Dalam Buddhisme, Wisnu dipuja sebagai makhluk surgawi (dewa) dan pelindung ajaran Buddha di berbagai tradisi. Dalam teks-teks Pali awal dari tradisi Theravāda, ia disebut sebagai Veṇhu dan muncul sebagai dewa yang bersukacita atas ajaran-ajaran Buddha. Dalam Buddhisme Sri Lanka, Wisnu sangat dipuja dengan nama Upulvan, bertindak sebagai dewa penjaga pulau tersebut dan pelindung resmi keyakinan buddhis.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Wisnu | |
|---|---|
Nārāyaṇa (Naraen-ten) seperti yang digambarkan dalam gulungan Jepang abad ke-12 Shoson Zuzōshō. | |
| Sanskerta | Viṣṇu Nārāyaṇa |
| Pāli | Veṇhu Veṇḍu |
| Tionghoa |
|
| Jepang |
|
Dalam Buddhisme, Wisnu (Sanskerta: Viṣṇu) dipuja sebagai makhluk surgawi (dewa) dan pelindung ajaran Buddha di berbagai tradisi. Dalam teks-teks Pali awal dari tradisi Theravāda, ia disebut sebagai Veṇhu (atau Veṇḍu) dan muncul sebagai dewa yang bersukacita atas ajaran-ajaran Buddha. Dalam Buddhisme Sri Lanka, Wisnu sangat dipuja dengan nama Upulvan (atau Upalavarṇā), bertindak sebagai dewa penjaga pulau tersebut dan pelindung resmi keyakinan buddhis.
Dalam Buddhisme Mahāyāna, Wisnu tergabung dalam panteon buddhis yang lebih luas, sering kali dikonseptualisasikan sebagai emanasi atau manifestasi dari Bodhisatwa Avalokiteśvara. Dalam konteks ini, wujudnya dipahami sebagai cara yang terampil (Sanskerta: upāya-kausalya) untuk mengajarkan Dharma kepada berbagai jenis makhluk. Catatan sejarah dan arkeologi menelusuri pemujaannya yang berkelanjutan dan ikonografinya yang khas di seluruh budaya Buddhis kuno di Asia Tenggara, Indonesia, dan Jepang (dikenal sebagai Bichū-ten).
Veṇhu (varian Veṇḍu) adalah ejaan Pali dari istilah Sanskerta Viṣṇu. Dia muncul dalam Mahāsamaya Sutta (DN 20) sebagai sesosok dewa yang hadir bersama para pengikutnya.[1] Dalam Veṇḍu Sutta (SN 2.12), dewa Veṇhu merayakan sukacita mereka yang mengikuti ajaran Buddha. Sang Buddha menegaskan bahwa mereka akan terbebas dari kematian. Ini menandai kemunculan langka sesosok dewa dengan nama ini dalam teks-teks awal.[2]


Meskipun beberapa umat Hindu menganggap Buddha sebagai inkarnasi Wisnu, umat Buddha di Sri Lanka memuja Wisnu sebagai dewa penjaga Sri Lanka dan pelindung Buddhisme.[3]
Dalam Buddhisme Sri Lanka, Wisnu juga dikenal sebagai Upulvan atau Upalavarṇā, yang berarti 'Berwarna Seroja Biru'. Beberapa pakar mendalilkan bahwa Uthpala varna adalah dewa lokal yang kemudian melebur dengan Wisnu, sementara kepercayaan lain adalah bahwa Utpalavarṇā merupakan bentuk awal Wisnu sebelum ia menjadi dewa tertinggi dalam Hinduisme Puranis. Menurut kronik Mahāvaṃsa, Cūḷavaṃsa, dan cerita rakyat di Sri Lanka, Buddha sendirilah yang menyerahkan tugas penjagaan tersebut kepada Wisnu. Yang lain percaya bahwa Buddha mempercayakan tugas ini kepada dewa Sakka (dewa Indra dalam Buddhisme), yang kemudian mendelegasikan tugas penjagaan ini kepada Wisnu.[4] Banyak tempat ibadah agama Buddha dan Hindu didedikasikan untuk Wisnu di Sri Lanka. Selain Kovil atau Devālaya khusus Wisnu, semua tempat ibadah Buddha dipastikan memiliki ruang pemujaan dewa (Devālaya), yang berdekatan dengan bangunan vihara utama, yang juga didedikasikan untuk Wisnu.[5]
John Holt menyatakan bahwa Wisnu adalah salah satu dari beberapa dewa-dewi Hindu yang diintegrasikan ke dalam budaya buddhis Sinhala, seperti pada vihara abad ke-14 dan ke-15 Lankatilaka dan Gadaladeniya.[6] Ia menyatakan bahwa tradisi Sinhala abad pertengahan mendorong pemujaan (puja) Wisnu sebagai bagian dari Buddhisme Theravāda layaknya tradisi Hindu memasukkan Buddha sebagai awatara Wisnu, namun para biku Theravāda kontemporer berusaha membersihkan praktik pemujaan Wisnu dari vihara-vihara.[7] Menurut Holt, pemujaan Wisnu di Sri Lanka menunjukkan kemampuan luar biasa masyarakatnya dalam mengolah dan merumuskan ulang budaya mereka selama berabad-abad, bahkan saat mereka menyerap pengaruh dari etnis-etnis lain ke dalam budaya mereka sendiri. Meskipun kultus Wisnu di Ceylon secara resmi didukung oleh raja-raja Kandyan pada awal tahun 1700-an, Holt menyatakan bahwa arca dan kuil Wisnu termasuk di antara reruntuhan yang mencolok di ibu kota abad pertengahan Polonnaruwa.

