PT Agam Tungga Jaya adalah kelompok perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Maospati, Magetan, Jawa Timur. Kelompok usaha ini menjalankan bus antarkota, bus pariwisata, dan distribusi bahan bakar minyak dalam tiga jenama: Agam Tungga Jaya (ATJ) melayani bus pariwisata dan distribusi BBM, Sudiro Tungga Jaya (STJ) melayani bus antarkota dalam provinsi jarak pendek, dan Tunas Muda Transportation (TMT) melayani bus antarkota antarprovinsi. Sebagai perusahaan otobus yang lahir di era Generasi Alfa, perusahaan otobus ini dikenal karena merevolusi bisnis transportasi bus Indonesia di paruh kedua 2010-an, dengan basis komunitas penggemar yang cukup kuat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Didirikan | 2014 (2014) |
|---|---|
| Kantor pusat | Maospati, Magetan, Jawa Timur, Indonesia |
| Wilayah layanan | |
| Jenis layanan |
|
| Armada | 135 unit (STJ) |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Operator |
|
| Direktur Utama | Ki Agus Muhammad Syidik |
PT Agam Tungga Jaya adalah kelompok perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Maospati, Magetan, Jawa Timur. Kelompok usaha ini menjalankan bus antarkota, bus pariwisata, dan distribusi bahan bakar minyak dalam tiga jenama: Agam Tungga Jaya (ATJ) melayani bus pariwisata dan distribusi BBM, Sudiro Tungga Jaya (STJ) melayani bus antarkota dalam provinsi jarak pendek, dan Tunas Muda Transportation (TMT) melayani bus antarkota antarprovinsi. Sebagai perusahaan otobus yang lahir di era Generasi Alfa,[1] perusahaan otobus ini dikenal karena merevolusi bisnis transportasi bus Indonesia di paruh kedua 2010-an, dengan basis komunitas penggemar yang cukup kuat.
Ki Agus Muhammad Syidik lahir di Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur pada 5 Mei 1991.[2] Sejak kecil ia dikenal sebagai sosok yang tekun dan memiliki minat besar terhadap moda transportasi bus. Kecintaannya dengan moda ini muncul dari kebiasaan bepergian dengan bus antarkota, yang membuatnya kagum pada kerja keras pengemudi bus. Bahkan, ia pun bercita-cita menjadi pengemudi bus, meski sempat ditentang oleh orang tua. Namun semangatnya terhadap dunia transportasi tidak pernah padam. Kecintaan inilah yang kelak menjadi fondasi munculnya beberapa perusahaan otobus besar di bawah kepemimpinannya.[3][4]
Alih-alih menjadi pengemudi bus, Syidik justru mendapatkan modal Rp2,5 miliar dari kedua orang tuanya untuk mengembangkan bisnis distribusi bahan bakar minyak yang sudah dirintis orang tuanya, yang menggunakan nama Agam Tungga Jaya (ATJ). Modal itulah yang nantinya akan digunakan untuk mendirikan sebuah perusahaan otobus.[4]

Setelah lulus sekolah, Syidik mulai berwirausaha kecil-kecilan di ATJ. Dari sinilah ia mempelajari manajemen keuangan dan logistik, yang kemudian menjadi dasar kuat untuk mengelola armada transportasi. Sekitar tahun 2012–2013, bisnis distribusi minyak tersebut mulai berkembang pesat dan menjadi sumber modal awal untuk terjun ke dunia transportasi darat penumpang. Ia kemudian memutuskan mengalihkan fokus dari distribusi minyak ke jasa transportasi pariwisata, dengan visi membangun usaha yang berangkat dari hobinya sendiri.[5]
Tahun 2014 menjadi titik balik penting dalam perjalanan hidupnya. Pada tahun inilah Syidik, dengan memanfaatkan jenama ATJ, membuka layanan bus pariwisata. Berawal dari hanya beberapa unit bus mikro, ATJ melayani wisata ke berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di kala bisnisnya sudah semakin besar, ia akhirnya membeli bus besar bekas dari Subur Jaya, perusahaan otobus pariwisata asal Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.[5]
Menurut Syidik, terkait dengan penamaan perusahaan, "Tungga" adalah nama adik bungsu, sedangkan "Jaya" adalah harapan kejayaan.[6]

