Akas adalah kelompok perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Probolinggo, Jawa Timur. Kelompok usaha ini dikenal sebagai penyedia layanan transportasi darat yang melayani angkutan bus antarkota serta bus pariwisata, dengan pengoperasian armada yang tersebar di Jawa, Madura, dan Bali. Dalam menjalankan usahanya, Akas tidak hanya menggunakan satu nama, melainkan menaungi beberapa jenama berbeda yang masing-masing memiliki karakter dan segmen layanan tersendiri. Meskipun jenama-jenama tersebut dikelola oleh perusahaan yang berdiri secara terpisah, seluruhnya tetap berada dalam satu naungan kelompok usaha yang sama dan dikelola secara kekeluargaan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Akas Asri | |
| Didirikan | 1952 |
|---|---|
| Kantor pusat | Kota Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia |
| Wilayah layanan | |
| Jenis layanan | |
| Armada | 1.500 unit (kumulatif) |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Operator |
|
| Pimpinan |
|
Akas adalah kelompok perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Probolinggo, Jawa Timur. Kelompok usaha ini dikenal sebagai penyedia layanan transportasi darat yang melayani angkutan bus antarkota serta bus pariwisata, dengan pengoperasian armada yang tersebar di Jawa, Madura, dan Bali. Dalam menjalankan usahanya, Akas tidak hanya menggunakan satu nama, melainkan menaungi beberapa jenama berbeda yang masing-masing memiliki karakter dan segmen layanan tersendiri. Meskipun jenama-jenama tersebut dikelola oleh perusahaan yang berdiri secara terpisah, seluruhnya tetap berada dalam satu naungan kelompok usaha yang sama dan dikelola secara kekeluargaan.
Kelompok usaha Akas didirikan oleh keluarga Amat, Sukarman, dan Ali bin Amat pada tahun 1952, kemudian secara resmi dikukuhkan sebagai badan hukum pada tahun 1956. Seiring berjalannya waktu, usaha ini berkembang pesat menjadi kelompok transportasi berskala besar yang dikelola oleh generasi penerus keluarga ini. Per 2023, secara kumulatif jumlah armada bus yang beroperasi di bawah grup Akas mencapai sekitar 1.500 unit per hari, menjadikannya salah satu perusahaan otobus swasta terbesar di Indonesia. Dengan skala operasi tersebut, Akas sering disejajarkan dengan kelompok perusahaan otobus besar lainnya seperti Mayasari Group, Hiba Group,[1] dan Bagong.[2] dalam hal jumlah armada dan peran pentingnya dalam layanan transportasi darat nasional.