Ikonografi Wisnu seperti patung dan ukiran telah ditemukan di situs-situs arkeologi di Asia Tenggara, yang saat ini didominasi oleh tradisi Buddhisme Theravāda. Di Thailand, misalnya, patung Wisnu berlengan empat telah ditemukan di provinsi-provinsi dekat Malaysia dan diperkirakan berasal dari abad ke-4 hingga ke-9, dan ini mencerminkan patung-patung serupa yang ditemukan di India kuno.[8] Demikian pula, patung-patung Wisnu dari abad ke-6 hingga ke-8 telah ditemukan di timur Provinsi Prachinburi dan tengah Provinsi Phetchabun di Thailand serta di selatan Provinsi Đồng Tháp dan Provinsi An Giang di Vietnam.[9] Patung-patung Kresna yang berasal dari awal abad ke-7 hingga abad ke-9 telah ditemukan di Provinsi Takéo dan provinsi lainnya di Kamboja.[10]

Dalam sumber-sumber Buddhisme Mahāyāna, Wisnu (bersama dengan dewa-dewa lain) diadopsi ke dalam panteon luas dewa buddhis. Dewa-dewa ini sering dikaitkan dengan wujud jamak Avalokiteśvara. Buddhisme Mahāyāna meyakini bahwa Avalokiteśvara mampu bermanifestasi dalam berbagai wujud sesuai dengan kebutuhan makhluk yang berbeda (sebuah doktrin yang disebut "cara yang mahir" – upaya). Sutra Seroja menyatakan bahwa Avalokiteśvara dapat mengambil berbagai wujud, termasuk Īśvara dan Maheśvara – untuk mengajarkan Dharma kepada berbagai golongan makhluk.[11]
Sutra Mahāyāna lainnya, Kāraṇḍavyūhasūtra, menyebutkan Wisnu (bersama dengan Siwa, Brahma, dan Saraswati), sebagai emanasi dari Avalokiteśvara, yang kini dipandang sebagai dewa transenden yang darinya seluruh dunia memancar keluar.[12] Karandavyuha menyatakan bahwa Narayana memancar dari hati Avalokiteshvara (hṛdayānnārāyaṇaḥ), sebagai sebuah cara yang mahir (upaya) demi kebaikan semua makhluk. Dengan cara yang sama, Harihara disebut sebagai seorang Bodhisatwa dalam Dhāraṇī Nīlakaṇṭha yang populer, yang menyatakan: "Wahai Cahaya, Yang Melampaui Dunia, datanglah, oh Hari, Sang Bodhisatwa Agung."[13]
Selanjutnya, Ratnamalastotra menyatakan:
Untuk mengajarkan umat Waisnawa dan menuntun mereka ke jalan Dharma, ia (Wisnu) bermanifestasi dari hati sang pemegang seroja (Avalokitesvara). Ia sesungguhnya adalah Narayana, penguasa dunia. Dengan demikian, engkau sungguh makhluk yang paling agung (puṁsāṁ paramottama), tiada bandingannya.[14]
Sumber-sumber buddhis India ini menggambarkan suatu tahap perkembangan Mahāyāna India ketika Wisnu (bersama dengan Siwa) sedang diasimilasi ke dalam bentuk universal tertinggi dari Avalokiteśvara yang menyerupai konsep Hindu mengenai Viśvarūpa.[15]
Sumber-sumber Vajrayāna di masa selanjutnya terus merujuk pada Wisnu sebagai salah satu wujud Avalokiteśvara. Sebagai contoh, Sadhanamala memuat suatu praktik spiritual berupa meditasi pada wujud Wisnu yang disebut Harihariharivāhana atau Harihariharivāhanalokeśvara.[16] Wujud ini menampilkan Avalokiteśvara menunggangi Wisnu yang pada gilirannya menunggangi Garuda, yang juga sedang menunggangi seekor singa.[17] Bentuk Lokeśvara ini kemungkinan berasal dari Nepal dan mitos sumbernya dapat ditemukan dalam naskah buddhis Swayambhu Purana.[18]
Penelitian arkeologi telah menemukan patung-patung Wisnu di kepulauan Indonesia, yang dulunya merupakan basis pertahanan kuat Buddhisme Mahāyāna dan Vajrayāna. Patung-patung ini diperkirakan berasal dari abad ke-5 dan abad-abad berikutnya.[19] Selain patung, prasasti dan ukiran Wisnu, seperti yang berkaitan dengan "tiga langkah Wisnu" (Trivikrama) telah ditemukan di banyak bagian budaya buddhis di Asia Tenggara.[20] Dalam beberapa ikonografi, simbolisme Surya, Wisnu, dan Buddha digabungkan atau dipadukan.[21]
Dalam Panteon Buddhis Jepang, Wisnu dikenal sebagai Bichū-ten (毘紐天), dan ia muncul dalam teks-teks Jepang seperti gubahan-gubahan dari Nichiren pada abad ke-13.[22]