Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiWisnu dalam Buddhisme
Artikel Wikipedia

Wisnu dalam Buddhisme

Dalam Buddhisme, Wisnu dipuja sebagai makhluk surgawi (dewa) dan pelindung ajaran Buddha di berbagai tradisi. Dalam teks-teks Pali awal dari tradisi Theravāda, ia disebut sebagai Veṇhu dan muncul sebagai dewa yang bersukacita atas ajaran-ajaran Buddha. Dalam Buddhisme Sri Lanka, Wisnu sangat dipuja dengan nama Upulvan, bertindak sebagai dewa penjaga pulau tersebut dan pelindung resmi keyakinan buddhis.

sesosok dewa buddhis
Diperbarui 29 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Wisnu dalam Buddhisme
Wisnu
Nārāyaṇa (Naraen-ten) seperti yang digambarkan dalam gulungan Jepang abad ke-12 Shoson Zuzōshō.
SanskertaViṣṇu
Nārāyaṇa
PāliVeṇhu
Veṇḍu
Tionghoa
  • 那羅延天 (Nàluóyántiān)
  • 遍入天 (Biànrùtiān)
  • 毗湿奴 (Píshīnú)
Jepang
  • 那羅延天 (Naraen-ten)
  • 毘紐天 (Bichū-ten)
  • 遍入天 (Hennyūten)
  • 毘湿奴 (Bishunu)
  • ヴィシュヌ (Vishunu)
  • Portal Buddhisme

Dalam Buddhisme, Wisnu (Sanskerta: Viṣṇu) dipuja sebagai makhluk surgawi (dewa) dan pelindung ajaran Buddha di berbagai tradisi. Dalam teks-teks Pali awal dari tradisi Theravāda, ia disebut sebagai Veṇhu (atau Veṇḍu) dan muncul sebagai dewa yang bersukacita atas ajaran-ajaran Buddha. Dalam Buddhisme Sri Lanka, Wisnu sangat dipuja dengan nama Upulvan (atau Upalavarṇā), bertindak sebagai dewa penjaga pulau tersebut dan pelindung resmi keyakinan buddhis.

Dalam Buddhisme Mahāyāna, Wisnu tergabung dalam panteon buddhis yang lebih luas, sering kali dikonseptualisasikan sebagai emanasi atau manifestasi dari Bodhisatwa Avalokiteśvara. Dalam konteks ini, wujudnya dipahami sebagai cara yang terampil (Sanskerta: upāya-kausalya) untuk mengajarkan Dharma kepada berbagai jenis makhluk. Catatan sejarah dan arkeologi menelusuri pemujaannya yang berkelanjutan dan ikonografinya yang khas di seluruh budaya Buddhis kuno di Asia Tenggara, Indonesia, dan Jepang (dikenal sebagai Bichū-ten).

Buddhisme Theravāda

Veṇhu

Veṇhu (varian Veṇḍu) adalah ejaan Pali dari istilah Sanskerta Viṣṇu. Dia muncul dalam Mahāsamaya Sutta (DN 20) sebagai sesosok dewa yang hadir bersama para pengikutnya.[1] Dalam Veṇḍu Sutta (SN 2.12), dewa Veṇhu merayakan sukacita mereka yang mengikuti ajaran Buddha. Sang Buddha menegaskan bahwa mereka akan terbebas dari kematian. Ini menandai kemunculan langka sesosok dewa dengan nama ini dalam teks-teks awal.[2]

Upulvan

Artikel utama: Upulvan
Wisnu membawa nampan bunga. Lukisan ruang relik Stupa Mahiyangana (abad ke-9–11 M). Saat ini dipamerkan di Museum Arkeologi Anuradhapura.
Tempat ibadah yang dikhususkan untuk pemujaan dewa (devālaya) Wisnu di Dondra, Sri Lanka.

