Jarāmaraṇa adalah istilah bahasa Pāli dan Sanskerta untuk "penuaan" dan "kematian". Dalam Buddhisme, jarāmaraṇa dikaitkan dengan pelapukan dan penderitaan atas kematian yang tak terhindarkan dari semua makhluk sebelum terlahir kembali di dalam samsara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Terjemahan dari jarāmaraṇa | |
|---|---|
| Indonesia | penuaan dan kematiancode: id is deprecated |
| Inggris | old age and death |
| Pali | jarāmaraṇacode: pi is deprecated |
| Sanskerta | जरामरणcode: sa is deprecated |
| Tionghoa | 老死code: zh is deprecated (Pinyin: lǎosǐcode: pny is deprecated ) |
| Jepang | 老死code: ja is deprecated (rōmaji: rōshicode: ja is deprecated ) |
| Korea | 노사 (Selatan), 로사 (Utara)code: ko is deprecated (RR: nosa, rosacode: ko is deprecated ) |
| Tibet | རྒ་ཤི་code: bo is deprecated (THL: ga.shi Wylie: rga.shicode: bo is deprecated ) |
| Myanmar | ဇရာမရဏံcode: my is deprecated (MLCTS: ja.ra ma.ra.namcode: my is deprecated ) |
| Thai | ชรามรณะcode: th is deprecated (RTGS: chrā mrṇa) |
| Vietnam | tuổi già và cái chếtcode: vi is deprecated |
| Khmer | ជរាមរណៈcode: km is deprecated (UNGEGN: chôréamôrônă) |
| Sinhala | ජරාමරණcode: si is deprecated (jarāmaraṇa) |
| Daftar Istilah Buddhis | |
Jarāmaraṇa adalah istilah bahasa Pāli dan Sanskerta untuk "penuaan" (jarā)[1] dan "kematian" (maraṇa).[2] Dalam Buddhisme, jarāmaraṇa dikaitkan dengan pelapukan dan penderitaan atas kematian yang tak terhindarkan dari semua makhluk sebelum terlahir kembali di dalam samsara (siklus kelahiran dan kematian).
Jarā dan maraṇa diidentifikasi sebagai mata rantai kedua belas dalam Kemunculan Bersebab (paṭiccasamuppāda).[3]
Kata jarā terkait dengan kata Sanskerta Weda kuno jarā, jaras, jarati, gerā, yang berarti "menjadi rapuh, meluruh, termakan usia". Akar kata Weda ini terkait dengan kata bahasa Latin granumcode: la is deprecated , bahasa Goth kaurn, bahasa Yunani geras, geros (kemudian menjadi geriatric [geriatri]) yang semuanya dalam satu konteks berarti "pengerasan, usia tua".[1]
Kata maraṇa didasarkan pada akar kata Sanskerta Weda mṛ, mriyate yang berarti kematian. Akar kata Weda ini terkait dengan kata bahasa Sanskerta yang lebih baru marta, serta kata bahasa Jerman mordcode: de is deprecated , bahasa Lituania mirti, Latin moriorcode: la is deprecated dan morscode: la is deprecated , dan Yunani μόρος, yang semuanya berarti "mati, kematian".[2]
Dalam ajaran tentang Empat Kebenaran Mulia, jarā dan maraṇa diidentifikasi sebagai aspek dari dukkha (penderitaan, ketidaknyamanan, ketidakpuasan). Misalnya, Dhammacakkappavattana Sutta (SN 56.11) menyatakan:
| Sekarang ini, para bhikkhu, bagi para mulia, adalah kenyataan sejati (kebenaran mulia) yang merupakan penderitaan: kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, penyakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit fisik, ketidakbahagiaan, dan keputusasaan adalah penderitaan; berkumpul dengan apa yang tidak disukai adalah penderitaan; berpisah dari apa yang disukai adalah penderitaan; tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, lima kelompok kemelekatan adalah penderitaan. | ||
| — Dhammacakkappavattana Sutta, SN 56.11 terj. Peter Harvey (bahasa Inggris)[4] | ||
Di bagian lain dalam Tripitaka Pali, seperti dalam Mahāsatipaṭṭhāna Sutta (DN 22), Buddha menjelaskan lebih lanjut tentang jarāmaraṇa (penuaan dan kematian):[a]
