Nalakubara adalah dewa dalam mitologi Hindu dan Buddha sebagai saudara Manibadra, putra raja yaksa Kuwera, dan suami Ramba dan Ratnamala. Nalakubara sering muncul sebagai sosok petualang cinta dalam sastra Hindu dan Buddha.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Nalakubara | |
|---|---|
Dewa gairah dan hasrat | |
Kresna membebaskan Nalakubara dan Manibadra dari kutukan. | |
| Nama lain | Nalakuwera, Kuweraputra, Mayuraja, Kamayaksa |
| Afiliasi | Dewa, yaksa |
| Kediaman | Alakapuri |
| Mantra | Om Kuberaputra Kamyukshaha Nalakubera Namah |
| Senjata | busur dan anak panah |
| Wahana | burung beo |
| Hari | Senin |
| Keluarga | |
| Orang tua |
|
| Saudara | Manibadra (Manigriwa) |
| Pasangan | Ramba, Perti, Somapraba, Ratnamala |
| Anak | Sumita (dari Ramba) dan Citranggadata (dari Perti) |
Nalakubara (Dewanagari: नलकूबर; ,IAST: Nalakūbara, नलकूबर) adalah dewa dalam mitologi Hindu dan Buddha sebagai saudara Manibadra (juga dikenal sebagai Manigriwa), putra raja yaksa Kuwera (juga dikenal sebagai Waisrawana), dan suami Ramba dan Ratnamala. Nalakubara sering muncul sebagai sosok petualang cinta dalam sastra Hindu dan Buddha.
Berbagai pustaka berbahasa Sanskerta dan Prakerta menggunakan nama "Nalakubara", "Nalakūvala", "Mayuraja", "Narakuvera", dan "Naṭakuvera" untuk menggambarkan putra Kuwera. Dewa ini juga muncul dalam sastra Tiongkok sebagai "Nazha", dan akhirnya disebut "Nezha", transliterasi singkat dari kata "Nalakuvara".[1]
Dalam wiracarita Hindu Ramayana dikisahkan bahwa Ramba (istri pertama Nalakubara) diperkosa oleh Rahwana, pamannya. Nalakubara pun mengutuk agar Rahwana tidak akan pernah bisa mendekati wanita muda lain kecuali wanita itu berbagi cintanya. Namun jika Rahwana melakukan kekerasan terhadap wanita mana pun yang tidak mencintainya, maka kepalanya akan terbelah menjadi tujuh bagian.[2] Kutukan ini melindungi kesucian Sinta, istri Rama yang diculik oleh Rahwana.[3]
Dalam kitab Bhagawatapurana dikisahkan bahwa Nalakubara dan Manigriwa (saudara kandungnya) dikutuk oleh Resi Narada menjadi pohon.[4] Peristiwa itu bermula ketika Nalakubara dan Manigriwa sedang bersenang-senang di sungai Gangga dengan istri masing-masing (dalam versi lain disebut para bidadari), sambil minum arak dan tanpa busana. Tak dinyana, Resi Narada melewati mereka dalam perjalanannya mengunjungi kediaman Wisnu. Ketika melihat Narada, para wanita segera menutupi diri, sementara Nalakubara dan Manigriwa dalam keadaan mabuk dan tetap telanjang.
Menurut beberapa versi cerita, Narada merasa kasihan kepada kedua bersaudara itu karena menyia-nyiakan hidup dengan cara berfoya-foya bersama wanita dan arak. Untuk membantu mereka menyadari kesalahan, Narada mengutuk mereka menjadi dua pohon. Narada berharap kelak mereka akan dijumpai oleh awatara (penjelmaan) Dewa Wisnu, yang akan membebaskan mereka dari kutukan tersebut. Dalam kisah lain, diceritakan bahwa Narada sangat tersinggung oleh kurangnya sopan santun dan rasa hormat kedua bersaudara itu, sehingga dia mengutuk mereka menjadi pohon. Setelah mereka memohon-mohon, Narada setuju agar mereka dibebaskan jika Kresna (penjelmaan Wisnu) menyentuh mereka.[5][6]
Bertahun-tahun kemudian pada zaman Dwaparayuga, Dewa Wisnu menjelma sebagai manusia bernama Kresna. Saat Kresna masih balita, Yasoda (ibu asuhnya) mengikatnya ke sebuah lesung agar dia tidak berkeliaran dan memakan tanah. Kresna menyeret lesung tersebut hingga terjepit di antara dua pohon jelmaan Nalakubara dan Manigriwa. Setelah pohon itu disentuh Kresna, mereka kembali ke wujud semula. Kedua bersaudara itu kemudian memberi hormat kepada Kresna, meminta maaf atas kesalahan mereka sebelumnya, lalu pergi.[7]