Kata Sunda bisa mengandung berbagai arti yang secara umum berkaitan dengan suku Sunda di Jawa Barat atau bagian barat Nusantara. Catatan sejarah tertua yang sudah ditemukan mengandung kata "Sunda" adalah prasasti Prasasti Kebonkopi II. Pakar F.D.K. Bosch, yang sempat mempelajarinya, menulis bahwa prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno, dan menyatakan seorang "Raja Sunda menduduki kembali tahtanya" dan menafsirkan angka tahun peristiwa ini bertarikh 536 Masehi. Namun prasasti ini sudah hilang dicuri sekitar tahun 1940-an.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kata Sunda bisa mengandung berbagai arti yang secara umum berkaitan dengan suku Sunda di Jawa Barat atau bagian barat Nusantara. Catatan sejarah tertua yang sudah ditemukan mengandung kata "Sunda" adalah prasasti Prasasti Kebonkopi II. Pakar F.D.K. Bosch, yang sempat mempelajarinya, menulis bahwa prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno, dan menyatakan seorang "Raja Sunda menduduki kembali tahtanya" dan menafsirkan angka tahun peristiwa ini bertarikh 536 Masehi.[1] Namun prasasti ini sudah hilang dicuri sekitar tahun 1940-an.
Prasasti Kebonkopi II atau Prasasti Pasir Muara atau Prasasti Rakryan Juru Pangambat adalah prasasti tertua yang menyebutkan toponimi Sunda yang berangka tahun 458 Saka Tahun Jawa (536 M), yang ditemukan di Desa Kebon Kopi, Bogor,:381 tidak jauh dari Prasasti Kebonkopi I dan dinamakan demikian untuk dibedakan dari prasasti pertama.
Prasasti ini menyebutkan chandrasengkala 854 Saka, akan tetapi sejarawan menafsirkan bahwa chandrasengkala ini dituliskan terbalik, yakni seharusnya dibaca / bermakna 458 Saka (536 M) atas dasar pemikiran bahwa Kerajaan Sunda sudah ada sebelum periode Kerajaan Tarumanagara (358-669 M).
Maka dapat dibaca lebih lanjut dalam naskah-naskah Wangsakerta dari Keraton Cirebon, bahwa Purnawarman salah satu raja besar Tarumanagara memindahkan ibukota Tarumanagara ke Sundapura. Lokasinya adalah di wilayah Jakarta dan Bekasi sekarang.
Prasasti ini ditulis dalam aksara Kawi, Jawa Kuno namun, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Kuno. Bosch melihat penggunaan bahasa Melayu sebagai tanda kekeluargaan pendiri Sriwijaya, Dapunta Sri dengan Tarusbawa yang sama-sama menantu dari raja Tarumanagara dari kawasan Jawa Barat.
Sejarawan Prancis Claude Guillot dari lembaga penelitian École française d'Extrême-Orient memperkirakan prasasti Kebonkopi II ini mengacu ke pendirian kerajaan Sunda. Sejarawan Australia M. C. Ricklefs mengikuti perkiraan ini dalam bukunya A History of Modern Indonesia since c. 1200.
Nama Sunda pertama kali disebut dalam sebuah prasasti ini. Namun, isi prasasti di antaranya berbunyi “berpulihkan hajiri Sunda”, dapat ditafsirkan bahwa sebelumnya telah ada raja Sunda hingga akhirnya dipulihkan kekuasaanya, di mana kedaulatan kerajaan Sunda dipulihkan kembali.:381 Sedangkan nama "Pangambat" berarti "pemburu", dapat ditafsirkan bahwa Sang Raja adalah seorang pemburu yang ulung.
Prasasti lain yang menyebutkan toponimi Sunda adalah Prasasti Sanghyang Tapak I dan II (952 Saka atau 1030 M), dan Prasasti Horren (Kediri Selatan) yang berasal dari zaman Airlangga di Jawa Timur.:381
Catatan Nagarakertagama menuliskan Majapahit dengan Patih Gajah Mada (abad 13 masehi) mengucapkan Sumpah Palapa yang mencantumkan Sunda sebagai salah satu yang harus dikalahkannya. Tercantum dalam Nagarakertagama dengan tegas dan jelas dalam sumpah tersebut :
"Jika telah menundukkan seluruh Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".
Kata ini kemungkinan berasal dari bahasa Sanskerta yang bisa berarti 'cahaya' atau 'air'.[butuh rujukan] Dalam naskah historis lainnya menyebutkan Sunda merujuk pada ibu kota Kerajaan Tarumanegara yang bernama Sundapura. Sehingga masyarakat yang menghuni wilayah tersebut dikenal sebagai orang Sunda yang disebut hingga kini. Kerajaan Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang terbukti dengan bukti prasasti dan berita naskah kuno di negeri Tiongkok. Letak tepat kota Sundapura masih menjadi penelitian para ahli, apakah di Jakarta, Bekasi atau Karawang sekarang. Hanya di Karawang terdapat situs percandian Batujaya seluas 5 km persegi yang menunjukkan tumbuh kembangnya kebudayaan sejak abad 2 Masehi hingga abad 12 Masehi.