| Dan apakah penuaan? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apapun juga, mengalami penuaan, jompo, gigi tanggal, rambut memutih, kulit keriput, mengerut seiring usia, indria-indria melemah, itu, para bhikkhu, disebut penuaan. ‘Dan apakah kematian? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apapun juga, ada mengalami kematian, musnah, terputus, lenyap, meninggal dunia, sekarat, berakhir, terputusnya kelompok-kelompok unsur, lepasnya jasmani, itu, para bhikkhu, disebut kematian. |
||
| — Mahāsatipaṭṭhāna Sutta, DN 22 | ||
Selain itu, Vibhaṅga Sutta (SN 12.2) juga mencakup pendefinisian setiap mata rantai, yang salah satunya merupakan jarāmaraṇa (penuaan-dan-kematian):[b]
| Dan apakah, para bhikkhu, penuaan-dan-kematian? Penuaan atas berbagai makhluk dalam berbagai golongan makhluk, bertambah tua, gigi tanggal, rambut memutih, kulit keriput, vitalitas menurun, indria-indria melemah: ini disebut penuaan. Meninggal-dunia-nya berbagai makhluk dari berbagai golongan makhluk, binasa, hancur, lenyap, mortalitas, kematian, berakhirnya waktu kehidupan, hancurnya kelompok-kelompok unsur kehidupan, terbaringnya jasad: ini disebut kematian. Demikianlah penuaan ini dan kematian ini bersama-sama disebut penuaan-dan-kematian. | ||
| — Vibhaṅga Sutta, SN 12.2 | ||
|
Jarāmaraṇa adalah mata rantai terakhir dari dua belas mata rantai (nidāna), yang secara langsung dikondisikan oleh kelahiran (jāti), yang berarti bahwa semua yang dilahirkan dipastikan akan menua dan mati.
Dalam "Khotbah tentang Subjek untuk Direnungkan" (Upajjhatthana Sutta, AN 5.57; juga dikenal sebagai Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna Sutta) dari Tripitaka Pali, Buddha menganjurkan para pengikut-Nya untuk sering merenungkan hal-hal berikut:
| Aku akan mengalami penuaan, belum melampaui penuaan.... Aku akan mengalami penyakit, belum melampaui penyakit.... Aku akan mengalami kematian, belum melampaui kematian....[5] |
||
| — Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna Sutta, AN 5.57 | ||
Dalam Tripitaka Pali, penuaan dan kematian memengaruhi semua makhluk, termasuk para dewa (termasuk brahma) surgawi, manusia, binatang, hantu kelaparan, dan mereka yang terlahir di alam neraka.[c] Hanya makhluk yang telah mencapai pencerahan (bodhi) dalam kehidupan ini yang terlepas dari kelahiran kembali dalam siklus kelahiran-dan-kematian (saṃsāra).[d]
Seperti yang Buddha instruksikan kepada Raja Pasenadi dari Kosala tentang penuaan dan kematian dalam Pabbatūpama Sutta (SN 3.25):
| “Bagaikan gunung karang, Tinggi, menjulang ke langit, Maju merapat dari segala sisi, Menggilas segalanya di empat penjuru– Demikian pula usia tua dan kematian datang Menghampiri semua makhluk hidup— Khattiya, brahmana, vessa, sudda, Caṇḍāla dan pemungut sampah: Tidak menyisakan apa pun sepanjang perjalanannya Namun datang menggilas segalanya. “Tidak ada tempat di sini bagi pasukan gajah, Bagi pasukan kereta dan pasukan infanteri. Seseorang tidak dapat mengalahkannya dengan muslihat, Atau membelinya dengan kekayaan. “Oleh karena itu seorang yang bijaksana di sini, Demi kebaikannya sendiri, Harus dengan teguh mengokohkan keyakinan Pada Sang Buddha, Dhamma dan Saṅgha. “Ketika seseorang berperilaku sesuai Dhamma Melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, Mereka memujinya di sini dalam kehidupan ini, Dan setelah kematian ia bergembira di alam surga.”[6] |
||
| — Pabbatūpama Sutta, SN 3.25 terj. Indra Anggara | ||
Kitab Dhammapada juga memiliki satu bab yang dikenal sebagai "Jaravagga" (Usia Tua), yang terdiri dari sebelas syair tentang usia tua (dari syair 146 hingga 156).[7]
| Didahului oleh: Jāti |
12 mata rantai Jarāmaraṇa |
Diteruskan oleh: Avijjā |