PT Haryanto Motor Indonesia adalah sebuah perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Didirikan pada tahun 2002, perusahaan otobus ini beroperasi di segmen antarkota dan pariwisata. Perusahaan otobus ini melayani Jawa dan Madura, dan juga mengembangkan bisnis-bisnis penunjang operasional bus, berupa SPBU dan rumah makan. Kantor pusat dan garasi utamanya terletak di Jalan Lingkar Ngembal, Kudus, Jawa Tengah. Sementara itu, garasi kedua untuk divisi pariwisata terletak di Jalan Kyai Maja Warungmangga, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang dan garasi ketiga di Jalan Raya Banyudono, Boyolali untuk Divisi Solo.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bus pariwisata PO Haryanto, dengan sasis Mercedes-Benz OH 1626 dipasang body Jetbus3+ HDD produksi dari karoseri Adi Putro | |
| Didirikan | 2002 (2002) |
|---|---|
| Kantor pusat | Jalan Lingkar Timur, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia |
| Wilayah layanan | |
| Jenis layanan | |
| Tujuan akhir | Kota-kota besar di Jawa |
| Garasi | |
| Armada | 300 unit (Hino dan Mercedes-Benz) |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Direktur Utama | Haryanto |
| Karyawan | 2.000 (2022) |
PT Haryanto Motor Indonesia adalah sebuah perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Didirikan pada tahun 2002, perusahaan otobus ini beroperasi di segmen antarkota dan pariwisata. Perusahaan otobus ini melayani Jawa dan Madura, dan juga mengembangkan bisnis-bisnis penunjang operasional bus, berupa SPBU dan rumah makan. Kantor pusat dan garasi utamanya terletak di Jalan Lingkar Ngembal, Kudus, Jawa Tengah. Sementara itu, garasi kedua untuk divisi pariwisata terletak di Jalan Kyai Maja Warungmangga, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang dan garasi ketiga di Jalan Raya Banyudono, Boyolali untuk Divisi Solo.[1]
PO Haryanto didirikan pada tahun 2002 oleh Kopral Haryanto, seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat asal Kudus, Jawa Tengah. Sebelum terjun ke dunia transportasi, Kopral Haryanto bertugas di Batalyon Artileri Pertahanan Udara 1/Kostrad di Tangerang. Dalam masa dinasnya, ia bekerja sebagai pengemudi alat-alat berat, mengangkut meriam, logistik beras prajurit, hingga kebutuhan perminyakan. Dengan penghasilan yang relatif kecil, yakni sekitar Rp18.000 per bulan, ia terbiasa hidup sederhana dan mencari penghasilan tambahan.[2] Salah satu pekerjaan sampingan yang pernah ia jalani adalah menjadi agen tiket bus, yang kelak menjadi pintu masuknya ke dunia usaha transportasi.[3]
Berbekal pengalaman tersebut dan keberanian mengambil risiko, Kopral Haryanto memutuskan untuk mendirikan perusahaan otobus setelah purna tugas. Dengan bantuan pinjaman dari bank, ia membeli enam unit bus sebagai modal awal usaha. Ia beri nama PO tersebut, Haryanto, berdasarkan namanya sendiri. Armada tersebut pada awalnya dioperasikan untuk melayani trayek Cikarang–Cimone. Namun, setelah berjalan beberapa waktu, trayek ini dinilai kurang menguntungkan akibat minimnya jumlah penumpang. Kondisi tersebut mendorong Kopral Haryanto untuk mengambil langkah strategis dengan mengubah konsep layanan armadanya menjadi bus kelas eksekutif.[4]
Perubahan konsep tersebut diikuti dengan pengalihan trayek dari rute Jabodetabek menjadi rute antarkota. PO Haryanto pun mulai melayani ekspansi besar dengan membuka perjalanan jarak jauh rute Jakarta–Kudus, Jakarta–Pati, dan Jakarta–Jepara. Keputusan ini terbukti tepat, karena permintaan penumpang pada rute-rute tersebut jauh lebih stabil dan menjanjikan. Sejak saat itu, PO Haryanto perlahan namun pasti mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan dan dikenal sebagai salah satu operator bus antarkota yang dapat diandalkan, khususnya di wilayah Jawa Tengah bagian utara.[4]
Perkembangan perusahaan semakin pesat ketika PO Haryanto mulai melakukan ekspansi bisnis. Pada tahun 2009, perusahaan ini membuka Divisi Madura, menandai ekspansi pertamanya di luar kawasan Muria Raya sekaligus di luar Pulau Jawa.[5] Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2012, ekspansi kembali dilakukan dengan membuka Divisi Surakarta untuk melayani rute-rute selatan. Keberhasilan berbagai ekspansi tersebut tidak lepas dari peran besar Rian Mahendra, putra Kopral Haryanto, yang dikenal memiliki visi dan inovasi kuat dalam pengelolaan transportasi bus.[6]
Memasuki masa pandemi Covid-19, PO Haryanto menghadapi tantangan besar seperti banyak perusahaan transportasi lainnya. Dalam situasi sulit tersebut, Rian Mahendra berupaya menjaga agar perusahaan tetap beroperasi, salah satunya dengan membuka trayek Pekalongan yang kemudian mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Trayek ini bahkan menjadikan PO Haryanto sebagai salah satu bus favorit warga Pekalongan. Setelah hampir 19 tahun berkontribusi dalam membangun perusahaan, Rian Mahendra dikeluarkan dari jajaran manajemen pada 28 Desember 2022,[6] kemudian mendirikan perusahaan otobus sendiri bernama PT Mahendra Transport Indonesia.[7] Selain mengoperasikan bus, PO Haryanto juga mengembangkan usaha pendukung berupa rumah makan Menara Kudus di Gringsing dan Gebang, Cirebon,[8] serta buah SPBU di Jalan Raya Pantura Jenarsari, Kendal, sebagai bagian dari diversifikasi bisnisnya.[9]

Per 2022, PO Haryanto mengoperasikan 300 unit bus dan mempekerjakan 2.000 karyawan.[10] PO Haryanto rajin melakukan peremajaan dan ekspansi armadanya untuk memenuhi kebutuhan operasional di berbagai rute, baik layanan bus antarkota maupun bus pariwisata, maksimal 5 hingga 6 tahun operasional.[11] Selain itu, PO ini juga banyak membeli bus-bus bekas dengan kilometer rendah untuk membantu pengusaha PO lain yang sedang kolaps.[12] PO Haryanto aktif merilis bus-bus baru dengan kombinasi sasis dan karoseri yang beragam, menunjukkan strategi yang fleksibel dalam memilih komponen sesuai kebutuhan. Misalnya, pada peluncuran terbaru bus dengan sasis mesin depan Mercedes-Benz OF 1623 yang dirakit di perusahaan karoseri Piala Mas, bus tampak gahar dengan pola pengecatan hitam, putih, dan biru serta tetap mempertahankan identitasnya.[13]
Pemilihan sasis merupakan aspek penting dalam filosofi armada PO Haryanto. Sejak lama perusahaan ini memang dikenal dominan menggunakan sasis dan mesin buatan Mercedes-Benz, dengan porsi sekitar 80% dari total armada sasis adalah merek ini dibandingkan Hino yang sekitar 20%. Alasan utama di balik dominasi Mercedes-Benz adalah keandalan operasionalnya, terutama pada rute tol Trans-Jawa, yang menuntut sistem pendinginan yang lebih baik dan kapasitas oli yang besar agar meningkatkan performa dan fleksibilitas operasional. Selain itu, penggunaan sasis Mercedes-Benz dikombinasikan dengan karoseri Adi Putro (Jetbus berbagai seri) juga dipilih karena nilai purna jualnya yang tinggi di pasar bus bekas.[14]
