Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Ngunduh wohing pakarti

Ngunduh wohing pakarti adalah pedoman etika Jawa yang secara harfiah berarti memetik buah dari perbuatan. Dalam kerangka filsafat Jawa, ungkapan ini menegaskan aspek hukum dari sebab-akibat moral: setiap tindakan manusia, baik maupun buruk, pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya. Kehidupan ini dipahami sebagai proses menanam, merawat, dan memanen, di mana perilaku menjadi benih yang menentukan kualitas dari hasil yang akan dipetik di kemudian hari. Konsep Ngundhuh wohing pakarti ini merupakan salah satu perwujudan dari prinsip etika keselarasan budaya yang medianya dijadikan pedoman moralitas dalam Serat Wulangreh karya dari Sri Susuhunan Pakubuwana IV.

Wikipedia article
Diperbarui 23 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Topik artikel ini mungkin tidak memenuhi kriteria kelayakan umum. Harap penuhi kelayakan artikel dengan: menyertakan sumber-sumber tepercaya yang independen terhadap subjek dan sebaiknya hindari sumber-sumber trivial. Jika tidak dipenuhi, artikel ini harus digabungkan, dialihkan ke cakupan yang lebih luas, atau dihapus.
Cari sumber: "Ngunduh wohing pakarti" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Ngunduh wohing pakarti (aksara Jawa: ꦔꦸꦤ꧀ꦝꦸꦃꦮꦺꦴꦲꦶꦁꦥꦏꦂꦠꦶ) adalah pedoman etika Jawa yang secara harfiah berarti memetik buah dari perbuatan. Dalam kerangka filsafat Jawa, ungkapan ini menegaskan aspek hukum dari sebab-akibat moral: setiap tindakan manusia, baik maupun buruk, pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya. Kehidupan ini dipahami sebagai proses menanam, merawat, dan memanen (memetik buah), di mana perilaku menjadi benih yang menentukan kualitas dari hasil yang akan dipetik di kemudian hari. Konsep Ngundhuh wohing pakarti ini merupakan salah satu perwujudan dari prinsip etika keselarasan budaya yang medianya dijadikan pedoman moralitas dalam Serat Wulangreh karya dari Sri Susuhunan Pakubuwana IV. [1][2]

Falsafah ini menumbuhkan kesadaran etis bahwa manusia bertanggung jawab penuh atas pilihannya. Tidak ada perbuatan yang benar-benar hilang tanpa jejak; sikap, ucapan, dan tindakan membentuk nasib serta watak seseorang. Kebaikan akan berbuah ketenteraman, kepercayaan, dan keharmonisan, sedangkan keburukan menimbulkan penderitaan, penyesalan, dan rusaknya hubungan sosial. Dengan demikian, prinsip 'ngunduh wohing pakarti ini mendorong laku hidup yang waspada, sabar, dan berorientasi pada kebajikan.[3]

Dalam pandangan kosmologi Jawa, manusia hidup selaras dengan tatanan alam dan moral. Ketika seseorang bertindak sejalan dengan nilai keutamaan, jujur, andhap asor, dan tepa slira, maka dia akan menanam benih keseimbangan. Falsafah ini tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari saat ini sebagai pengingat bahwa keberhasilan sejati tidak lahir dari jalan pintas, melainkan dari konsistensi moral. Hidup yang baik adalah hasil dari laku yang baik pula. Konsep ini juga sejalan dengan Surat An Nahl, ayat 97 yang menyatakan bahwa: “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami berikan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. Sehingga konsep ngunduh wohing pakarti ini mengajarkan kita untuk berpikir sebelum bertindak. Setiap tindakan yang kita ambil memiliki konsekuensi, oleh karena itu penting untuk meningkatkan kesadaran tentang baik dan buruk sebelum kita bertindak.[4][5]

Referensi

  1. ↑ "NGUNDHUH WOHING PAKARTI DAN KETELADANAN DALAM SERAT WULANG REH". ejournal.unesa.ac.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
  2. ↑ "Ngunduh Wohing Pakarti: The Moral Roots of Business Governance Principles". ub.ac.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
  3. ↑ "Angkat Tema Ngunduh Wohing Pakarti, Festacap Gelar Pameran Fotografi dan Arsip Sejarah". cilacapkab.go.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
  4. ↑ "NGUNDHUH WOHING PAKARTI: FILSAFAT AKIBAT TINDAKAN ORANG JAWA". uinsby.ac.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
  5. ↑ "Ngunduh Wohing Pakarti, Hukum Sebab Akibat Orang Jawa". rri.co.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.

