Sedulur papat lima pancer adalah unsur jiwa manusia yang terdiri dari empat elemen: Kakang Kawah, Adi Ari-Ari, Getih, dan Puser. Sedangkan Pancernya sebagai elemen kelima adalah Ruh atau Atma. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sedulur papat lima pancer ini dapat diartikan sebagai 'empat saudara, dan lima sebagai pusatnya'.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Sedulur papat lima pancer adalah unsur jiwa manusia yang terdiri dari empat elemen: Kakang Kawah, Adi Ari-Ari, Getih, dan Puser. Sedangkan Pancernya sebagai elemen kelima adalah Ruh atau Atma. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sedulur papat lima pancer ini dapat diartikan sebagai 'empat saudara, dan lima sebagai pusatnya'.[1]
Berdasarkan rujukan rontal atau naskah kuno dalam Kidung Marmarti[2] gubahan Kanjeng Sunan Kali Jaga. Sedulur papat lima pancer bukanlah sosok makhluk-makhluk gaib pendamping yang kelahirannya bersamaan dengan kelahiran manusia di dunia.[3]
Adapun pengertian lengkapnya sebagai berikut :
| Kakang Kawah | Adhi Ari-Ari | Getih | Puser | Pancer |
|---|---|---|---|---|
| Air Ketuban[5] | Plasenta[5] | Darah[5] | Tali Pusar[5] | Keseluruhan |
| Kesadaran | Pikiran | Ego/Perasaan | Ingatan | Atma/Ruh |
| Unsur Air | Unsur Angin | Unsur Api | Unsur Tanah | |
| Warna Putih | Warna Kuning | Warna Merah | Warna Hitam | Mancawarna |
| Timur | Barat | Selatan | Utara | Tengah |
| Legi | Pon | Pahing | Wage | Kliwon |
| cipta | rasa | karsa | karya | budi-pekerti |
Sedulur papat lima pancer juga menggambarkan unsur-unsur dasar (ego) manusia: cipta, rasa, karsa, karya, dan budi-pekerti (Nang, Ning, Nung, Neng, dan Nóng/Gung). Hal ini juga menjadi dasar laku spiritual Jawa seperti bertapa, semadi, tirakat, ilmu, dan kesempurnan.[6] Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa:
Sedulur papat menggambarkan unsur-unsur dasar (ego) manusia: cipta, rasa, karsa dan karya.
Selain dipahami sebagai lima unsur dasar manusia, sedulur papat lima pancer juga menggambarkan empat jenis elemen spiritual dan hawa nafsu yang ada dalam diri manusia:[6][7]
1. Elemen Amarah (Nafsu Kemarahan) Amarah adalah nafsu yang mendorong manusia untuk merasa ingin menang sendiri, bertengkar, atau hilangnya kesabaran. Jika manusia terlalu mengikuti nafsu amarah, ia akan sulit berpikir secara jernih dan cenderung menciptakan konflik. Pengendalian nafsu ini dapat dilakukan dengan bersikap sabar, yang merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
2. Elemen Supiyah (Nafsu Keindahan) Supiyah adalah nafsu yang berhubungan dengan keinginan manusia terhadap keindahan, seperti cinta dan asmara. Ketertarikan pada hal-hal indah adalah naluri alami dari manusia, tetapi bila berlebihan, nafsu ini dapat menguasai pikiran dan membakar dunia, serta menyebabkan kehancuran. Oleh karena itu, manusia harus bijak dalam menyeimbangkan perasaan dan keinginan terhadap keindahan.
3. Elemen Aluamah (Nafsu Serakah) Aluamah adalah nafsu keserakahan, yang membuat manusia selalu merasa tidak puas dan ingin memiliki sesuatu lebih banyak. Nafsu ini dapat mendorong manusia untuk terus mencari sesuatu, seperti kekayaan atau kemakmuran tanpa batas, bahkan dapat merugikan orang lain. Pengendalian aluamah ini penting agar manusia tidak diperbudak oleh keinginan material.
4. Elemen Mutmainah (Nafsu Keutamaan) Mutmainah adalah nafsu yang berhubungan dengan kebajikan atau keutamaan. Meski positif, nafsu ini juga perlu dikendalikan. Contohnya, membantu orang lain adalah perbuatan baik, tetapi jika dilakukan secara berlebihan sehingga melupakan kebutuhan diri sendiri, hal ini dapat menjadikan keadaan yang tidak seimbang.
Dalam konsep ini, pancer (sebagai elemen kelima) adalah diri manusia itu sendiri yang menjadi pusat dari keempat nafsu di atas yang merupakan kesadaran sejati atau sangkan paraning dumadi (asal-usul dan tujuan hidup). Sebagai pusat dari empat elemen itu, manusia harus mampu mengawasi dan mengatur agar keempat nafsu tersebut tidak menguasai dirinya. Jika manusia tidak dapat mengendalikan nafsunya, hidupnya akan menjadi kacau dan penuh dengan kesulitan. Sebaliknya, dengan mengendalikannya secara bijak, manusia dapat menjalani kehidupan yang seimbang dan harmonis.[7]
Sedulur Papat Lima Pancer juga me-representasikan Metafora Jiwa: Nang, Ning, Nung, Neng, Gung/Nong
Untuk mencegah dan menghindari terjadinyanya hal-hal buruk dalam diri manusia, kita harus sering mengadakan sesaji atau sedekah / zakat berupa: