PT Maya Gapura Intan (MGI) adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Jakarta Timur. Perusahaan otobus ini didirikan pada 2001 oleh tiga anak Engkud Mahpud: Asep Eris, Ade Ruhyana, dan Azies Rismaya Mahpud (MGI) dan sebagai unit usaha dari Mayasari Group di sektor antarkota antarprovinsi selain Doa Ibu, Karunia Bakti, dan Primajasa. Sejak 2019, PO ini juga mengambil alih pengelolaan komunikasi dan kehumasan dari sebuah PO lain yang diakuisisi Mayasari Group, yaitu PT Cahaya Bakti Utama (CBU) yang didirikan oleh Yosep Rohimas dan berbasis di Kabupaten Sumedang. Kedua perusahaan otobus ini melayani bus antarkota, bus pariwisata, dan bus antar-jemput dengan spesialisasi rute Jawa Barat dan Jakarta serta memegang empat jenama: MGI dan CBU untuk bus antarkota, City Miles untuk bus pariwisata, dan TRAVL untuk bus antar-jemput.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bus milik MGI di Jalan Lingkar Kadungora, Garut | |
| Induk | Mayasari Group |
|---|---|
| Didirikan | 2001 (2001) (MGI) |
| Kantor pusat |
|
| Wilayah layanan | Jawa |
| Jenis layanan |
|
| Tujuan akhir | |
| Armada | 123 unit (MGI) |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Direktur Utama |
|
| Situs web | mgi-cbu |
PT Maya Gapura Intan (MGI) adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Jakarta Timur. Perusahaan otobus ini didirikan pada 2001 oleh tiga anak Engkud Mahpud: Asep Eris, Ade Ruhyana, dan Azies Rismaya Mahpud (MGI) dan sebagai unit usaha dari Mayasari Group di sektor antarkota antarprovinsi selain Doa Ibu, Karunia Bakti, dan Primajasa. Sejak 2019, PO ini juga mengambil alih pengelolaan komunikasi dan kehumasan dari sebuah PO lain yang diakuisisi Mayasari Group, yaitu PT Cahaya Bakti Utama (CBU) yang didirikan oleh Yosep Rohimas dan berbasis di Kabupaten Sumedang. Kedua perusahaan otobus ini melayani bus antarkota, bus pariwisata, dan bus antar-jemput dengan spesialisasi rute Jawa Barat (tidak termasuk Bodebek) dan Jakarta serta memegang empat jenama: MGI dan CBU untuk bus antarkota, City Miles untuk bus pariwisata, dan TRAVL untuk bus antar-jemput.
PO Maya Gapura Intan (MGI) resmi diluncurkan pada Oktober 2001[1] sebagai salah satu perusahaan otobus dalam kelompok usaha Mayasari Group (awalnya melalui PT Maya Raya Transportama). Perusahaan ini didirikan oleh tiga bersaudara, yakni Asep Eris Mahpud, Ade Ruhyana Mahpud, dan Azies Rismaya Mahpud, yang merupakan anak dari Engkud Mahpud, tokoh penting di balik berkembangnya PO Mayasari Bakti, operator bus perkotaan Jabodetabek. Sejak awal berdiri, MGI secara otomatis menjadi bagian dari jaringan besar transportasi darat Mayasari Group, yang telah lebih dulu dikenal luas oleh masyarakat, khususnya di Jabodetabek. Kehadiran MGI memperkuat lini bisnis angkutan penumpang bus dalam grup tersebut dengan fokus pada layanan bus antarkota.[2]
Pada fase awal operasionalnya, PO MGI memusatkan kegiatan usaha pada jasa angkutan orang dengan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan dalam provinsi (AKDP). Trayek yang dilayani terutama mencakup wilayah Jakarta dan Jawa Barat, yang merupakan kawasan dengan mobilitas masyarakat cukup tinggi. Strategi ini menjadikan MGI cepat dikenal di jalur-jalur utama yang menghubungkan pusat-pusat ekonomi dan pendidikan di wilayah tersebut. Dengan armada yang terus bertambah, MGI berupaya menghadirkan layanan transportasi darat yang dapat diandalkan oleh masyarakat untuk perjalanan harian maupun antarkota.[1]
Seiring berjalannya waktu, MGI melayani berbagai trayek perjalanan jarak dekat hingga jarak menengah. Salah satu trayek yang kemudian menjadi unggulan dan paling diminati masyarakat adalah rute Bandung–Sukabumi. Trayek ini menunjukkan tingkat okupansi penumpang yang relatif lebih tinggi dibandingkan trayek lain yang juga dioperasikan oleh MGI. Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa penumpang pada rute Bandung–Sukabumi lebih mengenal dan memilih bus MGI dibandingkan bus dari operator lain, termasuk perusahaan otobus lain yang juga termasuk dalam kelompok usaha Mayasari Group. Popularitas rute ini menjadi salah satu faktor pendorong ekspansi layanan MGI ke berbagai sektor pendukung.[3]
Dalam rangka memperluas pangsa pasar dan menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin beragam, PO MGI kemudian merambah sektor bus pariwisata dan layanan carteran dengan menggunakan jenama City Miles. Pengembangan ini dilakukan sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha agar perusahaan tidak hanya bergantung pada trayek reguler AKAP dan AKDP. Melalui City Miles, MGI menyasar segmen perjalanan wisata, perjalanan rombongan, serta kebutuhan transportasi khusus dengan menonjolkan aspek keamanan, kenyamanan, dan profesionalisme layanan. Langkah ini menandai transformasi MGI dari sekadar operator trayek reguler menjadi penyedia jasa transportasi yang lebih komprehensif.[1]
Meski demikian, perjalanan PO MGI tidak lepas dari berbagai tantangan. Pada dekade 2010-an, sejumlah insiden dan kecelakaan melibatkan armada MGI terjadi di beberapa lokasi. Di antaranya adalah kecelakaan pada 6 Mei 2017 ketika sebuah bus MGI menabrak tebing di Jalan Raya Palabuhanratu, Bantargadung, Sukabumi;[4] kecelakaan pada 17 Februari 2018 di Rajamandala Kulon, Cipatat, Bandung Barat, yang melibatkan sebuah mobil Toyota Yaris dan sepeda motor hingga menewaskan satu orang;[5] serta insiden pada 21 Juni 2019 di Warungkiara, Sukabumi, ketika bus MGI bertabrakan dengan truk Mitsubishi Fuso L300 tanpa menimbulkan korban jiwa.[6] Selain itu, pada 24 November 2019, sebuah bus MGI terguling di jurang Cijeungjing, Ciamis, dengan seluruh penumpang selamat.[7]
Menanggapi kecelakaan yang terjadi pada 6 Mei 2017, pihak pengelola MGI mengklaim bahwa armada tersebut dalam kondisi laik jalan dan telah melalui prosedur perawatan serta pemeriksaan rutin sebelum keberangkatan.[4][8] Pada 21 Desember 2019, PO ini sempat menjadi target ramp-check dari Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi dan Satlantas Polres Sukabumi. Salah satu unit bus milik MGI belum dipasangi rem tangan serta lampu jauh yang mati, yang mengharuskan kru yang bertugas untuk segera memperbaiki bus tersebut agar dapat berjalan.[9]
Pada tahun 2019, MGI juga terlibat dalam dinamika sosial-politik ketika bersama sejumlah PO lain di Jawa Barat menolak untuk mengangkut rombongan peserta unjuk rasa di Jakarta Mei 2019 dengan alasan keamanan. Barna Sobarna, perwakilan dari Karunia Bakti yang masih segrup dengan PO MGI, meminta masyarakat tetap tenang dan bersedia menerima hasil pemilihan umum Indonesia 2019. Pada saat aksi tersebut dilakukan, tercatat bahwa belum ada penyewa unit bus dari PO yang beroperasi di Jawa Barat, dan para pengelola bus tersebut akan menanyakan siapa yang akan menyewa dan untuk keperluan apa.[10]
Pada tahun yang sama, MGI melakukan langkah strategis dengan menyatukan fungsi komunikasi dan kehumasan dengan PO Cahaya Bakti Utama (CBU), perusahaan otobus lain dalam kelompok usaha Mayasari Group. CBU sendiri sebelumnya didirikan oleh Yosep Rohimas[11] dengan nama Cahaya Bakti sebelum akhirnya diakuisisi oleh Mayasari Group. Melalui restrukturisasi ini, manajemen CBU dan MGI disatukan, termasuk penggunaan akun media sosial dan situs web yang sama, serta pembagian trayek secara jelas agar tidak saling tumpang tindih.[12] Pada masa pandemi Covid-19 di Indonesia, MGI mengalami kerugian sebesar Rp750 juta akibat sepinya penumpang. Hal ini dikarenakan mobilitas masyarakat dibatasi untuk mencegah penularan Covid-19 yang semakin masif di Indonesia kala itu, termasuk melarang masyarakat untuk mudik Lebaran.[13] Sepanjang sejarahnya, PO ini menyabet penghargaan pada 27 November 2017, yakni penghargaan Wahana Adhigana kategori AKAP Non-Ekonomi Bintang Empat, yang menjadi pengakuan atas kualitas layanan yang telah dibangun perusahaan selama bertahun-tahun.[14]

Per 2023, MGI mengoperasikan armada bus dengan total sekitar 123 unit yang digunakan untuk melayani berbagai trayek resmi ke sejumlah daerah. Armada ini menjadi tulang punggung operasional kedua perusahaan dalam memberikan layanan transportasi antarkota maupun pariwisata. Untuk menjaga keandalan dan kualitas pelayanan, MGI secara rutin mengalokasikan anggaran perawatan armada yang cukup besar, khususnya untuk perawatan mesin kendaraan, dengan nilai mencapai kurang lebih Rp100 juta setiap bulan.[1]
Dalam hal spesifikasi armada, MGI dan CBU sama-sama mengandalkan sasis Hino. Bersama perusahaan otobus lain yang tergabung dalam Mayasari Group, keduanya menggunakan bus dengan karoseri buatan Rahayu Santosa, seperti tipe Ecoline dan Jetliner, serta bodi yang diproduksi oleh perusahaan karoseri in-house, Mayasari Utama. Selain itu, terdapat pula armada dengan karoseri Laksana (Legacy SR-2). CBU dan MGI, bersama beberapa PO lain dalam Mayasari Group, termasuk di antara sedikit perusahaan otobus di Indonesia yang sepanjang sejarah operasionalnya tidak pernah menggunakan bus dengan karoseri Adi Putro, bersama dengan Anas Nasional Sejahtera (ANS), Arimbi/Bima Suci, Borlindo, Sumber Alam, dan Tentrem.[15]
Meski di bawah satu manajemen Mayasari Group, kedua PO tersebut memiliki nama legal berbeda. Oleh karena itu, kedua PO ini memiliki identitas visualnya sendiri-sendiri. MGI dicirikan dengan warna busnya yang biru dongker dengan kisi-kisi putih. Sementara CBU dicirikan dengan warna busnya yang putih dengan kotak-kotak warna hijau.[13]
MGI dan CBU menjadikan trayek bus antarkota sebagai lini bisnis utamanya. Per 2024, MGI mengoperasikan trayek dengan titik awal pemberangkatan dari Kota Bandung menuju DKI Jakarta. Tercatat, sejumlah PO di Jawa Barat ikut bersaing, termasuk dengan saudaranya sendiri Primajasa, juga dengan PO yang beroperasi di Jawa Barat termasuk Arimbi dan Bima Suci, Budiman, PO dalam Hiba Group, serta Merdeka.[16] Sementara itu, CBU memiliki rute Sumber–Sumedang–Cikarang.[17]
MGI maupun CBU dikenal karena menerapkan kebijakan tidak menaikkan penumpang di tengah perjalanan[2] serta melarang pengamen dan pedagang asongan masuk ke dalam bus. Kebijakan ini dinilai mampu meningkatkan kenyamanan dan keamanan selama perjalanan. Hal tersebut juga diperkuat oleh pernyataan salah satu karyawan bagian operasional, Ade Suherman, yang menyatakan bahwa warna logo dan pola pengecatan bus MGI dirancang untuk menciptakan suasana yang teduh agar penumpang merasa nyaman.[18]
Selain melayani angkutan AKAP, MGI juga merambah sektor bus pariwisata dan carteran dengan memperkenalkan layanan dengan jenama City Miles. Pengembangan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sarana transportasi wisata bagi masyarakat, mulai dari kegiatan keluarga, gathering perusahaan, hingga karyawisata.[1]
Pada 22 Desember 2025, MGI meluncurkan bus antar-jemput dengan jenama TRAVL, melayani rute debut Bandung–Jakarta. Unitnya sendiri menggunakan armada mobil penumpang umum Toyota HiAce Premio yang dikonfigurasi hanya delapan kursi untuk memberikan ruang kaki lebih luas serta kenyamanan personal sebagai strategi diferensiasi di tengah persaingan transportasi, dengan menyasar segmen profesional muda, mahasiswa, dan pekerja yang membutuhkan perjalanan nyaman dan efisien. Bus tersebut dilengkapi dengan port USB Type-C pengisian cepat serta menyediakan Travel Concierge di setiap titik henti untuk memberikan informasi perjalanan layaknya layanan perhotelan. Bus antar-jemput ini menawarkan tarif tiket kompetitif sekitar Rp175.000–Rp190.000 per perjalanan dengan jaminan kompensasi jika terjadi keterlambatan atau pembatalan, dan MGI berencana memperluas rute serta mengembangkan aplikasi pemesanan mandiri untuk reservasi tiket di masa mendatang.[19]