Meskipun beberapa umat Hindu menganggap Buddha sebagai inkarnasi Wisnu, umat Buddha di Sri Lanka memuja Wisnu sebagai dewa penjaga Sri Lanka dan pelindung Buddhisme.[3]

Dalam Buddhisme Sri Lanka, Wisnu juga dikenal sebagai Upulvan atau Upalavarṇā, yang berarti 'Berwarna Seroja Biru'. Beberapa pakar mendalilkan bahwa Uthpala varna adalah dewa lokal yang kemudian melebur dengan Wisnu, sementara kepercayaan lain adalah bahwa Utpalavarṇā merupakan bentuk awal Wisnu sebelum ia menjadi dewa tertinggi dalam Hinduisme Puranis. Menurut kronik Mahāvaṃsa, Cūḷavaṃsa, dan cerita rakyat di Sri Lanka, Buddha sendirilah yang menyerahkan tugas penjagaan tersebut kepada Wisnu. Yang lain percaya bahwa Buddha mempercayakan tugas ini kepada dewa Sakka (dewa Indra dalam Buddhisme), yang kemudian mendelegasikan tugas penjagaan ini kepada Wisnu.[4] Banyak tempat ibadah agama Buddha dan Hindu didedikasikan untuk Wisnu di Sri Lanka. Selain Kovil atau Devālaya khusus Wisnu, semua tempat ibadah Buddha dipastikan memiliki ruang pemujaan dewa (Devālaya), yang berdekatan dengan bangunan vihara utama, yang juga didedikasikan untuk Wisnu.[5]

John Holt menyatakan bahwa Wisnu adalah salah satu dari beberapa dewa-dewi Hindu yang diintegrasikan ke dalam budaya buddhis Sinhala, seperti pada vihara abad ke-14 dan ke-15 Lankatilaka dan Gadaladeniya.[6] Ia menyatakan bahwa tradisi Sinhala abad pertengahan mendorong pemujaan (puja) Wisnu sebagai bagian dari Buddhisme Theravāda layaknya tradisi Hindu memasukkan Buddha sebagai awatara Wisnu, namun para biku Theravāda kontemporer berusaha membersihkan praktik pemujaan Wisnu dari vihara-vihara.[7] Menurut Holt, pemujaan Wisnu di Sri Lanka menunjukkan kemampuan luar biasa masyarakatnya dalam mengolah dan merumuskan ulang budaya mereka selama berabad-abad, bahkan saat mereka menyerap pengaruh dari etnis-etnis lain ke dalam budaya mereka sendiri. Meskipun kultus Wisnu di Ceylon secara resmi didukung oleh raja-raja Kandyan pada awal tahun 1700-an, Holt menyatakan bahwa arca dan kuil Wisnu termasuk di antara reruntuhan yang mencolok di ibu kota abad pertengahan Polonnaruwa.

Ikonografi

Patung Wisnu dari abad ke-14, Museum Nasional, Bangkok, Thailand.

Ikonografi Wisnu seperti patung dan ukiran telah ditemukan di situs-situs arkeologi di Asia Tenggara, yang saat ini didominasi oleh tradisi Buddhisme Theravāda. Di Thailand, misalnya, patung Wisnu berlengan empat telah ditemukan di provinsi-provinsi dekat Malaysia dan diperkirakan berasal dari abad ke-4 hingga ke-9, dan ini mencerminkan patung-patung serupa yang ditemukan di India kuno.[8] Demikian pula, patung-patung Wisnu dari abad ke-6 hingga ke-8 telah ditemukan di timur Provinsi Prachinburi dan tengah Provinsi Phetchabun di Thailand serta di selatan Provinsi Đồng Tháp dan Provinsi An Giang di Vietnam.[9] Patung-patung Kresna yang berasal dari awal abad ke-7 hingga abad ke-9 telah ditemukan di Provinsi Takéo dan provinsi lainnya di Kamboja.[10]

Buddhisme Mahāyāna

Nīlakaṇṭha-Avalokiteśvara (青頸観音 Shōkyō-kannon), dari Besson-zakki (別尊雑記 "Catatan Beragam Citra Suci yang Diklasifikasikan"), seperti yang direproduksi dalam Taishō Shinshū Daizōkyō Zuzō-bu (大正新脩大藏經 圖像部), vol. 3.