PO Akas berakar dari perjalanan hidup pendirinya, Sukarman, yang lahir di Madiun pada 23 Oktober 1925.[3] Sejak usia sangat muda, ia telah bersentuhan dengan dunia perbengkelan dan mesin. Pada tahun 1933, ketika baru berumur delapan tahun, Sukarman tinggal dan bekerja di bengkel milik Amat, yang kelak menjadi mertuanya.[4][5] Meski sempat mengenyam pendidikan formal hingga kelas 1 MULO, pendidikannya tidak dapat diselesaikan. Namun, keterbatasan pendidikan formal tersebut tidak menghalanginya untuk belajar secara otodidak, terutama mengenai teknik mesin dan kendaraan bermotor, yang kemudian menjadi fondasi penting bagi perjalanan usahanya di masa depan.[3]
Saat bekerja di bengkel Amat, Sukarman tidak hanya memperbaiki kendaraan, tetapi juga mulai berbisnis besi tua dengan para pedagang Jepang. Dari interaksi tersebut, ia semakin memahami berbagai komponen mesin mobil secara mendalam. Pengalaman ini menjadi sangat berharga ketika situasi dunia berubah akibat pecahnya Perang Dunia II pada tahun 1939, yang menyebabkan banyak pedagang Jepang kembali ke negaranya. Pada masa itu, seorang kenalan sekaligus pesaingnya bernama Em Kono menasihati Sukarman agar tidak terus bergantung pada mertuanya dan mulai menjalankan usaha secara mandiri, sebuah nasihat yang kelak terbukti menentukan arah hidupnya.[6]
Pada masa pendudukan Jepang, bengkel tempat Sukarman bekerja sempat diambil alih. Namun, berkat peran Em Kono, bengkel tersebut masih dapat diselamatkan. Pengelolaan bengkel kemudian dialihkan langsung dari Amat kepada Sukarman. Peralihan ini menandai awal kemandirian Sukarman sebagai pengelola usaha. Ia mulai membangun kepercayaan diri sebagai mekanik sekaligus pengusaha, dengan bekal pengalaman teknis, jaringan relasi, dan semangat kerja yang tinggi, meskipun kondisi sosial dan ekonomi saat itu masih sangat tidak stabil.[6]
Setelah Indonesia merdeka, Sukarman bekerja sebagai karyawan sipil di Korps Polisi Militer dari tahun 1945 hingga 1949. Dalam tugasnya, ia ditempatkan di bagian kendaraan dan turut mengikuti gerilya di wilayah Kabupaten Malang. Pengalaman ini semakin mengasah kemampuannya dalam menangani kendaraan dalam kondisi darurat. Pada saat yang sama, ia melihat langsung sulitnya transportasi darat di Indonesia pascaperang, terutama untuk mengangkut hasil bumi dan kebutuhan masyarakat. Kesadaran inilah yang memotivasinya untuk mendirikan usaha jasa angkutan.[6]
Pasca-penyerahan kedaulatan pada tahun 1949, Sukarman telah memiliki modal yang cukup untuk memulai usaha baru, berupa bengkel warisan mertuanya dan tambahan pinjaman bank. Ia merakit sendiri sebuah truk (prahoto) dari mobil tua dan suku cadang bekas. Pada tahun 1951, ia telah memiliki enam unit truk dan mengemudikannya sendiri. Melihat kondisi masyarakat yang kerap kesulitan mengangkut orang sakit ke kota, Sukarman menggagas pendirian perusahaan otobus. Salah satu truknya dimodifikasi dengan terpal agar penumpang terlindung dari panas dan hujan, dengan mesin hasil rakitan ulang bermerek Chevrolet.[6]
Pada tahun 1952, Sukarman secara resmi mendirikan perusahaan otobus yang diberi nama Akas.[6] Generasi pertama grup Akas melibatkan Amat sebagai orang tua, Sukarman sebagai menantu, dan Ali sebagai anak kandung Amat. Secara hukum, Akas berbentuk persekutuan komanditer dan dikukuhkan melalui akta notaris Sie Kwan Ho No. 11 tanggal 23 Maret 1956.[4][7] Di kalangan penggemar bus Indonesia, Akas sering diyakini sebagai akronim dari Amat Karman Ali Sekeluarga. Namun menurut Sukarman, akas bukanlah akronim, melainkan sebuah kata yang bermakna sikap giat, terampil, bersemangat kerja, dan tanggap, nilai-nilai yang diyakininya menjadi kunci kemajuan perusahaan.[6]

Perkembangan Akas berlangsung pesat. Pada tahun 1962, perusahaan ini telah memiliki sekitar 60 unit bus dan 15 truk.[6] Setelah Amat meninggal dunia pada tahun 1972, struktur perusahaan mengalami perubahan internal tanpa mengubah akta pendirian maupun izin trayek. Sukarman tetap menjabat sebagai direktur, dengan Hartoyo sebagai wakil direktur, serta beberapa sekutu pasif dari keluarga. Pada tahun 1974, Sukarman membagi Akas menjadi empat divisi operasional dan satu perusahaan baru, yang masing-masing dikelola oleh anak-anak dan anggota keluarga besarnya, sehingga manajemen perusahaan semakin terdesentralisasi.[4]
Empat divisi tersebut adalah Akas I (diasuh Harsono), Akas II (diasuh Hartoyo Tingok), Akas III (diasuh Ali bin Amat), dan Akas IV (diasuh Edy Haryadi), dengan skala armada yang berbeda-beda,[8] serta PT Mila Sejahtera sebagai entitas baru. Hingga tahun 1994, Akas II menjadi divisi terbesar dengan ratusan unit bus, disusul divisi-divisi lainnya. Mila Sejahtera juga mengelola puluhan bus, truk, serta usaha hotel. Di luar bisnis transportasi, Sukarman mengembangkan usaha perhotelan, pertanian, olahraga, hingga pendidikan melalui Yayasan Amat Karman yang mengelola Universitas Wijaya Putra di Kota Surabaya. Hal ini menunjukkan bahwa Akas bukan hanya perusahaan otobus, melainkan bagian dari ekosistem usaha keluarga yang luas.[5]
Memasuki era akhir kepemimpinan pendiri, perusahaan menghadapi berbagai perubahan. Meninggalnya Muliati pada 1985 diikuti pengunduran diri Ali bin Amat dari Akas III, yang kemudian dikelola oleh anaknya, Rudi Yahyanto. Setelah meninggalnya Hartoyo Tingok pada 2000 dan Sukarman pada 2001, diterbitkan akta notaris baru yang memberikan kewenangan pengurusan legalitas perusahaan kepada Edy Haryadi. Meski terjadi dinamika internal, Akas tetap diakui sebagai salah satu pelopor transportasi bus di Indonesia, yang puncaknya ditandai dengan penghargaan loyalitas 30 tahun berkarya dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia pada 16 Maret 2011.[4][9]