Lihat juga

  • Ing ngarsa sung tuladha
  • Silih asah, silih asih, silih asuh

Pranala luar

  • Javanese Wisdom: 'Ngunduh Wohing Pakarti', kompasiana.com
  • Ngunduh Wohing Pakarti: The Moral Roots of ..., researchgate.net
  • l
  • b
  • s
Filsafat Jawa
Diri dan Ketuhanan
  • Bhinneka Tunggal Ika
  • Hyang
  • Manunggaling kawula gusti
  • Mati sajroning urip
  • Ngudi kasampurnan
  • Rasa jati
  • Sangkan paraning dumadi
  • Sedulur papat
  • Suwung
  • Tombo ati
  • Tridaya
Kesusilaan
  • Empan papan
  • Ewuh pakewuh
  • Mikul dhuwur, mendhem jero
  • Ngalah, ngalih, ngamuk
  • Ngunduh wohing pakarti
  • Nrima ing pandum
  • Ojo dumeh
  • Pager mangkok
  • Pasemon
  • Samadya
  • Sawang sinawang
  • Sumarah
Keindahan
  • Estetika Jawa (sekumpulan konsep keindahan)
  • Memayu hayuning bawana
  • Asmaragama
Kepemimpinan
  • Astabrata
  • Ing ngarsa sung tuladha
  • Jer basuki mawa béya
  • Rawe-rawe rantas
  • Sura dira jayaningrat
  • Tiji Tibeh
  • Tridarma
Pengetahuan
  • Ilmu titen
  • Kawruh Begja
  • Kawruh Jiwa
  • Macapat
  • Palintangan Jawa
  • Pawukon
  • Primbon
  • Sumbu Filosofis
Tokoh
  • Empu Kanwa
  • Empu Tantular
  • Empu Panuluh
  • Ki Ageng Suryomentaram
  • Koentjaraningrat
  • Notonagoro
  • Parmono
  • Poerbatjaraka
  • Pakubuwana IV
  • Ranggawarsita
  • Selo Soemardjan
  • Soenoto
  • Sosrokartono
  • Supadjar
  • Yasadipura I
Pustaka
  • Sastra Jawa Baru
  • Arjunawijaya
  • Arjunawiwāha
  • Bhāratayuddha
  • Dewaruci
  • Serat Centhini
  • Serat Kalatidha
  • Ramayana
  • Serat Wedhatama
  • Serat Wirid
  • Sutasoma
  • Wulangreh
Lain-lain
  • Saminisme
  • Kejawen
  • l
  • b
  • s
Filsafat Indonesia
Jawa & Sansekerta
  • Astabrata
  • Bhinneka Tunggal Ika
  • Empan papan
  • Ing ngarsa sung tuladha
  • Jer basuki mawa béya
  • Gotong royong
  • Manunggaling kawula gusti
  • Memayu hayuning bawana
  • Mikul dhuwur, mendhem jero
  • Ngalah, ngalih, ngamuk
  • Ngunduh wohing pakarti
  • Nrima ing pandum
  • Ojo dumeh
  • Pancasila
  • Rawe-rawe rantas
  • Samadya
  • Sawang sinawang
  • Sura dira jayaningrat
Sunda
  • Cageur, bageur, bener, pinter, singer
  • Nyaah ka indung
  • Silih asah, silih asih, silih asuh
  • Someah hade ka semah
Bali
  • Tri hita karana
  • Tri kaya parisudha
Minangkabau
  • Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah
  • Anak dipangku, kamanakan dibimbiang
  • Hidup segan mati tak mau
  • Telunjuk lurus kelingking berkait
Batak
  • Anakkon hi do hamoraon di au
  • Dalihan na tolu
  • Hamoraon, hagabeon, hasangapon
  • Marsialapari
  • Ugamo Malim
Bugis - Makassar
  • Siri’ na pacce
  • Lempu' na getteng
Banjar
  • Waja sampai kaputing
Madura
  • Lebbi bagus pote tollang
Minahasa
  • Mapalus
Melayu
  • Budi dan bahasa
  • Lempar batu sembunyi tangan
  • Malu itu adalah iman
  • Udang di balik batu
Dayak
  • Belom Bahadat
  • Handep
  • Huma betang
  • Tiwah
Sasak
  • Tarekat Wetu Telu
Lainnya
  • Salam Lintas Agama
  • Hukum kekekalan penderitaan
Lihat pula: Daftar Filsuf Indonesia & Kearifan lokal Indonesia

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Referensi
  2. Lihat juga
  3. Pranala luar

Artikel Terkait

Pancasila

Ideologi resmi Indonesia

Salam Lintas Agama

ucapan salam khas enam agama di Indonesia

Satu Nusa Satu Bangsa

salah satu lagu kebangsaan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026