Namun PO Haryanto tidak hanya terpaku pada satu jenis sasis saja. Ada pula unit-unit yang menggunakan sasis Hino RM 280, seperti yang dipakai di bus baru hasil rakitan New Armada. Sasis Hino ini memiliki ciri khas bagasi space frame yang memungkinkan bagasi tembus kiri-kanan serta suspensi udara tipe wide yang diklaim memberikan stabilitas yang lebih baik dibanding sasis lain. Unit-unit dengan sasis Hino ini juga menonjolkan interior yang lebih mewah dengan sentuhan warna dan motif varian baru di kabin, dilengkapi layar TV, AC, serta kursi dengan konfigurasi 2-2, memberikan pengalaman penumpang yang lebih nyaman.[15]
Selain itu, PO Haryanto juga pernah memperluas spektrum armadanya dengan bus-bus sedang berbasis sasis Mercedes-Benz OF 917, sebuah sasis mesin depan yang ditujukan untuk kebutuhan bus medium. Kelima unit yang dirilis dari karoseri Adi Putro ini menggunakan bodi Jetbus3+ MD dengan livery warna yang variatif, tetap mempertahankan identitas visual PO Haryanto. Pilihan sasis OF 917 menunjukkan bahwa selain fokus pada segmen kelas eksekutif, PO Haryanto juga memperhatikan segmen pasar medium yang berkembang, dengan pilihan sasis yang relatif efisien namun tetap mengusung nama Mercedes-Benz sebagai basisnya.[16] Selain itu, dari Adi Putro juga, PO ini juga merilis karoseri Jetbus3+ MHD dengan sasis OH 1626 pada Oktober 2024[17] serta Jetbus5 Dream Coach untuk layanan bus tidurnya pada Agustus 2024.[18]
PO Haryanto dikenal dengan penggunaan skema warna bodi bus yang beragam dan meriah, serta mengangkat potensi pariwisata Kudus. Masjid Menara Kudus menjadi ikon dari bus-bus Haryanto, ditempel pada bodi samping bus.[19] Rian Mahendra selaku Direktur Operasional (pada waktu itu) mengatakan bahwa dalam menjalankan bisnisnya, Haryanto memanfaatkan filosofi "ilmu langit", maksudnya "nilai-nilai keagamaan Islam dijadikan acuan dalam berbisnis (bus)". Untuk mewujudkan misi korporatnya itu, kaligrafi selawat صلى الله على محمدcode: ar is deprecated ṣalāllāhu ʿalā Muḥammad ditempel di seluruh armada bus Haryanto.[20]
Sebagian armada (khususnya armada keluaran 2018 ke atas) juga dilengkapi dengan gambar karakter wayang kulit, biasanya bergambar Werkudara atau Rama dan Sinta. Karakter wayang kulit tersebut diinisiasi oleh Rian Mahendra yang saat itu menjabat sebagai pimpinan PO Haryanto, saat berkunjung ke perusahaan otobus pariwisata asal Yogyakarta, Bimo Transport.[21] Bahkan, setelah Mahendra dikeluarkan dari manajemen PO Haryanto dan menjalankan perusahaan otobus baru bernama PT Mahendra Transport Indonesia, karakter wayang itu juga ditempel atau dicat di bus-bus milik Mahendra.[22]
Selain ciri khas dalam armada, Haryanto juga memiliki ciri khas dalam pelayanan. Haryanto menjadi salah satu PO asal Jawa yang memiliki sebuah peraturan wajib berhenti di masjid atau tempat istirahat (rest area) untuk mendirikan salat fardu (khusus penumpang dan kru yang muslim) ketika dalam perjalanan. Manajemen Haryanto juga memiliki tradisi untuk memberangkatkan para karyawannya yang muslim untuk melaksanakan haji/umrah yang masih tetap dipertahankan hingga sekarang.[23]