Sejak 1974, Sukarman membagi Akas menjadi empat divisi dan satu perusahaan baru. Pembagian ini dilakukan agar setiap anak-anak Sukarman dan Ali bin Amat dapat memperoleh warisan secara adil. Seluruh perusahaan otobus di dalam grup Akas menggunakan jenama Akas, dengan tambahan kata untuk membedakan siapa pemiliknya, karena semua PO di bawah grup Akas memiliki manajemen yang independen dan berdiri sendiri, meski masih dikelola oleh keluarga besar Amat dan Sukarman. Keempat divisi dan satu perusahaan otobus tersebut antara lain sebagai berikut:[8]

Semenjak dibagi menjadi empat divisi dan satu PO tersendiri dengan nama Mila Sejahtera, masing-masing perusahaan otobus dalam grup Akas memiliki preferensi sasis dan karoseri yang beragam, bergantung pada jenis layanan yang ditawarkan dan tingkat kenyamanannya. Keragaman ini terlihat jelas dari armada yang dioperasikan, mulai dari bus antarkota antarprovinsi (AKAP), pariwisata, hingga layanan premium dengan fitur kekinian. Pada sektor armada AKAP dan AKDP, beberapa divisi Akas mengandalkan sasis dari pabrikan Jepang seperti Hino dan juga merek Eropa seperti Mercedes-Benz. Penggunaan sasis Hino, khususnya tipe RM 280 pada Akas NR, atau Hino AK 215 pada Mila Sejahtera, cukup dominan pada armada baru karena dikenal memiliki performa mesin yang tangguh, efisiensi bahan bakar yang baik, serta kemudahan dalam perawatan.[13][14] Di sisi lain, sasis Mercedes-Benz OF 1623 yang diadopsi oleh Akas IV juga menjadi pilihan penting, terutama untuk armada yang mengutamakan kenyamanan dan kestabilan berkendara di lintas AKDP Jawa Timur kelas ekonomi. Kombinasi ini menunjukkan bahwa grup Akas tidak terpaku pada satu merek, melainkan fleksibel dalam memilih teknologi terbaik sesuai kebutuhan operasional.[15]

Dalam hal karoseri, Akas dan sejumlah PO lainnya di Jawa Timur di era 1960-an hingga 1990-an banyak mengandalkan karoseri bus produksi Malindo[16] dan Rahayu Santosa. Saat ini, grup Akas bermitra dengan perusahaan karoseri ternama di Indonesia seperti Adi Putro, Laksana, dan Tentrem. Perusahaan karoseri bus Laksana, misalnya, menghadirkan model Legacy SR-3 Neo HD Panorama yang digunakan pada armada pariwisata dari Akas NR, atau Discovery DC-3 pada Akas IV, menawarkan desain modern dengan kabin luas dan fitur kenyamanan yang ditingkatkan. Selain itu, varian single-glass terbaru juga menunjukkan adopsi tren desain global dengan tampilan kaca depan besar yang memberikan visibilitas lebih baik bagi pengemudi bus sekaligus estetika yang lebih futuristik.[17][18] Sementara itu, dari Adi Putro, beberapa anak dan cucu usaha dari Akas II seperti Akas NR, Akas Aurora, dan Akas Asri, menggunakan karoseri Jetbus dari berbagai generasi; yang terbaru adalah Jetbus5.[19][20][21] Sementara itu, perusahaan karoseri bus Tentrem menjadi langganan oleh berbagai divisi, anak usaha, dan cucu usaha dari grup Akas. Sementara itu, Akas IV (termasuk Akas Mila Sejahtera dan Mila Sejahtera) memiliki karoseri bus sedang dengan jenama Max HDD dan Max Facelift. Produk Tentrem dikenal memiliki struktur bodi yang kokoh serta finishing interior yang rapi, sehingga cocok untuk layanan AKAP dan AKDP dengan perjalanan panjang. Bahkan, beberapa armada baru dari Tentrem yang digunakan Akas Mila Sejahtera telah dilengkapi dengan fitur-fitur modern seperti kursi ergonomis, sistem hiburan, serta pendingin udara yang lebih optimal.[15][22]

