Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Putri Tangguk

Putri Tangguk adalah cerita rakyat yang berasal dari daerah Jambi. Putri Tangguk adalah nama ibu dari 7 anak dalam cerita ini. Kisah ini menceritakan tentang kehidupan Putri Tangguk dan keluarganya.

Wikipedia article
Diperbarui 19 Agustus 2024

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Putri Tangguk adalah cerita rakyat yang berasal dari daerah Jambi.[1][2][3][4][5] Putri Tangguk adalah nama ibu dari 7 anak dalam cerita ini.[1] Kisah ini menceritakan tentang kehidupan Putri Tangguk dan keluarganya.[1]

Cerita

Dahulu kala, ada sebuah negeri yang bernama Negeri Bunga yang berada di kecamatan Danau Kerinci.[1] Di sana hiduplah seorang perempuan bernama Putri Tangguk dan suami beserta ketujuh anaknya.[1] Putri Tangguk dan suaminya bekerja sebagai petani.[1] Setiap hari, Putri Tangguk dan suaminya bekerja membajak sawah demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.[1] Mereka bekerja sampai lupa untuk mengurusi anak-anaknya dan juga berhubungan dengan keluarga mereka.[1] Putri Tangguk menyadari bahwa ia pun harus mengurusi anak-anaknya serta keluarganya.[1] Putri Tangguk mengatakan kepada suaminya bahwa mereka harus bekerja sampai gudang persediaan padi mereka penuh sehingga mereka tidak perlu bekerja selama persediaan masih cukup.[1] Ia mengatakan kepada suaminya demikian dan suaminya pun menyetujui.[1] Mereka pun mulai bekerja untuk memenuhi gudang persediaan padi mereka.[1] Suatu hari Putri Tangguk sedang berjalan ke sawah bersama dengan suami beserta ketujuh anaknya.[1] Jalan sedang licin karena hujan yang turun.[1] Putri Tangguk pun terpeleset.[1] Ia marah dan memaki jalanan tersebut.[1] Sepulang dari sawah, Putri Tangguk menabur padi di jalanan tersebut agar jalanan tersebut tidak licin.[1] Setelah hari itu, gudang persediaan penuh oleh padi dan Putri tangguk juga suaminya tidak perlu bekerja karena persedian padi yang cukup.[1] Ia pun bekerja menenun kain untuk mengisi waktu kosongnya sambil mengurusi anak-anak dan keluarganya.[1] Namun, hari seperti ini itu tidak berlangsung lama.[1] Suatu hari, ketujuh anak Putri Tangguk merengek karena kelaparan.[1] Putri Tangguk kemudian pergi untuk memeriksa persediaan padi yang ada di gudang.[1] Ia terkejut dan panik saat mengetahui bahwa persediaan padi sudah tidak ada di gudang.[1] Ia tidak habis pikir karena seharusnya persediaan padi tersebut cukup untuk waktu yang lama.[1] Sepulangnya dari gudang, ia melintasi jalan di mana ia membuang padi agar jalan tersebut tidak licin.[3] Ia ingat bahwa ia seharusnya tidak melakukan itu.[3] Saat malam hari tiba, Putri Tangguk bermimpi ia berjumpa dengan seseorang laki-laki tua.[3] Laki-laki itu mengatakan bahwa Putri Tangguk beserta keluarganya akan hidup sengsara karena ia telah membuang padi di jalan.[3] Putri Tangguk terbangun dari mimpinya lalu menangis.[3] Ia menyesali perbuatannya.[3]

Pesan

Cerita Putri Tanggung memberikan petuah dalam kehidupan manusia.[1] Sebagai manusia, kita harus mensyukuri apa yang kita miliki.[3] Dengan mensyukuri apa yang kita miliki, kita akan selalu merasa berkecukupan.[3] Bersyukur adalah salah satu bagian dari sifat rendah hati.[3] Putri Tanggung tidak bersyukur dan rendah hati sehingga ia tidak menghargai apa yang ia miliki.[3] Ia terlambat untuk menyadari betapa pentingnya bersyukur saat apa yang ia miliki sudah tiada.[3]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Sheina Ananda. 2013. Rangkuman 100 cerita rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Jakarta:Anakkita. Hlm 29.
  2. ↑ Monika Cri Maharani. 2011. Cerita Rakyat asli Indonesia: dari 33 Provinsi.Jakarta: Agromedia Pustaka.Hlm 25.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Marina Asril Reza. 2010. 108 Cerita Rakyat terbaik Asli Nusantara.Jakarta:Visimedia. Hlm 59.
  4. ↑ Kaslani. 1997. Cerita Rakyat dari Jambi: Volume 2. Jakarta:Grasindo.
  5. ↑ Tim Media Vista. 2009. Mengenal Adat, Budaya, dan Kekayaan Alam Indonesia. Jakarta:Cikal Aksara. Hlm 6.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Cerita
  2. Pesan
  3. Referensi
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026