Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sedulur Papat Lima Pancer

Sedulur papat lima pancer adalah unsur jiwa manusia yang terdiri dari empat elemen: Kakang Kawah, Adi Ari-Ari, Getih, dan Puser. Sedangkan Pancernya sebagai elemen kelima adalah Ruh atau Atma. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sedulur papat lima pancer ini dapat diartikan sebagai 'empat saudara, dan lima sebagai pusatnya'.

Wikipedia article
Diperbarui 2 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sedulur Papat Lima Pancer
Sedulur Papat Lima Pancer @uripurupurap

Sedulur papat lima pancer adalah unsur jiwa manusia yang terdiri dari empat elemen: Kakang Kawah, Adi Ari-Ari, Getih, dan Puser. Sedangkan Pancernya sebagai elemen kelima adalah Ruh atau Atma. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sedulur papat lima pancer ini dapat diartikan sebagai 'empat saudara, dan lima sebagai pusatnya'.[1]

Berdasarkan rujukan rontal atau naskah kuno dalam Kidung Marmarti[2] gubahan Kanjeng Sunan Kali Jaga. Sedulur papat lima pancer bukanlah sosok makhluk-makhluk gaib pendamping yang kelahirannya bersamaan dengan kelahiran manusia di dunia.[3]

Adapun pengertian lengkapnya sebagai berikut :

Sedulur Papat Lima Pancer[4]
Kakang Kawah Adhi Ari-Ari Getih Puser Pancer
Air Ketuban[5] Plasenta[5] Darah[5] Tali Pusar[5] Keseluruhan
Kesadaran Pikiran Ego/Perasaan Ingatan Atma/Ruh
Unsur Air Unsur Angin Unsur Api Unsur Tanah
Warna Putih Warna Kuning Warna Merah Warna Hitam Mancawarna
Timur Barat Selatan Utara Tengah
Legi Pon Pahing Wage Kliwon
cipta rasa karsa karya budi-pekerti

Sedulur papat lima pancer juga menggambarkan unsur-unsur dasar (ego) manusia: cipta, rasa, karsa, karya, dan budi-pekerti (Nang, Ning, Nung, Neng, dan Nóng/Gung). Hal ini juga menjadi dasar laku spiritual Jawa seperti bertapa, semadi, tirakat, ilmu, dan kesempurnan.[6] Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa:

  • Bertapa → menahan diri, seperti berpuasa, menyepi, mengurangi tidur, dan membatasi makanan / bicara.
  • Semadi → memusatkan batin, seperti berkonsentrasi dalam keheningan batin serta perenungan yang mendalam.
  • Tirakat → laku/tindakan khusus, seperti menguatkan tekad, memurnikan niat, dan meminta petunjuk atau restu.
  • Ilmu/Ngelmu → mencari pengetahuan batin melalui pengalaman dan ilmu yang dirasakan dan diwujudkan dalam setiap tindakan.
  • Kesempurnaan/Kasampurnan → keadaan spiritual tertinggi yang menyatu dengan asal-usul (sangkan paraning dumadi).


Unsur Dasar Manusia

Sedulur papat menggambarkan unsur-unsur dasar (ego) manusia: cipta, rasa, karsa dan karya.

  • CIPTA adalah akal dan pikiran, sumber dari semua logika, imajinasi, ide, kreativitas, dan ambisi. Cipta menggambarkan bagaimana otak manusia memanipulasi informasi untuk membentuk konsep, penalaran, dan keputusan.
  • RASA adalah perasaan atau respons emosional terhadap peristiwa dan pengalaman dalam hidupnya. Berbagai ekspresi emosi begitu kaya sehingga tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
  • KARSA adalah kemauan atau niat, motivasi bagi individu untuk melaksanakan keputusan dan rencananya. Seseorang dapat dimotivasi dan digerakkan oleh rangsangan dari luar, tetapi sebaliknya dari dalam dirinya sendiri.
  • KARYA adalah sebuah tindakan, dan aspek psikomotorik individu, yang menghasilkan bentuk nyata yang dapat dikenali dan berdampak terhadap lingkungan.
  • Keempat elemen dasar tersebut akan menjadi "efektif" dan bermakna jika  manusia tersebut dikontrol oleh Pancer yang disebut dengan BUDI-PEKERTI atau kesadaran dan kebiasaan secara terus menerus yang diistilahkan dalam bahasa Jawa dengan kata "sarwa eling lan pakarti".[6]

