Kuyang adalah makhluk supranatural yang dikenal dalam kepercayaan masyarakat Kalimantan, Indonesia. Makhluk ini digambarkan berbentuk kepala manusia dengan isi tubuh yang menempel tanpa kulit, serta anggota badan yang dapat terbang untuk mencari darah bayi atau wanita yang sedang melahirkan. Dalam kepercayaan setempat, mereka yang bertatapan dengan Kuyang diyakini akan mengalami kesulitan saat melahirkan. Kuyang sering dianggap sebagai bentuk manusia yang menguasai ilmu hitam untuk mencapai kehidupan abadi atau kekuatan gaib tertentu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Kuyang adalah makhluk supranatural yang dikenal dalam kepercayaan masyarakat Kalimantan, Indonesia. Makhluk ini digambarkan berbentuk kepala manusia dengan isi tubuh yang menempel tanpa kulit, serta anggota badan yang dapat terbang untuk mencari darah bayi atau wanita yang sedang melahirkan. Dalam kepercayaan setempat, mereka yang bertatapan dengan Kuyang diyakini akan mengalami kesulitan saat melahirkan. Kuyang sering dianggap sebagai bentuk manusia (biasanya perempuan) yang menguasai ilmu hitam untuk mencapai kehidupan abadi atau kekuatan gaib tertentu.[1][2]
Fenomena kepercayaan terhadap Kuyang yang muncul di Kalimantan juga dapat ditemukan dalam bentuk-bentuk serupa di wilayah lain. Misalnya di Sulawesi dinamai Poppo, Sumatera dikenal sebagai Palasik,[3] Malaysia mengenal Penggalan atau Penanggalan,[4] di Thailand disebut Krasue,[5][6] di Bali dikenal sebagai Leak,[7] di Lombok dinamai Seraq[8] dan di Filipina dikenal sebagai Manananggal.[9]
Asal-usul Kuyang di Kalimantan memiliki beberapa versi yang berkembang dalam tradisi lisan dan catatan sejarah lokal. Salah satu versi menyatakan bahwa kepercayaan ini telah ada sejak zaman Hindu Kaharingan, terutama pada era Kerajaan Mulawarman di Kutai Kertanegara sekitar abad ke-4 Masehi. Pada masa itu, peperangan antar kerajaan sering disertai dengan penggunaan ilmu hitam dan kesaktian mistik. Dalam konflik tersebut, sebagian masyarakat Mulawarman dikisahkan menggunakan praktik mistik untuk melawan musuh, termasuk menggunakan ilmu yang kemudian dikaitkan dengan Kuyang. Seiring kekalahan Mulawarman, para penganut ilmu hitam tersebut tersebar ke pedalaman, dan kepercayaan tentang Kuyang mulai berkembang di masyarakat.[10][11]
Versi lain mengenai asal-usul Kuyang berkaitan dengan penggunaan minyak pesugihan atau minyak Kuyang. Minyak ini digunakan untuk berbagai tujuan mistis, seperti memperoleh kekayaan, awet muda, atau menarik lawan jenis.[12] Beberapa versi juga menyebutkan bahwa Kuyang dapat diturunkan secara turun-temurun melalui suatu sekte, di mana anggota keluarga yang mewarisi ilmu tersebut bisa berubah menjadi kuyang pada malam hari. Pada siang hari, mereka terlihat seperti manusia biasa dan berinteraksi dengan masyarakat secara normal, sedangkan pada malam hari mereka menjadi makhluk supranatural yang mencari darah wanita bersalin.[1]
Kuyang digambarkan sebagai makhluk yang bisa memisahkan kepala dan organ tubuh dari jasadnya untuk terbang dan mencari mangsa. Kepala beserta isi perut ini dapat melayang, bersenandung, atau meratap di atas atap rumah, sementara tubuh Kuyang tetap kosong. Dalam tradisi lokal, jika Kuyang berhasil menemukan korban, darah dari wanita yang sedang melahirkan akan diisap. Kepercayaan ini mendorong masyarakat melakukan berbagai bentuk perlindungan, termasuk memanggil laki-laki yang pandai membaca mantra atau ayat suci untuk menjaga perempuan yang sedang bersalin. Kepercayaan masyarakat menekankan bahwa Kuyang bukan berasal dari orang yang sudah meninggal, melainkan dari orang hidup yang mempelajari ilmu hitam. Aktivitas Kuyang, termasuk kemampuan terbang dan mengisap darah, dikaitkan dengan penggunaan mantra dan minyak jampi. Perempuan yang diyakini menjadi Kuyang dipercaya memperoleh kekuatan gaib untuk menyerang korban sekaligus melindungi diri dari ancaman.[2][13]
Masyarakat juga meyakini bahwa Kuyang memiliki Tajau Kuyang, yaitu gentong atau wadah tempat anak-anak yang lahir dari keluarga penganut ilmu hitam ini ditempatkan sambil dibacakan mantra. Hal ini dianggap sebagai proses pengikatan anak ke dalam sekte atau keluarga Kuyang. Lokasi Tajau Kuyang terutama di Kutai Kertanegara, diyakini sebagai tempat keramat. Masyarakat setempat umumnya menghindari mengganggunya karena berbagai insiden mistis yang dikaitkan dengan pelanggaran terhadap lokasi tersebut.[11]