PO Haryanto juga memfasilitasi penumpang yang akan bepergian ke Sumatra dan sebaliknya dengan jasanya. Bekerja sama dengan operator bus lain seperti NPM, salah satu perusahaan otobus terbesar dan tertua dari Sumatera Barat serta Sumber Alam dari Purworejo, PO Haryanto membuka layanan tiket terusan yang nantinya penumpang dari Solo/Muria Raya/Wonogiri/Madura ingin menuju Sumatra akan ditransit ke bus NPM menuju Lampung/Palembang/Jambi/Padang di garasi Sumber Alam Pondok Ungu, Bekasi, dan sebaliknya.[24][25]

Sejak awal berdiri, PO Haryanto memfokuskan kegiatan usahanya pada layanan bus antarkota kelas non-ekonomi yang menjadi tulang punggung bisnis perusahaan. Jaringan trayek yang dimiliki mencakup wilayah Jawa dan Madura, dan secara operasional dibagi ke dalam delapan divisi untuk memudahkan pengelolaan rute. Divisi Muria Raya merupakan pusat layanan antarkota PO Haryanto, dengan cakupan pelayanan ke wilayah Keresidenan Pati di Jawa Tengah, kecuali Kabupaten Grobogan dan Blora. Dari basis inilah jaringan trayek PO Haryanto berkembang dan memperkuat posisinya sebagai salah satu operator bus antarkota besar di Pulau Jawa.[26][27][5]
Ekspansi trayek kemudian dilakukan ke berbagai wilayah lain melalui pembentukan divisi-divisi baru. Divisi Madura yang dibuka pada tahun 2009 menjadi divisi pertama di luar Muria Raya dan melayani perjalanan menuju Pulau Madura. Selanjutnya, Divisi Solo yang mulai beroperasi pada tahun 2012 melayani rute menuju Kota Surakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta kawasan Mataraman di Jawa Timur. Selain itu, terdapat Divisi Wonogiri untuk layanan menuju Kabupaten Wonogiri, Divisi Purwodadi yang melayani Kabupaten Blora dan Grobogan, Divisi Bojonegoro untuk wilayah Kabupaten Bojonegoro, serta Divisi Malang yang melayani rute menuju Kota Malang. PO Haryanto juga mengoperasikan Divisi Patas yang difokuskan pada trayek jarak menengah dengan armada kelas patas, seperti rute Yogyakarta–Pati dan DKI Jakarta–Pekalongan.[26][27][5]
Di luar layanan trayek antarkota, PO Haryanto turut mengembangkan bisnis nontrayek melalui Divisi Pariwisata. Divisi ini berpusat di Tangerang dan melayani penyewaan bus untuk kebutuhan wisata dan ziarah dengan jangkauan wilayah yang luas, meliputi Jawa, Sumatra, Bali, dan Madura. Armada bus pariwisata PO Haryanto banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari perjalanan wisata keluarga, kegiatan perusahaan dan instansi, wisata religi, hingga kegiatan karyawisata. Melalui layanan ini, PO Haryanto tidak hanya bergantung pada angkutan antarkota reguler, tetapi juga memperluas sumber pendapatan dari sektor transportasi pariwisata.[27]
Guna menampung aspirasi penumpang dan penggemar setia PO Haryanto, pada tahun 2009 didirikan Haryanto Mania, sebuah klub penggemar bus PO Haryanto. Haryanto Mania dipantau dan diasuh langsung oleh Rian Mahendra selaku Direktur Operasional PO Haryanto (sebelum dikeluarkan dari pucuk manajemen pada 2022) yang memiliki lebih dari 150 ribu anggota di situs jejaring sosial Facebook dan sampai saat ini berguna untuk menyalurkan kritik, saran dan aspirasi baik dari penumpang maupun penggemar (mania) sendiri.[28]
Media terkait Haryanto buses di Wikimedia Commons