Anak, cucu, dan cicit usaha lainnya dalam grup Akas, seperti Akas Aurora, juga turut menghadirkan pembaruan armada dengan menyesuaikan kebutuhan layanan publik yang semakin meningkat. Kehadiran armada baru pada rute-rute strategis seperti Jember–Jakarta menunjukkan komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat daya saing di pasar transportasi darat. Pembaruan ini tidak hanya mencakup aspek teknis seperti mesin dan bodi, tetapi juga peningkatan fasilitas penumpang untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman dan aman.[21]
Menariknya, Mila Sejahtera juga menghadirkan pendekatan berbeda dengan meluncurkan bus dengan pola pengecatan vintage. Konsep ini memberikan nuansa klasik yang mengingatkan pada bus-bus Akas, Mila Sejahtera, dan Indonesia Abadi di era 1980-an, tetapi tetap dipadukan dengan teknologi modern. Bus tersebut menggunakan karoseri Max Facelift di atas sasis Hino AK 240. Langkah ini menunjukkan bahwa inovasi dalam industri transportasi tidak selalu harus berorientasi pada futurisme, tetapi juga dapat mengangkat nilai nostalgia sebagai daya tarik tersendiri bagi penumpang.[23]

Sejak pertama kali didirikan, grup usaha Akas telah lama menjadikan bus antarkota dalam provinsi (AKDP) di Jawa Timur sebagai lini bisnis utamanya, baik kelas ekonomi maupun cepat terbatas (Patas Jatim). Grup usaha Akas melayani rute-rute khususnya dari dan menuju wilayah Tapal Kuda dan jalur selatan Jawa Timur. Grup ini dikenal sebagai salah satu operator legendaris yang pernah mendominasi rute-rute "panas" dengan tingkat persaingan sangat keras, seperti Surabaya–Trenggalek, Malang–Probolinggo, hingga jalur menuju Madura. Keberadaan armada Akas tidak hanya sekadar menyediakan transportasi, tetapi juga membentuk ekosistem mobilitas masyarakat kelas menengah ke bawah yang sangat bergantung pada bus AKDP sebagai sarana utama perjalanan harian maupun jarak menengah.[24][25]
Seiring perkembangan waktu, grup usaha Akas tetap mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan dengan operator baru yang menawarkan armada modern. Salah satu ciri khas yang menonjol adalah penggunaan bus-bus dengan usia relatif tua tetapi masih laik jalan, seperti yang dilakukan Akas Mila Sejahtera. Strategi ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan untuk menjaga efisiensi operasional dan mempertahankan tarif yang terjangkau bagi penumpang. Di tengah tren modernisasi transportasi, keputusan ini justru menjadi identitas unik yang membedakan Akas dari kompetitor yang lebih agresif dalam pembaruan armada.[26]
Beberapa unit bisnis Akas ada yang memilih untuk tidak mengoperasikan bus sebagai tulang punggung bisnis. Akas I, dengan nama legal PT Akas Turangga Sejati, dipimpin oleh anak sulung dari Sukarman, yakni Harsono. Ia memulai bisnisnya dengan mengoperasikan 40 unit bus yang dihadiahkan kepadanya setelah menikah. Menurut keterangan montir dari Akas I, Harsono memiliki kecenderungan menyukai eksperimentasi dan tune-up terhadap unit-unit busnya alih-alih mengembangkannya.[27] Sementara itu, Akas III, dengan nama legal PT Anggun Krida Abadi, melayani rute AKDP tanpa membawa jenama Akas, tetapi dengan jenama Anggun Krida, Kurnia Jaya, dan Kenongo Indah dan membuka trayek Surabaya–Banyuwangi.[28]
Dalam operasionalnya, Akas dan unit-unit usahanya seperti Akas Mila Sejahtera, Akas Asri, Akas Green, Akas N1, Akas II NR, dan Akas III tetap melayani rute-rute padat dengan frekuensi keberangkatan tinggi. Jalur seperti Malang–Probolinggo dan Surabaya–Malang menjadi contoh rute dengan permintaan stabil yang terus dilayani secara konsisten. Jadwal keberangkatan yang relatif fleksibel dan ketersediaan armada sepanjang hari menjadi keunggulan tersendiri, terutama bagi pekerja dan pelajar yang membutuhkan transportasi murah dan mudah diakses. Selain itu, sistem ngetem yang masih digunakan juga memungkinkan bus mengakomodasi penumpang secara maksimal di sepanjang rute.[25][29][30]