Sedulur Papat Lima Pancer sebagai gambaran Hawa Nafsu

Selain dipahami sebagai lima unsur dasar manusia, sedulur papat lima pancer juga menggambarkan empat jenis elemen spiritual dan hawa nafsu yang ada dalam diri manusia:[6][7]

1. Elemen Amarah (Nafsu Kemarahan) Amarah adalah nafsu yang mendorong manusia untuk merasa ingin menang sendiri, bertengkar, atau hilangnya kesabaran. Jika manusia terlalu mengikuti nafsu amarah, ia akan sulit berpikir secara jernih dan cenderung menciptakan konflik. Pengendalian nafsu ini dapat dilakukan dengan bersikap sabar, yang merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

2. Elemen Supiyah (Nafsu Keindahan) Supiyah adalah nafsu yang berhubungan dengan keinginan manusia terhadap keindahan, seperti cinta dan asmara. Ketertarikan pada hal-hal indah adalah naluri alami dari manusia, tetapi bila berlebihan, nafsu ini dapat menguasai pikiran dan membakar dunia, serta menyebabkan kehancuran. Oleh karena itu, manusia harus bijak dalam menyeimbangkan perasaan dan keinginan terhadap keindahan.

3. Elemen Aluamah (Nafsu Serakah) Aluamah adalah nafsu keserakahan, yang membuat manusia selalu merasa tidak puas dan ingin memiliki sesuatu lebih banyak. Nafsu ini dapat mendorong manusia untuk terus mencari sesuatu, seperti kekayaan atau kemakmuran tanpa batas, bahkan dapat merugikan orang lain. Pengendalian aluamah ini penting agar manusia tidak diperbudak oleh keinginan material.

4. Elemen Mutmainah (Nafsu Keutamaan) Mutmainah adalah nafsu yang berhubungan dengan kebajikan atau keutamaan. Meski positif, nafsu ini juga perlu dikendalikan. Contohnya, membantu orang lain adalah perbuatan baik, tetapi jika dilakukan secara berlebihan sehingga melupakan kebutuhan diri sendiri, hal ini dapat menjadikan keadaan yang tidak seimbang.

Dalam konsep ini, pancer (sebagai elemen kelima) adalah diri manusia itu sendiri yang menjadi pusat dari keempat nafsu di atas yang merupakan kesadaran sejati atau sangkan paraning dumadi (asal-usul dan tujuan hidup). Sebagai pusat dari empat elemen itu, manusia harus mampu mengawasi dan mengatur agar keempat nafsu tersebut tidak menguasai dirinya. Jika manusia tidak dapat mengendalikan nafsunya, hidupnya akan menjadi kacau dan penuh dengan kesulitan. Sebaliknya, dengan mengendalikannya secara bijak, manusia dapat menjalani kehidupan yang seimbang dan harmonis.[7]

Nang, Ning, Nung, Neng, Gung/Nóng

Sedulur Papat Lima Pancer juga me-representasikan Metafora Jiwa: Nang, Ning, Nung, Neng, Gung/Nong

