian ilmu pengetahuan dan mengesampingkan ajaran moral dan budi pekerti.[1]
Keistimewaan karya ini adalah tidak seratus persen menggunakan bahasa jawa arkhaik (kuno) sehingga memudahkan pembaca dalam memahaminya.[2] Walaupun demikian, terdapat hal-hal yang perlu dicermati karena karya tersebut merupakan sinkretisme Islam-Kejawen, atau tidak sepenuhnya merupakan ajaran Islam sehingga akan menimbulkan perbedaan sudut pandang bagi pembaca yang berbeda ideologinya.[1]
Struktur Serat Wulang Reh terdiri dari 13 macam tembang (pupuh), dengan jumlah pada/bait yang berbeda, yaitu:[3][4]
Dengan catatan bahwa guru wilangan (jumlah suku kata per baris, angka pertama) + guru lagu (huruf hidup terakhir pada tiap baris, huruf setelah angka dan -) pada tembang macapatnya bisa berbeda untuk beberapa versi, tergantung pada pakem yang dianut. Misalnya, pada tembang 9. Pocung: 12-u berarti 12 suku kata dengan huruf hidup terakhir u, dilanjutkan dengan 6-a berarti 6 suku kata dengan huruf hidup terakhir a, dst... (lihat contoh di bawah masing-masing tembang).
Pupuh pembuka ini menegaskan tujuan Wulangreh: memberikan tuntunan moral bagi manusia agar mencapai keluhuran budi. Pakubuwana IV menekankan pentingnya sikap sabar, kesadaran diri, dan menjauhi perilaku sombong. Manusia dianjurkan untuk selalu mawas diri (eling lan waspada) serta memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Berikut adalah bait pertamanya: [5]
Bait kedua:
Bait ketiga....dan seterusnya, sampai pada bait ke delapan.
Pupuh Kinanthi memaparkan tuntunan hidup yang harus dipegang agar seseorang senantiasa berada di jalan benar. Ajarannya meliputi ketekunan bekerja, berbicara dengan sopan, menghormati orang tua, dan menjaga hubungan dengan sesama. Manusia dituntut untuk selalu berusaha, hidup prihatin dan banyak berpuasa. Contoh bait pertama:[6]
(Kalian biasakanlah mengasah kalbu, agar (pikiranmu) tajam menangkap isyarat, jangan hanya selalu makan dan tidur, jangkaulah sikap kepahlawanan, dan latihlah dirimu, serta kurangi makan dan tidur.)
...
Gambuh menekankan pentingnya keharmonisan dalam kehidupan sosial. Individu ideal adalah yang mampu menempatkan diri, memahami perasaan orang lain, dan menjaga tata susila. Kearifan dalam berbicara dan bertindak menjadi kunci menciptakan masyarakat yang tenteram.
Bagian ini membahas pengendalian hawa nafsu. Individu dianjurkan untuk meninggalkan perilaku buruk, mengendalikan keserakahan, dan mengutamakan kebajikan. Pakubuwana IV menekankan bahwa orang yang dapat mengekang nafsunya akan mencapai ketenteraman batin serta dihormati masyarakat.
Maskumambang membahas pentingnya budi pekerti sedini mungkin. Ajaran ini kerap dikaitkan dengan pendidikan anak: peran orang tua dan guru sangat penting dalam membentuk karakter. Nasihat utamanya adalah keteladanan, kedisiplinan, dan keteguhan moral.
Pupuh ini menegur perilaku kasar, amarah, dan tindakan destruktif. Pakubuwana IV menasihati agar manusia menghindari kekerasan dan lebih memilih jalan kedamaian. Durma menegaskan bahwa pengendalian emosi adalah fondasi dari kepemimpinan yang bijaksana.
Pupuh penutup ini mengingatkan manusia akan kefanaan hidup. Setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan, sehingga manusia harus menjalani hidup dengan penuh kehati-hatian dan kebajikan. Pocung berfungsi sebagai renungan agar seseorang tidak terjerat kesia-siaan duniawi.
Bagian ini menguraikan lahirnya manusia dalam dunia penuh tantangan dan godaan. Oleh karena itu, setiap orang harus belajar mengenali dirinya—baik kekuatan maupun kelemahannya. Dengan memahami diri, manusia dapat menjalankan hidup dengan mantap dan tidak mudah terombang-ambing.
Bagian ini menyoroti bahaya pergaulan yang tidak terarah dan pentingnya memilih lingkungan yang baik. Pakubuwana IV memperingatkan agar manusia berhati-hati dalam urusan asmara dan hubungan sosial, sebab kesalahan memilih teman dapat menjerumuskan seseorang pada kehancuran moral.
Pupuh Sinom berisi nasihat untuk menuntut ilmu. Pentingnya mencari guru yang baik, menjaga sikap rendah hati, dan mematuhi tata krama dalam proses belajar merupakan pesan utama. Ilmu harus diamalkan dengan bijak dan tidak digunakan untuk merugikan orang lain.
Bait pertama:[7]
| Asli dalam bahasa Jawa | Terjemahan bhs Indonesia |
|---|---|
|
Anak putu den estokna, 8-a |
Anak cucu lakukanlah, |
Bait kedua:
Jika dilihat dari wujud tulisannya, Wulang Reh ditemukan dalam disertasi, thesis, skripsi, makalah, bahkan dapat dijumpai di dunia maya. Tulisan-tulisan tentang Wulang Reh pada umumnya mengupas isi atau maknanya yang kemudian bermuara pada interpretasi kandungan Wulang Reh, seperti nilai-nilai luhur, moral dan budi pekerti (ada yang menyebut dengan istilah etika), nilai-nilai religius, sampai pada ajaran tentang kepemimpinan.[2] Ada pula yang melakukan secara khusus dari segi bahasa.
Yuli Widiyono [8] - melakukan penelitian Tema, Nilasi Estetika dan Pendidikan dalam Serat Wulang Reh. Hasil kesimpulannya adalah:
Rukiyah,[9] melakukan penelitian dari aspek kepemimpinan dalam Serat Wulang Reh. Kesimpulannya:Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak memiliki sifat lonyo, lemer, genjah, angrong pasanakan, nyumur gumiling, ambuntut arit, adigang, adigung, dan adiguna. Sebaliknya seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat jujur, tidak mengharapkan pemberian orang lain, rajin beribadah, serta tekun mengabdi kepada masyarakat.