Namun demikian, tantangan yang dihadapi oleh layanan bus AKDP dari grup Akas tidaklah ringan. Pandemi Covid-19 sempat memberikan dampak signifikan terhadap operasional, termasuk penurunan jumlah penumpang dan pembatasan perjalanan yang berujung pada kesulitan finansial. Bahkan, beberapa operator bus di wilayah Probolinggo dan sekitarnya dilaporkan tidak mampu memberikan tunjangan hari raya kepada karyawan akibat minimnya pemasukan. Hal ini menunjukkan betapa rentannya sektor transportasi darat terhadap kebijakan mobilitas dan kondisi ekonomi masyarakat.[31]
Selain faktor eksternal, kebijakan tarif juga menjadi isu penting dalam keberlangsungan layanan AKDP. Setelah bertahun-tahun tidak mengalami kenaikan, wacana penyesuaian tarif sempat muncul untuk menyesuaikan dengan biaya operasional yang terus meningkat, seperti harga bahan bakar dan perawatan kendaraan. Bagi operator seperti Akas, menjaga keseimbangan antara tarif murah dan keberlanjutan bisnis menjadi tantangan utama. Di satu sisi, kenaikan tarif dapat memberatkan penumpang, tetapi di sisi lain sangat dibutuhkan untuk menjaga kualitas layanan.[30]
Kelompok usaha Akas diketahui bersaing dengan hampir seluruh PO yang saat ini masih aktif melayani AKDP di Jawa Timur.[29] Ke depan, masa depan layanan bus AKDP dari grup usaha Akas akan sangat ditentukan oleh kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Menurut Zendy Hardianto, pimpinan Akas Mila Sejahtera, modernisasi armada, peningkatan kenyamanan, serta integrasi dengan sistem transportasi lain menjadi langkah yang mungkin perlu dipertimbangkan. Meski demikian, kekuatan utama Akas tetap terletak pada jaringan rute yang luas, pengalaman panjang, serta kedekatan dengan segmen pasar yang loyal. Dengan strategi yang tepat, layanan ini masih memiliki peluang besar untuk terus bertahan dan menjadi tulang punggung transportasi darat di Jawa Timur.[26]

Semenjak Akas Asri dipecah, bus-bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dari grup Akas dilayani oleh dua perusahaan otobus, yakni Mila Sejahtera dan Akas Aurora (Akas AAA). Trayek AKAP dari PT Andry Febiola Transportasi (Akas Aurora) terus berkembang, terutama dengan fokus pada konektivitas antara wilayah Jawa Timur dan DKI Jakarta. Rute yang menjadi tulang punggung bisnisnya adalah Kabupaten Jember–DKI Jakarta, yang dilayani secara reguler dengan jadwal keberangkatan petang serta pilihan kelas eksekutif dan platinum. Rute ini menjadi tulang punggung operasional karena menghubungkan daerah Tapal Kuda Jawa Timur dengan kawasan penyangga ibu kota, bahkan tiketnya cukup diminati dengan harga berkisar ratusan ribu rupiah tergantung fasilitas dan musim perjalanan.[32]
Selain rute utama tersebut, Akas Aurora juga memiliki trayek kelas ekonomi Yogyakarta–Banyuwangi serta trayek berbasis Kota Pasuruan sebagai titik penting di Jawa Timur. Dari kota ini, perusahaan membuka layanan menuju Tangerang dan Bogor, yang menunjukkan ekspansi ke wilayah Jabodetabek lebih luas, tidak hanya terfokus pada Jakarta saja. Keberangkatan dari Pasuruan umumnya berlangsung pada malam hari, memungkinkan perjalanan jarak jauh ditempuh secara efisien dengan memanfaatkan jalur tol Trans-Jawa. Rute-rute ini memperkuat posisi Pasuruan sebagai hub baru, sekaligus memperluas pilihan perjalanan bagi penumpang dari wilayah Probolinggo, Malang, hingga sekitarnya.[33][34][35]