Dalam sumber-sumber Buddhisme Mahāyāna, Wisnu (bersama dengan dewa-dewa lain) diadopsi ke dalam panteon luas dewa buddhis. Dewa-dewa ini sering dikaitkan dengan wujud jamak Avalokiteśvara. Buddhisme Mahāyāna meyakini bahwa Avalokiteśvara mampu bermanifestasi dalam berbagai wujud sesuai dengan kebutuhan makhluk yang berbeda (sebuah doktrin yang disebut "cara yang mahir" – upaya). Sutra Seroja menyatakan bahwa Avalokiteśvara dapat mengambil berbagai wujud, termasuk Īśvara dan Maheśvara – untuk mengajarkan Dharma kepada berbagai golongan makhluk.[11]

Sutra Mahāyāna lainnya, Kāraṇḍavyūhasūtra, menyebutkan Wisnu (bersama dengan Siwa, Brahma, dan Saraswati), sebagai emanasi dari Avalokiteśvara, yang kini dipandang sebagai dewa transenden yang darinya seluruh dunia memancar keluar.[12] Karandavyuha menyatakan bahwa Narayana memancar dari hati Avalokiteshvara (hṛdayānnārāyaṇaḥ), sebagai sebuah cara yang mahir (upaya) demi kebaikan semua makhluk. Dengan cara yang sama, Harihara disebut sebagai seorang Bodhisatwa dalam Dhāraṇī Nīlakaṇṭha yang populer, yang menyatakan: "Wahai Cahaya, Yang Melampaui Dunia, datanglah, oh Hari, Sang Bodhisatwa Agung."[13]

Selanjutnya, Ratnamalastotra menyatakan:

Untuk mengajarkan umat Waisnawa dan menuntun mereka ke jalan Dharma, ia (Wisnu) bermanifestasi dari hati sang pemegang seroja (Avalokitesvara). Ia sesungguhnya adalah Narayana, penguasa dunia. Dengan demikian, engkau sungguh makhluk yang paling agung (puṁsāṁ paramottama), tiada bandingannya.[14]

Sumber-sumber buddhis India ini menggambarkan suatu tahap perkembangan Mahāyāna India ketika Wisnu (bersama dengan Siwa) sedang diasimilasi ke dalam bentuk universal tertinggi dari Avalokiteśvara yang menyerupai konsep Hindu mengenai Viśvarūpa.[15]

Sumber-sumber Vajrayāna di masa selanjutnya terus merujuk pada Wisnu sebagai salah satu wujud Avalokiteśvara. Sebagai contoh, Sadhanamala memuat suatu praktik spiritual berupa meditasi pada wujud Wisnu yang disebut Harihariharivāhana atau Harihariharivāhanalokeśvara.[16] Wujud ini menampilkan Avalokiteśvara menunggangi Wisnu yang pada gilirannya menunggangi Garuda, yang juga sedang menunggangi seekor singa.[17] Bentuk Lokeśvara ini kemungkinan berasal dari Nepal dan mitos sumbernya dapat ditemukan dalam naskah buddhis Swayambhu Purana.[18]

Penelitian arkeologi telah menemukan patung-patung Wisnu di kepulauan Indonesia, yang dulunya merupakan basis pertahanan kuat Buddhisme Mahāyāna dan Vajrayāna. Patung-patung ini diperkirakan berasal dari abad ke-5 dan abad-abad berikutnya.[19] Selain patung, prasasti dan ukiran Wisnu, seperti yang berkaitan dengan "tiga langkah Wisnu" (Trivikrama) telah ditemukan di banyak bagian budaya buddhis di Asia Tenggara.[20] Dalam beberapa ikonografi, simbolisme Surya, Wisnu, dan Buddha digabungkan atau dipadukan.[21]