  • Nang atau menang adalah anugrah yang harus kita usahakan untuk mendapatkan kemenangan dalam medan perang (pertempuran antara keinginan negatif dan positif). Kemenangan NUR (Cahaya Suci Sejati) dalam mengalahkan NAR (Api; "Iblis") yang mana sifat NAR adalah musuh Tuhan yang datang dari iblis terkutuk.[8]
  • Ning (Wening) berarti ketenangan. Ning merupakan keadaan pikiran yang selalu tenang dan pikiran yang selalu waspada. Kesadaran dalam mengenali dan memahami makna asal-usul dan tujuan manusia, Ning akan tercapai setelah hati kita mampu melakukan latihan ketenangan dan kesadaran dengan hati yang ikhlas.
  • Nung (Kesinungan) atau rahmat Tuhan. Seseorang yang mendapat Kesinungan akan menerima "hadiah" untuk perbuatan baik yang diamalkannya. Hal ini membutuhkan perbuatan yang memenuhi syarat, yaitu kekompakan dan sinkronisasi lahir dan batin untuk mengubah semua niat baik menjadi tindakan nyata dalam tolong menolong pada kehidupan sehari-hari.
  • Neng berarti Sembah Raga yang merupakan hubungan vertikal (manusia kepada Tuhan) dan hubungan horizontal (individu/seseorang kepada makhluk sesama). Neng ini akan membiasakan diri kita untuk melakukan perbuatan yang baik kepada Tuhan, dan kepada sesama manusia. Perbuatan baik kepada Tuhan yang dimaksud berkaitan dengan  agama, misalnya, berdoa dan mengamalkan ajaran agama sesuai dengan agamanya masing-masing.
  • Gung (Keagungan) berarti kebesaran, keagungan dan kemuliaan yang merupakan puncak dari perjalanan hidup manusia. Karena Gung dapat melepaskan semua keterikatan materi, egois dan duniawi melalui empat tahap sebelumnya (Nang, Ning, Nung, Neng). Gung/Nóng mampu menjalani kehidupan yang mulia, dan bermanfaat bagi semua makhluk hidup serta alam semesta (rahmatan lil 'alamin). Dengan cara ini manusia dapat mencapai kehidupan sejati, memiliki kedamaian lahir dan batin, dan menemukan keberuntungan serta kebahagiaan dalam meraih Kawruh Begja pada kehidupan manusia.[6][9]

Sesajian Bubur Lima Macam

Untuk mencegah dan menghindari terjadinyanya hal-hal buruk dalam diri manusia, kita harus sering mengadakan sesaji atau sedekah / zakat berupa:

  1. Bubur Putih di letakkan di sisi timur lambang dari Kakang Kawah untuk kesehatan.[10]
  2. Bubur Merah di letakkan di sisi selatan lambang dari Getih untuk kewibawaan dan dicintai banyak orang.[10]
  3. Bubur Merah Putih di letakkan di sisi barat lambang dari Adhi Ari-Ari untuk kekayaan.[10]
  4. Bubur Merah dengan satu sendok putih di letakkan di sisi utara lambang dari Puser untuk keselamatan.[10]
  5. Putih dengan lima irisan kecil gula aren di tata membentuk empat titik dan satu titik tengah lambang dari Pancer untuk anugerah dari Ruh.[10]

Referensi

  1. ↑ "Sadulur Papat Kalima Pancer - SASRA ADI BHERAWA". 2024-08-13. Diakses tanggal 2025-05-28.
  2. ↑ "KIDUNG MARMARTI - SASRA ADI BHERAWA". 2025-04-17. Diakses tanggal 2025-05-28.
  3. ↑ "Apa Arti Sedulur Papat Lima Pancer? Ini Maknanya dalam Budaya Jawa". detik.com. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  4. ↑ "Sedulur Papat Lima Pancer (Bagian 2)". Erwin Alexandra (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-05-28.
  5. 1 2 3 4 "Apa Arti Sedulur Papat Lima Pancer? Ini Maknanya dalam Budaya Jawa". detikjateng. Diakses tanggal 2025-05-28.
  6. 1 2 3 4 "Mempelajari dan Memahami Sadulur Papat Lima Pancer Kearifan Lokal Indonesia". kompasiana.com. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  7. 1 2 "DIMENSI AKSIOLOGIS SEDULUR PAPAT LIMO PANCER DALAM KIDUNGAN PURWAJATI DAN RELEVANSINYA BAGI PEMBENTUKAN KARAKTER". etd.repository.ugm.ac.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  8. ↑ "KUNINGAN: NANG NING NUNG NENG NONG". balipost.com. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  9. ↑ "KAJIAN FILOSOFIS DALAM MANAJEMEN NANG NING NUNG NENG GUNG PADA ALUNAN GAMELAN JAWA SEBAGAI PEDOMAN URIP BEBRAYAN AGUNG". repository.stkipbim.ac.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  10. 1 2 3 4 5 "BAB XVII-XVIII : MEMULE SADULUR PAPAT KALIMA PANCER - SASRA ADI BHERAWA". 2025-02-22. Diakses tanggal 2025-05-28.