Seiring pertumbuhan bisnisnya, Syidik mulai memikirkan ekspansi ke sektor bus antarkota antarprovinsi Pada 14 Juni 2017, ia mendirikan Sudiro Tungga Jaya (STJ) sebagai anak usaha baru. STJ lahir dari semangat yang sama dengan ATJ, tetapi melayani trayek reguler seperti Kota Madiun–DKI Jakarta dan kota di Pulau Jawa lainnya.[5] Dalam waktu singkat, STJ berkembang menjadi salah satu perusahaan otobus populer di Indonesia pada era akhir dekade 2010-an, dikenal karena busnya yang elegan serta pelayanan yang prima.[4] Nama "Sudiro" merujuk pada nama kecil ayah Syidik.[6]
Élkusla (éling, kuwat, slamet) merupakan jargon sekaligus filosofi korporat dari STJ, dan teksnya pernah ditempel pada bodi maupun kaca bus. Jargon ini diadopsi oleh Syidik, yang merupakan anggota perguruan silat, sebagai nilai perusahaan. Di hadapan PerpalZ TV milik Kurnia Lesani Adnan, Syidik mengatakan bahwa élkusla merupakan pengingat bagi dirinya sendiri dan juga seluruh karyawan STJ (dan juga ATJ Group), "kita selalu éling, diingatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kuat menghadapi segala cobaan, dan selamat dunia akhirat."[1][6]
Setelah setahun beroperasi, STJ mulai mengadakan unit-unit baru.[7][8] Melalui tangan dingin Syidik, ATJ Group berkembang pesat karena pelayanan yang rapi dan sistematis serta konsep desain bus yang unik dan berani berbeda,[3] sehingga menarik perhatian pecinta bus dan juga para pemain dan modder simulator truk/bus Euro Truck Simulator 1 dan 2, UK Truck Simulator, hingga Bussid.[9]
Pada awal 2020-an, STJ telah memiliki 135 armada dengan berbagai kelas layanan.[4] Popularitasnya di kalangan pecinta bus juga meningkat karena tampilannya yang sangat menarik.[10] Namun, perjalanan STJ tidak selalu mulus — beberapa kali perusahaan ini menjadi sorotan media, baik karena gaya mengemudi sebagian pengemudi bus yang dianggap ugal-ugalan,[11] maupun keterlibatan Syidik dalam kasus penimbunan BBM subsidi.[12] Syidik menanggapi isu-isu tersebut dengan terbuka dan menyatakan komitmennya untuk berbenah, memperketat manajemen sopir, serta menjaga citra profesional perusahaan.[11]

Kesuksesan dua perusahaan sebelumnya mendorong Syidik melakukan diversifikasi usaha lagi. Pada awal tahun 2025, dengan menggunakan anak usaha keduanya, PT Tunas Muda Transportation (TMT), yang sudah dibentuknya saat mengembangkan STJ, Syidik meluncurkan jenama bus ketiga dengan nama yang sama. Jenama ini berfokus pada layanan bus antarkota antarprovinsi jarak jauh dan penyediaan unit bus antarkota dan pariwisata untuk jenama eksisting (ATJ dan STJ). TMT menjadi simbol regenerasi dan inovasi di bawah payung ATJ Group. Dengan manajemen profesional dan fasilitas modern, TMT memperluas jangkauan bisnis transportasi yang semula berpusat di Jawa menjadi berskala nasional. Kehadiran TMT juga menjadi langkah strategis Syidik dalam menciptakan lapangan kerja baru di sektor transportasi darat.[13]
Trayek debut TMT adalah Plaosan–Jakarta, dengan menggunakan sleeper bus.[14] Bus tersebut menggunakan karoseri produksi New Armada.[13]

Pada awal 2020-an, STJ telah memiliki 135 armada dengan berbagai kelas layanan.[4]
ATJ, STJ, dan TMT menggunakan kombinasi berbagai merek sasis dan karoseri untuk armada bus mereka. Di awal debut ATJ maupun STJ, mereka sendiri masih menggunakan sasis Hino (RK8 R260 dan Hino RN 285), bahkan sejak masih menggunakan armada hasil beli bekas dari Subur Jaya.[5] Namun, setelah usaha bus ini berkembang, ATJ dan STJ telah banyak menggunakan bermacam-macam merek dan model sasis, di antaranya Scania (K410iB,[5] K360iB[5]), Volvo B11R,[15] dan Mercedes-Benz (OC 500 RF 2542,[15] OH 1626[5]).
Sementara itu, karoseri yang digunakan awalnya hanya Adi Putro, yakni Jetbus2+. Namun, dalam perkembangannya, ATJ maupun STJ telah membeli karoseri bus yang lebih baru dari Adi Putro, seperti Jetbus3+ UHD (Ultra-High-Deck)[16] dan Jetbus5 MHD (Medium-High-Deck) Single-Glass.[17] Selain dari Adi Putro, ATJ dan STJ juga membeli bus dari Laksana (Legacy SR-2 XHD Prime[15] dan SR-3 Neo XHD Panorama[18]), Tentrem (Avante H9),[19] dan New Armada (Evolander).[20]
Untuk Tunas Muda Transportation (TMT) kelas sleeper, trayek debutnya menggunakan sasis Mercedes-Benz 1626 dengan karoseri Skylander R22 FL Vision 8 Sleeper produksi New Armada.[13]
Sudiro Tungga Jaya (STJ) melayani rute Patas Jatim melalui Tol Trans-Jawa, yakni:
Hingga tahun 2021, menjelang penutupan massal trayek AKAP-nya, sisa trayek AKAP Sudiro Tungga Jaya yang masih beroperasi di antaranya:[22]
Dengan diluncurkannya Tunas Muda Transportation (TMT) trayek Kota Madiun–DKI Jakarta pada Maret 2025,[14][13] secara bertahap armada STJ yang dioperasikan untuk antarkota antarprovinsi dialihkan ke TMT.
Agam Tungga Jaya (ATJ), sejak awal didirikan oleh Syidik, berfokus pada layanan bus pariwisata dan melayani Jawa, Madura, Bali, Sumatra, dan Nusa Tenggara. Bus-bus ATJ umumnya disewa untuk bermacam-macam keperluan pariwisata, di antaranya wisata religi dan ziarah, acara kantor, dan karyawisata.[23]
Pada tanggal 6 Mei 2020, sebanyak 31 pemudik dari Jakarta diturunkan oleh awak bus STJ di pinggir Jalan Tol Solo–Ngawi, tepatnya di Ngale, Paron. Mereka diturunkan di jalan karena bus menghindari penyekatan oleh petugas di gerbang tol. Pemudik tersebut diamankan oleh warga setelah dipergoki melompati pagar tol.[24] Namun pihak PO mengaku bahwa hal tersebut merupakan permintaan penumpang.[25]
Pada Senin tanggal 4 September 2023, Syidik ditangkap oleh polisi setelah diduga menimbun dan melangsir solar subsidi yang dibeli dari SPBU. Solar subsidi tersebut diduga dijual kembali (re-sell) ke pabrik-pabrik.[26][27]
Komunitas penggemar Sudiro Tungga Jaya—yang akrab disebut STJ Fans—merupakan komunitas yang tumbuh sangat aktif di situs jejaring sosial, terutama Facebook, dengan anggota grup yang telah menembus lebih dari 155.000 orang.[28] Anggotanya beragam, mulai dari penumpang setia, calon penumpang yang ingin mencari informasi, hingga pengamat dan penggemar armada STJ (dan ATJ Group) yang kerap membagikan foto, video, dan cerita pengalaman bersama ATJ Group dalam berbagai trayek. Mereka menampilkan antusiasme tinggi terhadap desain bodi, kelajuan dan ketepatan waktu operasional, hingga performa armada ATJ Group yang terus meningkat sejak awal berdiri hingga memiliki ratusan unit. Walau perusahaan ini relatif muda dibandingkan beberapa operator lain, komunitasnya mampu menunjukkan loyalitas dan semangat untuk terus berkembang, menjadikan ATJ Group sebagai salah satu kelompok perusahaan otobus dengan fandom kuat di Indonesia pada masanya.[29][30]