Dalam Panteon Buddhis Jepang, Wisnu dikenal sebagai Bichū-ten (毘紐天), dan ia muncul dalam teks-teks Jepang seperti gubahan-gubahan dari Nichiren pada abad ke-13.[22]

Lihat pula

  • Siwa dalam Buddhisme
  • Brahma dalam Buddhisme
  • Sakka (Buddhisme) - Dewa Indra dalam Buddhisme

Referensi

  1. ↑ "Venhu, Veṇhu: 1 definition - Pali Kanon: Pali Proper Names". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-28.
  2. ↑ "Veṇḍusutta—Suttas and Parallels". SuttaCentral (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-28.
  3. ↑ Swarna Wickremeratne (2012). Buddha in Sri Lanka: Remembered Yesterdays. State University of New York Press. hlm. 111. ISBN 978-0791468814.
  4. ↑ Wilhelm Geiger. Mahawamsa: English Translation (1908).
  5. ↑ Swarna Wickremeratne (2012). Buddha in Sri Lanka: Remembered Yesterdays. State University of New York Press. hlm. 226. ISBN 978-0791468814.
  6. ↑ John C Holt (2004). The Buddhist Vishnu: Religious transformation, politics and culture. Columbia University Press. hlm. 51. ISBN 978-0231133234.
  7. ↑ John C Holt (2004). The Buddhist Vishnu: Religious transformation, politics and culture. Columbia University Press. hlm. 5–7, 13–27. ISBN 978-0231133234.
  8. ↑ Jacq-Hergoualc'h, Michel (2002). The Malay Peninsula: Crossroads of the Maritime Silk-Road (100 BC–1300 AD). Diterjemahkan oleh Hobson, Victoria. BRILL Academic. hlm. xxiii, 116–128. ISBN 978-90-04-11973-4.
  9. ↑ Guy 2014, hlm. 131–135, 145.
  10. ↑ Guy 2014, hlm. 146–148, 154–155.
  11. ↑ Chandra, Lokesh (1988). The Thousand-armed Avalokiteśvara. New Delhi: Abhinav Publications, p, 15. Indira Gandhi National Centre for the Arts. ISBN 81-7017-247-0.
  12. ↑ Studholme, Alexander (2002). The Origins of Om Manipadme Hum: A Study of the Karandavyuha Sutra. State University of New York Press. hlm. 39-40.
  13. ↑ Chandra, Lokesh (1988). The Thousand-armed Avalokiteśvara, hlm. 130–133. New Delhi: Abhinav Publications, Indira Gandhi National Centre for the Arts. ISBN 81-7017-247-0.
  14. ↑ "Books". Digital Sanskrit Buddhist Canon – Books. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Desember 2023. Diakses tanggal 2023-12-04.
  15. ↑ Keyworth, George A. (2011). "Avalokiteśvara". Dalam Orzech, Charles; Sørensen, Henrik; Payne, Richard (ed.). Esoteric Buddhism and the Tantras in East Asia. Brill. hlm. 525–526. ISBN 978-9004184916.
  16. ↑ Bhattacharyya, B. (1924). The Indian Buddhist Iconography Mainly Based on The Sādhanamālā and Other Cognate Tāntric Texts of Rituals. H. Milford, Oxford University Press.
  17. ↑ "Harihariharivahana, Harihariharivāhana, Hariharihari-vahana: 1 definition". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). 2020-06-15. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Desember 2023. Diakses tanggal 2023-12-04.
  18. ↑ Sakya, M. B. (1994). The Iconography of Nepalese Buddhism Diarsipkan 7 Agustus 2023 di Wayback Machine., hlm. 111.
  19. ↑ Guy 2014, hlm. 7–9.
  20. ↑ Guy 2014, hlm. 11–12, 118–129.
  21. ↑ Guy 2014, hlm. 221–225.
  22. ↑ Nichiren (1987). The Major Writings of Nichiren Daishonin. Nichiren Shoshu International Center. hlm. 1107. ISBN 978-4-88872-012-0., Alternate site: Archive Diarsipkan 17 Maret 2016 di Wayback Machine.
  • l
  • b
  • s
   Topik Buddhisme   
  • Outline Garis besar
  • Daftar istilah
  • Indeks
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Konsensus pemersatu
Aliran arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílèdàdào
  • Dhammakāya
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Sastra Pali
  • Paritta
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
Kitab daring
  • SuttaCentral
  • Chaṭṭha Saṅgāyana Tipiṭaka
  • dhammatalks.org
  • 84000
  • NTI Reader - Taishō
  • Buddha
  • Bodhisatwa
Buddha saat ini dan keluarga
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
4 tempat suci utama
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
Buddha penting sebelumnya
  • Dīpaṅkara
  • Vipassī
  • Sikhī
  • Vessabhū
  • Kakusandha
  • Koṇāgamana
  • Kassapa
Buddha selanjutnya
  • Metteyya
Bawahan
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
  • Empat Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia Berunsur Delapan
  • Trilaksana
    • Ketidakkekalan
    • Penderitaan
    • Tanpa atma
  • Pandangan
  • Titthiya
  • Ketuhanan
  • Niyāma
  • Keyakinan
  • Triratna
  • Pancasila
  • Māra
  • Karma
  • Nirwana
  • Kemunculan Bersebab
  • Gugusan
    • Materi
    • Kesadaran
    • Persepsi
    • Perasaan
    • Saṅkhāra
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Loka
  • Punarbawa
  • Samsara
  • Bodhi
  • Abhiññā
  • Cetasika
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Moha
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Perhatian penuh
  • Bodhipakkhiyā
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Malu
  • Takut
  • Dana
  • Sila
  • Meditasi
    • Samatha-vipassanā
    • Ānāpānasati
    • Satipaṭṭhāna
    • Kammaṭṭhāna
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Energi
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Brahmavihāra
    • Cinta kasih
    • Karuna
    • Simpati
    • Ketenangan
    • Keseimbangan batin
  • Astasila
  • Bakti
    • Puja
    • Namaskara
    • Pradaksina
    • Pindapata
    • Pelimpahan jasa
    • Ziarah
  • Sādhu
  • Sangha
  • Majelis
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • 10 murid utama Buddha Gotama
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Waisak
  • Asalha
  • Magha
  • Kathina
  • Hari Abhidhamma
  • Uposatha
  • Budaya
  • Masyarakat
  • Aborsi
  • Agama-agama Timur
  • Anikonisme
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Baháʼí
  • Bendera Buddhis
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Darmacakra
  • Dunia Romawi
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Hinduisme
  • Humanisme
  • Ilmu pengetahuan
  • Jainisme
  • Kalender
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Masturbasi
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Orientasi seksual
  • Penindasan
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Seni rupa
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarisme
  • Yahudi
  • Category Kategori
  •  Portal Agama
  •  Portal Buddhisme

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Buddhisme Theravāda
  2. Veṇhu
  3. Upulvan
  4. Ikonografi
  5. Buddhisme Mahāyāna
  6. Lihat pula
  7. Referensi

Artikel Terkait

Suddhāvāsa

karena itu, setiap dewa (makhluk surgawi) Suddhāvāsa dikenal sebagai "pelindung agama Buddha". Sebagai contoh, Sahāmpati—sesosok brahma pelindung agama

Brahma (Buddhisme)

Makhluk hidup yang lahir di alam brahma dalam Buddhisme

Pelepasan Agung

tentang peristiwa ini dapat ditemukan dalam teks-teks Buddhis pascakanonik dari beberapa tradisi Buddhis, yang merupakan yang paling lengkap. Akan tetapi,

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026