Lihat pula

  • Ojo dumeh

Pranala luar

  • repository.ubaya.ac.id
  • researchgate.net
  • l
  • b
  • s
Filsafat Jawa
Diri dan Ketuhanan
  • Bhinneka Tunggal Ika
  • Hyang
  • Manunggaling kawula gusti
  • Mati sajroning urip
  • Ngudi kasampurnan
  • Rasa jati
  • Sangkan paraning dumadi
  • Sedulur papat
  • Suwung
  • Tombo ati
  • Tridaya
Kesusilaan
  • Empan papan
  • Ewuh pakewuh
  • Mikul dhuwur, mendhem jero
  • Ngalah, ngalih, ngamuk
  • Ngunduh wohing pakarti
  • Nrima ing pandum
  • Ojo dumeh
  • Pager mangkok
  • Pasemon
  • Samadya
  • Sawang sinawang
  • Sumarah
Keindahan
  • Estetika Jawa (sekumpulan konsep keindahan)
  • Memayu hayuning bawana
  • Asmaragama
Kepemimpinan
  • Astabrata
  • Ing ngarsa sung tuladha
  • Jer basuki mawa béya
  • Rawe-rawe rantas
  • Sura dira jayaningrat
  • Tiji Tibeh
  • Tridarma
Pengetahuan
  • Ilmu titen
  • Kawruh Begja
  • Kawruh Jiwa
  • Macapat
  • Palintangan Jawa
  • Pawukon
  • Primbon
  • Sumbu Filosofis
Tokoh
  • Empu Kanwa
  • Empu Tantular
  • Empu Panuluh
  • Ki Ageng Suryomentaram
  • Koentjaraningrat
  • Notonagoro
  • Parmono
  • Poerbatjaraka
  • Pakubuwana IV
  • Ranggawarsita
  • Selo Soemardjan
  • Soenoto
  • Sosrokartono
  • Supadjar
  • Yasadipura I
Pustaka
  • Sastra Jawa Baru
  • Arjunawijaya
  • Arjunawiwāha
  • Bhāratayuddha
  • Dewaruci
  • Serat Centhini
  • Serat Kalatidha
  • Ramayana
  • Serat Wedhatama
  • Serat Wirid
  • Sutasoma
  • Wulangreh
Lain-lain
  • Saminisme
  • Kejawen

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Unsur Dasar Manusia
  2. Sedulur Papat Lima Pancer sebagai gambaran Hawa Nafsu
  3. Nang, Ning, Nung, Neng, Gung/Nóng
  4. Sesajian Bubur Lima Macam
  5. Referensi
  6. Lihat pula
  7. Pranala luar

Artikel Terkait

Sajen sedulur papat

Sajen Sedulur Papat Lima Pancer adalah salah satu sesaji atau sajen yang berupa aneka macam jenis nasi atau sega untuk menghormati empat saudara gaib

Masjid Pathok Nagara

masjid di Indonesia

Ngudi kasampurnan

rasa. Dalam tradisi kejawen, seseorang diajak untuk mengenali “sedulur papat lima pancer”, menyelaraskan cipta, rasa, dan karsa, serta menjaga harmoni

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026