Rudra adalah salah satu dewa Hindu dari pustaka Regweda yang diasosiasikan sebagai Siwa, atau Bayu. Dia juga dipuja sebagai dewa pengobatan dan perburuan. Dalam pustaka Regweda, Rudra dipuja sebagai "yang paling perkasa di antara kumpulan para perkasa".
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Rudra | |
|---|---|
Dewa prahara, pengobatan, perburuan, dan pengorbanan | |
| Gender | pria |
| Afiliasi | Dewa, Siwa, Bayu |
| Pustaka | Regweda, Sri Rudram |
| Senjata | busur panah, trisula, angkusa |
| Kepercayaan | Hindu |
| Keluarga | |
| Istri | Rudrani |
| Anak | Maruta, Ekadasarudra |
| Bagian dari seri |
| Saiwa |
|---|
Rudra (Dewanagari: रुद्र; ,IAST: Rudra, रुद्र) adalah salah satu dewa Hindu dari pustaka Regweda yang diasosiasikan sebagai Siwa, atau Bayu (dewa angin dan badai).[1][2] Dia juga dipuja sebagai dewa pengobatan dan perburuan.[3] Dalam pustaka Regweda, Rudra dipuja sebagai "yang paling perkasa di antara kumpulan para perkasa".[4]
Salah satu terjemahan dari kata rudra ialah 'yang bersuara menggelegar'.[5][6][7] Rudra juga berarti "yang menyelesaikan segala masalah sampai ke akarnya". Tergantung zaman, nama Rudra dapat dimaknai sebagai 'dewa yang suaranya menggelegar' atau 'dewa yang rupanya paling sangar'. Nama tersebut juga disebutkan dalam Siwasahasranama (kumpulan seribu nama lain Siwa), dan ahli Weda R. K. Sharma menyatakan bahwa nama tersebut sering dipakai sebagai nama lain Siwa dalam bahasa-bahasa yang berkembang di India. Nama Rudra disebutkan bersama kumpulan gita puja kepada para dewa-dewi lainnya dalam RV 7.40.5.
Gita puja "Sri Rudram" dari pustaka Yajurweda dipersembahkan secara khusus kepadanya, dan merupakan teks yang penting dalam aliran Saiwa dalam agama Hindu.[8][9] Dalam "Prathama Anuvaka" dari Namakam (Taittiriya Samhita 4.5), Rudra dihormati sebagai Sadasiwa ('Siwa yang perkasa') dan Mahadewa. Sadasiwa merupakan Tuhan, Paramasiwa, menurut kepercayaan sekte Siddhanta dalam Saiwa.
Selain julukan bagi Dewa Siwa, nama "Rudra" juga digunakan sebagai nama lain bagi para Maruta.[10] Sang Rudra disebut sebagai 'Bapak para Maruta' (RV 2.33.1).[11] Para Maruta merupakan kumpulan dewa badai yang berkaitan dengan atmosfer.[12] Jumlah mereka bervariasi, mulai dari enam puluh, sebelas, tiga puluh tiga,[13] bahkan seratus delapan puluh ('tiga kali enam puluh'. Lihat RV 8.96.8.).
Selain para Maruta, Rudra memiliki sebelas putra yang disebut Sebelas Rudra atau Ekadasarudra.[14] Ekadasarudra dikenal sebagai kumpulan bagi sebelas dewa badai yang suaranya menggelegar. Kesebelas Rudra yang mengatur alam semesta di antaranya adalah: Kapali, Pinggala, Bima, Wirupaksa, Wilohita, Sasta, Ajapada, Abirabudnya, Sambu, Canda, dan Bawa.[15]
Sebagai dampak dari penyebaran agama Hindu-Buddha di Nusantara sebelum era kerajaan Islam, banyak figur dewa-dewi agama Hindu yang diadaptasi menjadi tokoh dalam lakon wayang, khususnya di pulau Jawa. Rudra dalam agama Hindu juga diadaptasi menjadi tokoh wayang, dan diberi gelar "Batara" atau Sang Hyang yang setingkat dengan dewa. Dia dapat disebut Batara Rodra atau Sang Hyang Rodra. Menurut pewayangan Jawa, dia adalah putra ketiga Sang Hyang Tunggal dengan Dewi Dremani. Ia mempunyai dua orang kakak kandung masing-masing bernama Bathari Darmastuti dan Bathara Dewanjali. Batara Rudra juga mempunyai tiga orang saudara seayah lain ibu, putra Sang Hyang Tunggal dengan Dewi Rekatawati, masing-masing bernama: Batara Tejamaya alias Antaga (Togog), Batara Ismaya (Semar) dan Batara Guru (Manikmaya).
Sang Hyang Rudra mendapat julukan sebagai Dewa Angkara karena sifat dan perwatakannya yang kaku, keras hati, cepat marah, iri hati, serakah, dan mau menang sendiri. Karena sifat dan perwatakannya itulah Sang Hyang Rudra—yang selalu merasa ingin melebihi para dewa—memilih untuk sering ke Arcapada (dunia bawah), menjelma sebagai raksasa lalu meminta dukungan pada para denawa dan raksasa. Kemudian melakukan perkawinan gandarwa dengan para raksesi (raksasa betina) yang kemudian melahirkan para raksasa sakti karena mendapat ilmu kesaktian darinya. Namun, semua raksasa keturunan Rudra bertugas menebarkan keangkara murkaan tanpa tanding. Karena itulah di kalangan golongan raksasa, Sang Hyang Rudra dianggap sebagai dewa kebajikan, karena kepada raksasa yang bertapa memujanya Sang Hyang Rudra tidak segan-segan memberikan berbagai ilmu kesaktian, senjata pamungkas, bahkan kekuasaan dan harta yang melimpah. Namun di kalangan para dewa, Rudra adalah biang dari kejahatan.
Untuk melampiaskan nafsu angkara dan murkanya, beberapa kali Sang Hyang Rudra turun ke Madyapada (bumi) lalu menitis pada raja raksasa. Pada zaman Lokapala ia pernah menitis pada Prabu Hiranyakasipu (raja Alengka) dan pada Saksadewa (putra Rahwana). Pada zaman Mahabharata, Sanghyang Rudra pernah menitis pada Prabu Nilarudraka, raja raksasa negara Tanjung Parang yang menyerang kahyangan dan akhirnya tewas dalam peperangan melawan Batara Ganesa (Gana), manusia berkepala gajah, putra Batara Guru dengan Dewi Uma.
Arti ketiga dari Rudra adalah Vayu atau udara yang menyebabkan kesakitan bagi orang jahat karena perbuatan jahat mereka ... Vayu atau udara disebut Rudra karena membuat seseorang menangis menyebabkan kesakitan akibat perbuatan buruknya.