Wignaprasada , atau Wignesanugraha , adalah salah satu wujud atau aspek Dewa Siwa dalam mitologi dan ikonografi Hindu. Wujud ini dikenal pula sebagai Gajamukanugraha. Arca dan lukisan menggambarkannya sebagai sosok Siwa yang duduk berdampingan dengan Parwati dan Ganesa. Dalam aspek ini, Siwa memberi anugerahnya kepada Wigneswara (Ganesa), dan menerima Wigneswara sebagai putranya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Wignaprasada | |
|---|---|
Siwa pemberi anugerah kepada Wigneswara | |
| Nama lain | Wignesanugraha, Wigneswaranugraha, Gajamukanugraha |
| Afiliasi | Siwa, Ganesa |
| Pustaka | Siwapurana |
| Kepercayaan | Hindu |
Wignaprasada (Dewanagari: विघ्नप्रसाद; ,IAST: Vighnaprasāda, विघ्नप्रसाद),[1] atau Wignesanugraha (Dewanagari: विघ्नेशानुग्रह; ,IAST: Vighneśānugraha, विघ्नेशानुग्रह),[2] adalah salah satu wujud atau aspek Dewa Siwa dalam mitologi dan ikonografi Hindu. Wujud ini dikenal pula sebagai Gajamukanugraha.[3][4] Arca dan lukisan menggambarkannya sebagai sosok Siwa yang duduk berdampingan dengan Parwati dan Ganesa. Dalam aspek ini, Siwa memberi anugerahnya kepada Wigneswara (Ganesa), dan menerima Wigneswara sebagai putranya.
Menurut legenda agama Hindu dalam Purana, Dewi Parwati (istri Dewa Siwa) pernah menciptakan seorang putra dari tanah liat saat bersiap untuk mandi. Dia memerintahkan anak ciptaannya untuk berjaga dan memastikan tidak ada seorang pun yang memasuki kamar pribadinya saat dia mandi. Ketika Siwa kembali ke rumah, dia mendapati seorang anak sedang menjaga pintu. Namun, si anak tidak mengenali Siwa dan melarangnya masuk sesuai perintah Parwati. Hal ini membuat Siwa murka dan menyerang si anak, bahkan sampai memenggal kepala anak tersebut.
Parwati—yang telah selesai mandi—sedih menyaksikan anak ciptaannya sudah tak bernyawa. Dia menuntut agar Siwa menghidupkan kembali anak tersebut. Akhirnya Siwa memerintahkan para gana (anak buahnya) untuk menemukan kepala bayi apa pun untuk menggantikan kepala anak yang telah dipenggalnya. Setelah mencari ke sana kemari, mereka kembali dengan membawa kepala bayi gajah.
Siwa menyatukan kepala gajah itu dengan tubuh anak Parwati, menghidupkannya kembali. Dengan demikian, si anak terlahir kembali dengan kepala gajah. Siwa memberinya gelar Ganapati atau Ganesa (artinya "Pemimpin para gana"), sebab Siwa memberinya kuasa atas gana, kelompok makhluk gaib yang menjadi pelayan Siwa-Parwati di Kailasa. Siwa juga menganugerahkan gelar Wignesa atau Wigneswara kepada Ganesa,[5] dan menyatakan bahwa dia akan menjadi dewa pertama yang disembah dalam upacara keagamaan Hindu. Siwa juga memberkati Ganesa dengan kemakmuran, kecerdasan, dan kebijaksanaan.[6]