Sementara itu, Mila Sejahtera berfokus pada koridor utama Banyuwangi–Yogyakarta yang menjadi salah satu jalur darat penting di Pulau Jawa bagian selatan. Rute ini umumnya dimulai dari ibu kota kabupaten, kemudian melintasi Jajag, Jember, Lumajang, hingga Probolinggo sebelum masuk ke wilayah Jawa Tengah seperti Kota Surakarta dan berakhir di Kota Yogyakarta. Dalam operasionalnya, bus ini memanfaatkan jalur bypass Mojosari serta Jalan Tol Trans-Jawa untuk mempercepat waktu tempuh, sehingga perjalanan sejauh kurang lebih 600 km (370 mi) bisa dilakukan secara lebih efisien tanpa terlalu banyak berhenti lama di perjalanan.[36]
Selain jalur utama tersebut, Mila Sejahtera juga dikenal memiliki frekuensi keberangkatan yang tinggi, bahkan mencapai tujuh kali perjalanan dalam sehari dari masing-masing arah. Jadwal yang beragam ini mencakup keberangkatan sejak siang hingga malam hari, baik dari Banyuwangi maupun dari Yogyakarta, sehingga memberikan fleksibilitas tinggi bagi penumpang. Tarifnya tergolong terjangkau untuk kelas ekonomi AC, berkisar sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 tergantung periode dan layanan, menjadikannya pilihan populer bagi masyarakat yang ingin bepergian jarak jauh dengan biaya rendah namun tetap nyaman.[36][37]
Pengembangan trayek Mila Sejahtera juga menunjukkan adaptasi terhadap kebutuhan mobilitas antarkota tanpa transit, dengan konsep perjalanan langsung (direct trip) yang menghubungkan wilayah Tapal Kuda dengan pusat aktivitas di Yogyakarta. Keunggulan lainnya adalah karakter operasional yang relatif cepat karena minim ngetem, serta dukungan armada ekonomi AC yang terus diperbarui. Secara keseluruhan, trayek ini memperkuat konektivitas lintas provinsi di jalur selatan sekaligus menjadi alternatif transportasi darat yang cukup kompetitif dan bersaing secara sehat dengan moda transportasi lain, termasuk kereta api.[36]

Sejumlah perusahaan otobus dalam grup Akas memiliki divisi bus pariwisata dan carteran. Perusahaan-perusahaan otobus tersebut di antaranya Akas Asri, Akas Mila Sejahtera, Akas II NR, dan Akas Green.[38] Pada bus pariwisata milik Akas Mila Sejahtera, bus menggunakan bodi Jetbus5 dengan tampilan interior elegan bernuansa gelap serta pencahayaan warm white yang memberikan kesan nyaman dan modern bagi penumpang. Kapasitasnya mencapai sekitar 50 kursi dengan konfigurasi 2-2, sehingga tetap menjaga ruang gerak penumpang. Selain itu, fasilitas hiburan seperti dua unit televisi—masing-masing di bagian depan dan tengah kabin—menjadi nilai tambah dalam menunjang pengalaman perjalanan wisata yang lebih menyenangkan dan tidak membosankan.[39]

Sementara itu, layanan pariwisata dari Akas Green juga menghadirkan konsep perjalanan yang lebih fleksibel dan atraktif. Bahkan PO ini juga melayani paket wisata, seperti open trip ke Kabupaten Tulungagung. Model layanan ini menekankan pada pengalaman wisata yang praktis karena penumpang tidak perlu mengatur perjalanan sendiri, tetapi cukup bergabung dalam paket yang sudah disiapkan Akas Green. Bus yang digunakan umumnya dilengkapi fasilitas standar pariwisata seperti kursi nyaman, hiburan di dalam kabin, serta layanan tambahan yang memungkinkan perjalanan semakin berharga. Strategi ini menunjukkan bahwa Akas Green tidak hanya berfokus pada armada, tetapi juga pada inovasi layanan wisata yang menarik minat masyarakat.[40]
Adapun Akas NR juga memperkuat lini pariwisatanya dengan menghadirkan armada baru dengan konsep single glass pada kaca depan. Desain ini memungkinkan penumpang menikmati pandangan luar yang lebih luas selama perjalanan, sehingga cocok untuk kebutuhan wisata. Dari sisi kabin, konfigurasi kursi 2-2 serta keberadaan dua unit televisi kembali menjadi standar kenyamanan yang dipertahankan. Ditambah dengan desain eksterior khas berwarna cerah dan motif unik, layanan pariwisata Akas NR tidak hanya mengutamakan fungsi, tetapi juga daya tarik visual yang kuat sebagai identitas armada dalam grup Akas.[13]