Ini adalah daftar sutta dalam kumpulan Diskursus menengah Majjhima Nikaya, bagian dari Kanon Pali Tipiṭaka.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Ini adalah daftar sutta dalam kumpulan Diskursus menengah Majjhima Nikaya, bagian dari Kanon Pali Tipiṭaka.
| Sutta No. | Bagian | Kelompok | Judul Pali | Judul Indonesia |
|---|---|---|---|---|
| Keterangan | ||||
| MN 1 | Mūlapannāsapāli - Diskursus mengenai Eksposisi tentang Akar Semua Dhamma | Mūlapariyāya Vagga - Kelompok Diskursus tentang Akar | Mūlapariyāya Sutta | Akar Semua Dhamma |
| Buddha mengkaji bagaimana konsep diri yang permanen muncul dari proses persepsi. Berbagai fenomena dibahas, mencakup dimensi naturalistik dan kosmologis. Seorang yang belum tersadar menafsirkan pengalaman dalam istilah diri, sementara mereka yang lebih maju dalam pengetahuan mengalami hal yang sama tanpa keterikatan. | ||||
| MN 2 | Sabbāsava Sutta | Segala noda | ||
| Sutta ini menjelaskan tujuh cara untuk menghilangkan noda atau kekotoran dengan cara melihat, menahan, menggunakan, membiarkan, menghindari, menghilangkan, dan dengan mengembangkan. | ||||
| MN 3 | Dhammadāyāda Sutta | Pewaris dalam Dhamma | ||
| Beberapa murid Buddha hanya mewarisi keuntungan materi dan ketenaran darinya. Namun, warisan sejatinya adalah jalan spiritual, jalan kebahagiaan. Yang Mulia Sāriputta menjelaskan bahwa dengan mengikuti teladan Buddha, kita dapat merasakan buah dari jalan tersebut. | ||||
| MN 4 | Bhaya-bherava Sutta | Kekhawatiran dan Ketakutan | ||
| Buddha menjelaskan kesulitan hidup di hutan belantara, dan bagaimana kesulitan tersebut diatasi melalui kesucian perilaku dan meditasi. Beliau menceritakan beberapa ketakutan dan rintangan yang dihadapi berdasarkan apa yang dipraktikannya sendiri. | ||||
| MN 5 | Anangana Sutta | Tanpa Noda | ||
| Dua murid utama Sang Buddha, Sāriputta dan Moggallāna, menggunakan perumpamaan sebuah mangkuk yang ternoda untuk menggambarkan noda dalam batin dan perilaku. Mereka menekankan bahwa hal yang paling penting bukanlah apakah ada noda atau tidak, melainkan apakah kita menyadarinya. | ||||
| MN 6 | Akankheyya Sutta | Jika Seorang Biku menghendaki | ||
| Sang Buddha menekankan pentingnya pemeliharaan sila secara cermat sebagai landasan bagi semua pencapaian yang lebih tinggi dalam kehidupan spiritual dan menguraikan manfaat-manfaat yang dapat dipetik oleh seorang biku yang dengan benar menjalankan latihan | ||||
| MN 7 | Vatthupama Sutta | Perumpamaan Kain | ||
| Berbagai macam kekotoran yang menodai batin diibaratkan seperti kain kotor. Ketika batin bersih, kita menemukan kebahagiaan, yang kemudian membawa pada keadaan kesadaran yang lebih tinggi. Akhirnya, Sang Buddha menolak pandangan kaum Brahmana bahwa kemurnian dapat diperoleh dengan mandi di sungai-sungai suci. | ||||
| MN 8 | Sallekha Sutta | Diskursus tentang Penghapusan | ||
| Sang Buddha membedakan antara meditasi yang damai dan praktik spiritual yang mencakup seluruh kehidupan. Sang Buddha menolak pandangan bahwa hanya pencapaian jhana yang merupakan penghapusan serta menyebutkan empat puluh empat aspek, yang dijelaskan sebagai ‘penghapusan’, yaitu pengikisan kesombongan. | ||||
| MN 9 | Sammaditthi Sutta | Pandangan Benar | ||
| Yang Mulia Sāriputta memberikan penjelasan terperinci tentang pandangan benar, faktor pertama dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Atas dorongan para petapa lainnya, beliau membahas topik tersebut dari berbagai sudut pandang. | ||||
| MN 10 | Satipatthana Sutta | Landasan-landasan Perhatian | ||
| Di sini Sang Buddha menguraikan faktor ketujuh dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu meditasi perhatian penuh. Ajaran ini menghimpun banyak ajaran meditasi yang terdapat di seluruh kanon, khususnya praktik-praktik dasar yang berfokus pada tubuh, dan dianggap sebagai salah satu khotbah meditasi terpenting. | ||||